Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
60. Doni Yang Malang


__ADS_3

*Tetttttt* bel pulang berbunyi, aku, Ari dan Yuri bergegas keluar dari kelas. Kami bertiga berjalan bersama untuk pulang. Tiba-tiba di pertengahan jalan aku lupa membawa buku di laci meja.


"Eh tunggu, sepertinya buku milikku lupa dibawa dan tertinggal di laci meja. Kalian pulang lebih dulu ya, Hati-hati di jalan" Ucapku pada mereka.


"Iya key, kamu juga hati-hati ya" Sahut Yuri dan Ari yang saling bersautan.


"Siap, siap " Aku bergegas menuju kelas. Sesampainya disana aku masih melihat ada David yang sedang menulis sesuatu. Entah apa yang dia tulis, aku tidak ingin tau menau tentangnya.


Aku melewatinya seakan tidak ada orang di kelas. Mengambil buku di laci lalu memasukkannya di dalam tas. Dan bergegas untuk keluar dari ruang kelas.


"Key tunggu" Aku menbalikkan badan saat David memanggikku.


"Ada apa? " Sahut ku dengan wajah malas.


"Emm, kamu mau latihan tambahan tidak? Khusus untuk memulihkan cideramu"


"Tidak usah" Jawabku singkat.


"Tapi cideramu akan lama pulih"


"Apa pedulimu denganku, bukankah kita hanya sebatas teman kelas. Jadi tidak usah pikirkan aku, karena kita sudah punya jalan masing-masing" Ucapku sambil menghadap ke dirinya dan berpegangan ke meja di depan. Lalu bergegas pergi meninggalkan David sendirian disana.


Buat apa dia peduli lagi denganku. Lagipula dokter bilang bahwa kakiku sudah sembuh walaupun masih harus dalam tahap pemulihan. Tapi kenapa coach Alam dan David bilang belum sembuh 100% apa mungkin karena permainanku dalam latihan menjadi buruk, atau hanya akal-akalan David saja agar aku latihan bersama dengannya.


Sudahlah, lebih baik aku berjalan tenang tanpa memikirkan David. Biarlah masa lalu menjadi masa lalu, karena David sekarang bukanlah David yang aku kenal dulu. Dan Keyla yang sekarang bukanlah Keyla yang dulu.


"Itu seperti mobil tadi pagi. Apa mungkin ayah ada di dalam" Saat langkahku tiba di depan gerbang, aku melihat mobil yang dipakai ayah tadi pagi. Aku menghampirinya dan ingin melihat apakah dia ayahku atau bukan.


*tok, tok, tok* aku mengetuk jendela kaca mobil. Sepertinya ada satu orang di dalam.


"Permisi" Kaca itu perlahan turun membuat mataku terbelalak dan membungkam bibirku. Rasanya beku dan tidak bisa bergumam apapun. Hal ini seperti kejutan yang sangat luar biasa, aku benar-benar bertemu dengannya.


"Ayah, ayah" Masih pantaskah aku menyebut dia ayah, sedangkan sudah bertahun-tahun lamanya dia meninggalkanku hingga saat ini aku tidak pernah merasakan kasih sayangnya.


"Iya dek, kamu lagi cari siapa" Aku membeku menatapnya saat dia berbicara padaku. Dia keluar dari mobil dan menghampiriku. Ini benar-benar seperti mimpi, orang yang berdiri di hadapanku adalah ayahku.


"Apa om mengenalku? " Tanyaku dengan tatapan sendu.


"Kamu siapa ya? " Aku tau dia tidak akan mengenalku. Kurang lebih 10 tahun yang lalu dia meninggalkan ku. Dan sekarang wajahku sudah berubah tidak seperti dulu.


"Keyla adara" Tatapannya langsung membeku, seakan dirinya telah terbelenggu masa lalu. Bibirnya terbungkam dalam sekejap. Dia pasti tau nama itu, karena dialah yang memberikan nama itu. Katanya sebuah nama yang hanya ada satu di kampung. Tidak akan ada nama yang bisa menirunya. Aku masih ingat perkataan itu.


"Keyy... La? " Bibirnya bergetar, tatapannya menjadi satu. Matanya berkaca-kaya dan ingin meneteskannya namun masih tertahan. Tangannya mencoba meraba wajah ini. Hatinya sekan tidak percaya, bahwa seorang anak yang dia tinggalkan dulu kini sudah besar. Yang dulu ia gendong, kini sudah bisa berlari.


"Iya, 10 tahun yang lalu ditinggalkan oleh seorang ayah. Dan apakah pantas kau masih ku panggil ayah? " Air mataku menetes saat mengungkapkan isi hati yang tersakiti.


Aku merindukannya dari dulu, tapi menatap saat melihatnya rasa benci dan kecewa bercampur menjadi satu dengan rasa gembira. Namun sepertinya kegembiraan telah tertutupi oleh kebencian yang melekat.


"Key, maafin ayah nak. Ayah sayang denganmu" Dengan cepat tangannya memelukku. Memberikan kasih sayang dalam dekapannya. Menggenggam erat tubuhku seakan tidak ingin melepaskan. Ini pelukan pertama dari seorang ayah, tidak pernah aku dapatkan dari dulu. Kering hatiku dari nama seorang ayah.


Tuhan apakah ini pertemuan yang engkau rencanakan. Seorang ayah yang aku impikan, walaupun dia pergi meninggalkanku tanpa tanggung jawab tapi dia juga ayah kandungku. Darahnya mengalir dalam darahku walaupun telah membeku karena rindu.


"Key, ayah sayang sama kamu nak. Ayah rindu" Tangannya masih mengelus lembut rambutku. Menyandarkan tubuh ini dalam pelukan hangatnya.


"Kalau memang sayang, mengapa harus meninggalkan" Bentak ku sambil melepaskan pelukan itu dengan paksa. Aku sangat membencinya tapi aku juga merindukan dirinya.


Andai engkau tau ayah, aku iri pada mereka yang memiliki cinta pertamanya yaitu seorang ayah. seangkan aku harus mencari dan mengemis kasih sayang itu dari ayah orang lain. Apakah dia masih bisa menganggap dirinya seorang ayah yang baik, ataukah pengecut.


"Key kamu gak tau keadaan semuanya, suatu saat kamu akan mengerti alasan ayah key" Tutur yang lembut mencoba menjelaskan sambil menatapku dengan tatapan rasa bersalahnya.


"Alasan apa yah, memangnya ayah merasakan kehidupanku yang lontang-lantung tanpa kasih sayang. Bahkan ayah adalah orang tua paling buruk yang ada dalam hidupku" Aku meluapkan kekesalan yang selama ini aku pendam. Aku sangat membencinya. Jika memang ada alasan saat meninggalkanku, mengapa alasan itu tidak dia ucapkan.


"Aku tau ayah nikah lagi, anak ayah disini kan" Meskipun aku tidak tau pasti siapa anaknya yang bersekolah disini, tapi yang aku tau dia pasti akan menunggu anaknya untuk pulang.


"Iya key, tapi dia itu.... "


"Sudahlah yah, sekarang aku tau ayah ninggalin ibu dan aku karena ingin menikah dengan orang kaya. Semoga ayah senang dengan hidup yang sekarang" Tanganku beberapa kali menyeka air mata yang terus saja mengalir. Tatapan sendu dan penuh kebencian aku lemparkan padanya.


"Tunggu" Tangannya menggenggam erat tanganku dan menahan agar aku tidak pergi.


*brak* aku melemparkannya dengan keras. Buat apalagi dia menahanku, lagian dia sudah memiliki keluarga baru. Aku berlari dengan air mata yang terus mengalir. Hingga hampir tertabrak mobil karena berlari sembarangan saat menyebrang.


*tinn*


"Maaf Pak" Aku menundukkan badan untuk meminta maaf. Lalu kembali berlari, entah kemana arah tujuanku saat ini. Aku ingin meluapkan rasa sedih yang ada.


POV DIKA

__ADS_1


"Papa berbicara dengan siapa disana" Gumamku dalam hari saat melihat papa berbicara dengan seorang siswi dari sekolah ini. Tapi aku tidak melihat pasti karena tubuh dan wajahnya tertutup siswa yang sedang berdiri di trotoar untuk menunggu jemputan.


"Papa" Aku bergegas menghampirinya dan ternyata wanita itu sudah pergi. Entah kemana perginya aku tidak tau.


"Papa, lagi liatin apa pa? " Ucapku saat netranya menatap ke satu sudut dengan lamunan dan berdiam diri seperti membidik pandangan pada seseorang.


"Hmm tidak, papa tidak melihat apa-apa kok" Jawabnya.


"Tadi aku lihat papa lagi berbicara sama siswi sekolah ini ya? " Tanyaku penasaran dengan anak itu dan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Iya tadi papa tanya....... kamu, soalnya lama sekali keluar sekolah"


"Ohhh, aku kira siapa. Iya maaf soalnya tadi lagi ada urusan sebentar sama guru. Yaudah ayo pulang pa" Kami berdua pulang naik mobil. Hati ini papa mengantarku karena motorku lagi diperbaiki di bengkel jadinya papa yang mengantar dan menjemputku untuk pulang.


POV DIKA SELESAI




Naik angkot tanpa tujuan. Arahku sekarang terombang-ambing. Mengetahui bahwa ayah sudah menikah lagi. Bahkan tanpa penjelasan ia meninggalkan aku dan menikah lalu memiliki seorang anak.



"Pak kiri" Berhenti di tempat yang aku lihat sangat indah. Kali ini arahku menuju pantai. Disana banyak hiburan yang mungkin bisa menghiburku dikala sedih melanda. Atau aku akan menunggu senja agar menghilangkan gundah disini.



Duduk bersila menatap gelombang laut. Tatapan kosong yang membuatku melamun. Orang-orang yang aku rindukan sudah datang. Namun kali inindengan suasana hati dan keadaan yang berbeda. Malu bila aku menangisi ini semua. Sedangkan aku tidak bisa menutupi jika hatiku sedang sedih.



Gelombang laut, bisakah kau dengarkan ku. Tolong hempaskan semua sepiku, rinduku dan kesal ku. Bahkan hempaskan pula luka yang ada di jiwa ini. Buatlah aku tersenyum dengan rayuan gelombangmu.



Irama desiran angin disini sangat sejuk. Memasuki telingaku dengan sopan dan aku menikmatinya. Sebentar lagi senja perlahan mulai tenggelam dan sedihku menghilang bersama kicauan burung-burang yang ingin pulang.




"Aaaaaayyahhhhhhhh, Bisakah kau putar waktu? Agar kau kembali dan memelukku seperti ayah yang lain" Teriakku penuh emosi, berharap sudah dihempaskan hilang bersama ombak lautan. Tidak peduli banyak orang yang mendengar asalkan isi hatiku sudah tenang.



"Key, kamu belum pulang" Mataku terbelalak saat mendengar ada seseorang yang sedang mengenalku.



"Kamu" Aku terkejut saat membalikkan badan dan ternyata itu Doni.


"Kamu ngikutin aku ya? " Tanyaku dengan nada ketus padanya. Karena dia selalu saja datang dan tiba-tiba pergi juga. Aku juga mencoba menyembunyikan rasa tangisku, memeriksa takutnya ada air mata yang membekas.



"Tidak, aku tidak mengikutimu. Aku hanya ingin menghilangkan sumpek saja jadi kesini. Apalagi senja belum sepenuhnya menghilang kan" Jelasnya padaku.



"Kamu menghancurkan hari senjaku" Aku beranjak dari tempat duduk, mengambil tas lalu berjalan ingin pergi.



"Tunggu key, aku kan disini tidak ingin menganggumu. Aku hanya ingin duduk bersamamu saja kok. lagipula ini tempat yang membuatku tenang saat gundah menghampiri"



Dia mengejarku lalu menarik tanganku agar tidak meninggalkannya. bibirnya juga mencoba menjelaskan bahwa tempat ini adalah salah satu tempat yang membuat dirinya tenang.



"Apaan sih don, aku mau pulang" Aku melemparkan genggamannya dengan kesal. Mungkin itu hanya alasannya saja agar dia bisa mengerjarku hingga sampai kesini.



"Aku hanya butuh teman cerita key, saat ini aku sangat lemah dan rasanya ingin mati saja" Aku memberhentikan langkahku dan fokus menataonya.

__ADS_1


"Tidak, tidak, dia tidak boleh mengakhiri hidup" Gumamku dalam hati.



"Aku ingin mengakhiri hidup key, tapi setelah kenal kamu seakan aku memiliki harapan baru" Hatiku tersentuh dengan ucapannya. Aku baru tau ternyata dia juga memiliki masalah sehingga akan mengakhiri hidupnya. Sepertinya masalahnya sangat rumit.



"Duduklah" Aku tidak jadi pulang. Aku duduk di pinggir pepohonan dengan penerangan yang cukup. Di pantai ini masih banyak orang yang berjalan dan menikmati senja berakhir.



Kami duduk berdua di samping pohon kelapa. Lalu doni bercerira masalah hidupnya yang hancur karena perselingkuhan. Katanya ayah ibunya selau bertengkar yang membuat otaknya terasa pecah. Bahkan dia ingin mengakhiri hidupnya. Katanya hidupnya berubah saat melihatku, dia bilang selalu menemukan energi positif dalam diriku.



Pilu juga jalan ceritanya, hampir sama denganku hanya bedanya kedua orang tuanya tidak meninggalkan dia. Hanya berselisih paham dan bertengkar saja.



"Dunia kejam ya key, mereka merusak duniaku yang penuh warna dan sekarang menjadi abu-abu" Aku diam mendengarkan perkataannya. Saat aku menatapnya, air mata Doni menetes diantara pipinya. Serapuh itukah seorang lelaki saat hatinya sudah hancur.



"Don, semua orang memiliki kehidupan tapi tidak semua orang menikmati kehidupannya" Aku mengenggam tangan doni dan berkata sesuatu. Berharap hatinya luluh agar tenang dan menikmati kehidupan.



"Maksudnya apa key? "


"Kamu tau, di luar sana banyak yang ingin mengakhiri hidupnya karena sudah tidak kuat menghadapi kehidupannya. Dan disini kita yang kuat menghadapi hidup akan bertahan menjalaninya hingga episode akhir"



Aku menjelaskan sambil membayangkan kehidupanku yang dihancurkan oleh kedua orangtuaku sendiri. Karena mereka yang menghancurkannya dan membuat semua berantakan, tapi hingga titik ini aku masih menikmati kehidupan walaupun tidak rata.



"Jangan nangis, hidupmu masih panjang Don" Aku menyeka air matanya dengan lembut hatiku sangat tersentuh dengan ceritanya.



"Iya key, makasih banyak atas semaunya. Baru kali ini aku melihat seorang wanita yang tulus sepertimu. Aku tidak menyangka, kepribadianmu yang tomboy ternyata memiliki hati yang baik" Dia memujiku terlalu berlebihan. Aku tidka suka dengan pujian yang terlalu tinggi.



Sedangkan dirinya yang rapuh mencoba menyandarkan kepala di pundakku. aku menerimanya saat melihat sungguh kejam kehidupannya hingga dia berani menangis lelah serta sakit seperti ini.



"Udah jangan terlalu banyak memuji, ayo pulang hari sudah malam" Bentak ku padanya karena aku tidak suka kata-kata pujian.



" Baru saja dipuji baik, eh sekarang malah galak lagi" Gumamnya padaku. Akhirnya aku pulang bersama Doni. Dia mengantarku hingga sampai ke tempat persimpangan kampung. Tempat biasa aku turun saat ada yang mengantarkan.



"Disini saja don"


"Loh rumahmu mana key? " Doni memarkirkan motornya.



"Itu di sana"


"Kenapa tidak kesana saja" Sampai saat ini aku tidak ingin teman-teman mendengarkan makin tetangga dan mengucapkan aku anak pelacur.


"Tidak usah, terimakasih Doni" sahutku dengan lembut.



Terkadang aku juga melarang kak Dika, Ari dan Yuri sering-sering ke rumah. Tapi Yuri dan Ari tetap saja memaksa hingga akhirnya mereka tau cacian anak pelacur dari mulut tetangga. Tapi Yuri dan Ari mengjiraukannya, karena dia adalah sahabat terbaik untukku.



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~

__ADS_1


__ADS_2