Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
140. Jalan Dengan Adit


__ADS_3

Sekarang hari libur waktu ku untuk bersantai. Menjernihkan otak yang sedang penuh dengan teka-teki kehidupan. Berolahraga pagi di depan rumah sambil pemanasan bermain bola. Dan selanjutnya pergi ke rumah ibu untuk menganggu kedua saudaraku.


"Assalamu'alaikum" Aku membuka pintu dan ternyata tidak ada orang sama sekali.


Sepertinya mbak Yeni kuliah atau mengerjakan tugas dan mbak Nike pasti lembur kerja karena ada proyek baru. Sepi kalau tidak ada mereka, pasti gagal rencanaku.


"Hmm, lebih baik aku ke warung saja"


Di warung sangat ramai sekali. Banyak orang yang mengantri, sekarang waktunya aku beraksi membantu ibu membungkus nasi atau mencuci piring secara bergantian.


Begitu juga dengan bapak yang membuat minuman. Benar-benar sibuk, dan alhamdulillah karena hari ini rejeki sangat banyak sekali. Mungkin orang-orang pada malas memasak dan memilih untuk membeli.


"Alhamdulillah, semuanya beres Bu dan dagangan sudha hampir habis. Padahal masih pagi ya bu"


"Benar sekali nak, ini rejeki dari Allah" Setelah bertempur lama dengan para pembeli, kami bertiga istirahat.


Jam menunjukkan pukul 11 siang, ibu dan bapak sedang beristirahat di tempat duduk yang ada di dekat warung untuk menunggu angin sepoi-sepoi yang datang walau hanya sebentar. Sedangkan ibu menyuruhku untuk pulang.


"Pulanglah nak, kamu pasti capek sekali"


"Tapi bu, ibu dan bapak lebih capek dari Key"


"Tidak, ibu dan bapak sudah terbiasa seperti ini"


Biasanya saat ramai mbak Yeni dan mbak Nike akan membantu. Tapi suasana sekarang sudah berbeda, mbak Nike sibuk dengan pekerjaannya dan mbak Yeni sibuk dengan kuliahnya. Dan sekarang akulah yang mengantikan peran mereka.


"Baiklah Key akan pulang bu" Baru saja ingin keluar dari warung, sebuah mobil hitam mendekati warung ibu. Sepertinya aku mengenal mobil itu.


*tiiinnn*


"Aduhh, kenapa orang ini datang lagi" Batinku mengeluh saat Adit datang.


Aku tau pasti bahwa dia akan membawaku keluar dari rumah. Padahal aku telah menolaknya berulang-ulang dan sekarang dia datang tanpa diundang ke sini.


"Ehhh nak Adit, ada perlu apa kesini" Bapak dan ibu menyambut Adit dengan senyuman ramah.


Karena dia adalah anak dari salah satu langganan dagangan ibu. Sementara aku kesal melihat kedatangannya, karena aku tidak mengundang dirinya untuk datang kemari.


"Begini bu, saya mau ijin untuk mengajak keyla keluar dan jalan-jalan. Apakah boleh? " Aku menarik nafas dalam-dalan untuk menahan emosi.


Pandai sekali dia, sudah pasti aku tidak bisa menolaknya apabila ibu bertanya padaku. Karena ibu dan bapak titik kelemahanku saat ini.


"Sebentar ya saya tanyakan pada Keyla"


"Baik bu" Ibu segera menghampiriku dan menanyakan hal demikian. Aku terdiam sejenak dan menyetujuinya.


Aku tidak ingin menolak permintaan ibu. Apalagi Adit salah satu pelanggan ibu yang sapat ramah. Apabila aku menolak ajakan Adit di depan ibu maka wajah ibu akan terlihat sedih.


"Baiklah, kita keluar setelah aku melaksanakan sholat isya' " Aku sengaja ingin keluar bersamanya sehabis isya' agar waktu kami berdua saat makan malam hanya sedikit.


"Oke aku setuju. Ibu terima kasih banyak atas bantuanya. Nanti sore aku akan kembali lagi"


"Iya kak sama-sama" Wajah Adit terlihat sangat senang sekali seperti memenangkan lotre. Dia pulang dan meninggalkan tempat ini begitu juga denganku memilih untuk istirahat.


Malam hari


Aku sudah bersiap diri untuk keluar bersama Adit. Seperti biasa aku menunggu di rumah ibu dan menggunakan baju kesayanganku yaitu kemeja dan celana jeans. Karena setelan itulah yang selalu aku gunakan kemanapun.


"Aku akan mengerjaimu nanti" Gumamku dalam hati.


Dia yang memilih untuk keluar denganku, maka aku akan mnegerjainya sehingga dia kapok untuk keluar bersamaku lagi.


Tidak lama kemudian Adit datang dengan mobilnya. Aku segera berpamitan pada ibu dan bapak untuk keluar bersama Adit. Lalu menaiki mobil yang Adit bawa.


"Kamu kenapa tidak menggunakan gaun seperti cewek-cewek yang lain? " protesnya sambil. menatap setelan pakaianku.


"Kenapa? Kamu tidak suka, yaudah aku turun saja di sini" Baru berjalan keluar dari perkampungan, dia sudah menegurku karena tidak berpakaian gaun seperti cewek pada umumnya.


"Tidak, aku hanya bertanya saja. Mungkin kamu lebih cantik menggunakan gaun"

__ADS_1


"Hahhahah" aku tertawa dengan keras, suaraku bergema di dalam mobil Adit.


"Ingat ya semua orang memiliki selera yang berbeda-beda. Jika kamu tidak ingin melihatku menggunakan baju ini ya sudah turunkan saja di sini" Tutur ku dengan santai.


Adit terdiam sejenak dan fokus menyetir. Aku tersenyum licik, sepertinya aku harus melakukan hal yang konyol agar Adit tidak suka denganku. Dengan begitu aku bisa bebas darinya daripada terus mengikuti kemauan dia.


"Jangan turun, apapun pakaian yang kamu gunakan saat ini tetap saja cantik. karena orang yang mengenakan sudah cantik luar dalam"


Sekarang aku yang terdiam, dia memuji ku untuk membawa diri ini terbang tinggi. Tapi tidak semudah itu verguso, aku tidak akan terpengaruh dengan pujiannya.


"Baiklah, aku ingin mengajakmu ke tempat perbelanjaan yang besar"


"Hmmm" Jawabku singkat.


Beberapa menit kemudian kami berjalan ke tempat yang cukup jauh. Berhenti di sebuah perbelanjaan yang besar. Tempat dimana aku bersama kedua sahabatku datang kemarin kesini hanya untuk bermain.


Aku mengikuti langkah Adit, tangannya berusaha ingin memegang tanganku tapi aku selalu menghindarinya. Dan aku memilih untukk


menjaga jarak dengan Adit.


"Aku ingin mentraktirmu membeli baju, kamu bisa memilihnya semaumu" Bibirku kembali menautkan senyuman. Sepertinya aku memiliki ide agar bisa membuat dirinya bosan jalan bersamamu.


"Hmm bagus sekali, memangnya uangmu banyak? "


"Jika di hitung mungkin cukup untuk mentrakrirmu"


"Baiklah"


Aku segera pergi ke tempat baju jersey sepak bola. Kali ini aku memilih untuk membeli jersey luar negeri. Kemudian menuju ke arah kemeja yang selalu membuatku percaya diri untuk keluar dari rumah.


"Bagus gak? " Ucapku smbil memperhatikan kemeja yang aku bawa.


"Wahh bagus banget Key, sepertinya kita harus menggunakan kemeja yang sama"


Aku menghembuskan nafas dengan kasar. sepertinya dia terlihat senang saat aku mengambil kemeja tersebut. Dia juga ikut mengambil baju jersey yang aku pilih. Lama-lama aku yang stres karena terus diikuti olehnya.


"Kamu tunggu di sini dulu ya Dit, aku mau ke kamar mandi"


Aku terdiam sejenak, bagaimana bisa dia membayarkan baju yang aku pilih. Karena sekarang aku memilih 4 jersey dan juga kemeja serta 6 kaos yang biasa digunakan untuk sehari-hari. Totalnya pasti lebih dari 500 ribu atau bahkan bisa sejuta lebih.


"Key" Panggilan Adit membuatku terkejut.


"Hmm, kamu tunggu saja dulu. Nanti aku akan memilihnya lagi" Aku tersenyum pada Adit, tapi sepertinya dia tidak terbebani oleh perbuatanku yang sangat memprihatinkan keuangannya.


"Kamu hati-hati ya, biar nanti aku menunggumu disini saja.


Aku pergi meninggalkannya, sebenarnya aku tidak ingin ke toilet tapi karena dia terus menatapku jadi aku memilih berjalan ke toilet dan masuk untuk mendapatkan ketenangan sebentar. Aku duduk dan bersantai di dalam kamar mandi dan tidak melakukan apapun.


"Uhhh, asik sekali berjalan dengan David. Pasti om Fandi akan merestui hubunganku dengan David. Secara dia memiliki kerja sama dengan keluargaku" Mataku terbelalak saat mendengar suaranya.


Sepertinya aku tidak salah dengar dan mengenal suara itu. Aku yakin itu suara Adel. Aku segera mengintip nya dari sela-sela bawah pintu toilet. Benar saja Adel berintonasi sendiri sambil menatap cermin.


"Apa gadis itu gila, tapi menatap dia berkata tentang David" aku penasaran apa yang sedang dia lakukan. Bahkan bibirnya meracau tentang nama David.


Kenapa dunia ini terlalu sempit sehingga aku selalu bertemu dengan Adel. Malas sekali melihat wajahnya apalagi melihat dia yang selalu berkata seperti orang gila. Tapi terkadang aku sama dengannya berbicara dengan cermin.


"Papanya David memang terbaik, dan satu langkah lagi dia pasti akan menghancurkan karir Keyla dan David bisa bersamaku selamanya"


*brakk*


"Astaga, kenapa aku ini" Aku tidak sengaja memukul dinding pembatas antara toilet satu dan toilet lainnya. Karena hatiku sudah merasa panas mendengar perkataan dari Adel. Untung saja aku sempat merekamnya.


"Siapa? " Teriak Adel untuk mengecek orang yang ada di toilet ini. Aku berpura-pura sebagai pengunjung yang sedang melakukan pembuangan di toilet.


"Maaf kak, perut saya kebelet banget" Aku mengganti suara sebagai penyamaran agar Adel tidak tau bahwa yang ada di dalam toilet adalah aku.


"Ihhh menjijikkan, bisa gak sih jangan berisik. Mengganggu pikiranku yang sedang bahagia saja"


*brak* ucapnya selalu sombong dan tangannya gesit menggedor pintu toilet yang aku tempati. Lalu dia segera pergi dari kamar mandi ini.

__ADS_1


"Kurang ajar, untung saja aku masih berfikir panjang. Kalau tidak mungkin sudah aku hantam kepalanya" Kesalku sambil berbicara sendiri di toilet.


Setelah melihat situasi di luar sudah kosong, aku segera keluar secara perlahan dan melihat sekeliling. Karena sudah aman, aku segera keluar dan melihat Adit setia menunggu disana sambil duduk di tempat yang sudah di sediakan oleh toko baju itu.


"Kenapa dia tidak meninggalkanku saja, padahal aku sudha lama di dalam toilet" Gumamku dari jarak kejauhan.


Aku mengendap-ngendap untuk pergi dari Adit sebentar. Aku ingin mencari tau apakah Adel datang bersama David ataukah sendirian. Mataku terus mencari keberadaan Adel dan benar saja mereka sedang bergandengan tangan.


"Kurang ajar, memangnya mereka ingin nyebrang apa. Sudah tau di sini ramai masih saja seperti orang pacaran. Padahal bukan" Ketus ku dengan kesal.


Terlihat sekali Adel terus bermanja-manja dan meminta David untuk menemaninya saat berbelanja. David seperti berjalan bagaikan anak dan induknya yang tidak bisa dipisahkan. Sepertinya hatiku sangat panas melihat pergerakan mereka.


*drett, drett*


"Halo Adit, kita pergi saja dari sini. Aku menunggumu di mobil" Lama-lama mataku kepanasan melihat kelakuan Adel yang tidak bisa lepas dari David.


"Lalu bagaimana bajumu Key? "


"Batalkan saja, aku sudah malas" Aku segera mematikan telepon dan berjalan keluar. Menunggu di samping mobil Adit sembari melihat bintang yang berkilau.


"Apa yang kau lakukan, mengapa kau dekat sekali dengannya. Seakan-akan kalian berdua menjalin hubungan yang spesial" Jujur bahwa aku cemburu dengan David dan Adel.


Aku heran melihat David, apakah dia punya hati atau tidak. Sebelumnya aku sudah menyatakan bahwa aku menyayanginya. Tapi hingga saat ini dia tidak pernah membalas rasa sayang itu. Lalu apakah pernyataan ku dia anggap gurauan.


"Hmmm, dingin sekali malam ini" Gumamku. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memakaikan jaket padaku. Ternyata itu Adit yang sudah ada di belakang. Tangannya membawa banyak barang belanjaan.


"Ayo masuk, malam ini terlalu dingin" Tanpa banyak bicara aku segera masuk ke dalam mobil. Memghempaskan kepala yang penuh dengan rasa lelah.


"Ini semua baju yang kamu pilih tadi" Adit memberikan tas belanja yang begitu banyak.


Aku terkejut melihatnya dan ternyata dia benar-benar membeli semua itu. Padahal tadi aku hanya menipunya agar dia merasa malas saat jalan bersamaku.


"Kenapa kamu beli semua? "


"Karena itu baju yang kamu pilih, apalagi kamu menyukai jersey bola kan" Aku masih tercengang dan tidak menyauti Adit.


Aku tidak menyangka dia menghamburkan uangnya hanya untukku. Apakah semua ini salahku ataukah Adit yang terlalu bodoh karena mudah di tipu.


"Tenang saja, itu uangku sendiri kok. Aku punya usaha kafe di luar kota" Spontan aku langsung menatap Adit dengan tajam. Aku kagum padanya karena masih muda sudah memiliki usaha.


"Usaha sendiri? "


"Iya"


Dia berkata bahwa katanya memiliki beberapa cabang kafe sehingga penghasilan dia cukup besar dalam satu bulan. Uang kuliah dia juga membiayai dirinya sendiri tanpa harus meminta pada kedua orang tuanya.


Adit juga menceritakan awal pembangunan kafe yang kecil dengan menu makanan yang dijualnya melihat dari cara masak di internet dan pada akhirnya memiliki makanan yang enak.


"Hebat sekali, orang ini" puji ku dalam hati. Baru kali ini aku melihat kegigihan Adit yang merintis dari nol hingga sukses.


Aku ingin seperti Adit tapi diriku tidak memiliki kemampuan dalam pemasaran atau bisnis. Kemampuanku hanyalah bermain bola dengan baik dan benar.


"Kamu mau makan apa? "


"Terserah" Aku sudah malas karena memgingat-ingat Adel dan David.


"Baiklah, aku tau kemana kita harus pergi" Adit melajukan mobilnya tapi aku tidak tau kemana arah dia akan pergi.


Tidak lama kemudian kita sampai di sebuah tempat makan yang cukup besar. Sepertinya ini salah satu restoran yang cukup mahal. Karena dari segi dekorasi sangat bagus dan nyaman di lihat. Serta penyambutan tamu yang ramah.


"Kenapa kita tidak makan di pinggiran jalan saja?"


"Sesekali kita kesini saja" Aku menurut dengan perintah Adit.


Aku mengekorinya saat ingin masuk ke dalam dan mencari meja. Tapi tangan adit tidak membiarkan aku jalan sendiri. Dirinya terus memantau dan menggenggam tanganku seperti sepasang kekasih saja.


"Bisakah tanganku engkau lepaskan? " Tanyaku yang mulai kesal karena dia terus mengenggam erat.


"Tidak apa-apa, aku hanya takut kamu hilang saja Key" Kali ini aku menurut dengannya. Karena ruangan resto ini sangat besar dan pasti banyak ruangan tersembunyi.

__ADS_1



__ADS_2