
Setelah melakukan peregangan tubuh, aku mencoba bermain bola. Entahlah mengapa aku sangat mencintai bola meskipun tanganku saat ini masih terluka. Mungkin hatiku sudah melekat dengan bola.
"Asik sekali bermain bolanya"
"Eh om Roky" Ayah ari tiba-tiba muncul dari belakang dan mengagetkan ku.
"Ari pernah cerita, kalau kamu jago main bolanya. Memangnya kamu masuk di SSB (Sekolah Sepak Bola) mana key? "
"Tidak om, saya tidak jago hanya saja bisa menikmati bermain dengan bola. Dan kalau mau masuk SSB saya tidak punya biaya om kadinya hanya bisa berlatih sendiri" Sahutku menjelaskan kenyataan pada om Roky.
"Benarkah? Tapi kamu saat jago" Aku dan om Roky membicarakan tentang bola.
"Tidak om, heheheh" aku meringis dengan perkataan *jago* yang diucapkan om Roky.
Beberapa kali dia memuji permainanku dengan bola. Dan aku menolaknya, karena menurutku permainan ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan permainan yang lainnya. Tapi om Roky tetap mengatakan bahwa aku bermain sangat bagus dengan bola itu. Bahkan om Roky menyuruhku untuk bermain lagi agar dia bisa menonton skil yang aku mainkan.
"Kamu punya kemampuan yang baik, apakah kamu mau masuk di SSB yang dikelola oleh teman om? " Tawaran yang cukup mencengangkan. Aku tidak tau ingin berbicara apa karena saat ini bibirku terbungkam karena terkejut dengan pernyataan yang dikatakan oleh om Roky.
"Maksudnya om? "
"Kamu masuk di SSB itu dan berlatih setiap sore hari. Untuk biaya tidak usah kamu pikirkan, dan om yang akan membayar semuanya" Aku terkejut dengan pernyataan yang om Roky katakan. Aku langsung menyalami tangannya dengan sangat-sangat berterima kasih.
"Om makasih banyak om, makasih banyak"
"Iya key, kamu berlatih lah dengan sungguh-sungguh. Disana adalah SSB untuk wanita. Jika kamu benar-benar berlatih dengan baik maka tidak menutup kemungkinan impianmu menjadi pemain timnas akan tercapai" Om Roky sangat baik, dia membantuku untuk mewujudkan mimpi menjadi pemain timnas. Tapi dari mana dia tau jika aku ingin masuk ke timnas.
"Om tau darimana jika aku ingin masuk ke timnas? "
"Ari selalu bercerita tentangmu, om pikir kamu berlatih di SSB ternyata kamu berlatih sendiri. Berlatih mandiri saja skil kamu sudah bagus apalagi berlatih dengan didampingi oleh pelatih"
Bibirnya terus memuji ku dan memberikan semangat yang tinggi. Kali ini aku sangat beruntung menemukan banyak orang baik di dunia yang dikirimkan oleh Sang Maha Pencipta.
"Kamu lanjut berlatih saja, om mau keliling ke perkebunan yang sedang dikelola oleh pak Gilang"
"Baik om" Om Roky segera pergi mengendarai sepeda untuk melihat perkebunan teh yang ada di sekitar.
Orang tua Ari sangat kaya, Ari memiliki segalanya. Tapi gaya hidupnya sederhana seperti tidak memiliki apapun. Bahkan keluarganya sangat banyak membantuku. Aku sudah menganggap mereka semua keluargaku.
"Tante,, tante" Setelah berlatih bola, aku segera masuk mencari tante Maya. Ternyata tante Maya ada di dapur sedang memasak untuk sarapan kami.
"Iya Key disini" Aku menceritakan semuanya tentang om Roky yang ingin memasukkan ku ke sekolah bola milik temannya.
"Wah bagus sekali, itu bisa membuat kamu sangat berkembang dan masuk ke timnas" Mereka sangat semangat dan memberikan dukungan lebih padaku. Bahkan aku tidak menyangka jika aku bertemu dengan kedua orang tua yang sangat menyayangiku lebih dari orang tuaku sendiri.
"Tante tidak marah? " Tanyaku
"Buat apa tante marah, tante sangat senang mendengar berita ini. Tante sudah anggap kamu seperti anak sendiri" Tante Maya langsung memelukku dengan hangat. Seperti seorang ibu yang bahagia saat mendengarkan cerita dari anaknya. Aku nyaman ada di pelukannya dengan belaian tangan yang lembut.
Di balik pintu aku melihat Rena yang mengintip. Saat dia sadar bahwa aku telah melihatnya, dia langsung pergi entah kemana. Aku tidak tau mengapa dia mengintip seperti itu, bila ingin berbincang-bincang seharusnya dia kesini bukan mengintip.
"Tante key ke kamar dulu ya"
"Oke sayang" Aku pergi ke kamar untuk menemui Yuri dan Rena. aku ingin mengajak mereka berdua untuk bersenang-senang diluar. Mumpung masih di desa yang sejuk tanpa polusi, aku ingin menghirup ketenangan yang sangat puas.
"Yuri, Rena ayo ikut aku. Kita bermain di halaman depan untuk menghirup udara yang segar" Rena dan Yuri sedang asik bermain dengan ponselnya. Aku mencoba mengajak mereka untuk bermain bebas.
"Iya key, aku lagi males main ponsel soalnya disini sinyalnya putus-putus" Sahut Yuri dan langsung menyimpan ponselnya lalu menghampiriku.
"Aku ikut juga, sepertinya di luar udaranya sejuk dan menyenangkan" Rena juga ikut dengan kami.
"Kalian mau kemana? " Kak Dika menegur kami, sepertinya dia baru bangun dari malas-malasannya.
"Kita mau bermain di luar, apakah kak Dika mau ikut? " Sudah ku duga, Yuri akan mengajak kak Dika. Dan kak Dika pasti tidak akan menolaknya aku tau itu.
"Oke aku ikut"
"Tunggu, aku ikut juga" Ari dan kak Dika ikut untuk menikmati alam ini. Kami duduk santai sambil menikmati suasana pagi. Rasanya sangat beda dengan kampungku yang sudah tercemar polusi bahkan tidak sesejuk kampung ini.
Sangat senang bermain-main bahkan ilalalang sangat indah bila dipandang. Rumput liar juga sama indahnya dan menari-nari karena hembusan angin alam yang menyejukkan hati. jajaran tanaman teh tertata rapi. Gemas melihatnya karena dapat membuat hati senang dan tenang.
Kami sangat menikmati suasana di vila ini. Dan tibalah saatnya kami pulang untuk kembali ke kampung halaman. 4 hari kami menikmati suasana yang indah disini. Banyak kenangan dan perjalanan yang indah. Om Roky juga selalu memotret setiap hal yang kami lakukan disini bahkan kami juga melakukan sesi foto bersama.
Kami pulang dan berpamitan pada warga desa serta pak Gilang. Menaiki mobil menempuh perjalanan hingga sampai ke kampung halaman. Kak Dika mengantar kami semua untuk pulang. Dan yang paling terakhir diantar adalah aku.
__ADS_1
Sesampainya di kampung, aku mampir ke rumah lbu dan bapak. Disana tidak ada mbak Yeni dan mbak Nike katanya mereka pergi bekerja dan kuliah jadi aku hanya menemui ibu dan bapak. Selanjutnya aku pergi ke rumah untuk merebahkan diri.
"Siapa ya yang tega mencelakai ku kemarin" Pikirku bertanya-tanya tentang kejadian kemarin. Bahkan kejadian rem sepeda yang blong rasanya juga janggal. Karena aku sempat melakukan pengecekan rem dan tidak ada yang blong. Aku tidak tau siapa yang melakukan ini, aku hanya bisa berdoa dan meminta perlindungan pada Allah Yang Maha Esa.
Hari-hari berlalu, aku memanfaatkan liburan semester dengan berlatih bola sambil melihat tontonan di ponsel dan juga melihat buku David. Mencoba berlatih setiap hari untuk meningkatkan skil bola dan mengasah nya kembali. Rasanya tidak nyaman setelah cidera, karena aku harus bekerja keras lagi untuk mengembalikan skil yang hilang.
3 hari yang lalu aku masuk ke SSB yang dijanjikan oleh om roky. Awal pelatihan yang sangat menarik, tidak jauh beda dengan pelatihan di lapangan dekat rumahku. Aku mengikutinya dengan baik walaupun masih kurang beradaptasi sepenuhnya.
Aku dilatih oleh coach Edo, pelatihannya memang hampir sama. Tapi bedanya setiap hal baru pasti ada semangat baru atau bahkan ilmu-ilmu baru. Aku mengikutinya dengan senang, orang disana baik-baik dan menerimaku dengan baik. Jadi kali ini aku tidak usah mengendap-ngendap lagi mencari ilmu di lapangan sana. Cukup datang ke sekolah bola sesuai jadwal yang diberikan.
\*TAHUN AJARAN BARU\*
Akhirnya tahun ajaran baru telah tiba. Sekarang aku sudah menduduki kelas 11. Dengan senang hati masuk ke sekolah bertemu dengan teman-teman tapi tidak dengan pembelajaran, hehehe. Kelas kami dirombak kembali dengan kelas MIPA lainnya.
Untung saja aku, Yuri dan Ari berkumpul di kelas yang sama dan masih menduduki bangku belakang seperti biasa. Hanya Rena yang berbeda kelas dengan kami.
"Libur telah usai, hore, hore, hatiku gembira" Ari bernyanyi dengan semangat karena libur telah usai. Memang sulit berbicara dengan orang pandai yang selalu ingin belajar dan terus belajar.
"Masih enak libur, belajar terus bikin otak puyeng ri" Sahut ku
Diantara kami bertiga, hanya Ari yang selalu ingin masuk sekolah. Kami memiliki grup whatsapp di ponsel. Setiap hari melakukan obrolan, di dalamnya berisi macam-macam obrolan ada yang penting dan ada pula yang garing. Aku dan yuri lebih memilih libur diperpanjang, karena kelas 11 akan menghadapi pembelajaran yang lebih susah lagi.
"Tapi gak asik nih" Ucap Ari
"Kenapa? "
"Karena gak ada Rena disini"
"Astaga,, aku lupa kalau sahabatku suka dengan Rena" Sahut ku yang membuat ari tersenyum malu.
"Sstttttttg" Ari mencoba meredam suara kami agar tidak ramai
"Hahahahha, takut ketahuan ya" Yuri menambahkan, membuat kami kembali tertawa kembali. Karena hanya kami yang mengetahui bahwa Ari menyukai Rena. Dia takut jika Rena mengetahui hal tersebut, karena Ari merasa dirinya culun jadi tidak memiliki keberanian menyatakan cinta.
\*tetttttt\* bel berbunyi, kami bersiap diri untuk melakukan pembelajaran di awal semester ini.
"Selamat pagi anak-anak"
"Pagi bu" Semuanya sudah duduk rapi saat guru kelas 11 memperkenalkan diri namanya adalah bu Tri. Beliau wali kelas baru kami yang akan mendampingi selama satu tahun. Cara bicaranya yang sabar dan telaten. Sepertinya kami akan senang di dampingi bu Tri di kelas ini.
"Baik anak-anak, kalian sudah mengenal saya. Dan sekarang kalian akan mengenal siswa baru" Aku tidak habis pikir, ada siswa baru yang akan masuk di kelas kami lagi. Di semester kemarin Rena dan sekarang ada lagi. Apakah ini kelas unggulan sehingga banyak yang ingin masuk ke kelas kami.
__ADS_1
\*prok, prok, prok\*
"Yey, asik dong bu. Kelas kita kedatangan siswa baru lagi. Tapi sayang Rena pindah di kelas sebelah" Salah satu siswa mengungkapkan kegembiraannya. Begitu juga dengan aku yang suka ada siswa baru.
"Ayo silahkan masuk" Bu Tri menyuruh siswa tersebut masuk ke dalam kelas. Wajahku terkejut saat melihat siswa itu. Aku terdiam dan memukul-mukul wajahku seakan tidak percaya. Apakah ini mimpi ataukah bukan.
"David? " Pandangan itu terus mengarah pada nya. Aku pandangi dari ujung kaki ke ujung Kepala. Tanganku juga mengucek-ngucek mata untuk memastikan bahwa mataku baik-baik saja. Kali ini aku benar-benar yakin bahwa dia David yang selama ini aku nanti-nantikan.
"Perkenalkan nama saya David pratama mahadewa, kalian bisa memanggilku David"
"Hai David"
"Dia ganteng banget ya" Beberapa teman-teman menyapanya dan saling membicarakan tentang David. Sedangkan aku sibuk tersenyum bahagia karena menemukan seseorang yang selama ini aku cari.
"David" Panggil ku sambil melambaikan tangan. Wajahnya tidak menatapku sama sekali, menoleh saja rasanya tidak mau. Aku yakin dia David yang aku kenal, tinggi dan tubuhnya agak berubah tapi mata dan wajahnya masih sama walaupun dia agak berisi.
"Silahkan duduk di bangku yang kosong" Perintah bu Tri padanya
"Baik bu" Di kelas ini ada 2 bangku kosong yaitu di sampingku dan di depan yuri. Tapi dia memilih duduk di depan Yuri meskipun banyak dari para siswi yang ingin duduk bersamanya.
Mungkin David masih belum beradaptasi disini, atau mungkin dia lupa denganku. Baiklah, nanti akan aku ingatkan bahwa aku adalah keyla yang selalu bermain bola dengannya. Yang selalu dia latih di lapangan itu.
Lebih baik aku fokus dengan penyampaian yang dialiukan oleh bu Tri. Seperti biasa bila melakukan pembelajaran di hari pertama awal semester, akan dilakukan pengenalan terlebih dahulu. Jadi kita menyimak nya dengan seksama.
Saat bel istirahat berbunyi, aku mencoba menghampirinya. Aku sangat yakin bahwa dia adalah David yang aku kenal. Aku tidak mungkin salah dengannya.
Yuri dan Ari keluar terlebih dahulu ke kantin, aku berkata ingin menyusulnya nanti karena ada sesuatu yang harus diselesaikan. Tapi aku tidak berkata pada mereka bahwa aku ingin menemui David.
"Kamu David yang aku cari, aku rindu denganmu" Wajahku penuh harap agar dia mau menatapku tapi nyatanya dia tidak melihat sama sekali.
"David, ini aku keyla temanmu bermain bo....... " Belum selesai pembicaraan ku, dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkanku tanpa separah kata.
Aku tidak mungkin salah orang, hati ini sangat yakin bahwa dia adalah David yang aku tunggu-tunggu. Aku bersyukur dia kembali ke tanah air tapi hatiku bimbang saat dia tidak mengenaliku sama sekali.
"Aaaaaaaa,, , David minta tanda tangannya dong"
"Aaaaa David ganteng banget"
"Astaga dia ganteng sekali" Teriakan itu nenyesakkan telingaku. Aku keluar dari kelas dan melihat cewek-cewek sedang sibuk mengerubungi David. Ada yang teriak histeris karena kegantengannya, ada juga yang terik histeris karena ingin meminta tanda tangannya.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1