Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
29. Terkunci di Gudang


__ADS_3

Aku berjalan sendiri melewati lorong-lorong sekolah. Menatap kesana dan kemari untuk memastikan bahwa semuanya aman. Sedikit agak trauma akibat perbuatan Ana yang melempari ku tong sampah. Jadi diriku was-was agar tidak terulang lagi.


Masuk ke dalam kelas dengan keadaan sunyi. Masih belum ada rasa kekeluargaan yang terbangun dari diri mereka. Mungkin karena masih murid baru yang belum mengenal satu sama lain. Aku terdiam lalu membuka buku dan mencorat-coret taktik bola yang aku ciptakan sendiri.


Sepertinya hidupku sudah melekat dengan bola dan akan sulit untuk dipisahkan. Semenjak aku hidup sendiri, hanya bola yang membuatku tersenyum dalam hari-hari yang aku lewati. Tersenyum di atas pertandingan ataupun tersenyum saat latihan.


"Key, alhamdulillah kamu sudah masuk"


"Ari" Ari datang dan langsung memelukku. Aku dan Ari sudah saling akrab satu sama lain selayaknya keluarga. Rasa senang muncul dalam diriku saat melihat Ari sudah sehat kembali. Lega rasanya melihat keadaan Ari baik-baik saja. kalau tidak mungkin Ana dan kak Dika akan berurusan denganku.


"Kata teman-teman kamu, masuk rumah sakit" Tanya Ari dengan tatapan sedih. Aku hanya mengangguk dan menunjukkan luka di tanganku yang masih diperban.


"Tapi udah baikan kok, nih bisa gerak kan" Menggerakkan tangan sedikit meskipun masih agak sakit. Ari mengangguk mengerti apa yang aku ucapkan. Kekhawatiran dalam dirinya sedikit menghilang.


"Selamat pagi key, selamat pagi Ari"


"Pagi" Jawab Ari ketus. Aku berbisik pada Ari bahwa aku sudah menerima Yuri sebagai teman. Karena Yuri berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Yuri juga yang menolong dan menjagaku di rumah sakit.


"Benarkah" Mata Ari melotot lebar seperti tidak percaya. Seseorang yang pernah membullynya sekarang sudah menjadi teman.


"Iya" Aku mengangguk. Kami akhirnya menjadi akrab walaupun Ari belum sepenuhnya menerima keberadaan Yuri. Tapi matanya seakan mencoba menerima atas masa lalu Yuri yang suka merundung Ari dan juga aku. Dan sekarang aku sudah berbeda bukan anak yang lemah seperti dulu. Aku yakin bahwa Yuri juga akan berubah menjadi lebih baik.


"Pengumuman, nanti pada jam istirahat silahkan kalian untuk melakukan pendaftaran ekstrakurikuler yang ada di sekolah ini" Ucap ketua kelas mengumumkan kepada semua anggotanya yang sudah lengkap pada pagi ini.


"Kamu mau daftar kemana Ari" Ucap Yuri mencoba akrab dengannya


"Kalau Ari pasti bakalan daftar ke ekstrakurikuler olimpiade. Soalnya dia gak bakalan lepas dari pelajaran" Ucapku. Ari tersenyum karena perkataanku memang 100% benar.


"Kalau kamu key" Biasalah, kecintaanku dengan bola tidak bisa ditinggalkan. Jadi aku masuk ke sepak bola perempuan di sini.


"Wah asik juga ya, Ari tujuannya ke akademik kalau Key ke non akademik atau olahraga" Yuri tersenyum sambil bertepuk tangan kecil.


Lalu wajah Yuri kembali murung. Karena dia bingung tidak ada tujuan untuk masuk ke ekstrakurikuler bagian mana. Karena selama di SMP dia tidak masuk ke ekstrakurikuler manapun. Dia hanya bisa berdandan dan menghabiskan uang.


Jadi tidak peduli dengan kegiatan yang ada di sekolah SMP. Sedangkan aku juga tidak ikut ekstrakurikuler apapun di SMP tapi masih bergelut dengan keahlian bola yang aku latih sendiri.


"Gak usah sedih, disana kan masih ada drama tuh mendingan kamu ikut ke drama saja"


"Wah ide bagus key, aku mau jadi ratu drama"


"Hahahahh" Suara kelas gemuruh dengan tertawa kami bertiga. Tidak lama kemudian bel berbunyi dan jam pertamapun dimulai.




Jam istirahat telah tiba, kami bertiga bergiliran ke tempat masing-masing pendaftaran ekstrakurikuler. Pertama ke tempat pendaftaran Olimpiade sekolah, lalu ke tempat drama. Aku dan Ari tertawa terbahak-bahak saat melihat Yuri adu akting sebagai salah satu syarat penerimaan.



Gayanya terlalu lebay tapi asikk juga jika di tonton. Yuri berhasil mengocok perutku dan Ari. Sampai-sampai air mataku menetes karena tertawa terlalu lama oleh kelakuan Yuri.



"Gila Yur, ternyata kamu kocak juga ya" Ari bertanya pada Yuri sambil menahan tawa. Aku pun juga sama menahan tawa karena Yuri akting terlalu lucu dan sangat menjiwai.



"Sudah-sudah, aku malu tau" Ucap yuri dengan wajah yang memerah karena menahan malu. Selanjutnya kami bertiga berjalan menuju tempat pendaftaran tim sepak bola perempuan. Panitia penerimaan tim tidak asing, setelah kami dekati ternyata Ayana yang akrab disapa Ana.



"Permisi kak, saya mau daftar sebagai tim sepak bola putri"


"Masih berani kamu ya memunculkan wajahmu yang sok lugu itu" baru saja ingin daftar, dia sudah menguji kesabaranku.



"Saya di sini mau mendaftarkan diri ke tim sepak bola, bukan cari ribut" Ucapku dengan santai.


Selalu saja, setiap bertemu dengan Ana ada hawa yang sangat panas. Ana selalu membuat ulah denganku. Baru beberapa hari dia membuatku masuk rumah sakit. Dan sekarang aku bertemu dengannya lagi di tim sepak bola perempuan. Dunia sangat sempit sehingga aku harus bertemu dengan Ana.



"Kalau anda profesional, seharusnya tidak membawa masalah pribadi ke sekolah" Ucapku karena kesal saat dia mempersulit pendaftaran ini.


__ADS_1


"Kalian lagi kalian lagi, selalu ribut. Memangnya apa sih yang kalian ributkan" Tiba-tiba kak Dika datang dari arah yang berbeda. Dia mengoceh padaku dan Ana yang sedang adu mulut.



"Kamu juga Ana, dia itu mau daftar ke tim sepak bola putri, mengapa pendaftarannya kamu persulit? "


"Tapi Dik, dia itu... "


"Sudah, kamu selalu saja bikin ulah membuat kepalaku pusing saja"



Tanpa basa-basi lagi kak dika langsung memberikan formulir pendaftaran padaku. Aku mengisinya dengan benar tanpa banyak bicara. sedangkan Ana masih murung di samping kak Dika. Sepertinya dia marah karena formulir itu sudah ada di tanganku.



"Ini kak sudah selesai" Ucapku sambil memberikan formulir pendafatarn



"Hey tunggu, kalau kamu memang mau masuk ke tim bola kamu harus melakukan jugling bola selama 5 menit tanpa berhenti ataupun jatuh jika tidak makan kamu gagal" Ana memberikan aku sebuah isyarat, yang jelas aku berusaha melakukannya meski agak sedikit sulit karena tanganku masih belum sepenuhnya sembuh. Tapi setidaknya aku akan memberikan suguhan terbaik buat mereka.



"Ana" Teriak kak Dika dengan tatapan marah pada Ana, mungkin dia pikir itu hal yang tidak pantas untuk seorang anak baru yang ingin masuk tim dan baru mengenal bola.



"Mana bolanya" Tantangku tanpa rasa takut. Ana mengambil bola dan langsung memberikan padaku.



Waktu di putar oleh Ana, dengan rasa konsentrasi aku melalukan jugling bola. Menghilangkan sedikit sakit pada tangan dan fokus melalukan jugling bola. 5 menit selesai dan akhirnya aku bisa melakukan jugling dengan baik.



Mata mereka tercengang saat melihat skil jugling dengan rapi tanpa ada kesalahan. Akhirnya aku masuk ke tim sepak bola perempuan dan akan dilakukan latihan mulai hari senin besok setelah pulang sekolah.



"Alhamdulillah Yur"



"Iya key, semoga aja kamu bisa menjadi pemain timnas nanti ya" Sambunh Ari dengan memberikanku semangat agar bisa masuk kedalam timnas Garuda muda.



"Iya bener, waktu di SMP aku akui bahwa permainanmu sangat bagus key" Puji yuri kembali berlebihan. Ternyata dia sudah memperhatikan skli yang aku miliki saat kami duduk di SMP yang sama.



"Itu keberuntungan, ayo kita pergi ke kelas sebentar lagi belajar masuk loh" Kami bertiga bergegas pergi ke kelas untuk melakukan pembelajaran selanjutnya hingga waktu jam sekolah habis.



Bel pulang sudah dibunyikan. Semua siswa bergegas untuk segera pulang begitu juga Ari dan Yuri. Seperti biasa Ari dijemput oleh supirnya, kadang aku ikut dengan mobil Ari. Sedangkan Yuri akan di jemput oleh supirnya juga kecuali ada hal-hal penting maka mamamnya yang akan menjemput Yuri.



Kasih sayang dari orang tua sangatlah diperlukan begitu juga aku yang haus akan kasih sayang. Tapi kehausan itu hilang saat bu Yanti dan keluarganya menerimaku tanpa pamrih. Suatu saat jasanya akan aku ganti setelah aku sukses nanti.



Hari demi hari kami bertiga semakin akrab. Seperti sahabat yang tidak pernah terpisahkan. Yuri, Ari dan aku selalu bersama ke kantin, perpustakaan, dan kemanapun. Kami merasa senang dan saling mengerti satu sama lain. Ari juga sudah menerima yuri sepenuhnya, karena Yuri benar-benar sudah berubah sesuai dengan perkataannya. Dia juga sudah meminta maaf pada anak-anak yang pernah dia bully pada saat di SMP. Yuri menunjukkan bahwa dirinya memiliki keseriusan untuk menjadi lebih baik.



Dibalik persahabatan kami, masih saja ada yang selalu usil dan mencari masalah. Yaitu Ana senior kelas 11 yang sangat senang merundung anak-anak yang lemah. Sepertinya dia sudah merasa bebas karena dikeluarkan dengan paksa dari anggota OSIS karena beberapa keegoisan dan melakukan aturan semaunya sendiri.



Seperti contohnya membuat aku dan Ari masuk rumah sakit dan masih banyak lagi. Bahkan dia tidak bisa mengontrol emosi dan selalu membuat ulah dalam organisasi yang dia kelola.



Hari dimana aku latihan bola sudha tiba. Setelah pulang sekolah aku datang ke tempat latihan. Disana sudah ada seorang pelatih namanya coach Alam. Ternyata hanya sedikit siswa baru yang mendaftarkan diri ke tim sepak bola. Yang banyak adalah dari tingkat senior teman Ana. Jadi tim ini lebih didominasi oleh pemain senior dari kelas 11.

__ADS_1



"Alhamdulilah, akhirnya bisa berlatih dengan gratis di sekolah ini. apalagi sudah ada coach yang siap memberikan arahan dalam latihan" aku tersenyum dengan rasa yang sangat senang.



Memakai sepatu bola dengan lengkap dan bersiap untuk mengikuti latihan, senyumku sangat sumringah melihat lapangan dengan pelatih yang memberikan pengetahuan tentang bola. Hal ini belum aku rasakan memiliki pelatih, dan baru kali ini aku benar-benar memilikinya.



Sebelum latihan kami melakukan pemanasan agar tidak ada yang cidera pada saat melakukan permainan bola. Setelah semua selesai untuk melakukan pemanasan. Para pemain berkumpul dan diberikan bola satu per satu untuk melakukan juggling, kecuali aku.



Coach alam berkata padaku jika saat ini tugasku adalah sebagai anak gawang yang mengumpulkan bola terlebih dahulu untuk menguji mental. Tapi mengapa hanya aku, sedangkan 5 dari temanku yang baru masuk mereka melakukan jugling dengan dilatih oleh Coach alam. Aku hanya terdiam dan menerimanya.



"Hey, ambilin bola ku" Aku mengambilnya dengan sabar, mungkin dalam sebuah latihan ini adalah ujian mental terlebih dahulu. Mungkin inilah awal untuk menjadi pemain hebat.



"Hey bola ku juga" Mengambil bola demi bola yang mereka buang. Bahkan ada yang sengaja membuang bola agar aku mengambilnya. Tapi aku menganggap bahwa itu sudah biasa. Yang paling luar biasa adalah awal penanasanku dengan mengambil bola.



Aku menganggapnya itu adalah latihan awal untuk menangkap bola dan mengejarnya. Walaupun aku mengambil dengan tangan dan memberikan pada mereka yang berlatih. setidaknya langkahku yang bergilir antara barat, timur, utara dan selatan bisa merasakan berlari mengelilingi lapangan.



\*prit\*



"Latihan hari ini sudah selesai"


"Coach, apakah saya tidak berlatih" Ucapku saat semua latihan selesai tapi hanya aku yang belum melakukan juggling sama sekali dengan bola.



"Kamu berlatih di pertemuan selanjutnya saja" Bibir Ana mengernyitkan senyum, sepertinya dia senang dengan keputusan Coach Alam.



"Hhmmmmfffuuuuu" Aku menghela nafas sedalam-dalamnya atas keputusan yang diberikan. Biarkan saja, yang paling penting aku sudah memiliki pelatih sesungguhnya.



Coach alam membubarkan latihan sore ini. Dia juga menyuruhku untuk membawa semua bola ke dalam gudang tanpa bantuan siapapun. Aku membawanya sendiri menuju gudang, hari yang mulai sore sepertinya tidak asik masuk kedalam sana.



Beban bola terlalu banyak, beberapa kali bola jatuh dan beberapa kali lepas dari genggamanku. Akhirnya aku berhasil menuju lorong gudang. Gudang yang begitu seram, hanya ada lampu remang-remang yang menerangi. Dengan keberanian aku menuju ke gudang untuk meletakkan bola.



"Akhirnya sudah selesai juga" senyum kesenangan saat tugas sudah selesai.



\*brak\* pintu tertutup kencang membuatku terkejut dan panik di dalam sendirian.



"Tolong-tolong, buka tolong buka" teriakn yang snagatbkeras dan diselingi rasa ketakutan. apalagi lampu di dalam gudang tidak ada.



\*brak,brak brak brak\* tanganku terus menggedor pintu dengan keras. Sepertinya ini terkunci dari luar. Aku tidak bisa membukanya, jendela juga terlalu kecil untuk aku lewati.



"Tolong, tolong, tolong" Teriakku semakin kencang dan sangat kencang. Terlalu lama aku teriak hingga tenaga ku sedikit berkurang tapi aku bangkit lagi, mencari alat agar bisa membuka pintu. Mendobraknya juga tidak bisa karena ini terkunci dari luar. Entah memang ada yang menguncinya atau terkunci sendiri karena gudang sudah tua.



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~

__ADS_1


__ADS_2