Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
114. Rani Dikeluarkan Dari Klub


__ADS_3

Asupan positif mereka berikan tanpa imbalan apapun. Bahkan mereka rela nyawanya menjadi taruhan saat menolongku agar dapat bertanding bola dan membawa kemengan.


"Kami mau pulang key" Ucap kak Dika, karena waktu pertemuan sudah habis dan langit sudah petang.


Waktunya mereka pulang agar tidak terlalu malam sampai di rumah. Dan besok mereka harus sekolah tepat waktu.


"Iya kak, kalian semua hati-hati di jalan ya" Ucapku dan kami bereplukan satu persatu sebagai tanda perpisahan.


"Kamu jaga diri baik-baik, jangan sampai hilang lagi" Aku tersenyum dengan pesan Yuri.


Lagi-lagi dia menangis saat melihat mataku. Dia memeluk dengan erat, katanya sangat sepi di kelas karena tidak ada orang yang ramai sepertiku.


"Key kamu cepet pulang ya, soalnya kasihan Yuri bodoh sendirian di kelas"


"Hahhahha" Semua tertawa dengan ucapan Ari.


"Tenang ri aku pasti pulang, dan kamu akan aku temani menjadi bodoh Yur" Pernyataan jelas, singkat dan padat. Biar semuanya tertawa dan tidak menjadi tegang.


Doni juga menghampiriku, kali ini dia tidak membicarakan banyak hal. Hanya saja dia memberiku sesuatu yaitu sebuah gelang yang terdapat huruf D.


"Kamu simpan ini ya key, aku harap kamu menjadi pemain hebat" Ucapnya sambil memelukku.


Kali ini dia sudah menganggapku sahabat tempat untuk bersandar. Karena saat Doni ada masalah, tempat cerita pertama adalah aku. Dan solusi yang aku berikan selalu dia lakukan, baik masalah keluarga, karir atau kekasih.


"kamu jaga diri baik-baik ya, dan ini ada kartu ATM yang ayah berikan sebagai uang sakumu" kak Dika kembali memelukku lalu memberikan sebuah kartu ATM, katanya berisi uang yang ayah berikan untukku.


"Tidak usah kak, bilang saja ke ayah bahwa Key sudah bisa mandiri. Dan titip salam buat ayah bahwa Key sangat menyayanginya" aku mengembalikan ATM itu karena tidak ada alasan aku menggunakannya.


Lagipula aku sudah memiliki uang saku dan uang gaji dari klub yang dapat aku gunakan untuk kebutuhan hidup di sini. Jadi uang itu sebaiknya aku berikan kembali pada ayah. Awalnya kak Dika tidak mau, katanya takut dimarahi ayah jika uang ini dikembalikan. Dan pada akhirnya aku berhasil membujuk kak Dika.


"Dahhh, Hati-hati di jalan"


"Dadah Key" Aku tersenyum sekaligus bersedih menatap mereka berlalu pergi.


Mereka semua pulang dan melambaikan tangan di dalam mobil. Aku membalas lambaian tangan itu dan merasakan kesedihan karena harus berpisah. Tapi tidak apa-apa karena aku disini berjuang untuk menggapai cita-cita.


Aku kembali masuk dan membawa makanan yang mereka belikan khusus untukku. Katanya buat cemilan disini agar aku tidak kelaparan dan tidak menjadi kurus.


"Kangen banget rasanya untuk pulang, tapi aku harus menyelesaikan tugasku disini dengan baik" gumamku yang duduk di atas ranjang dengan tangan yang masih menggenggam oleh-oleh.


"Key" teriak Ani dan Ira yang baru datang setelah bertemu dengan keluarga mereka. Aku membalas pelukan itu dengan hangat. Kami berpelukan bertiga seperti teletabis saja.


Padahal baru sehari tidak berkumpul dengan mereka tapi pelukan mereka seakan merasakan kehilangan dalam setahun saja. Sesekali mereka menatap wajahku, mencubit pipiku seperti biasa lalu kembali tertawa bersama.


"Key, kamu kemana sih?" Pertanyaan pilu dari mereka berdua.


"Iya key, saat kamu hilang aku dan Ani tidak bisa tidur nyenyak" tambahnya padaku.


"Aku baik-baik saja kok, yang penting kali ini kita sudah berkumpul lagi bukan?" Mereka berdua mengangguk lalu kembali memelukku seperti anak ayam dengan induknya saja.


Lalu kami kembali bercanda dan makan-makan bersama di dalam kamar seperti biasa. Mencicipi makanan yang dibawa oleh orang tua mereka masing-masing. Begitu juga dengan aku yang mengeluarkan makanan tadi untuk dimakan bersama.


*Tok,tok,tok*


Aku segera membuka pintu kamar, dan ternyata rekan satu timku sudah ada di luar dan membawakan makan padaku. Aku terkejut bukan main karena mereka membawanya banyak sekali.


Jadi aku menyuruh mereka masuk dan kami makan bersama-sama sambil berbagi cerita satu sama lain. Baik itu cerita lucu ataupun cerita konyol dan serius yang dimilik. Tapi katanya itu tidak asik, dan mereka ingin mendengarkan ceritaku saat di culik.


"Kami penasaran dengan ceritamu saat di culik Key" Aku mengehembuskan nafas dengan kasar.


"Iya key, di culik itu enak tidak sih?" Pertanyaan konyol apa ini, astaga.


"Iya key, aku hampir patah semangat karena kamu tidak ada dalam pertandingan" pertanyaan mereka banyak sekali, jadi aku menjawabnya secara bergantian.


"Baiklah, kalian dengarkan baik-baik ceritaku ya" aku menceritakan tentang kelucuan kedua penjahat yang sangat konyol dan mudah dibodohi.


Awalnya aku selalu ingin menjebak mereka agar mau meloloskan aku untuk kabur dari tempat penculikan yaitu gudang kayu.


Aku terus melakukan percakapan dan pada akhirnya mereka menjadi teman percakapan yang sangat asik. Bahkan aku berbincang tentang bola, pemain terhebat, pemain yang disukai dan banyak lagi yang berbau dengan bola.


"Ternyata penjahat itu juga fans dari pemain sepak bola terkenal"


"Benar" sahutku saat pertanyaan itu memotong ceritaku.


Aku menceritakan semua kebaikan dan kekonyolan penjahat agar membuat mereka yang tegang menjadi tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini kamarku gaduh dengan perkumpulan satu tim.


Rasanya kekeluargaan semakin terbentuk, membuat aku senang dengan suasana ini. Suatu saat aku akan merindukan hal ini lagi. Entah esok atau lain hari yang penting aku akan rindu semuanya.


"Sebentar, jangan pergi dulu" ucap Ani menghentikan langkah mereka yang ingin beranjak pergi.


"Kenapa Ani? " Aku tidak tau mengapa dia menghentikan langkah mereka padahal hari sudah larut.


"Alangkah baiknya kita berfoto untuk memberikan kenang-kenangan untuk tim" Ujarnya lagi.

__ADS_1


"Baiklah"


Sebelum pergi, kami melakukan foto bersama. Dengan kesenangan dan canda tawa yang membuat kami semakin akrab. Tapi rasanya ada yang kurang, karena Bela dan Rani tidak hadir.


"Bela dan Rani kemana?" Tanyaku pada teman satu kamar mereka.


"Bela lagi tidak enak badan dan sekarang ia istirahat" apa mungkin karena sesuatu hal saat itu Bela tidak ingin bertemu denganku. Padahal aku tidak marah dengannya, tapi pada saat awal aku memang sangat kecewa dan sekarang aku sudah melupakan hal itu.


"Lalu Rani?"


"Katanya dia sedang membicarakan sesuatu yang penting dengan orang tuanya melalui telpon" padahal tadi sudah bertemu dengan orang tuanya, mengapa dia menelponnya lagi. Kenapa dia tidak ingin berkumpul bersama seperti ini padahal sangat asik.


"Baiklah, sekarang kita harus tidur dan jangan terlalu malam" ucapku yang disetujui oleh mereka.


Satu per satu mereka pergi untuk tidur di kamar masing-masing. Urusan kebersihan menjadi tanggung jawab kami bertiga di kamar ini.


Malam yang indah karena aku kembali dengan keadaan selat walaupun ada sedikit luka. Tapi yang paling penting adalah jauh dari nyawa. Dan aku bisa bermain bola lalu pulang dan bertemu dengan keluargaku disana.




\*Brak\*



"Apa maksudmu?" Aku mendobrak kamar Rani dengan keras. Di dalam kamar hanya ada Rani sendiri.



"Kamu kenapa sih key, masih pagi sudah marah-marah" sahutnya dengan tenang. Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan suatu Vidio padanya.



Pertunjukan alami akan dimulai. Matanya melotot setelah melihat videonya yang berbincang dengan penjahat yang kemarin. Serta Vidio dia yang sedang asik mengirimkan pesan untuk mencelakai ku.



Ini semua berkat Ari yang berhasil masuk dalam server mereka dan mengetahui akal jahat dari mereka berdua. Dan vidio itu aku sendiri yang berhasil mendapatkannya.



"Apa kamu bisa jelasin untuk ini?" Bentak ku pada Rani dengan hati yang sudah kesal.



"Itu apa? Kamu kan yang sudah bersekongkol untuk menculik dan mencelakai ku" lagi-lagi aku membentaknya karena hatiku sudah benar-benar kesal dengan apa yang Rani lakukan. Dan aku tidak menyangka bila dia melakukan hal bodoh tanpa berfikir dahulu.



"Iya itu aku, aku membencimu karena selalu mendapatkan tempat yang baik dalam tim. Padahal akulah kapten di tim ini" dia terus menceritakan kebenciannya padaku yang menjadi sorotan terbaik dari pelatih.



Dia sangat membenciku karena aku juga bukan dari kampungnya tapi masih bisa memasuki tim tarkam yang dimiliki oleh kampung Rani. Dan aku juga berhasil mendapatkan gaji yang cukup tinggi dibandingkan mereka.



Dia juga merasa bahwa aku menjadi sorotan terbaik dari pelatih, klub dan manajer. Rani membenciku karena dia merasa diasingkan sebagai ketua tim.



"Pikirmu kemana sih Ran, mengapa melakukan itu"


"Kamu bertanya pikiranku kemana? yang jelas aku sudah buta denganmu Key" Ketusnya sambil menatap dengan kebencian.



Dia memilih jalan buntu, awalnya mencelakai aku dengan meletakkan paku agar aku tidak main. Tapi itu belum berhasil. Dan sekarang bersekongkol dengan panitia disini untuk menculik ku dan membuat aku tidak bertanding kemarin.



Tapi sayangnya usaha yang dia lakukan selalu gagal. Katanya keberuntungan berpihak padaku. Kebaikan yang Rani lakukan padaku adalah jebakan dan kebohongan agar bisa menghancurkan karirku.



"Tapi bukan begitu caranya Rani, aku hampir mati disana. Kamu pernah berfikir apa tidak sih, apa yang kamu punya belum tentu aku miliki dan apa yang aku miliki belum tentu juga akan kamu genggam" ucapku dengan kesal menatap dia dengan tajam.



"Semuanya sudah memiliki jalan hidup masing-masing. Bahkan kamu tidak pernah tau apa yang aku miliki telah diambil oleh Tuhan, kamu hanya melihatku penuh kegembiraan bukan?" Perlahan aku menjelaskan dengan sesak di dada.


__ADS_1


Aku pikir Rani sudah berubah saat aku mengampuni agar tidak mengadu pada coach Jaka tentang keburukannya yang merusak sepatuku dan meletakkan paku di dalamnya.



Kalau dia bukan rekan satu tim ku, mungkin tangan ini sudah habis memukulinya hingga wajahnya tidak berbentuk lagi. Tanganku mengepal dengan keras, ingin siap mengantar tapi aku ingat karena masih menumpang di tim ini.



"Apa lagi yang harus aku jelaskan padamu agar kamu berubah Rani? aku sungguh tidak mengerti" Banyak sekali gebfgaman pikiran yang masuk secara bergantian di otak ini.



Aku tidak ingin karirku dalam sepak bola hancur karena kekerasan yang dilakukan dengan sengaja. Aku mengingat kembali kata-kata ibu tentang hatiku yang harus tenang dan tidak boleh gampang emosi.



"Mungkin itu pilihanku, dan pilihanku hanya melihat kamu merenungi perbuatan konyol ini" aku pergi meninggalkan Rani sendirian dengan luka yang menusuk disengaja dalam sanubari ku.



Aku mencari tempat untukku berteduh dengan kekecewaan yang besar. Aku mencari tempat yang nyaman dan aman untuk menyandarkan hati yang sudah terlalu lelah.



Entah apa yang salah dalam kehidupanku, hingga mereka tetap melakukan hal jahat padaku. Padahal aku disini hanya untuk bermain, bertanding dan mengharapkan kemenangan. Bukan nama yang aku cari, tapi pengalaman yang lebih penting.



"Ibu, Key kangen pelukan darimu ibu. Biasanya saat Key sedih, ibu yang menenangkan dan mbak Nike serta mbak Yeni yang menghibur. Sedangkan bapak, akan menjadi tempat sandaran untuk nasehat" Gumamku sendirian diantara rerumputan yang bergoyang.



Aku rindu ingin menyandarkan resah di pangkuan ibu. Aku ingin menyandarkan luka dalam belain kasih bapak. Dan aku ingin menyandarkan rasa sakit dalam tawa keributan yang diciptakan kedua kakaku.



"Key, kamu ngapain disini" Ira datang dengan berlari. Nafasnya belum teratur dan suaranya patah-patah saat menghampiriku.



"Aku sedang bersantai" Sahut ku sambil meremas rumput yang mengelilingiku dengan damai.



"Coach Jaka memanggilmu"


"Memangnya ada apa? "


"Aku tidka tau, tapi kamu disuruh ke ruangannya" Aku langsung bergegas bersama Ira ke ruangan Coach Jaka. Aku langsung menemui dan masuk kedalam. Ternyata di sana sudah ada Rani.



Wajah mereka terlihat tenang, tegang dan ketakutan. Entah apa yang akan dibicarakan, aku masuk ke dalam perbincangan itu. Seketika semuanya berhenti dan langsung menatapku.



"Keyla, saya sudah tau siapa dalang penculikan kemarin" Aku terkejut dengan ucapan Coach Jaka.



Aku bingung siapa yang mengadukan ini semua, karena yang aku tau bukti dari penculikan itu ada di ponselku. Aku tidka pernah mengatakan pada siapapun.



Aku langsung menatap pada Rani yang sudah menundukkan kepala dalam ketakutan. Sepertinya dia sudah tau apa hukuman yang akan diberikan padanya. Tapi pikiranku masih bingung dengan keadaan ini, dan menatap coach Jaka mengatakan bahwa dia tau semuanya.



"Maksudnya Coach? " Tanyaku kembali untuk mendengarkan penjelasan tentang semuanya.



"Saya tau bahwa Rani yang sudah terlibat dalam kejahatan yang disengaja padamu. Kejahatan paku sepatumu, dan kejahatan saat ini" Semua terdiam, begitu juga denganku.



Aku tidak mengerti darimana Coach Jaka mendapatkan informasi tersebut. Aku mencoba mendengarkan penjelasan darinya. Lalu ia mengatakan bahwa tidak akan membawa kasus ini ke pihak yang berwajib dan memilih diam, katanya biar penjahat itu saja yang dipenjara.



Sedangkan Rani akan mendapatkan hukuman yang lebih buruk dari penjara, yaitu dikeluarkan secara paksa dari klub ini dan mendapatkan denda sebagai biaya pengobatan ku.


__ADS_1


~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2