
Pagi ini aku berangkat ke sekolah, tidak lupa memberikan senyum dan menyambut pagi bersama Riki dan pak Abi. Bercanda sebentar lalu kembali pergi menaiki angkot.
Aku ingin menjadikan hidupku yang bahagia di dunia ini, memiliki keluarga yang baik seperti ibu, bapak dan kedua kakakku yaitu mbak Nike dan mbak Yeni yang selalu menyemangatiku. Juga memiliki seorang kakak laki-laki yang menyayangiku, yaitu kak Dika.
Di Sekolah
"Key, Yuri nanti kalian mampir ya kerumah. Mama katanya rindu karena kalian sudah lama tidak datang ke rumah" Ucap Ari saat aku sudah duduk di bangku dan meletakkan tas.
"Iya ri aku juga kangen dengan tante Maya. Gara-gara kamu sih sama Rena jadinya kita jarang kesana deh" Sahut Yuri padanya.
"Ssttt, itu sudah masalah dulu jangan di ungkit" Aku menutup mulut Yuri agar tidak melanjutkan lagi.
"Iya-iya, sensi amat sih" sahutnya sambil melepaskan tanganku yang membungkam mulut Yuri.
Saat asik berbincang, aku melihat David yang datang. Tidak tau kenapa aku sangat senang melihatnya, meskipun kami memiliki ponsel dan nomor masing-masing. Tapi kami jarang melakukan chatingan, palingan hanya mengirim pesan untuk mengingatkan bermain bola ataupun latihan.
David melarang ku untuk mengirimkan pesan dengan membahas hal pribadi, jadi aku hanya menurutinya saja. Lagian aku tidak tau apa alasannya yang penting aku bisa bertemu dengannya di sekolah.
"Hayy" Sapanya pada kami bertiga
"Hay vid" Bibirku antusias menjawab sapaannya.
"Jangan lupa besok latihan" Ku pikir dia akan mengingatkan ku tentang sudah makan atau belum ternyata mengingatkan untuk latihan. Harapanku terlalu tinggi untuknya.
"Hahahha, ingat latihan" Ejek Yuri padaku, membuat senyumku berubah kesal.
"Udah tau, latihan kan" Jawabku ketus membuat Ari dan Yuri tertawa. Ternyata David juga menampakkan senyum kecil Melihatku. Sepertinya dia hanya mengerjai ku saja. Awas saja nanti akan aku balas.
Tidak lama kemudian bel berbunyi, seperti biasa aku melakukan pembelajaran di dalam kelas. Kadang kelas yang gaduh, kadang kelas yang tenang dan kadang kelas menjadi sunyi kalau gurunya tegas dan kejam. Namanya pendidikan kalau tidak keras maka semua murid akan belajar lemas.
Setelah pelajaran selesai aku pergi ke kantin bersama Ari dan Yuri. Seperti biasa Yuri akan memesankan semua makanan untuk aku dan Ari, katanya itu sudah menjadi hobinya untuk memesankan makanan.
Setelah makanan dipesan itu akan menjadi tugasku membantu Yuri membawakan ke meja. Sedangkan Ari bagian untuk membayar, semua sudah ada tugas masing-masing jadi terasa senang dalam persahabatan kami.
*Pyarrrrr,*
"Aduhh" Semua mangkok yang Yuri bawah terjatuh, tangannya terkena pecahan beling.
"Makanya kalau punya mata dibuka jangan merem saja" Lagi-lagi Adel, Rena dan Dewi membuat ulah di sekolah ini. Mereka memang tidak ada kapok-kapoknya ya.
"Yuri, kamu tidak apa-apa" Aku dan Ari segra menghampirinya dan membantu Yuri untuk bangun serta membersihkan pecahan mangkuk yang berserakan.
Bibirku dengan sigap menyesap darah di tangan Yuri, lalu mengmbil tisu dan melilitkannya agar darah tidak keluar lagi dari tangannya. Sedangkan Yuri meringis kesakitan.
"Memang ya, orang miskin itu tempatnya untuk bersih-bersih. Gak cocok untuk sekolah disini" Bibirnya memang untuk di tampar. Geram sekali aku mendengarnya.
"Sepertinya bibirmu harus dibersihkan juga, nih" Aku mengambil kain lap dan memberikan ke wajah Adel.
"Aaa, kurang ajar sekali kamu. Make up ku jadi hilang tau" Jerit nya kesal saat lap kotor berada di wajahnya.
"Ari, tolong bwa Yuri ke sana ya" Aku meminta tolong ada Ari untuk membawa Yuri ke meja agar tidak dijadikan bahan untuk Adel yang suka buat onar. Ari juga menghentikan pendarahan Yuri yang masih mengalir dengan es batu agar tidak mengalir lagi.
*swarrrr* air tumpah di bajuku, tangan Adel memang ringan sekali saat memnumpahkan air minum ke baju orang.
"Uppssss, maaf aku tidak sengaja. Tapi cocok juga sih orang miskin seperti ini"
"Iya Del, karena mereka sudah biasa kumuh" Sahut Dewi yang mendukung Adel.
Sepertinya dia bosan hidup, andai saja aku tidak menahan amarah maka sudah aku hajar dia daritadi. Aku ingin meremas mulutnya agar tidak bicara lagi. Dan aku ingin mematahkan tangannya agar tidak menyiram orang lain dengan es lagi.
Tapi sepertinya otakku akan menjadi paikopat, dan aku harus ingat pesan ibu untuk menjadi orang baik dengan cara menahan emosi. Ibu juga berkata bahwa orang hebat adalah orang yang sabar. Jadi aku harus menahan emosi dengan cara menarik nafas lebih dalam.
__ADS_1
*swarrrr* aku menyiramnya juga dengan es teh yang ada di meja pesanan. Baju Adel juga menjadi basah dan semuanya menjadi impas.
"Aaaaaa, kurang ajar kamu" Teriaknya melejit ingin merusak gendang telinga.
"Upssss, maaf aku tidak sengaja. Tapi cocok juga sih untuk orang bodoh sepertimu" Aku membalikkan kata-katanya yang membuat wajah Adel semakin kesal menatapku.
Dia menggerakkan gigi dan tangannya mengepal dengan tatapan kesal. Dewi dan Rena berusaha membersihkan air yang membasahi baju Adel.
"Hahahhahaha" Tawa bergemuruh di kantin. Semua murid melihat kelucuan Adel yang juga basah kuyup karenaku.
"Heyyy, diam kalian" Teriaknya dengan keras membuatku semakin tersenyum menatapnya.
"Kurang ajar kamu key" Tangannya langsung menjambakku dengan keras.
Aku langsung menahannya dan tidak ingin memukulnya. Tapi Dewi membantu Adel untuk memukuliku. Amarahku menjadi melonjak saat mereka menyakiti tubuhku.
*brakk* dorongan keras menbuat Adel dan Dewi terjatuh dan terkapar di atas lantai.
"Hahhahah, huhuhuuhu" Lagi-lagi sorakan ejekan bergemuruh di dalam kantin. Rasanya Adel sudah dipermalukan.
"Kurang ajar, dasar orang miskin" Teriak Adel dengan kesal. Dia berdiri sepertinya ingin melakukan sesuatu. Dari tatapnnya dia ingin membalas dendam padaku.
*swarrrr* saat aku buka mata ternyata air yang dia lemparkan tidak terjatuh di badanku melainkan mengenai David yang mencoba melindungi ku dari siraman Adel sehingga baju David menjadi basah kuyup karena Adel.
"Ayanggg maaaf, aku tidak bermaksud membuatmu ba.... " Belum sempat Adel berbicara, David membentak nya dengan keras.
"Cukup del, kamu tidak capek buat onar seperti ini ha" Amarah David terlihat jelas di matanya.
"Ayang kamu kok marah sih, aku kan tidak sengaja" Suara manja menjadi ciri khasnya saat merayu David.
"Kamu keterlaluan del, kamu melukai Yuri dan ingin melukai Key juga? " Bentak David kembali menbuat air mata Adel menetes.
"Tapi aku tidak sengaja" Tangannya mencoba memeluk lengan David dengan manja.
"Tidak sengaja dan membuat Yuri terluka, dan juga ingin berbuat jahat pada Key" Dengan keras David melepaskan rangkulan tangan Adel.
"Kamu ngapain sih bela dia, dia itu anak orang miskin" Teriak Adel semakin menjadi-jadi.
"Tutup mulutmu sebelum aku pukul Del" Amarah David menjadi memuncak karena Adel yang sudah sangat keterlaluan.
"Kamu jahat, aku akan adukan semua ini pada papahmu" Jurus Adel yang selalu keluar dengan mengancam David menggunakan nama papahnya. Aku tidak tau ada dengan papah David sehingga membuat David terdiam seketika.
Setelah itu Adel pergi dengan kesal meninggalkan kami. Sorakan datang lagi dari para siswa yang duduk makan di kantin. Lalu aku membubarkan kerumunan takut ada guru yang melihat dan menyebabkan masalah.
Begitu juga dengan David yang langsung pergi tanpa sepatah katapun. Aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan karena wajahnya berubah menjadi murung. Aku ingin mengejarnya, tapi aku harus membawa Yuri ke UKS untuk mengobatinya.
Ternyata bukan hanya tangan Yuri yang terluka tetapi kakinya juga bengkak karena terbentur keras di atas lantai. Aku dan Ari memapahnya Yuri dan mengobatinya di UKS dibantu dengan guru yang menjaga di sana.
"Aduh sakit key"
"Lebay, tangankh belum sampai ke kulitmu" Yuri hanya meringis dan membuatku menggeleng.
"Makanya diem, biar ke bisa konsentrasi" gumam Ari sambil memukul kecil tangan Yuri.
"Aduhhh" teriakannya mengagetkan kami dan kemudian dia tertawa.
*plak*
"Aduh, sakit Key"
"Hahahha" Sekarang gantian yang tertawa.
__ADS_1
Setelah itu aku membawa Yuri ke kelas. dalam perjalanan ke dalam kelas, aku melihat Rena yang termenung sendiri di taman tanpa Adel dan Dewi. Sepertinya pikirannya penuh sehingga tatapannya sangat ksokng.
Setelah membantu Yuri ke kelas, aku beralasan ingin pergi ke toilet pada mereka berdua. Tapi aku menghampiri Rena yang sedang termenung lesu di taman. Akhir-akhir ini aku melihat Rena tidak seperti biasanya. Dia terlalu banyak diam.
Rena yang dulu suka bicara, suka membuat onar dan suka melakukan hal apapun kini menjadi pasif semenjak vidio yang mendorongku ke sungai itu tersebar. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan tentang vidio itu sehingga banyak tekanan dalam otaknya.
Padahal aku sudah menyimpan dan tidak mempermasalahkan vidio itu walaupun menyangkut nyawaku. Karena aku tau jika vidio itu sampai ke tangan kepala sekolah maka Rena akan diberhentikan dari sekolah.
"Rena, kamu kenapa sendirian disini" Dia hanya terdiam dan tidak menghiraukan apa yang sedang ku bicarakan. Tatapannya masih kosong ke arah depan. Tidak tau apa yang dia tatap dan tidak tau apa yang dia pikirkan.
"Rena, kalau kamu lagi ada masalah cerita saja" Aku mencoba duduk di sampingnya. Tapi dia masih tidak begumam apapun. Aku mencari cara agar dia bisa berbicara.
"Aku mengenal Rena dulu, dia yang periang dan juga sering membully ku. Tapi kenapa Rena sekarang menjadi pendiam. Ada apa denganmu?" Pertanyaanku berhasil membuat Rena berbalik arah dan menatapku dengan rajam.
"Semua ini karnamu key, semua ini karnamu" Bentaknya sambil memegang bahuku. Aku hanya diam karena aku tau apa yang ada di pikirannya sangat penuh.
"Rena, aku akan menjadi tempatmu untuk cerita. Ceritalah" Aku mencoba menenangkan dirinya tapi sepertinya dia sudah di penuhi amarah dan dendam padaku.
"Kamu merusak hidupku, membuat orang tuaku membenciku. Membuat perjalan hidupku menjadi hancur" Bentaknya dengan kesal lalu pergi meninggalkanku. Rena pergi membawa amarah dalam jiwanya, sedangkan aku tidak tau hal apa yang membuat amarahnya membara.
Aku terdiam menatap Rena pergi, karena aku tidak tau hal apa yang harus dilakukan. Mata Rena benar-benar membenciku, aku ingin menolongnya keluar dari masalah itu. Tapi rasanya sudah tidak bisa karena Rena di penuhi dengan benci.
"Keyla, kenapa kamu belum masuk kelas" Suara ibu guru memangil dari arah belakang.
"Eh ibu, maaf Bu saya tidak mendengar bel" Sahutku sambil tersenyum agar tidak kena marah.
"Ayo sekarang kamu masuk"
"Baik bu, ini saya akan masuk bu" Untung saja guru tersebut tidak galak. Coba saja kalau galak, bisa habis riwayatku kena marah.
Aku bergegas masuk ke dalam kelas takut terkena teguran lagi dari seorang guru. Untung saja kelasku masih kosong karena guru yang ngajar belum masuk.
Baru saja melangkahkan kaki, aku melihat David yang bengong. Seperti ada sesuatu yang dia pikirkan. Apa mungkin dia memikirkan tentang ancaman Adel yang menyebut tentang papahnya. Sebegitu takutnya David dengan papanya sampai dia tidak mau ngelawan Adel.
"Hey, bengong aja" Aku mengagetknya yang membuat David terkejut hingga menghilangkan wajah bengongnya.
"Eh key, kenapa key? " Sahutnya saat dia sadar bahwa aku yang mengejutkan dirinya.
"Kenapa, kenapa, seharusnya aku yang nanya kamu kenapa. Daritadi bengong aja. Awas kesambet setan kamu" Aku menggodanya dan dia tersenyum sedikit lalu kembali diam.
"Aku tidak apa-apa kok key"
"Tidak apa bagaiamana, sedangkan daritadi kamu diam saja tanpa bicara" Dia menyangkal bahwa dirinya sedang ada masalah.
"Mungkin itu perasaanmu saja key" Dia masih menyembunyikannya padaku. Tiba-tiba guru datang dan aku langsung duduk. Aku mengikuti pelajaran dengan baik tapi mataku sesekali menatap David yang masih saja bengong.
Hingga selesai pelajaran David masih diam dan seperti ada yang dia sembunyikan. Tanpa sepatah kata dia langsung oergi dari kelas setelah pelajaran akhir selesai.
Tidak seperti biasanya sikap David menjadi begitu. Terkadang dia menyapa walaupun hanya ucapan untuk pulang atau apalah itu. Tapi kali ini dia terlihat buru-buru. Aku ingin mengejarnya tapi aku harus ke rumah ari untuk belajar.
"Key, kenapa? " Tanya Ari padaku
"Tidak, tidak apa-apa kok ri. Ayo pulang Yuri, ri" Kami bertiga bergegas pulang ke rumah Ari. Aku sudah ijin pada mbak Nike melewati ponsel.
"Yuri, daritadi aku tidak melihat kak Dika" Tanyaku pada Yuri saat kami sudah masuk dalam mobil.
"Iya yur, biasanya saat di kantin dia akan menghampiri kita" Sambung Ari yang juga penasaran.
"Kak Dika lagi ijin, katanya ingin ke rumah kakeknta Key. Memangnya kamu gak diajak?" Memangnya kakek kak Dika kakek juga kakekku, tapi aku tidak tau tentang itu. Aku bingung sendiri jadinya, habis aku tidak tau asal usul kakek nenekku dari ayah atupun ibu.
__ADS_1