
Perbincangan yang lucu, asik dan seru diantara kami semua. Tidak ada rasa kecanggungan dalam sebuah perbincangan yang tenang dan senang. Tapi David terus saja berkata ingin bersamaku.
"Iss anak ini, aku sudah yang tidak mau pacaran denganmu. Tapi nanti kalau sudah dewasa kita menikah saja"
*Uhukk,, uhukk, uhukk* ibu tersedak saya mendengar ucapanku.
"Kau ini"
"Aaa jangan dipukul bu" Aku trauma saat ibu mengangkat tangannya. Karena terakhir kali ibu mengangkat tangan, dia akan memukulku.
"Siapa yang ingin memukulmu, ibu hanya ingin bilang bahwa sekolah dulu yang benar, kuliah, bermain bola profesional lalu menikahlah dengannya" Ibu benar-benar mengerti pikiranku.
Secara tidak langsung dia menyetujui hubunganku dengan David. Bahkan ibu juga mendukung David untuk menjadi pemain bola yang hebat dimanapun aku menginjakkan kaki.
Ibu juga menitipkan aku pada David untuk tidak menyakiti hati anak perempuan pertamanya. Bahkan dia sudah percaya pada David melebihi kepercayaannya padaku.
"Kak, kalau menikah aku saja yang menjadi dayangnya ya"
"Ahhh, anak kecil ini"
"Hahahha" Semua tertawa mendengar ucapan Kaira.
Aku langsung memeluknya sambil mengatakan bahwa pernikahanku masih lama. Jadi dia harus menjadi dayang untuk mbak Nike dulu yang akan menikah satu bulan lagi.
Sore itu kami berbincang banyak hal, antara aku, ibu, David, dan keluarga bu Yanti. Bapak sangat senang melihat David, karena dia sudah bermain di tim kota B yang menjadi tim andalan bapak di liga 1.
Bahkan bapak juga mengagumi David karena bermain di timnas. Setiap aku melihat permainan David dengan bapak, pasti wajah bapak akan berseru saat David masuk ke lapangan.
"Sepertinya kamu harus pulang, karena hari sudah malam" Waktu menunjukan pukul 08.00 dan saatnya David pulang.
"Baiklah, kamu jaga diri baik-baik ya"
"Kamu pikir aku sedang dimana? Disini orangtuaku ada dua" Ucapku sambil menunjukkan ke ibu dan ibu kandungku.
"Baiklah"
"Om, tante, kakak, saya mau pamit pulang dulu"
"Iya kak, Hati-hati ya" David pulang dengan mobil jemputan nya.
Dia juga bercerita bahwa ayahnya sudah menyetujuinya untuk berteman lagi denganku. Bahkan dia juga membebaskan pada David untuk memilih tetap sekolah disini atau pindah ke kota B.
Dan David memilih untuk menyelesaikan sekolahnya disini, walaupun dia harus bolak-balik antara kota b dan kota ini. Katanya agar bisa menyelesaikan kelulusan denganku.
"Mbak, kami pulang dulu ya" Pamit ibu pada bu Yanti.
"Iya hati-hati" Sekarang bu Yanti bukan hanya tetanggaku tapi juga keluargaku.
"Key, kamu tidak menginap disini? "
"Tidak mbak, nanti saja. Aku ingin tidur dengan ibu dan adikku"
"Baiklah, tapi besok-besok harus menginap ya" Aku mengacungkan jempol pada kedua saudaraku itu.
Biasanya mereka yang sangat malas jika aku menginap di sana. Tapi sekarang mereka yang mengajakku untuk menginap, mungkin kamarnya kesepian karena tidak ada aku yang berbuat gaduh.
*klek*
"Mama, aku tidur sama kakak ya? " Rengek Kaira yang ingin tidur denganku.
"Key? "
"Tenang bu, baiklah kamu tidur sama kakak di kamar ini ya" Kaira mengangguk dan segera naik ke atas kasur.
Aku menyiapkan tidurnya agar terlihat nyaman. Karena kamarku tidak semewah kamar Kaira dulu. Jadi aku menyiapkan selimut yang nyaman untuknya terlelap.
"Kamu tidur dulu ya, kakak mau ngobrol sama ibu" Kaira sangatlah penurut, dia tidak pernah membantah atau membuat ulah sepertiku.
"Hmm, bu apakah aku boleh melihat foto kakek yang ada di dompet ibu? "
"Kenapa? "
"Aku hanya ingin melihat saja"
"Baiklah"
Selembar foto kecil yang ada di dompet ibu terlihat sangat mirip kakek yang selalu hadir dalam mimpiku. Aku bahkan ingin memiliki foto kakek untuk di pajang di kamarku.
"Apakah ibu tidak memiliki foto kakek yang lebih besar? "
"Hmm, sebentar" Aku segera mengikuti ibu saat dia mengobrak-abrik almari yang sama sekali tidak pernah aku sentuh.
Dia mengeluarkan beberapa lembaran foto. Ternyata banyak foto ibu dan ayah menggunakan busana pernikahan sederhana. Bahkan ada foto kakek yang dicetak besar.
"Ini"
Aku menangis saat melihat foto kakek dengan senyumnya yang sangat khas. Tidak ada sedikitpun perbedaan wajah kakek difoto ataupun di dalam mimpiku.
Wajahnya terlihat snahat sejuk, aku rasa semasa hidupnya kakek adalah orang yang sangat sabar. Karena dalam mimpi saja dia slelau menasehati ku, apalagi di dunia nyata.
"Kenapa kamu menangis? "
"Dia kakekku yang selalu menuntun langkah key dalam menggapai mimpi bu"
"Maksudnya? " Ibu belum mengerti.
Aku menceritakan semua bahwa aku tidak pernah sendiri. Karena kakek selalu ada dalam mimpiku. Dia selalu memberikan sebuah nasehat dimanapun aku berada.
Saat aku terpuruk maka kakek akan hadir dalam mimpiku dan membelai lembut rambut ini hingga aku benar-benar terlelap dan melupakan masalah yang ada, serta kakek berkata untukku agar besok bangun dan mendapatkan jalan keluar dari masalah itu.
Aku tidak tau apakah kakek hanya ada dalam mimpi ataukah keluar dari dalam mimpiku sehingga dia menjadi nyata untuk menjagaku di kerasnya dunia ini.
"Hiksss, hiksss, hiksss" Ibu menangis tersedu-sedu saat mendengar ceritaku.
"Ayah, maafkan aku ayah. Karena tidak menepati janji untuk menjaga Keyla dengan baik" Tangan ibu sigap memeluk erat tubuhku.
Air matanya membasahi pipi ibu, dia terus meminta maaf pada kakek yang hanya tinggal bayangan saja. Dia selalu merasa bersalah karena janjinya pada kakek untuk menjagaku tidak pernah dia lakukan.
"Bu, itu semua masa lalu. Aku yakin bahwa kakek akan tersenyum jika ibu tersenyum" Tanganku menyeka air mata ibu.
Aku tidak ingin air mata itu terjatuh karena luka. Aku hanya ingin air mata itu terjatuh karena kebahagiaan.
"Kakek pernah bilang bahwa aku harus membahagiakan ibu, dan aku harus menjadikan ibu orangtua terbaik di dunia ini" Ucapan itu semakin membuat ibu menangis.
"Terima kasih ayah, Terima kasih karena telah menjaga anakku hingga dia menjadi seperti sekarang"
Aku yakin kakek tersenyum di atas langit melihat ibu yang sekarang telah berubah. Sifatnya yang pemarah kini menjadi tenang dan sangat hangat. Dan aku harap kakek tersenyum melihatku dari langit.
"Apakah aku boleh memajang foto kakek disini dan dikamar aku bu? " Ibu mengangguk sambil tersenyum.
Matanya ingin mengatakan bahwa dia bangga denganku. Dia terus menatapku dengan cahaya mata yang bersinar.
__ADS_1
"Mama kenapa menangis"
"Kaira? Kenapa kamu belum tidur nak? "
"Karena aku mendengar tangisan mama"
"Kemarilah" Ibu memelukku dan juga Kaira.
Perbedaan ayah bukan berarti perbedaan saudara. Karena kami satu ibu dan kaira adalah adik satu-satunya yang harus aku sayangi sampai kapanpun.
Tidak akan pernah aku melepaskan tangannya, karena janjiku kita akan berjalan bersama-sana untuk melewati waktu yang tersisa baik hari ini ataupun masa depan.
"Sebentar bu, aku ingin memasang foto kakek" Aku mengambil foto itu lalu memasangnya di ruang tamu.
Mengalungkan medali kebanggaan yang pernah aku raih. Karena semua ini berkat semangat yang selalu kakek berikan hingga aku bisa mengagagapi mimpiku secara perlahan.
"Lihatlah bu, bagus bukan"
"Bagus sekali nak, kamu mengalungkan medali pengharagaan itu untuk kakekmu. Ibu bangga padamu" Senyum lebar kembali menjalar dari sudut bibirnya.
Aku tidak akan pernah melupakan kakek sampai kapanpun. Memang raganya telah menghilang dan ditelan bumi. Namun jiwanya masih berkeliaran membimbingku untuk menuju ke jalan yang benar.
Suatu saat nanti akan aku ceritakan pada anakku, bahwa kakek adalah kakekku yang paling hebat.
Makan malam hari ini telah tiba. Banyak makanan yang sudah disiapkan oleh kedua ibuku. Kami mengundang warga kampung untuk menikmati jamuan ini.
"Yuri, Ari, aku membawakan sesuatu untukmu"
"Apa? "
"Lihatlah" Sebuah kotak aku berikan pada mereka masing-masing.
"Wahhh indah sekali" Buku pelajaran dan novel terbaru serta tidak lupa baju kenangan yang aku beli dari Singapura untuk mereka.
"Terima kasih banyak key"
"Terima kasih banyak key"
"Sama-sama, kalian adalah teman terbaik yang aku miliki" Aku tersenyum sambil memeluk mereka.
Di pertemuan makan malam kali ini aku mengundang pak Abi dan keluarga, lalu Riki dan keluarganya serta tidak lupa Yuri dan Ari serta keluarganya.
"Kemana David, mengapa dia tidak datang ya" Pikirku cemas karena malam ini dia masih belum datang juga.
"Hey, mencariku ya" Aku tertawa, karena dia datang dengan pakaian yang rapi. Terlihat begitu tampan dan mempesona.
"Bohong bila aku tidak datang. Ini untukmu" Dia memberkku bunga mawar merah yang sangat indah.
Bunga dengan warna kesukaan ku, dia selalu saja membawa kejutan untukku. Kami semua berbincang-bincang dengan riang. Semua temanku berkumpul di sini, tidak terkecuali Ani dan juga Adit.
Perkumpulan yang sangat indah malam ini. Aku melihat senyum ibu dan Kaira di sudut sana, rasanya hatiku begitu senang karena baru kali ini aku melihat ibu tertawa dengan riang.
Begitu juga senyum ibu dan bapak, rasanya hatiku damai. Mengingat semua kebaikan mereka yang selalu diberikan tanpa meminta imbalan sedikitpun.
"Mbak nike, sebentar lagi kalian akan menikah" Senyumku kembali terlukis. Melihat mbak Nike sangat bahagia dengan tunangannya. Tidak lama lagi mereka akan menikah.
"Aaah, makanan ini sepertinya enak. Aku akan mencoba semuanya"
Dan dia biang kerok sesungguhnya, yaitu mbak Yeni. Selalu berbuat ulah semaunya tapi aku sangat menyayangi dia. Tanpa dia mungkin hidupku hampa tidak ada yang mengajakku bergelut setiap hari di rumah.
Tapi ada satu yang kurang, ayah tidak datang. Padahal dia berjanji akan datang ke Indonesia untuk meluruskan kesalahpahaman. Dan aku juga menghubungi kak Dika tapi tidak ada jawaban.
"Kamu, kenapa bengong"
"Kalian mengagetkan saja, tidak aku tidak apa-apa" Sahut ku.
"Sebentar Yur, spertinya ada yang kurang"
"Apa ri?" Ari menyeret tangan David lalu meletakkan di pundakku, seperti sepasang kekasih yang sedang merangkul kebahagiaan.
Memang teman kurang ajar. Sebenarnya aku senang tapi aku malu karena selama ini kami tidak pernah mengumbar kemesraan dengan David. Status kami tidak pacaran namun hati kami menyimpan banyak cinta.
"Jangan begini, aku tidak suka" David langsung melepaskannya karena dia paham apa yang aku maksud.
"Ahh tidak asik, baiklah aku saja yang menggandeng David" Ejek Yur sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Jangan" Sontak aku ingin mengehentikannya.
"Tuh kan, kamu ingin merangkulnya tapi malu" mulut Yuri tidak bisa dijaga membuat pipiku memerah malam ini.
Aku hanya bisa terdiam dnegan ejekan mereka, sedangkan bibir David terluhat senyum yang tersembunyi. Sungguh sial malam ini, jantungku berdetak kencang tidak seperti biasanya.
" Benar yur, dia menyukaiku tapi tidak ingin berbicara "
"Siapa bilang, aku tidak berkata demikian"
"Kamu berbohong Key. Sini kamu biar aku sentil" Ucap David sambil mengejarku.
"Ahh tidak, Ari, Yuri bantu aku" Kejar-kejaran dengan tawa membuat Ari dan Yuri ingin menangkap ku juga dan memberikannya pada David.
\*tinnn\*
" Mobil siapa itu" Ucap yuri bertanya-tanya. Semua mata memandnagi mobil yang berhenti di depan keramaian.
Sebuah mobil mewah datang dan masuk ke lingkup perayaan malam ini. Aku tidak mengenal mobil itu, namun aku mengenal siapa yang berada di dalamnya.
Terlintas sedikit wajahnya mereka membuat bibirku melebarkan senyum. Ternyata janji mereka tidak bohong.
"Ayah" Wajahku kembali gembira, ternyata ayah menepati janjinya dan datang untuk menemui ibu.
Aku langsung berlari dan memeluk ayah dan juga kak Dika. Tidak lupa aku memeluk mamanya kak Dika karena kami sudah baikan.
"Kemarilah, aku ingin kalian berbicara dengan ibu" Ajakku dengn sangat antusias.
Di sebuah meja berkumpul antara ayah dan istrinya, ibu kandungku, ibu angkat dan juga bapak. Biarkan mereka meluruskan keslaahpahaman ini.
Awalnya ayah terkejut saat melihat ibu duduk di kursi roda. Terlihat jelas wajahnya menampakkan kekhawatiran yang penuh seperti dulu. Namun sayang mereka sudah berpisah lama, jadi tidak ada harapan untuk kembali.
"Kaira, kemarilah" Aku sengaja mengajak Kaira untuk menjauh dari obrolan orang dewasa.
"Gendong" Rengeknya.
"Sekali lagi ngomong gendong aku pukul kamu ya, lihatlah tangan kakak saja masih di gendong"
"Heheheh" Ternyata sifatnya yang menjengkelkan tidak jauh dari sifatku.
"Dia mirip denganmu" Bisik David membuatku tertawa.
"Key, dia sama denganmu. Sangat-sangat menyebalkan" Ucap Yuri dngan polos.
"Benar, tapi aku berharap dia tidak bodoh sepertimu" sambung Ari. Mereka memang sahabat yang sangat menyebalkan.
"Andai saja tanganku tidak sakit, aku akan memukulmu. Aaaaa" Ari dan Yuri menjauh sedikit karena mereka tau aku tidak akan tinggal diam dan membalas dengan kejahilan.
"Tenanglah sobat, dia tidak akan mangsa kalian karena disini ada pawangnya"
"Kak Dika, aku sangat merindukanmu" Aku menghampiri dan langsung memeluknya.
"Menyingkirlah, seharusnya aku memeluk pacarku" Ucap Yuri dengan songongnya.
\*plak\*
"Dia kakaku bodoh"
"Hahaha" Gelak tawa kembali terlukis di antara kami semua. Memang dasar kelakuan pasangan bucin.
"Kaira, sini kamu gendong sama kakak saja"
"Baiklah kakak tampan, karena kamu kekasih kakaku maka aku ingin digendong olehmu" Semua terdiam menatap Kaira.
Bagaimana bisa anak sekecil ini berbicara tentang kekasih pada David. Aku tercengan mendengar perkataannya, sepertinya dia sudah tertular virus cinta.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~