Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
156. Terpaksa Pergi


__ADS_3

Menjelaskan pertemuan antara aku dan ibu. Meminta doa restu atas keberangkatan, namun takdir berkata lain saat mobil hitam melaju kencang dan ingin menabrak ku. Dengan sigap ibu mendorong ku dan dialah yang tertabrak.


Apakah ini hukuman Tuhan yang diberikan pada seorang anak sepertiku. Kebahagiaan datang tiba-tiba kemudian kepwdihan juga datang tiba-tiba pula.


"Buuu, Key takut" Aku masih dalam pelukan ibu. Aku benar-benar takut akan hal yang terjadi pada ibu di dalam.


Sudah berapa lama aku tidak akur dengannya. Dan saat aku telah kembali menerima ibu, keadaan berbalik kini ibu terbaring lemah karenaku.


Tiada henti rasa bersalah terus berjalan dalam pikiranku. apalagi dokter belum selesai juga menangani keadaan ibu. Sudah berapa lama ibu di dalam namun masih belum ada kabar.


"Tenanglah nak, ibumu pasti baik-baik saja" Ibu selalu menenangkanku di manapun dan kapanpun itu.


*klek*


"Dokter, bagaimana keadaan ibu saya dok. Tolong jawab dok" Aku sudah tidak sabar mendengar penjelasan dokter. Aku benar-benar ketakutan akan hal buruk yang terjadi pada ibu.


"Nak tenang dulu, kamu harus tenang" Ucap ibu.


"Iya Key, biarkan dokter yang menjelaskan padamu" Sambung Ari.


"Pasen sudah melewati masa kritisnya" Penjelasan dokter membuat hatiku sedikit tenang saat ini.


"Namun, keadaan pasian mengalami kelumpuhan karena benturan keras yang mengenai tulang ekornya" Seketika tubuhku menjadi lemas. Sungguh tidak percaya dengan perkataan dokter.


"Anda bohong, ibu saya baik-baik saja. Tidak, ibu saya baik-baik saja" Hancur hatiku mendengarkan itu, bagaimana bisa ibu menjadi lumpuh. Semua ini karena ku yang menyebabkan keadaan ibu menjadi seperti ini.


"Keadaannya masih sangat lemah, mungkin 30-60 menit kedepan beliau akan siuman" Jelas dokter kembali.


"Terima kasih dok atas penjelasannya"


"Saya permisi dulu pak, bu"


"Baik dok"


"Ibuuu, bangun buk maafin key" Aku terus mengoyak tubuh ibu agar dia siuman dari tidurnya.


Aku ingin meminta maaf pada ibu karena semua ini salahku. Aku yang merenggut kehidupan kaki ibu sehingga menjadi seperti ini. Aku sungguh benar-benar mengecewakan. Tuhan pantas menghukumku karena telah melumpuhkan surga itu.


Beberapa menit berlalu, aku terus memandangi ibu yang masih belum sadar juga. Sedangkan Ari dan Yuri ikut menungguku dan duduk di lantai bawah. Begitu juga dengan ibu dan bapak yang sedang mengurusi surat administrasi.


"Key, kamu tidak apa-apa nak" Belain tangan ibu mengejutkan ku saat kepala ini tertidur di sampingnya.


"Ibu, ibu sudha sadar? "


"Tante sudah sadar? "


"Tunggu sebentar key" Ari segera keluar dan memanggil dokter. Tidak lama kemudian dokter kembali dan memeriksa keadaan ibu saat ini. Katanya semua dalam keadaan normal.


"Baiklah saya permisi dulu ya"


"Baik dok, Terima kasih"


Saat dokter pergi, aku menatap ibu dengan haru. Pasti dirinya masih belum mendengar perkataan dokter tadi yang memberitahunya bahwa kaki ibu menjadi lumpuh karena benturan keras yang dialaminya.


Kaki itu masih tertutup selimut, apakah aku harus tega memberitahu semuanya?. aku rasa tidak ada yang setega itu. Dan semua itu salahku.


"Nak, kaki ibu kme apa tidak bisa gerak ya? "


Semua sunyi dengan pertanyaan itu, Ari dan Yuri saling memandang dan berdiri di sampingmu. Mereka ikut terdiam dan membeku, tidak tau apa yang ingin di katakan.


Aku menatap mereka dengan memberikan isyarat bahwa akulah yang harus bertanggung jawab untuk semuanya. Yuri dan Ari hanya bisa mengelus lembut punggungku untuk menguatkan.


"Bu, ini semua karena Key. Gara-gara Key kaki ibu tidak bisa jalan lagi. Dokter bilang ibu kan lumpuh karena benturan keras"


Aku menangis dalam pelukannya dan mencoba menengakna ibu. Terlihat dari matanya, ibu sangat terkejut dngan keadaan dirinya yang sekarang.


Butiran bening memgilair dari pelupuk matanya, terlihat jelas bahwa kesedihan tidak bisa ia bendung lagi. Begitu juga antara kami yanga da di dalam ruangan.


"Tidak nak, ini sudah menjadi takdir ibu. Mungkin ini hukuman karena tidak pernah memperhatikan hidupmu. Jadi Tuhan mengambil kaki ini agar ibu terus bisa bersamamu"


"Tidak bu, ibu tidak salah. Key yang salah dan membuat ibu seperti ini"


"Tidak nak, ibu sadar bahwa Tuhan menegur seorang ibu yang membiarkan anaknya hidup sebatang kara"


Aku kembali menangis dalam pelukannya. Aku tidak pernah menginginkan semua ini terjadi. Aku hanya ingin ibu kembali bukan menginginkan ibu mendapatkan karma.


"Buuu" Aku menangis dalam pelukannya. Aku benar-benar sangat merasa bersalah.


"Key janji akan menjadi kaki ibu kemanapun langkah ibu akan pergi" Ucapku sambil menahan.




Pagi 03.00



"Nak bangunlah, waktunya untuk bersiap terbang ke seleksi" Ibu membangunkanku yang tidur di dekatnya.



Sepertinya aku tidak ingin pergi dari sini karena harus menjaga ibu. Mungkin seleksi timnas akan datang tahun depan walaupun undangan itu terdapat kesempatan hanya sekali.



"Tidak bu, key akan jaga ibu disini" Aku langsung kembali meletakkan kepalaku di samping tubuh ibu.



"Tidak nak, impian ibu adalah melihat impianmu berhasil. Ibu sudah banyak salah karena tidak menemanimu beranjak dewasa. Jadi kali ini ibu tidak ingin kembali menjadi penghalang untukmu meraih mimpi"



Aku tertunduk melihat ibu, bibirku sedikit tersenyum dan hatiku tersentuh. Kehangatan yang hilang perlahan mendekat pada kehidupanku yang mulai bimbang.



Ibu Yanti juga mendekat dan memberikan masukan agar aku terus melanjutkan mimpi. Memang sangat berat, namun kesempatan tidak akan datang untuk yang kedua kalinya.



"Kamu anak hebat, apakah kamu tidak ingin membuat ibumu bangga? " Tanya ibu sambil mengangkat dagu yang tertunduk.



"Ibu ingin melihat anak ibu sukses menjadi bintang dan dikenal banyak orang" Jelasnya kembali.

__ADS_1



"Key, berangkatlah. Ibu yang akan menjaga ibu kandungmu disini"



Mendengar ucapan itu ada hati sedikit tenang namun tidak seluruhnya. Bu Yanti orang baik, tapi kesehatannya tidak sebaik itu. Aku takut kesehatan ibu dan bapak menurun karena membantu ibu kandungku.



"Tapi bu.... "


"Ibu akan menjaganya hingga ibu kamu pulih nak" Jelas bu Yanti kembali padaku.



Akhirnya aku memutuskan untuk membuat ibu bangga dan beranjak dari tempat duduk untuk bergegas pulang dan mempersiapkan diri. Karena pukul setengah 5 aku harus pergi ke bandara.



Banyak pikiran dan beban yang aku bawa. Sangat berat dari apapun itu. Tentang arti rasa bersalah, tentang arti kasih sayang, tentang arti kekhawatiran dan masih banyak lagi.



"Baiklah, key akan pergi. Bu, tolong jaga ibu Key disini karena Key akan berjuang agar bisa masuk ke timnas" Aku menitipkan ibu pada bu Yanti, dia dan bapak rela menginap dan menemaniku di rumah sakit.



"Iya nak, ibu akan menjaganya" Aku berpamitan pada ibu dan bu Yanti untuk pulang mempersiapkan diri.



"Ayo nak, bapak akan mengantarmu pulang"



"Key tunggu" Suara lirih ibu memanggilku saat langkah ini ingin bergegas pergi dari ruangan itu.



"Kemarilah" Aku mendekat padanya, matanya seperti ingin mengatakan sesuatu padaku.



"Iya bu" Ibu memeluiku dengan erat.



Beberapa kecupan dia layangkan pada wajahku, saat ini aku benar-benar menahan tangis karena tidak ingin terlihat sedih di hadapan ibu.



Aku berjanji akan mencari seseorang yang sudah mencelakai ibuku. Dan aku berjanji akan memasukkan suaminya ke penjara karena telah melakukan kekerasan pada ibu.



"Nak tolong ambilkan dompet ibu sebentar" Aku mengambil dompet ibu dalam tasnya yang terletak di atas nakas.



Ibu membuka dompetnya dan ingin memberikanku uang saku. Namun saat dirinya membuka dompet, aku melihat foto kakek yang selalu muncul dalam mimpiku.



"Ini? " Selembar foto tua berwarna hitam putih, seperti foto yang sudah lama namun aku masih mengenali wajahnya.



"Ini kakek kamu, ayah ibu" Seketika kakiku rasanya lemas. Benar-benar terkejut bukan main.



"Kakek? Kemana dia sekarang? "


"Dia sudah meninggal dunia saat kamu masih bayi nak. Sudahlah sekarang kamu harus berangkat agar tidak telat"



"Tapi bu kakek... "


"Berangkatlah nak, ini uang saku untukmu jajan di sana"


"Tidak bu, aku hanya....."


"Sudahlah berangkat"



Dengan terpaksa aku berangkat dan membawa uang yang ibu berikan. Padahal aku ingin bertanya banyak tentang kakek pada ibu, aku masih tidak percaya jika kakek di dalam mimpi adalah kakek kandungku.



"Ayo nak kita pulang" Aku pergi dengan bapak untuk bersiap diri dan pulang.



Bandara.



"Hati-hati ya Key, mbak akan selalu mendoakanmu agar bisa bermain dengan baik dan bisa menjadi pemain timnas".



"Iya mbak" Raut kesedihan kembali terlihat pada wajah kedua kakakku yang biasanya usil kini menjadi haru.



"Jaga diri baik-baik nak, bapak akan selalu mendoakanmu agar bisa menggapai mimpi menjadi pemain sepak bola"


"Iya Pak" Sahut ku sambil menahan tangis.



"Key"


"Key"

__ADS_1


"Kenapa wajah kalian berdua menjadi konyol, bisakah kalian tertawa agar aku berangkat dengan tenang untuk menuju tempat seleksi?"



Ari dan Yuri manampakkan wajah sedihnya, mereka berdua menangis saat aku ingin pergi. Karena pertama kalinya aku pergi ke luar kota yang cukup jauh sehingga harus menaiki pesawat terbang.



Namun wajah mereka akan tetap lucu, tangisan itu selalu ada disaat mengiringi kepergianku. Merekalah sahabat paling tulus dalam hidupku. Suatu saat mereka akan menjadi sahabat terbaik pemain timnas Indonesia. Tapi kalau aku lolos sih.



"Jika sudah sampai, kabari aku. Hiksss, hikss" Kebiasaan Yuri menangis sekeras mungkin sehingga banyak orang yang melihatnya.



"Sudahlah jangan menangis, aku pamit pergi dulu"



"Hati-hati key"


"Jangan lupa pulang setelah menjadi bintang" Aku tersenyum mendengar teriakan mereka.



Lambaian tangan ini akan selalu menjadi tanda awal kerinduan yang akan dimulai kembali di hari ini. Aku tersenyum lalu berbalik membelakangi mereka.



Semangatku saat ini ada pada mereka saat hariku benar-benar terjatuh lagi bila mengingat keadaan ibu. Aku berjanji kita akan bertemu lagi di bandara, tapi dengan status yang berbeda. Akan aku bawa jersey timnas itu atas namaku.



"Aku akan berjuang mati-matian untuk masuk ke dalam timnas" Bohong bila aku tidak menangis, air mata ini lolos begitu saja membasahi pipi. Hingga tubuhku sampai ke dalam pesawat.



"Langit, kali ini aku benar-benar berada di sampingmu. Ajak aku bicara agar bisa menikmati perjalan kali ini"



Aku tidak percaya jika sekarang aku benar-benar terbang, bila malam aku akan menggapai bintang. Bila siang maka aku berdampingan dengannya yang setia mendengar pembicaraan ku.



"Sss... Kenapa air mata ini muncul lagi sih" Gumamku kesal saat air mata terus menetes.



Sepertinya pura-pura tenang itu adalah kata bohong. Karena otakku dipenuhi dengan keadaan ibu saat ini. Aku takut dia kenapa-napa, rasanya hati tidak tenang.



Bukan hanya itu, aku juga memikirkan tentang kakek yang selalu ada dalam mimpiku. Dia seperti nyata, selalu memberiku nasehat agar tetap berjalan di tempat yang benar serta selalu menuangkan semangat untuk meraih mimpiku.



"Tidurlah key, kau harus tidur menenangkan pikiranmu" Gumamku sambil mencoba memejamkan mata dan mendengar lagu yang aku sukai.



Beberapa jam kemudian aku telah sampai di bandara. Menaiki mobil sesuai intruksi yang pernah diberikan oleh David lewat pesan. Aku mengikutinya dan memberitahu alamat tersebut pada supir taksi.



Akhirnya aku sampai di sebuah asrama yang digunakan untuk para peserta seleksi. Di sebuah tempat dimana terdapat berbagai macam anak yang datang dari seluruh Indonesia untuk berlomba masuk ke timnas.



"Banyak sekali pesertanya, apakah aku bisa lolos" Mendadak hatiku agak ragu, karena banyak sekali peserta yang akan mengikuti seleksi.



Dari sepanjang jalan aku melirik, mereka banyak menggunakan pakaian yang bermerek. Sedangkan aku hanya menggunakan hoodie seperti biasa dengan celana jeans.



\*Prittttt\* aku terkejut karena baru saja datang, peluit keras telah di bunyikan di depan bangunan asrama yang sangat luas.



"Kalian akan melakukan beberapa seleksi untuk beberapa hari kedepan, lolos tidaknya seleksi akan tergantung dari skil yang kalian mainkan dan silahkan lakukan dengan baik dan benar"


"Siap coach"



Arahan pertama pada kami semua yang berada di tengah lapangan. Banyak sekali yang melakukan seleksi timnas dan ternyata persaingan akan sangat ketat.



Aku harus berjuang mati-matian untuk mengamankan namaku di sini. Karena membawa nama baik Indonesia di kancah internasional adalah mimpiku yang sudah lama terendam. Saat ini tibalah waktunya untuk semua itu.



"Dan sekarang silahkan istirahat di asrama serta lakukan peraturan yang ada. Besok seleksi akan kita mulai, jadi persiapkan diri kalian muali hari inii"


"Siap coach"



Aku melihat bangun yang bertingkat, disana tempat asrama yang akan kami singgahi untuk mengikuti seleksi timnas ke depannya.



"Saya pamit undur diri dan kalian silahkan masuk ke kamar yang sudah di tentukan nama di depan pintu kamar masing-masing"


"Baik coach"



Pelatih pergi meninggalkan lapangan, kami semua bergegas pergi ke kamar masing-masing. Aku harus mencari kamar yang sudah diinformasikan ternyata kamarku ada di lantai 2.



Kali ini keberuntungan berpihak padaku karena diri ini yang sangat malas sehingga mendapatkan tempat di lantai 2, jadi hanya sedikit tangga yang aku naiki.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2