
Aku dan ibu bergegas pulang ke rumah menaiki angkot. Di angkot aku menatap dengan haru wajah ibu. Wajah tua yang lesu, tapi selalu tersenyum padaku. Tidak ada kemarahan yang terucap hanya kata kasih sayang yang terus saja bergulir.
"Bu, maafin key ya" Aku mendekat dan memeluk ibu. Seperti seorang anak yang manja pada orang tuanya.
"Kamu ini, ibu sudah maafin kamu. Lagipula kamu tidak bersalah" Aku semakin sedih dan menyandarkan kepala hanya untuk melupakan rasa kecewa pada diriku. Sedangkan rasa bersalah terus terucap saat ku lihat mata penuh dengan ketulusan dari seorang ibu.
"Beruntung sekali ibu, punya anak yang berbakti seperti ini" Ucap ibu-ibu yang duduk di depanku.
"Iya, ini anak bungsu saya yang sangat baik dan berbakti. Saya sangat menyayanginya" Ibu mengecup dahiku dengan lembut. Tidak terasa air mataku menetes pilu saat mendengarkan ucapan ibu.
"Kamu juga memiliki ibu yang hebat nak, yang selalu sayang padamu" Lanjut ucap seorang ibu yang sudah sepuh di depan kami.
"Benar Bu, saya aja bangga memiliki seorang ibu hebat. Tidak membedakan anak-anaknya satu sama lain. Kasih sayangnya selalu banyak dan tidak terhingga" semua orang di dalam angkot tersenyum melihat seorang anak dan ibunya saling memuji. Andai mereka tau, bahwa aku dan ibu tidak ada hubungan darah tapi saling menyayangi.
Di rumah
Sesampainya di rumah sudah ada bapak dan Mbak Yeni. Bapak menanyakan tentang apa yang terjadi padaku. Ibu mejelaskan semuanya tanpa ada pengurangan dan kelebihan.
Bapak menyikapi dengan baik, beliau memberiku nasehat agar nanti kedepannya aku bisa menjaga emosi. Apalagi nanti akan bertarung di atas lapangan dengan berbagai macam sifat serat kecurangan. Maka dari itu berhati dinginlah jalan untuk meraih kesuksesan.
"Biarkan masalah bari ini dijadikan pelajaran, agar kedepannya kamu bisa menjadi manusia lebih baik lagi"
"Iya Pak, maafin key yang suka buat kalian kecewa" aku memeluk kedua orang tua yang menyayangiku dengan tulus.
Bukannya memarahiku tapi mereka adalah orang tua yang memberikan semangat serta nasehat agar anak-anaknya menjadi yang terbaik di masa depan. Bahkan mbak Yeni juga memberikan nasehat padaku. Katanya harus belajar dari kejadian ini dan jangan diulangi lagi. Sepak bola memang penting, tapi pendidikan lebih penting katanya.
Aku mendengarkan dengan seksama semua nasehat itu. Aku renungkan dan simpan dalam hati. Lalu berpamitan untuk pulang ke rumah. Suasana yang sepi dan kembali lagi berteman sunyi.
"Sepertinya bola bisa menemaniku" gimamku sambil memegang sebuah bola.
Lebih baik aku bermain bola, lagipula hari ini masih belum terlalu siang. Jadi lebih baik bermain bola di depan halaman rumah. Memang berlatih dengan pelatih ada batasnya. Tapi berlatih sendiri hanya untuk mengasah kemampuan itu tidak ada batasnya.
Dengan bangga aku menggunakan Jersey Asnawi mangkualam yang aku beli kemarin. Membawa bola pemberian David dan memainkannya sendirian di halaman. Melakukan beberapa skil yang aku contoh dari pemain bek legenda timnas. Memang susah-susah gampang, tapi jika dilakukan dengan giat dan tekun maka tidak menutup kemungkinan kita akan bisa bermain seperti mereka.
"Aduhh, capek juga. Langit panas banget lagi. Lebih baik tidur siang nih" aku masuk ke dalam rumah bergegas membersihkan diri lalu melaksanakan ibadah dan terlelap di atas kasur sambil memeluk bobo dengan erat dan terlelap menuju alam mimpi.
"Langkahmu masih panjang, masalah yang ada saat ini segeralah lupakan. Sambutlah masa yang akan datang nanti. Dan jangan lupa bahwa kamu adalah pemain hebat. Teruslah menjadi rajin dan tekun dalam berlatih agar nanti menjadi pemain yang banyak disenangi"
"Iya kek" kakek datang lagi, kali ini banyak nasehat yang diucapkan olehnya. Aku mendengarkan dengan baik karena semua perkataan kakek selalu benar. Bahkan dia juga yang berkata bahwa nanti akan banyak rintangan yang aku hadapi. Bukan satu dua tapi akan sepenuhnya.
"Kakek, kakek kemana" aku terbangun dari tidur singkat siang ini. Menatap jam dinding ternyata masih pukul setengah 2. Dengan lelah mataku tertutup kembali dan istirahat dengan nyaman. Meraih kembali mimpi-mimpi yang padam dan merangkainya.
"Ini nihhh, ayo bangun. Katanya kamu di skorsing lagi"
"Aaa, sakit mbak sakit" mbak Nike datang dan masuk ke dalam kamar lalu menjewer telingaku secara tiba-tiba. Rupanya dia geram saat mendengarkan bahwa aku kembali di skorsing karena kesalahan kekerasan.
Mbak Nike datang dengan kesal karena dia sangat ingin aku sekolah setinggi mungkin. Katanya jika nanti ibu kandungku tidak mengirim uang maka mbak Nike yang akan membiayai sekolahku hingga tamat.
Pantas saja mbak Nike marah, karena dia sangat menyayangiku lebih dari apapun. Sedangkan aku menjelaskan semuanya pada mbak Nike agar dia tau apa yang sedang terjadi
"Jangan jewer dulu mbak, lepasin. Key bakalan memberitahukan semuanya pada mbak" dengan baik hati aku menyatakan kebenaran pada mbak Nike. Tentang alasan mengapa aku di skorsing selama 3 hari. Bukannya marah, dia malah memelukku dan meminta maaf.
"Key maafin mbak, hiksss, hikssss" mbak Nike malah menangis. Sedangkan aku tidak tau apa yang sedang terjadi padanya. Aku memeluk mbak Nike, semua orang pasti salah dan semua orang tidak ada yang lepas dari kesalahan.
"Mbak gak salah, key yang salah karena tidak bisa menahan emosi. Key janji akan berubah lebih baik lagi" Pelukan hangat dari seorang kakak yang sangat menyayangiku seperti adik kandungnya sendiri.
Melewati hari-hari skorsing dengan latihan di tempat klub ataupun latihan sendiri. Sore hari aku berlatih bersama di klub tarkam. Sudah akrab dengan semua pemain yang ada disini. Jadi latihan sudah terbiasa dan sudah beradaptasi dengan lingkungannya. Semoga saja saat bertanding bisa melakukan yang terbaik.
"Key, setiap latihan selesai mengapa kamu tidak pulang?" Tanya salah satu teman satu timku.
__ADS_1
"Aku lagi latihan" karena latihan sudah selesai jadi kita bisa ngobrol untuk menghilangkan stress.
Memang benar setiap latihan selesai aku selalu melakukan skill yang diajarkan oleh pelatih. Jika masih belum bisa aku akan mencobanya. Aku ingat kata-kata kakek yang pernah berucap untuk tidak cepat puas dan harus tetap semanagt, rajin dan tekun dalam berlatih.
"Iya sih, tapi kamu terus saja latihan. Padahal latihan dengan pelatih sudah selesai. Memangnya kamu tidak capek Key? " tanyanya lagi padaku.
"Seorang pemain hebat tidak pernah merasa capek untuk berlatih, contohnya Ronaldo dan messi pemain terbaik dunia. Meskipun mereka hebat tapi akan tetap berlatih sedangkan aku yang belum memiliki gelar maka harus berlatih lebih giat lagi. Siapa tau bisa mengalahkan mereka" sahutku padanya dengan rasa penuh percaya diri.
"Hahahah, ngimpi kamu key. Ke timnas Indonesia saja belum masuk mana mungkin kamu menjadi pemain hebat dunia" ucapnya sambil tertawa keras.
Dia mengejekku seakan aku tidak bisa melakukan apa yang dilakukan pemain terbaik dunia. Aku akan buktikan padanya bahwa aku bisa masuk ke timnas Indonesia untuk menjadi pemain terbaik yang dikenal oleh banyak masyarakat.
Ejekannya seakan meningkatkan semangatku untuk terus berlatih. Saat dia pulang dan hampir semua pemain sudah pulang, aku tetap berlatih tanpa kenal lelah. Apalagi mencoba gaya tendangan pojok yang baik sehingga bisa mengarah ke arah gawang langsung. Hal itu yang sangat sulit untuk aku lakukan, tapi dengan usaha aku pasti bisa.
"Aduh gagal lagi, ayo Key fokus kamu pasti bisa. Tendang lagi" gumamku menyemangati diri sendiri agar bisa melakukan tendangan dengan baik.
Melakukan tendangan dengan konsentrasi, melepaskan tendangan dengan fokus tinggi. Gagal ambil bola lagi, jika masih gagal lagi maka harus berlatih lagi. Jika aku masih gagal tandanya latihan ku kurang gigih dan sungguh-sungguh sehingga belum mendapatkan hasil yang maksimal.
Benar kata kakek, aku harus berlatih dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan hasil yang terbaik. Pemain hebat tumbuh dari kegagalan yang berkali-kali. Tapi pemain hebat tidka pernah menyerah dengan kegagalan itu walaupun ribuan kali.
Tapi yang paling sulit adalah bertemu dengan David, karena selalu saja adel menjerat David yang membuatnya ada dalam naungan dia
Sebenarnya aku sangat kasihan melihat David tapi aku tidak bisa apa-apa karena ayahnya yang galak. Bahkan aku tidak tau masalah apa yang menjerat dalam hidupnya.
Tapi biarlah semua berlalu, urusan dia adalah urusannya dan urusanku dalam hidup adalah urusanku yang harus diselesaikan kapanpun dan bagaimana pun caranya asal akan semuanya harus sudah selesai.
"Pertandingan perdana yang aku jalani harus bisa membuat kenangan yang berkesan. Ayo semangat key" Menyemangati diri sendiri adalah caraku untuk bahagia.
Hingga pertandingan pertama ku di tarkam telah dimulai. Aku bermain di tim tersebut dengan bebas dan leluasa. Seakan tidak ada tekanan apapun dalam bermain di lapangan. Akan tetapi permainanku menurun, mungkin karena masalah cidera kemarin membuat aku masih banyak kehilangan bola dan lariku yang masih kurang cepat dari permainan musuh.
Untung saja permainan pertama tim kami memengankan pertandingan, tapi aku mendapatkan teguran yang keras dari pelatih dan majer katanya permainanku tidak bagus dan tidak ada perkembangan. Mereka memarahiku karena aku seperti bermain biasa-biasa saja tidak seperti permainan tarkam bayaran pada sebelumnya.
"Kamu itu saya bayar, tapi permainamu seakan tidak ada semangat key. Jika kamu begini terus maka saya bisa memutuskan kontrak di tengah jalan"
__ADS_1
Aku menunduk diam saat manajer memarahiku dengan keras di ruang ganti setelah pertandingan. Aku hanya bisa menunduk dan menerima teguran tersebut.
"Maaf Pak, permainan saya masih kurang baik dari sebelumnya. Di pertandingan pertama ini sayang janji akan menjadikan evaluasi untuk meningkatkan performa" Sahut ku.
Aku tau semua manajer dalam tim tarkam ingin membeli pemain yang berkualitas terbaik. Walaupun masih permainan pertama tapi tetap harus memberikan yang terbaik.
"Justru itu kamu harus bisa melakukan apapun untuk mendapatkan permainanmu yang terbaik seperti dulu. Saya membeli kamu pakai uang, bukan pakai daun" Dia membentak dan mempermalukanku di depan semua teman-teman yangal ada di dalam ruang ganti setelah pertandingan.
Manajer tersebut langsung pergi meninggalkan kami semua. Mereka menatapku dengan tatapan pilu. Aku hanya diam dan menghempaskan tubuhku untuk duduk di bangku. Tanganku mengepal keras untuk melupakan emosi.
"Semangat key"
"Jalan masih panjang, jangan lupa terus belajar" Aku mengangguk saat beberapa teman satu tim meberikan semangat setelah teguran keras dari manajer tadi.
Hatiku berjanji, bahwa cacian yang mereka berikan akan menjadi jalan untuk semangatku. Aku akan memperbaiki penampilanku di pertandingan yanga akan datang. Pertandingan selanjutnya akan diadakan dua hari lagi. Jadi akau akan melakukan latihan yang terbaik.
Dari pertandingan tersebut aku melakukan latihan dan bekerja keras lagi untuk mendapatkan hasil terbaik. Sore hari aku berlatih untuk menguji kecepatan dengan beradu lari melawan motor mbak Yeni.
Dia yang menyetir dan aku yang berlari agar terus mendapatkan lari yang cepat untuk membantu serangan saat berhasil mendapatkan bola dari tim lawan yang akan menyerang.
Di sekolah aku berusaha untuk berlatih di gudang, di lapangan dan di manapun untuk bisa bermain bola. Serta di dalam kesempatan aku menemui coach Alam untuk mendapatkan masukan atas kesalahan yang aku perbuat di tim tarkam pada pertandingan pertama.
"Ingat key, kesalahanmu bukan untuk dikenang, tapi harus direnungi. Karena besok kamu akan bertanding untuk pertandingan yang ke 2. Saya harap kamu bermain lagi tapi kurangi kesalahan"
"Baik coach, tapi bagaimana jika penampilan jelek pasti mereka akan mengganti saya kembali Coach" Di dalam hati masih ada kecemasan karena takut dengan penampilanku yang jelek.
Jika mereka mengeluarkan aku dengan paksa dari tim, maka kesempatan ku memilki jam terbang lebih tinggi akan hangus. Bahkan akan menghilangkan kesempatan ku dilirik oleh pelatih timnas.
"Kamu bermainlah dengan hati, tanpa tekanan apapun walaupun di luar banyak masalah namun harus bisa melupakannya" Cocah Alam kembali menasehatiku dengan baik.
"Bagaimana cara untuk bermain tanpa beban coach" Banyak ketakutan dalam diriku, ternyata menjadi pemain kontrak dalam tarkam itu tidak mudah dengn hanya berlatih, bertanding dan mendapatkan gaji. Ternyata itu semua sangatlah salah.
Banyak tekanan karena dituntut untuk bermain yang terbaik. Jika tidak maka akan di depak dari tim. Berbeda saat aku bermain untuk sekolah. Tidak ada tekanan apapun walupun aku menjadi pemain cadangan.
"Bermainlah seakan-akan kamu bermain untuk dirimu sendiri. Buatlah permainan itu sebagai mainanmu sewaktu kecil. dan nikmati setiap tendangan bolanya maka kamu akan tenang dalam bermain" Aku mengangguk mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh coach Alam. Aku harap besok bisa bermain sebaik mungkin tanpa mengecewakan.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~