Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
19. Kelulusan Sekolah


__ADS_3

Perbincangan terus dilanjutkan dan sangar asik sambil nongkrong di warung bakso Pak Ali. kami bersenang-senang dan tertawa sambil bercerita sedikit perjalanan hidup yang aku alami. David juga mendengarkan dengan baik saat bibirku terus mengeluarkan kata-kata penjelasan dalam kehidupan.


"Hebat banget key, kamu itu sangat hebat" Aku menatap David dengan heran. Mengapa dia tidak membenciku karena sebagai anak jalanan dan penjual koran


"Maksudnya? "


"Kamu itu pejuang yang hebat, di usia yang saat ini dibilang dini kamu sudah bisa mencari uang sendiri. Begitu juga dengan riki, kalian berdua sangat hebat" David malah memuji ku dengan Riki karena mencari uang tanpa malu sedikitpun.


"Kamu gak benci aku karena anak jalanan? "


"Enggak" Jawabnya singkat


"Hhhhfuuuuuuu" Aku menghela nafas, ternyata apa yang aku pikirkan salah. Masih banyak orang-orang yang mau menerima latar belakang yang gelap. Tidak semua orang membenci tapi masih ada orang yang berani mendekati untuk menjadi teman. Tidak lama kemudian aku pulang bersama David, meninggalkan Riki dan pak Abi disana.


"Oh iya key, ini memang mendadak tapi aku mau bilang sama kamu"


"Apa vid" Sahutku semangat


"2 hari lagi aku pergi ke luar negeri untuk menimba ilmu bola disana"


"Hah keluar negeri? " Mengapa cepat sekali padahal aku baru kenal kamu" Langkahku berhenti tepat di persawahan yang asri matak melotot menatap David dengan tatapan menyelidik.


"Tapi tenang aja, aku akan memberikan kamu catatan tentang beberapa trik yang ada di sepak bola dan kamu bisa mempelajarinya" Aku terdiam dan menatap langit. Berusaha memalingkan pendanganku pada David. Kekecewaan terlihat jelas pada hatiku, karena David lah yang selalu membangunkan semangat untukku tapi dia harus pergi dengan cepat meninggalkan negara ini.


"Key, aku hanya sebentar saja dan aku pasti kembali"


"Kapan? " Tanyaku dengan tatapan lesu


"Suatu saat key, karena aku tidak bisa menghitungnya" Sebenarnya aku tidak rela David pergi. Karena bersama David aku senang bergelut dengan bola.


Tapi aku juga tidak boleh egois karena David juga akan melanjutkan masa depan dan cita-citanya. Aku tidak memiliki hak untuk mencegah David pergi. Aku hanya bisa mengiyakan dengan pasrah.


"Kamu janji akan kembali kan? " Tanyaku pada David


"Janji key" David memberikan jari kelingking sebagai tanda bahwa dia menepati janjinya untuk kembali. Aku mencoba melemparkan senyuman palsu padanya untuk mengatakan bahwa ak baik-baik saja.


David pergi dengan senang dan memelukku walaupun sebentar. katanya sebagai kenangan persahabatan. aku menerima pelukan itu walau mata ni tdka bisa berbohong karena merasakan kehilangan yang mendalam.


Bersama perginya David, mataku kembali meneteskan butiran-butiran air mata yang mengenggam kepedihan. Kepergiannya menyayat hati, mengapa harus David yang pergi meninggalkanku sendiri lagi. Hancur rasanya, bermain bola dengannya hanya sebentar dan sekarang aku harus merelakan semuanya.


"Hati-hati vid" ucapku lirih saat David sudha berlalu pergi. sedangkan tanganku sibuk menyeka air mata yang menetes perih. bukan aku Riska ingin menangis, tapi hatiku ingin tetap kuat dan yakin bahwa suatu saat David akan kembali lagi.


Sore itu aku kembali termenung sepi, karena David akan pergi dan meninggalkan aku sendiri. Mungkin mulai saat ini aku harus bisa melakukan bermain bola tanpa David dan harus berlatih sendiri tanpa David.


Esoknya di pagi hari saat aku ke warug ibu untuk makan pecel, tangan ibu tiba-tiba menghampiriku untuk memberiku sebuah buku. Katanya buku itu diberikan oleh anak laki-laki yang seumuran denganku. Saat aku bertanya keberadaannya ternyata dia sudah pergi.


"Daviddd" Teriakku memanggil hingga mengejar ke jalan persawahan tapi tidak ada yang terlihat. semua kosong hanya ada burung-burung. Ternyata David sudah pergi ke luar negeri meninggalkanku. Hanya sebuah buku yang berisi tentang bola, David berikan percuma. Saat ini hanya buku yang dapat menemaniku berlatih dengan bola.


Saat ku buka buku itu, ada sebuah gambar ataupun catatan tentang bola. Mulai dari langkah awal pengenalan hola hingga beberapa gambar teknik menguasi bola dengan baik. Bahkan juga tertulis bagaimana cara untuk menjadi yang terbaik dari bola.


Cara terbaik menjadi pemain hebat bukanlah dia yang selalu mencetak gola dalam gawang musuh, tetapi pemain hebat adalah dia yang menampilkan permainan cantik dan selalu melakukan kerjasama untuk kemenangan. Karena gol yang masuk ke dalam gawang dengan rasa egois, bukanlah gol yang hebat akan tetapi gol yang hebat adalah kerjasama apik dengan rasa saling membangun kekeluargaan dalam diri setiap pemain.


Buku yang indah dan sangat bagus, aku selalu berlatih di lapangan dengan kesendirian. Berbekal buku David yang diberikan padaku. Berlatih terus hingga menguasai bola dan mampu menjadikan bola sebagai sahabat hidup.


Awalnya ada sedikit kesusahan dalam membaca trik yang digambarkan, tapi dengan usaha dan tekad yang aku lakukan. Kesusahan itu seakan menjauh dan menghilang. Semua skill aku pelajari hingga terbiasa. Meskipun tanpa pelatih, setidaknya buku yang David berikan dapat aku jadikan sebagai pelatih bisu.



Hari demi hari aku lewati, waktu demi waktu aku telusuri. Sendiri dalam sunyinya rumah yang sudah aku anggap sebagai istana. Sudah 2 tahun ibu pergi meninggalkanku tanpa kabar. Tapi dia selalu rutin memberikan uang saku padaku. Bahkan uang itu sangat besar dan cukup untuk kebutuhan hidupku.


__ADS_1


Uang itu juga cukup membiayai makan dan sekolah yang aku jalani. Benar hidupku berubah karena uang, tapi senyap dengan kasih sayang. Mengadu saja sudah tak penting lagi, karena aku tau ini suratan yang Tuhan berikan untukku berani menerjang ombaknya hidup dana jalanan yang berliku.



Aku juga sering ikut tarkam, walau terkadang hanya pemain bayaran atau bahkan ikut tarkam kelurahan yang semua pemainnya adalah wanita. Disana skill banyak diuji, banyak pemain wanita yang bahkan lebih bagus daripada tarkam laki-laki yang pernah aku lalui sebelumnya.



Ternyata banyak dari mereka yang masuk klub bola, dan didukung oleh kedua orang tuanya walaupun mereka perempuan. Sedikit rasa iri ku kembali mencuat, ingin rasanya masuk klub bola tapi sayang tidak ada biaya yang cukup untuk itu.



Setiap pertandingan, aku selalu mengingat David. Meskipun sudah 2 tahun dia pergi, tapi aku merindukannya untuk bermain bola. Tidak jarang aku kalah dan tidak jarang juga aku menang dalam sebuah pertandingan. Tapi aku mengingat semangat tentang bola yang selalu David berikan. Aku berharap dia akan segera pulang, entah kapan tapi yang penting aku bisa bertemu lagi dengannya.



Dari beberapa tabungan yang aku simpan hasil dari pertandingan bayaran, akhirnya aku bisa membeli sepatu baru. Sedangkan sepatu David aku simpan rapi di dalam lemari. Dan uang ibu yang sudah aku tabung, suatu saat akan aku kembalikan pada ibu. Disini pikirku terus bertanya mencari-cari ibu dimanapun tapi tidak pernah aku temui. Mungkin hari ini bukan saatnya aku bertemu ibu, atau mungkin di hari yang lain.



"Suatu saat aku akan menemukan ibu" gumamku sambil menatap sebuah foto kenangan satu-satunya aku dengan ibu.



Perjalanan memang lah indah, tapi lebih indah lagi bila ada campur tangan manusia yang mampu membentuk karakter dari anak-anak nya. Dari sini aku belajar untuk membentuk diriku sendiri menjadi yang terbaik. Baik itu sifat, attitudenya, karakter ataupun cerita hidupku. Semua yang aku lakukan demi memperpanjang kebahagiaan yang aku miliki.



Aku juga ingin bercita-cita menjadi pemain sepak bola yang hebat. Menjadi pemain timnas adalah kebahagiaan semua orang. Tapi tujuanku untuk menjadi pemain bola yang hebat adalah bertemu dengan ayah atau ibu. Aku ingin suatu saat mereka menyaksikan aku di layar TV. Bahwa anak yang mereka tinggalkan kini berhasil dengan lingkungan asing yang tidak mengerti kebenaran.



Memang bosan rasanya, hidup dikampung sunyi yang hanya bisa mencaci ku. Berkata aku anak haram, berkata aku anak yang terbuang, bahkan mereka sudah mengecap ku pelacur karena ibu. Aku tidak marah karena perkataan itu sudah terbiasa aku dengar meskipun terus menerus. Hanya bu Yanti dan keluarganya saja yang mengetahui kebenaran padaku. Diam adalah cara yang terbaik untuk menikmati hidup. Jadi aku memilih diam untuk menikmatinya.




\*bruk, bruk, bruk\*


"Ayo ri cepat" Ucapku sambil menarik tangan Ari dan berlari melewati lorong-lorong untuk sampai ke papan pengumuman.


"Aduhhh, key capek jangan lari mendingan kita jalan saja"


"Kalo kita jalan, nanti kita gak kebagian lihat nama kita" Sahutku sambil menarik tangan Ari



"Permisi, permisi" Menyingkirkan beberapa siswa yang sudah menyerbu papan pengumuman. Aku dan Ari memaksa masuk dalam kerumunan yang ramai. Bagaimana tidak ramai, sedangkan siswa disini bukan puluhan tapi ratusan.



Mataku melihat satu per satu di lembaran yang aku baca. Aku yakin bahwa namaku akan ada di urutan 50 kebawah. aku mencarinya tapi hingga akhir tidak ada namaku. Aku terdiam lalu keluar dari kerumunan. Sepertinya aku tidak lulus pada tahun ini. Atau mungkin aku mengulangnya lagi. Duduk di lantai sendirian dan termenung, malang sekali nasibku.



"Keyyy, keyyyy" Teriak yari yang keluar dari kerumunan. Aku hanya terdiam dan menatapnya. Ari melebarkan tawa kebahagiaan, sudah pasti Ari lulus di peringkat tertinggi. Karena dia adalah anak paling pandai di sekolah ini.



"Aku lulus keyyyy" Dia memelukku yang sedang terdiam

__ADS_1


"Syukurlah kamu lulus, aku tidak lulus ri" Jawabku dengan sedih


"Benarkah? " Ari tersenyum menatapku, aku tidak paham dengan tatapannya. Apakah dia sengaja mengejekku atau memang benar-benar mengejekku karena dia lulus sedangkan aku tidak.



"Hmm" Aku mengangguk lesu


"Ayo ikut aku" Ari menarikku dan kembali masuk kedalam kerumunan siswa yang masih sibuk mencari namanya di papan kelulusan.



Ari mengajakku untuk mengecek satu per satu nama mulai dari urutan nomor 1 hingga urutan nomor 50. Awalnya aku sudah pasrah, karena mungkin Ari mengejekku dengan mengajak untuk cek nama di peringkat 1-50. Padahal aku rasa namaku tidak akan ada disana. Telunjukku terus mengecek nama satu per satu, mataku fokus mencari nama yang indah menurutku.



"Keyla adara, keyla, keyla, key"


"Aaaaaaa, alhamdulillah Ariii aku lulus" Loncat kegirangan sambil memastikan itu namaku dengan kembali melihat nomor ujian ternyata memang benar namaku. Aku tertawa senang dan meloncat setinggi mungkin yang aku mau. Namaku ada diperingakt nomor 27. Ternyata aku lulus.



"Alhamdulillah lulus key" Ari juga ikut tertawa senang sambil merayakan kelulusan ku. Ternyata ada gunanya aku belajar dengan Ari. Padahal dulu aku orang bodoh tapi sekarang aku bisa lulus dengan nilai yang baik.



"Gak sia-sia kesabaran aku ngajarin kamu key" Tangannya menepuk punggungku lalu aku tertawa dan Ari juga mengikutinya.


"Hahahha" Tertawa antara senang, gembira, terharu dan kegilaan kita berdua.


"Akhirnya otak aku berguna ri"


"Hahahahha"



Selain sibuk latihan bola, aku juga sibuk belajar dengan Ari. Awalnya yang menjadi anak bodoh tapi lama-kelamaan dapat diasah dan membuahkan hasil. Aku sangat senang karena bisa mendapatkan nilai yang baik meskipun tidak menjadi 10 besar yang penting ada peningkatan. Ari adalah pahlawan bagiku, karena dia nilai akademik ku menjadi baik. Matematika yang aku anggap susah, ternyata bisa dijadikan permainan dalam belajar. semua itu ari yang mengajarkan.



Padahal tadi aku sudah terkejut jika tidak lulus. Dan aku bingung mau kemana lagi jika tidak lulus. Ternyata aku salah melihat kertas pengumuman. Dan hasilnya benar-benar memuaskan dan sangat memuaskan. Semua tangisan bahagia yang haru terdengar di setiap lorong sekolah, di parkiran, di taman dan tempat lainnya.



Ada juga yang senang dan tertawa keras untuk merayakan. Rasanya lega karena sudah melewati masa SMP. Tapi suatu saat nanti akan ada salah satu momen yang paling dirindukan dari masing-masing siswa yang ada. Sedangkan aku mungkin tidak ada momen yang paling dirindukan, kecuali momen bersama Ari.



Menurutku momen ini hanya untuk mereka yang memiliki geng dalam sekolah sedangkan aku hanya memiliki sahabat setia yaitu Ari. Tapi kami sudah berjanji akan masuk ke SMA yang sama.



"Oh iya key, kamu jadi masuk ke SMA A bareng aku kan"


"Pasti dong boss, kita kan harus selalu bersama"


"Hahahha" Tiada hari paling indah bila tidak ada tawa. Maka dari itu tertawalah sebelum tertawa dilarang.



Setelah semuanya selesai untuk mengurusi berkas persiapan ke sekolah SMA, aku dan Ari langsung pulang. Di depan pintu gerbang sudah ada ayah dan mamanya yang menjemput disana. Biasanya supir Ari atau ayahnya saja tapi sekarang ada mamanya.

__ADS_1


Aku berbincang-bincang dengan keluarga ari karena mereka sudah seperti keluargak sendiri walaupun aku belum pernah menginjakkan kaki di rmah ari. keluarganya sangat ramah dan aku sangat senang mengenal merek. Bahkan mereka sering berkata padaku untuk menjaga Ari. Padahal aku bukanlah bodyguard Ari, tapi premannya hehe.



__ADS_2