
Pagi 06.00
Aku sudah bersiap diri memakai baju sekolah, tapi kali ini aku akan mampir ke rumah ayah terlebih dahulu karena ingin mengantarkan sebuah surat untuk ayah yang akan pergi ke luar negeri.
Menunggu angkot pagi ini seperti menunggu jodoh saja. Tumben pagi ini angkutan umum tidak ada yang melintas. Kalau begini, rasanya aku akan telat untuk pergi ke rumah ayah dan pergi ke sekolah.
"Key, katanya supir angkot lagi demo. Jadi mereka mogok untuk menarik saat ini" Riki menghampirku untuk memberitahukan hal tersebut.
"Sial, sepertinya aku terlambat ki" Kekesalan menyelimuti ku pagi ini.
"Terlambat kemana? " Aku sibuk memesan ojek online sampai lupa menjawab pertanyaan riki.
"Key"
"Iya ki" Pukulan kecil di bahu membuat aku terkejut dan langsung menoleh ke Riki.
"Kemana? "
"Ada urusan kecil, aku berangkat dulu ya. Sepertinya itu ojek yang aku pesan"
Tidak lama kemudian ojek datang dan menghampiri aku. Dengan rasa terburu-buru aku pergi meninggalkan Riki tanpa berpamit dan mengatakan semuanya.
"Pak bisa cepat sedikit kan? "
"Iya mbak, bisa" Motor melaju dengan kencang. Mataku sibuk melihat jalan dan sesekali melihat jam tangan karena takut terlambat sekolah serta terlambat menemui ayah.
Beberapa menit kemudian, motor sudah sampai di depan gerbang rumah ayah. Ada sebuah mobil yang masih terparkir di halaman depan rumah. Sepertinya ayah belum berangkat dari sini.
"Syukurlah, jika ayah belum berangkat" Aku tersenyum bahagia dan ingin segera masuk ke dalam rumah itu.
"Tunggu, tunggu, mbak mau ngapain? "
"Saya mau bertemu dengan kak Dika pak"
"Mbak ini yang kemarin malam datang kan? "
"Benar pak"
Satpam mencegahku dan bertanya tentang diriku yang ingin bertemu dengan kak Dika. Aku disuruh untuk menunggu di depan dan pak satpam akan memanggil kak Dika yang sedang berada di dalam.
"Key?"
"Kakak" Aku berlari dan langsung memeluknya dengan erat.
"Kenapa pergi dari sini, dan kenapa tidak berbicara denganku. Apakah kakak marah denganku?"
Kak Dika terdiam mendengar pertanyaan itu. Matanya sibuk memandang segala arah dan tangannya masih sama mencengkeram tubuhku dengan erat. Pelukan itu seakan tidak ingin dia lepaskan.
"Kamu jaga diri baik-baik, jadilah pemain yang hebat. Dan ingat, jaga emosimu jangan sampai meluap-luap sepenuhnya?"
Dia terus memberikan nasehat serta motivasi dalam karir dan kehidupan yang aku jalani. Tapi dia lupa jika semnagatku juga ada dalam dirinya. Jika dia pergi maka seakan tubuhku hilang satu, sehingga semua berubah.
"Tapi kak, tolong jangan pergi. Key butuh kakak di sini" Wajahku memelas dan tidak terasa air mata menetes.
Genggaman tangan sangat erat mencengkeram lengan kak Dika. Mencoba menahan agar dia tidak pergi dari sini dan meninggalkan aku lagi sendirian. Aku tidak ingin kehilangan sosok kak Dika, yang selalu ada di sampingku dan menjagaku sebagai kakak yang bertanggung jawab.
"Saat ini aku tidak bisa menjelaskan tentang kepergian ini, suatu saat mungkin kamu akan tau semuanya Key" Tangannya mengangkat wajahku dengan tatapan haru.
Belaian lembut kembali dia berikan dengan hangat. Matanya mengatakan bahwa dia sedang bimbang dengan sebuah pilihan yang berat serta pikiran yang sedang mengacau dalam kepalanya.
"Tapi kak......"
*dretttt, drettt* dering ponsel berbunyi dari saku kak Dika. Dia segera mengangkatnya.
"Iya ma, tunggu sebentar Dika masih dalam perjalanan" Ponsel dimatikan.
"Tunggu kak" Aku kembali mencegah tangan kak Dika yang ingin memasuki mobil.
"Kemana ayah? " Mataku menahan agar air bening itu tidak lolos lagi. Bibirku gemetar saat bertanya keberadaan ayah saat ini.
"Cepatlah naik, ikut bersamaku" Tidak banyak kata yang dikeluarkan, kak Dika menyuruhku untuk masuk ke dalam mobil dan ikut bersamanya ke bandara.
Dia berkata bahwa jam keberangkatan masih panjang kurang 1 jam lagi. Tapi keluarganya sengaja datang lebih awal agar tidak ketinggalan pesawat.
Di dalam mobil dia tidak mau menceritakan alasan keluarganya pergi ke luar negeri. Seakan ada hal yang disembunyikan, bahkan saat aku bertanya mengapa tidak memberitahu jika ingin pergi namun kak diak tetap diam.
__ADS_1
*crittt*
"Ayah" Teriakan yang sangat kencang. Langkagku terus berlari secepat mungkin setelah keluar dari dalam mobil.
"Ayahhhh, jangan tinggalin Key yah hikssss.... Hiks.... " Aku menangis dalam pelukan yang sangat erat. Aku tidak ingin ayah pergi meninggalkan aku untuk kedua kalinya.
"Ayah, Key mohon jangan tinggalin Key" Aku tidak peduli tangisan ini sangat keras sehingga membasahi baju ayah.
"Ihhh, lepasin. Kamu ini apa-apaan sih? Memangnya kamu ini siapa? " Tangan perempuan itu memisahkan pelukanku dengan ayah.
Dia adalah mamanya kak Dika, istri ayah saat ini. Tatapannya bengis dan mengatakan bahwa dirinya sangat membenciku. Dia berusaha membuatku menjauh dari pelukan ayah tapi tanganku tetap memegang lengan ayah kuat-kuat.
"Tante tolong jangan bawa ayah pergi"
"Apa katamu, ayah? Kamu itu anak pelacur bukan anak dari suamiku" Makiannya kembali keluar, bekas luka lama belum juga sembuh lalu ditambahi lagi. Dia terus mencaci dan merasa jijik melihat wajahku.
"Ma.. "
"Diam kamu Dika, kenapa kamu membawa anak ini kesini" Bentaknya pada kak Dika yang berusaha meredam amarah mamanya yang membuat keributan di bandara ini.
"Dia anak papa juga"
"Bukan, dia itu anak pelacur. Sini kamu" Tangannya menyeret ku untuk menjauh. Ayah dan kak Dika juga mengejar tapi dihalangi oleh wanita itu.
"Asal kamu tau, jika bukan karena kesalahan ibumu maka kamu tidak akan lahir dan hidupku tidak akan menderita pada saat itu" Bentaknya sangat keras sambil mencengkeram tanganku sekuat mungkin hingga aku merasakan kesakitan.
Matanya terus melotot sambil memberikan lagi kata-kata yang tidak layak. Bahkan dia mengungkit masa lalu tentang perselingkuhan ayah dan ibu saat itu sehingga mereka melahirkan aku.
"Tante.... "
"Diam kamu, lebih baik kamu pergi" Tutur kasar kembali mengusir tubuhku yang pilu. Air mataku tidak mampu membuat hatinya tersentuh.
"Kamu keterlaluan, dia anakku juga"
"Anakmu, anak hasil selingkuhanmu dengan pelacur" Dia bahkan tidak peduli dengan ucapan ayah.
Dirinya selalu berbicara banyak hal untuk memeprmalukan aku di bandara ini. Hampir setiap mata yang lewat mengawasi dengan berbagai macam tatapan.
Hatiku semakin sedih saat melihat ayah bertengkar kembali dengan isterinya. Ayah mencoba membelaku dan ingin memelukku kembali tapi wanita itu terus mencegahnya.
Ancamannya membuat ayah terdiam. Aku tidak tau hal apa yang membuat ayah menuruti perkataannya. Langkah ayah pergi bersama perempuan itu, begitu juga dengan kak Dika yang pergi tanpa sepatah kata lagi.
Aku menatap dengan kepedihan melihat jejak-jejak langkah yang mereka tinggalkan. Hatiku hancur dan tidak bisa menahan lagi.
"Ayahhhh"
"Keyyy" Ayah berlari saat aku memanggilnya. Dia kembali memelukku dengan erat memberikan kehangatan. Sedangkan wanita itu masih menatap kebencian dari jauh.
"Jadilah anak baik ya nak, ayah janji akan kembali untuk menemanimu" Tangannya menyentuh lembut wajahku yang penuh dengan air mata.
"Berjanjilah pada ayah bahwa kamu akan berjuang untuk menjadi pemain hebat" Anggukan pilu yang menyetujui ucapan ayah.
"Ayah"
"Ingatlah, kamu harus tetap menjadi anak baik dimanapun itu" Ucapan terakhir ayah lalu wanita itu kembali menarik tangan ayah untuk segera pergi.
"Ayahhhhh, jangan tinggalin Key ayah" Perpisahan kedua tangan yang sulit untuk dilepaskan tapi terpaksa harus dilepaskan.
Aku mencoba mengejar ayah dan kak Dika tapi dihalangi oleh penjaga disana karena yang boleh masuk hanya orang-orang yang memiliki tiket pesawat.
"Kak Dika, ayahhh" Teriakanku sangat lantang, membuat kak Dika dan ayah kembali menoleh untuk kesekian kalinya. Tangannya melambai lembut seakan ingin menyentuh tapi rasanya tidak bisa.
Mereka memberikan isyarat akan pergi dan berbicara untuk menjaga diriku baik-baik di negeri ini. Lalu mereka kembali berbalik dan benar-benar pergi dari hadapanku.
"Ayah, kak Dika" Tangisanku mengundang semua mata untuk memaksa melihatnya. Semua mata merasa sedih saat melihat seorang remaja sepertiku menangis bagaikan orang gila.
Hidupku menjadi diam kembali dan seakan semuanya menjadi hancur kembali. Luka lama yang ada terobati oleh kehadiran ayah lalu kembali direnggut oleh kepergian ayah
Aku terus duduk di depan bandara untuk menunggu pesawat itu lepas landas. Dengan menggunakan baju sekolah, mataku menatap pesawat yang segera lepas landas untuk ke negara tujuan. Sepertinya ayah akan pergi ke Amerika.
*wussssssss* pesawat yang ditumpangi oleh ayah telah pergi dan melintas di atasku.
Aku menadahkan wajah ke atas langit dan menahan serangan cahaya mentari pagi ini. Aku melambaikan tangan untuk melihat bahwa mereka sudah pergi.
"Hati-hati" Wajahku kembali menangis dengan bisikan-biaikan harapan semoga mereka kembali lagi.
__ADS_1
"Aku berjanji akan berjuang demi impianku ayah. Aku berharap engkau datang nanti dan menemuiku ayah" Teriakan yang terbang dibawa oleh hembusan angin.
Aku tau sekarang, mereka pergi karena paksaan ibu dan istri mereka. Walau kak Dika sempat tidak sengaja bercerita sedikit di dalam mobil tadi, aku sudah mengerti semuanya bahwa istri ayah benar-benar membenciku.
*aaaaaa* teriakan tidak jelas memenuhi jalanan yang berkaitan dengan suara kendaraan kali ini.
Perpisahan sangatlah menyakitkan, apalagi perpisahan dengan orang yang aku sayang. Hatiku benar-benar hancur dan tidak memiliki tenaga untuk terus berjalan menghadapi kenyataan yang sudah benar-benar adanya.
"Kemana lagi aku melangkah sekarang, kenapa semua cintaku menghilang" gumamku berbicara pada udara yang liar.
Sepertinya aku butuh untuk sendiri menenangkan diri, melampiaskan rasa pedih dan teriakan untuk melepaskan semuanya kembali ke udara-udara yang masih mengikuti.
Aku berjalan menyusuri kota yang ramai dan kembali ke pantai. Duduk tenang disana menikmati terik di siang hari. Desiran angin pohon kelapa menyambut dengan damai.
"Aaaaaaaaaaa, apakah ayah tau jika aku kesepian disini ayah. Kak Dika juga, mengapa ikut pergi. Lihatlah, apakah aku terlihat egois jika melarang kalian? Sedangkan aku disini sendirian karena kalian pergi tanpa syarat"
Kembali berbicara bersama udara disana. Terus saja meracau dan teriak dari lubuk hati yang paling dalam. Meskipun teriakan ini tidak membawa mereka kembali, setidaknya bisa membawa kehancuran hatiku pergi.
*bluk*
"Aduh, bola siapa ini" Sebuah bola mendarat tepat di kepalaku.
Aku jadi mengingat masa itu, saat aku mengenal bola. Masuk memberikan bola ke dalam lapangan dan terjatuh. Lalu tangan David menolong dengan senyum padahal aku tidak mengenalnya sama sekali. Tapi hatinya sangat baik sehingga aku mengenal lebih dekat tentang bola.
"Maaf kak, kami tidak sengaja" Suara seorang anak membubarkan lamunanku yang mengingat masa itu.
"Eh iya dek gapapa, kalian lagi main bola? " Tanyaku sambil menyeka air mata yang masih menetes.
"Iya kak, itu disana" Senyumku penuh arti, aku ingin menghilangkan sumpek dan rasa sakit ini.
"Apakah aku boleh ikut? "
"Boleh kak, ayo" Aku mengikutinya dan bermain bersama mereka.
Umur mereka masih sangat kecil, Kira-kira sekitar 10-12 tahun dan masih duduk di sekolah SD. Aku ingin menikmati siang ini bermain bola bersama mereka semua di pinggir pantai.
"Ayo kak oper, oper"
"Sini, sini"
*bluk*
Sepakan bola plastik tidak sekencang bola di pertandingan. Tapi inilah kebahagiaan, sulit untuk membeli karena tidak memiliki uang tapi suatu saat nanti jika mereka sudah memiliki uang untuk membeli tapi yang sulit adalah mengumpulkan skuad pertemanan dahulu.
Bola dan barang apapun bisa di beli. Namun masa dan sebuah kenangan tidak akan pernah bisa dia beli, karena tidka mungkin akan kembali ke masa itu.
"Golllll" Tendangan yang cantik dan disambut oleh sundulan mampu menembus gawang yang terbuat dari ranting pohon sembarangan.
Tertawa keras dimiliki oleh tim ku yang berhasil menembus gawang lawan. Berpelukan bersama anak-anak kecil seakan mengembalikan ku ke masa anak-anak.
Dimana saat itu aku tidak hanya memikirkan tentang bermain karena pikiran terbesarku adalah berjualan bersama ibu. Selebihnya aku makan dan bersekolah. Bukan saat ini, semakin dewasa maka semakin rumit masalah hidup yang datang.
"Berhasil kak"
"Iya betul"
*prok, prok* tepukan tangan secara bergantian sebagai tanda kemenangan milik bersama.
Sesingkat itu rasa sedihku menghilang bersama bola. Walau tidak seutuhnya, aku masih bisa tertawa dan menikmati hal ini serta melupakan tentang kepergian ayah yang meninggalkanku untuk kedua kalinya.
"Ayo lagi, lagi, tendang lagi"
"Ini kak, ini"
*bluk* berkali-kali bermain bola, ada kalah dan ada menang tapi tidak ada pertengkaran. Karena permainan ini adalah bermain tentang persahabatan yang akan dikenang mereka kelak jika sudah beranjak dewasa.
"Bentar, bentar kalian pasti haus kan? "
"Iya nih kak, haus banget"
"Oke kali ini aku traktir kalian untuk meminum es kelapa"
"horeeee"
Tawa yang sangat tulus menghiasi setiap bibir-bibir kecil mereka. Kegirangan yang penuh arti tanpa harus tau masalah apa yang akan dihadapi suatu saat nanti.
__ADS_1