
Sejenak aku diam untuk menenangkan hati agar berbicara dengan baik setelah kata hinaan itu menghampiriku tadi. Aku harus yakin bahwa pemain hebat berawal dari hinaan dan akan berakhir dengan tepuk tangan.
"Pertama saya ingin berkata bahwa saya bukan pemain hebat, tapi pemain yang bekerja keras untuk menghasilkan yang terbaik. Kedua, walaupun saya bukan dari kampung kalian tapi jiwa saya akan bermain sepenuh hati untuk tim ini" Ucapku sambil menarik nafas kembali untuk menenangkan hati.
"Dan yang ketiga, saya ingin katakan bahwa tidak ada pemain hebat yang terlahir dengan jalan yang lurus, semuanya pasti akan merasakan jatuh. Namun pada saat dia jatuh, seorang teman tidak akan menghujatnya melainkan akan memberikan semangat untuk dia bisa bangkit" Semua tertunduk saat mendengarkan pernyataan dariku.
Rasanya sesak dada ini bila mengingat hujatan itu, tapi aku yakin semuanya akan berjalan dengan lancar saat usaha dan doa terlibat dalam satu ruang. Dan aku yakin bahwa mereka hanyalah mengungkapkan kekecewaabnya bukan untuk menjatuhkan.
"Mungkin itu saja yang saya katakan, selebihnya selamat buat kalian karena bermain dengan baik dan saya harap di 2 pertandingan selanjutnya kita bisa mendapatkan kemenangan agar dapat bertanding di luar kota" Senyuman kembali aku lepaskan walau sedikit.
"Siapp keyyy" Aku mengacungkan jempol pada mereka sebagai isyarat bahwa mereka terbaik.
Setelah perbincangan di ruang ganti telah usai, kami semua bergegas untuk pulang ke rumah. Kali ini aku menunggu angkot agar tidak menyusahkan bapak untuk menjemput.
"Sepi sekali tidak ada angkot" Kepalaku celingukan di pinggir jalan. Daritadi aku tidak melihat angkutan umum yang lewat.
"Heyy, kamu pemain tarkam tadi ya" Seorang lelaki mendekat dengan menggunakan motornya. Aku hanya mengangguk mendengarkan pertanyaannya.
"Kenalin aku Reyhan" Sebenarnya aku malas berbicara dengan orang asing.
"Aku key" Jawabku singkat sambil melihat angkutan lagi.
"Wahh, nama kita hampir sama ya. Kamu Key dan aku Rey" Aku tidak memperdulikan apa yang dia bicarakan.
"Mau boncengan denganku tidak" Aku menatapnya sebentar lalu kembali berpaling melihat jam tangan. Rupanya waktu sudah siang aku berharap ada angkot yang lewat karena tidak ingin pulang dengan orang asing.
"Tidak usah, angkot sudah datang" Sahutku sambil menunjuk ke arah angkot yang mulai mendekat saat aku melambaikan tangan.
"Oh iya, ini nomor telpon ku. Jangan lupa hubungi aku ya jika ada masalah" Dia memberikan selembaran kertas. Saat aku masuk ke dalam angkot, kertas itu ku baca. Ternyata dia Reyhan laksono. Apakah dia anak dari asisten pelatih penjaga gawang coach gery laksono. Ah sudahlah, lagian aku tidak peduli.
Aku menyimpan kertas nama itu dalam tas, siapa tau ada hal penting dari dirinya. Aku juga malas jika harus menghubungi orang yang tidak begitu penting. Lagipula di rumah jarang sekali memegang ponsel. Palingan menanyakan tugas pada Ari dan Yuri, selebihnya bsrsantai atau membantu ibu di warung.
"Pak kiri pak kiri" Teriakku pada sopir. Saat dalam perjalanan aku kembali melihat ibu, aku tidak mungkin salah. Aku turun di suatu tempat depan toko roti. Dan aku sangat yakin itu ibu walaupun tempat kita berseberangan di jalan.
"Ibuuuuu" Teriakku dari pinggir jalan dan berusaha untuk menyeberang agar tidak ketinggalan jejaknya.
"Ibuuuu" Teriakku terus saja memanggil hingga sampai mendekat dengannya.
Wajah ibu menoleh padaku dan aku melambaikan tangan pada ibu. Tapi wajah ibu sepertinya tidak suka dan menyuruh seseorang yang menyetir untuk segera menjalankan mobilnya. Hingga aku sampai ditempat tersebut, mobil ibu telah berlalu.
"Sejenak aku berfikir tentangnya. Jika ibu memesan roti pasti dia akan meninggalkan alamat dan nomor telepon" Gumamku sambil menelusuri toko tersebut. Setelah bertanya-tanya pada penjual roti tersebut, katanya dia tidak bisa memberikan alamat pelanggan pada orang asing.
__ADS_1
Aku berkata pada penjaga toko itu bahwa aku adalaha anaknya. Tapi mereka tidak percaya dengan perkataanku. Untung saja aku memiliki foto ibu di dalam ponsel. Akhirnya dengan adanya foto itu, aku bisa mendapatakan alamat ibu saja. Katanya nomor telepon itu hal yang pribadi.
Aku tidak memaksa, yang penting sekarang aku sudah mengetahui keberadaan ibu. Aku akan mencari ibu, apapun yang akan terjadi aku akan menemuinya. Dialah yang melahirkanku, aku juga akan mengembalikan uangnya karena saat ini aku sudah bisa mencari uang sendiri dengan bola walaupun uang itu hanya terkumpul separuh saja.
"Tinnn" Sebuah mobil mendekat ke arahku. Dan itu adalah mobil yang biasa ayah gunakan.
"Keyla" Ayah keluar dari dalam mobil menghampiriku yang berdiam diri di samping jalan depan toko.
"Ayah" Aku malas bila bertemu ayah, tapi hatiku rindu dengan kasih sayangnya. Saat bertemu ayah rasanya ingin diam tidak mau mengeluarkan sepatah kata tapi aku tidak bisa.
"Kamu kenapa tidak sekolah?" Perkataannya ramah padaku. Aku tidak mengerti mengapa baru sekarang dia berucap kata-kata perhatian. Dulu kemana dia saat aku membutuhkannya.
"Main bola" Jawabku singkat dan ketus.
"Main bola, kamu itu harus mementingkan sekolah daripada bermain bola agar nanti bisa jadi orang sukses" Ayah menasehatiku seakan-akan bermain bola adalah hal yang buruk.
"Bola bisa juga menjadikan orang sukses" Sahutku kesal dengan wajah menantang.
"Tapi lebih sukses kamu jadi sarjana" Mataku langsung melotot dan melihat ke arah ayah. Enak sekali dia berbicara seperti kehidupanku dia yang membiayainya.
"Kuliah? Kuliah untuk orang-orang kaya. Key bukan orang kaya. Oh iya satu lagi yah, orang sukses itu bukan hanay sarjana dan masih banyak lagi tentang kesuksesan. Dan mereka belum tentu baik, contohnya seperti ayah" Kesalku padanya, aku pergi meninggalkan ayah sendirian dan mencari angkot untuk pulang.
"Tunggu nak, ayah ingin mengantarmu pulang. Tolong maafkan ayah" Ayah mengejarku tapi aku tidak menghiraukannya. Apakah aku salah bersikap demikian pada seorang ayah yang seharusnya menjadi cinta pertama anak perempuannya.
Aku berlari menyeberangi jalan, menunggu di trotoar yang berseberangan dengan ayah. Dia masih menatapku dan tidak masuk ke dalam mobilnya. Aku juga kasihan dengan ayah yang terus mengejarku, tapi aku juga benci padanya karena masa lalu.
Tidak lama kemudian angkot datang, aku segera masuk dan bergegas pulang. Karena penasaran aku kembali melihat ayah, ternyata dia masih berdiri disana untuk menungguku berlalu pergi. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil dan juga pergi.
"Ya Allah ya Tuhanku, apakah Key terlalu jahat pada ayah. Tapi ayah dulu yang jahat sama key" Aduan ku dalam hati pada Tuhan. Berharap langit menjawab dan memberikan jawaban. Tanganku melihat alamat ibu, lalu melihat foto kami bertiga saat aku kecil.
Keluarga kecil yang lengkap, ayah sebelum menjadi orang jahat. Ibu sebelum menjadi orang jahat juga tapi ibu pernah menjadi baik karena menjagaku saat ayah pergi. Mungkin inilah kehidupan, tidak ada yang tau awalnya dan perjalanannya. Serta akhir dari kehidupan ini aku juga tidak tau nanti.
"Pak kiri pak" Berhenti di depan halte tempat biasa. Menghampiri riki dan pak abu. Menceritakan semuanya tentang pertandingan tadi. Setiap selesai pertandingan tidak lupa aku bercerita pada mereka agar merasakan kesenangan bersama-sama.
"Wah hebat banget kamu bisa menang 3-1 key" Ucap Riki yang memuji tim karena kemenangan.
"Bukan aku yang hebat, tapi tim ku. Tanpa mereka pun aku gak bisa menangin permainan ini" Sahutku, karena semua berkat kerja sama bukan karena kerja seorang.
Perbincangan yang sangat nyaman di bawah terik matahari siang. Rindu aku berbincang-bincang bersama mereka berdua karena jarang sekali berbincang seperti ini. Dan aku juga mentraktir mereka seperti biasa makan bakso di tempat jalan seberang.
Setelah itu aku pulang jalan kaki menuju rumah. Mampir ke warung ibu untuk membantu beres-beres dan sekaligus cerita sama ibu dan bapak bahwa aku menang di pertandingan ini. Karena saat ini hanya merekalah yang menjadi semangat ku.
__ADS_1
Ibu dan bapak selalu senang saat aku memenangkan pertandingan, mereka juga akan memberikan nasehat agar aku tidak menjadi sombong saat menjadi pemain hebat nanti. Bahkan saat aku terpuruk mereka juga yang membuatku bangkit. Semuanya sudha paket lengkap di keluarga mereka. Aku menyayangi mereka semua.
"Kamu pulang saja istirahat, katanya 2 hari lagi pertandingan ke 3" Ucap ibu yang melihatku sedang sibuk membantunya cuci piring dan juga membantu membungkus nasi.
"Key lama banget gak bantuin ibu, mana key selalu nyusahin ibu lagi" Sahutku, karena saat ini aku bukan hanya keluarga mereka tetapi anak bungsu mereka.
"Karena kamu fokus sama sekolah dan karir kamu. Sudah istirahat saja, persiapkan buat pertandingan selanjutnya biar menjadi pemain timnas" Ucap ibu sambil mencubit gemas pada pipiku. Aku tersenyum dengan perlakuannya. Setelah semuanya beres, aku berpamitan pulang ke rumah.
Saat melewati rumah ibu terlihat sepi, karena mbak Nike pergi kerja dan mbak Yeni pasti kuliah. Kadang kalau kuliah pagi dia akan datang dan membantu ibu di sore hari. Kadang pula ngerjain tugas dan akulah teman ngobrolnya sampai-sampai tugas dia tidak selesai gara-gara ngegosip, hehehe.
"Akhirnya sampai juga" gumamku tenang aaat sudah sampai disini.
Sesampainya di rumah aku masuk dan meletakkan tas. Melihat amplop lagi di pintu seperti biasa. Amplop yang diselipkan oleh ibu berisi uang dan surat ucapan. Bahkan aku sangat malas membuka urat ucapan itu. Mengapa dia tidak menemui langsung daripada memberikan surat, seperti jaman masa lalu saja.
Melemparkan amplop berisi uang, lalu membersihkan diri dan ibadah. Selanjutnya bersiap untuk istirahat siang. Untung saja tadi sudah makan di warung ibu jadi aman lah.
"Oh iya, amplop itu" Ucapku lalu mengambil amplop dan meletakkan uang di tempat biasa serta menyimpan semua surat ibu di kotak yang sudah aku sediakan.
Surat itu menumpuk dan banyak sekali. Tapi aku tidak pernah membacanya lagi karena menurutku sudah tidak penting. Yang aku inginkan adalah ibu bukan uang dan surat.
"Aduhh, sepertinya kotak surat ini sudah tidak cukup. Aku harus mencari kotak lagi untuk menyimpan surat ibu" Ucapku saat memasukkan surat pada kotak yang sudah penuh. Aku mencari akal untuk menemukan tempat surat ibu selanjutnya. Untung saja ada kardus sepatu yang bisa menampung surat itu.
"Nah gini kan enak, jadi suratnya gak berantakan" Aku menyimpannya di dalam lemari. walaupun aku tidak membaca surat itu tapi aku menyimpannya untuk menghargai ibu. Mungkin bisa dibilang kenangan tentang surat yang ditulis tangan oleh ibu. Yang saat ini aku miliki dan tersimpan rapi.
Dirinya menghilang seketika dari kehidupanku. Muncul terkadang tiba-tiba. Tapi tidak ada niatan untuk menemuiku. Sedangkan aku berusaha mencarinya sampai kapanpun. Walau hanya untuk menanyakan apa alasan ibu meninggalkan aku, sebenarnya hatiku paling dalam masih mengucap kata rindu.
Aku mengeluarkan alamat ibu yang tertera di tempat toko penjual roti tersebut syang sekali aku tidak mendapatkan nomor ponselnya. Setelah itu aku mengecek alamatnya di google, rasanya tempat itu tidak asing. Lalu aku mencocokkan dengan alamat yang ada di balik foto ibu.
"Kok bisa sama namanya, tapi tempatnya berbeda" Nama pemiliknya sama tapi tempat lokasinya berbeda. Setelah aku cek palingan ada sekitar 10 menit jarang kedua tempat itu. Bisa dibilang cukup dekat.
Aku mencatatnya, dan akan pergi mencari setelah pertandingan bola selesai berharap menemukan ibu. Kemudian aku istirahat dengan ketenangan karena rasanya sangat capek setelah bertanding.
*drettt, dreetttt* dering telepon diatas nakas membangunkan tidurku di sore hari. Aku melihat suara panggilan itu tapi nomor yang tidak dikenal. Aku meletakkan ponsel ke suatu tempat agar tidak terdengar suara panggilan tersebut.
"Ganggu orang tidur saja, gak tau apa aku lagi capek" Gumamku kesal sambil meletakkan ponsel di tempat yang tersembunyi agar suara itu tidak terdengar lagi. Aku melanjutkan tidur dan terbangun sekitar pukul 4 sore.
Mataku kebingungan mencari ponsel yang tidak ada di sampingku. Aku tanyakan pada bobo dia tidak menjawab. Lalu aku tanya ke siapa lagi. Tapi selalu lama aku cari ternyata baru ingat bahwa ponsel itu aku simpan di dalam lemari baju dan di tindih oleh beberapa baju agar tidak berbunyi akibat panggilan nomor yang tidak dikenal.
"Dasar bodoh, yang nyimpan siapa yang bingung siapa" Gumamku kesal pada diri sendiri. Menggenggam ponsel lalu mengecek riwayat panggilan. Aku terkejut saat Ari dan Yuri membagilku sebanyak 50 kali panggilan.
"Gila, kenapa mereka memanggilju sebanyak ini" Aku benar-benar terkejut melihatnya.
__ADS_1