Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
62. Penyamaran


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Yuri datang dengan senyuman di bibirnya. Sepertinya aku sudah membacanya bahwa kak Dika menembak Yuri. Karena dari kemarin-kemarin kak Dika selalu semangat untuk menemui Yuri. Aku yakin cinta untuk Yuri sudah tumbuh secara perlahan di hatinya.


"Keyy" Yuri langsung memelukku dengan bahagia.


"Kamu kenapa? " Aku mencoba pura-pura bingung, sebenarnya aku sudah tau karena dia pasti bahagia setelah bertemu kak Dika.


"Kak dika key, kak Dika nembak aku dan kami pacaran" Aku tersenyum bahagia. Meski dirumahnya dia tidak menemukan kebahagian, semoga di sekolah kebahagaian itu tercipta bersama kak Dika.


"Beneran yuri" Tanya Ari tidak percaya dan wajahnya ikut bahagia. Begitu juga aku yang bahagia karena Yuri. Yuri mengangguk mendengar pertanyaan Ari.


"Bagus kalau begitu, jadi ada yang bisa menjagamu benar-benar" Kami bertiga berpelukan seperti teletabis. Tapi inilah kebahagian kecil yang selalu kami genggam dengan kesetiaan rasa persahabatan.


*ting*


"Eh bentar, ada pesan" Ari melepaskan pelukan dan mengecek ponselmya yang berbunyi.


"Gila key, yuri dia mengajakku makan malam nanti" Wajahnya bahagia, tapi kami tidak tau "dia" siapa yang sedang Ari bicarakan.


"Rena" Wajahku berubah dari yang awalnya tersenyum menjadi lesu. Malas mendengarkan nama Rena yang berdengung di telingaku.


"RI, mendingan kamu jangan terlalu dekat dengan rena. Dia gak baik buat kamu" Aku berusaha memberitahunya karena aku tidak ingin Ari merasakan penyesalan karena rasa sakit yang dibuat sengaja oleh Rena.


"Maksud kamu apa sih key, saat Yuri bersama kak Dika kamu senang dan saat aku bersama rena kamu tidak suka" Wajah Ari terlihat kesal karena perkatanku.


Padahala ku ingin memberitahu yang sebenarnya tapi aku takut Ari kecewa dan tidak mempercayai ku lagi. Karena saat ini Ari sangat percaya pada Rena yang ternyata bermuka dua.


"Maksudku kamu harus hari-hati dengannya" Ucapku kembali mengingatkan Ari.


"Tenang saja Rena itu baik kok, aku yakin dia bukan orang jahat" Sepertinya hati Ari sudah sangat percaya pada Rena. Ini akan sulit untuk membuka hati Ari tentang kebenaran.


"Baiklah, aku harap kamu baik-baik saja bersamanya"


"Iya, nanti akan aku kasih tau kalian jika Rena adalah orang baik" Yuri dan aku mengangguk, meskipun hatiku tidak pasrah jika Ari harus berjalan bersama Rena.



Sepulang sekolah, Ari terburu-buru untuk mempersiapkan pertemuannya dengan Rena. Dia membalas pesan Rena dan menerima makan malam bersamanya. Hatiku masih ragu dengan makan malam ini. Aku takut Ari kenapa-kenaoa. Dan aku yakin Rena akan merencanakan sesuatu yang buruk untuk Ari.



"Key, ayo pulang" Yuri mengejutkan lamuanku tentang ari. Sedangkan Ari sudah berlalu pergi dari kelas. Katanya ingin berdandan serapi mungkin untuk membuat rena terlesan padanya.



"Ah iya Yur" Aku langsung menjawabnya dan beranjak dari tempat duduk setelah membereskan buku-buku.



"Tunggu" David yang masih duduk di bangkunya berusaha memanggilku. Karena di kelas hanya ada kami bertiga.


"Kenapa" jawab Yuri dan kami berdua langusung menoleh ke arahnya.



"Oh iya untuk kamu jangan lupa datang latihan besok, karena sekarang latihan tim bola putra dan putri digabungkan agar tim kalian berkembang" Ucapnya menjelaskan untuk jadwal latihan besok.


"Oh, aku sudah tau" Jawabku singkat dan langsung bergegas pergi bersama Yuri.



"Key kok ketus banget sih sama dia. Padahal kan dia ganteng tauuuuu" Yuri memoncongkan bibirnya saat berbicara padaku. Ternyata dia juga terpesona oleh ketampanan David.



"Gapapa, males aja" Andai Yuri tau bahwa David sudah melukai hatiku. Aku sangat membenci dirinya bahkan tidak ingin berbicara dengannya. Hatiku sakit sekali karena di campakkan dirinya dan bahkan sangat sakit.



\*bruk\*



"Heh, kok ngelamun sih key" Yuri memukul punggungku agar aku tersadar dari lamunan yang membicarakan David dalam diriku sendiri.



"Astaga, maaf, maaf yur"

__ADS_1


"Ayo pulang" Ajak Yuri padaku sambil menggandeng tangan ini.



"Tunggu, kamu yakin Rena sama Ari makan malam berdua. Bagaiaman kalau kita mengikutinya nanti malam"



"Aku sih juga gak yakin sama Rena, soalnya menurutku dia berubah semenjak pindah kelas. Bahakan dia tidak pernah menyapaku sekarang seakan membenciku" Aku hanya bertanya padanya, tapi Yuri malah curhat mengeluarkan semua isi hatinya. Ternyata dia sama tidak suka denganku.



"Jangan curhat. Kita ikuti saja nanti malam"


"Iya, aku setuju" Pada akhirnya Yuri dan aku bersepakat untuk mengikuti makan malam Ari dan Rena.



Kami pulang untuk berganti pakaian lalu Yuri menyusul ku dengan mobilnya. Dia beralasan pada mamanya untuk kerja kelompok, padahal tidak. Sebenarnya ini dosa, tapi mau bagaimana lagi demi sahabat kami, aku dan Yuri berbohong.



Aku juga berbohong pada ibu dan berkata kerja kelompok di rumah Ari. Kami berdua berskongkol untuk berbohong agar bisa mengikuti Ari dan Rena. Entah apa yang akan Rena lakukan, hatiku rasanya sangat cemas.



*KAFE MELATI*


Terpajang jelas nama sebuah kafe tempat anak-anak nongkrong baik itu yang sendiri ataupun berpasang-pasangan. Untung saja kami sigap mengikuti mobil mereka berdua. Dan pada akhirnya mereka berhenti di kafe ini.


"Gimana yuri, kita mau ngikutin mereka atau diam di mobil saja" Aku memberikan tawaran pada Yuri agar dia juga ikut mengeluarkan pendapatnya tentang masalah ini.


"Sepertinya kita harus kesana key"


"Lalu? " Tanyaku


"Menyamar"


"Ide yang sangat bagus, tumben kamu pinter" Tumben sekali otak Yuri encer. Dan kita harus melakukan penyamaran dan pura-pura menjadi pelanggan lalu duduk di dekat Ari dan mendengarkan apa yang mereka katakan.


Kami berdua sibuk mencari cara untuk menyamar. Menggunakan topi, kacamata dan jaket yang kami beli di toko terdekat agar penyamaran kami berhasil.


"Bagus sekali, seperti detektif..... setan"


*plak* tanganku memukul kepala Yuri.


"hahahhaha" dan kami berdua tertawa dengan senang melihat tampilan yang lucu dari baju yang dipakai. Cocok sekali seperti mafia.


"ssst, ayo masuk" perlahan kami belajar melangkah seperti orang biasa. Masuk ke dalam kafe dengan berjarak 1 kursi, kami berdua duduk disana. Memanfaatkan buku menu untuk menutupi wajah.


"Mau pesen apa kak? " Pelayan datang menanyakan menu yang akan mami pesan.


"Ini 2 ya mbak" Yuri memesan minum untuknya dan untukku. Lalu pelayan itu pergi dan kami kembali menutupi wajah.


Sepertinya obrolan Ari sangat ringan tapi romantis. Rena dan Ari begitu senang berbincang-bincang disana. Sedangkan aku dan Yuri fokus memperhatikan mereka.


*uhuk, uhuk* Yuri minum tersedak membuat aku tepok jidat. Ari dan Rena langsung menatap ke arah kami.


"Kalian" Ari berjalan menuju arahku. Tangan yuri memberikan isyarat bahwa kami sudah ketahuan dan harus melakukan akting di depan mereka.


Aku dan Yuri mendadak tercengang dan memberikan senyum kepura-puraan. Sepertinya penyamaran yang belum baik dan harus belajar lagi pada detektif conan agar memiliki penyamaran yang cemerlang.


"Aaa, kalian disini juga" Ucapku pura-pura tidak tau keberadaan mereka.


"Kalian ngapain di sini" Pertanyaan Ari membuat aku dan yuri saling bertatap-tatapan.


"Kami lagi ingin bersantai di kafe, karena aku dan key habis jalan-jalan. Iya kan key" Mata Yuri berkedip-kedip untuk memberikan isyarat bahwa aku menyetujui pernyataan nya.


"Aaa, iya itu bener. Kita lagi makan"


"Tidak, kalian pasti ngikutin kita" Rena menyela pembicaraan kami bertiga. Padahal dia tidak diajak eh malah ikut-ikutan berbicara.


"Sok tau nih, kita habis jalan-jalan kan Yur" Sahutku sambil menatap Yuri. Di depan Ari saja dia bersikap sok kalem, coba dibelakang Ari wah sangat brutal untuk membuat skandal. Seperti seorang penyihir negeri dongeng saja.


"Sudahlah ri, mendingan kita pindah kafe saja" Ajak Rena sambil menarik tangan Ari.


"Kenapa kita tidak duduk saja dengan mereka" Sahut Ari agar kami menikmati suasana kafe bersama. Tapi tatapan Rena sudah mulai kesal dan rasanya ingin cepat-cepat pergi dari kafe ini.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau aku akan pulang saja. Dan kita batalkan semua rencana kencan kita" Ancamnya pada Ari, yang membuat Ari menuruti kemauannya dan pergi dari kafe ini meninggalkan aku dan Yuri.


"Baiklah, kita pergi dan mencari tempat lain" Ari berlalu meninggalkan kami. Sedangkan Rena tersenyum jahat padaku dan Yuri.


"Hhmmmmfffuuuuu" Aku menghembuskan nafas kekesalan terhadap Rena. Seakan-akan dia membuat Ari patuh padanya. Ingin sekali aku menamparnya tapi untung saja bisa ku tahan.


"Baru kali ini Ari meninggalkan kami hanya karena cewek" Keluh Yuri yang juga mulai merasakan kekesalan dengan sifat Ari. Karena semenjak mengenal Rena, perlahan sifat Ari berubah tidak seperti dulu lagi.


Aku tau Ari bahagia, tapi kebaghagiannya ada pada orang yang tidak tepat seperti Rena. Dia hanya penjilat dan munafik yang memiliki wajah begitu banyak. Bahkan rayuannya mampu meluluhkan hati Ari.


"Yuri, aku ingin bercerita padamu"


"Tentang apa key? " Sepertinya ini saatnya aku menceritakan semuanya pada Yuri. Aku akan mengatakan kebenaran tentang Rena. Yuri pantas mengetahui kebusukan pada diri Rena.


"Tapi sepertinya kita harus masuk ke dalam mobil saja. Jangan membicarakan di sini" Yuri mengerti dan kami bedua langsung masuk ke dalam mobil setelah membayar makanan kami.


"Apa key" Yuri mulai penasaran tentang hal yang ingin aku ceritakan. Rasa ingin tau yang tinggi dia terus mendesak ku, padahal baru saja aku masuk mobilnya.


"Sabar aku baru masuk we. Kamu harus tau satu hal, bahwa Rena itu..........." Aku menjelaskan padanya bahwa Rena mendekati Ari hanya untuk memanfaatkannya saja.


Aku tidak tau pasti apa tujuannya, tapi yang aku temukan tujuannya saat ini adalah menafaatkan kekayaan dan kepandaian yang dimiliki Ari. Karena sudah terlihat jelas dari gerak-geriknya serta pembicaraannya di toilet saat itu.


"Bagaimana kamu tau semua itu key? " Yuri kembali menanyakan tentang sumber informasi yang aku terima.


Aku menjelaskan bahwa Rena sendiri yang berbicara di toilet dan sudah 2 kali aku mendengarnya. Bahkan yang terakhir aku menghajarnya agar dia tidak mendekati Ari. Tapi ternyata Ari semakin luluh dengannya.


"Apa? Kamu menghajarnya? " Yuri terkejut saat aku berkata bahwa telah menghajar rena di kamar mandi.


"Iya, aku kesal Yur jadi aku meluapkannya. Untung saja hanya seperempat bukan seluruhnya"


*plak* tangannya memukulku.


"Kamu harus hari-hati key, kalau tidak kamu akan di skorsing lagi seperti kasus Ana" Sepertinya yang trauma adalah Yuri, karena pada kasus pertengkaran hanya aku yang di skorsing, sedangkan Ari dan Yuri tidak. Andai dia tau bahwa aku sangat senang di skorsing karena bisa istirahat di rumah, hehehe.


"Ya kan sekali-sekali, lagian dia menyebalkan" Sahutku.


"Tapi jangan menghajar sendirian kalau begitu" Perkataannya membuat mataku menatapnya dengan tajam.


"Maksudmu? "


"Maksudku kalau menghajar Rena yang berbuat seperti itu, ajak aku " Aku menahan tawa karena perkataan Yuri. Aku pikir dia akan marah ternyata dia ingin ikut untuk memberikan pelajaran pada Rena.


"Hahahhaha" Kami saling bertatap-tatapan lalu tertawa keras di dalam mobil karena pernyataan yang Yuri ucapkan.


Malam ini gagal mengikuti Ari dan Rena untuk mencari tau apa yang sedang meraka bicarakan. Akhirnya Yuri mengantarku pulang ke rumah. Aku merebahkan diri di atas ranjang kesanyanganku, memeluk bobo lalu terlelap dengan menunggu bunga mimpi yang indah dan hebat.




Pagi ini aku berangkat sekolah diantar bapak. Katanya biar aku tidak terlalu sering naik angkot karena bapak khawatir setelah mendengar beberapa copet yang menggunakan senjata tajam di angkot. Jadi bapak menyempatkan diri untuk mengantarku, namun bila sibuk maka aku terpaksa menggunakan angkot.



"Nak tunggu" Langkahku tertahan karena ada yang memegang tanganku. Aku segra menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa orang tersebut.



"Ayah? "


"Nak, kamu mau kan maafin ayah? " Wajahnya memelas padaku, aku terdiam tidak bisa berkata. Apa yang harus aku lakukan sedangkan ayah sudah membuatku sakit terlalu dalam.



"Tolong jangan sekarang yah, mungkin lain waktu jika kita bertemu kembali" Aku melepaskan tangannya dengan paksa dan bergegas masuk ke dalam sekolah. Dari kejauhan aku bersembunyi menatapnya.



Wajahnya masih ku ingat, kebenciannya, amarahnya, bahkan hampir tidak ada tawa yang dia berikan. Dan sekarang terlihat penyesalan yang menyelimuti wajahnya. Dan pagi ini air matanya menetes. Seorang lelaki paruh baya meneteskan air matanya hanya karena seorang anak yang dia tinggalkan.



"Masih perlukah air mata itu yah, jika pada ujungnya engkau tak kembali juga memelukku sebagai seorang anakmu" Gumamku dalam hati yang membuatku juga merasa sedih. Memang matanya memberikan sinyal penyesalan, tapi hatiku sudah terlalu sakit akibat ulahnya.



Bila aku ingat berjualan koran dengan ibu, dari siang hingga malam hanya untuk sesuap nasi makan aku akan kembali sangat membencinya. Membenci dirinya begitu sangat dalam. Menelantarkan ku dan merenggut masa kecilku yang seharusnya bermain-main sambil tertawa di pelukannya tapi itu semua tidak pernah aku lakukan. Karena masa kecilku direnggut oleh jalanan yang kejam.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2