Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
115. Lolos Ke Babak Selanjutnya


__ADS_3

Keputusan sudah di tetapkan setelah coach jaka, para pelatih dan manajer melakukan rapat mengenai masalah ini. Dan pada akhirnya Rani dipulangkan secara paksa sebagai efek jera karena dia sudah melakukan pelanggaran yang buruk.


Sebenarnya aku tidak ingin hal ini terjadi, maka dari itu aku menyembunyikan semuanya. Tapi kenapa coach Jaka masih mengetahui semua hal yang dilakukan Rani. Lalu siapa dalang semua ini.


"Key, sendirian saja" Ani datang menghampiriku saat aku duduk di taman sendirian sambil merenungi apa yang sudah terjadi pada Rani.


"Aneh aja Ani, kepalaku masih pusing memikirkan masalah ini" Sahutku dengan lesu dan kembali menatap ke segala arah.


"Kamu tidak usah merasa bersalah, karena itu semua kesalahan yang dia lakukan sendiri" Aku langsung menatap Ani dengan penuh tanya.


Lalu mengapa dia mengetahui hal tersebut, sedangkan masalah Rani belum ada yang mengetahui kecuali aku dan para pelatih.


"Maksudmu, Rani? "


"Iya, dia. Aku yang mengadukan semuanya" Aku terkejut dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Ani.


Aku tidak tau harus berbicara apa karena semua sudah di luar pikiranku. Sejenak aku tercengang setelah mendengar pernyataannya.


"Mengapa kamu melaiukan itu? " Aku membentaknya dengan kesal. Karena Ani melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan. Aku tidak tau lagi apa yang ada dipikirannya hingga dia nekad dengan semua ini.


"Kerna dia sudah mencelakaimu"


"Tapi tidak dengan ini Ani, karenamu Rani keluar dari klub" Perdebatan yang mulai memanas. Aku semakin menyalahkan Ani yang melakukan hal tanpa berfikir untuk kedua kaliannya.


"Kamu kenapa membelanya, sedangkan dia tidak pernah menbelamu. Dia selalu ingin menghancurkanmu. Kamu ini bodoh atau apa sih Key, asal kamu tau apa yang dia lakukan hampir mencelakai nyawamu" Kesalnya dia lupakan semua yang ada dikepalanya padaku.


"Tapi ini bukan cara untuk menghukumnya, aku tau dia salah. Tapi setidaknya kita harus memberikan kesempatan agar dia menjadi lebih baik" Aku terus saja mengatakan untuk memberi pengertian pada Ani.


Sedikit pembicaraan ku melunak padanya agar dia paham apa yang seharusnya dapat dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dapat dilakukan.


"Terserah katamu Key" Ani marah padaku.


Dia merasa bahwa aku membela Rani dan tidak mendukung perbuatan yang dia inginkan. Padahal aku hanya ingin memberinya penjelasan bahwa kejahatan tidak seharusnya diperlakukan jahat juga.


Tapi Ani terus mengatakan bahwa perbuatan Rani tidak bisa di maafkan. Katanya dia hampir kehilangan sahabat sepertiku, karena perbuatan Rani yang terus melakukan hal buruk padaku. Ani mengetahui semua itu karena dia sangat dekat denganku.


"Tolonglah mengerti Ani, aku tidak ingin kamu berbuat seperti ini. Dan aku juga tidak membelanya Ani" Ujarku kembali menjelaskan namun dia merajuk.


"Sudahlah, aku sudah malas" Ani pergi begitu saja dan meninggalkanku.


Bisa dibilang tanpa Ani di klub maka aku kesepian, dan begitu juga sebaliknya tanpa aku di klub maka Ani akan kesepian. Kita saling melengkapi satu sama lain. Tapi hari ini kita melakukan kesalah pahaman.


Saat tiba di kamar, Ani diam dan tidak menegurku seperti biasanya. Aku berdiam diri dan memikirkan hal sejenak, mungkin ini salahku yang memarahimya. Jika di lihat dari sisi seorang sahabat, tidak ada yang mau jika salah satu teman terbaiknya disakiti oleh orang lain bahkan hampir kehilangan nyawanya.


"Kalian berdua kenapa sih, Diam-diam saja daritadi" Ucap Ira yang melihat keanehan pada kita berdua.


Tidak seperti biasanya kami berdiam diri, karena dalam kamar selalu saja melakukan hal lucu sebelum tidur. Tapi sekarang mendadak sunyi.


"Ani... " Aku memanggilnya tapi dia tidak menoleh.


Berulang kali aku mencoba meminta maaf pada Ani, tapi dia selalu menolaknya. Penolakan itu membuatku selalu merasa bersalah karena memarahi Ani. Mungkin aku harus diam beberapa waktu untuk menjelaskan lebih baik lagi padanya.


Aku juga merasa bersalah karena membentak nya tadi. Membuat Ani semakin meninggi juga saat berbicara padaku. Lebih baik aku terlelap dalam malam penuh kesalahan, biar esok hari tenang menghadapi pertandingan.



Persiapan pertandingan sudah dimulai, tapi sampai hari ini Ani masih berdiam diri dan tidak mau berbicara denganku. Begitu juga aku yang selalu meminta maaf padanya tapi dia memilih menghindar. Mungkin dia merasa bahwa aku sudah keterlaluan memarahinya kemarin.



"Keyla, hari ini kamu yang akan menjadi kapten di pertandingan ini" Ucap coach Jaka pada saat didalam ruang ganti. Ia memberikan tanggung jawab padaku.



"Tidak coach, saya belum menjadi pemimpin yang hebat. Terkadang saya masih di balut emosi tinggi" Sahutku menolak dengan sopan.



Karena dalam setiap pertandingan emosiku terkadang baik dan terkadang juga buruk apabila mendapati pelanggaran tim lawan yang sangat keras. Aku takut tidak bisa menjadi contoh baik bagi tim, jadi aku memutuskan untuk memberikan ban kapten pada Ani.



"Lebih baik ban kapten itu diberikan pada Ani coach, karena aku rasa emosi dia cukup stabil dan tata cara pengaturan yang baik untuk tim" Ujarku pada pelatih.



"Baiklah, saya akan pertimbangkan lagi" Sahut coach Jaka padaku.



Bukan karena dia teman baikku di tim ini, tapi karena aku percaya bahwa dia mampu menenangkan dan memimpin tim dengan baik. Begitu juga dengan coach Jaka yang akhirnya setuju dengan pendapatku untuk memberikan ban kapten pada Ani.



Pertandingan dimulai, hari ini adalah pertandingan terakhir. Apabila kita menang maka akan masuk ke dalam perempat final. Jika kalah kita akan tetap masuk perempat final karena keluar sebagai runner-up grup. Minimal kita bisa melawan imbang atau bisa menang.



\*pritt\* peluit panjang babak pertama telah dimulai. Kami berjuang mati-matian untuk mendapatkan 3 poin di pertandingan terakhir ini. Apapun alasannya kita harus berjuang dan menenangkan pertandingan.


__ADS_1


Formasi di lini tengah dan depan sudah diubah. Karena Rani kali ini tidak bermain dan sudah berganti dengan gelandang lain. Rupanya permainan kali ini teratur sesuai dengan intruksi dari coach Jaka.



"Naik, naik hey" Walaupun sudah mengikuti instruksi dari pelatih, tetap saja teriakan coach Jaka terdengar untuk pengingat kami saja agar tetap semangat dan berjuang.



Kami berhasil memberikan gol di menit ke 35. Kemenangan sementara dari rumah kami yaitu 1-0. Kemengana ini rupanya membuat tim lawan bermain seperti harimau. Dia selalu memangsa serta bermain keras dan menyakiti lawan.



\*buk\*


"Aaaaa" Ani tergeletak dengan kaki yang kesakitan. Aku segera menghampirinya.



Ani di tackel keras dan kakinya diinjak oleh tim lawan. Disaat itu emosiku mulai beranjak dan keluar tanpa arah. Aku membentaknya dan memegang kerah bajunya sambil mendorong dia.



"Apa maksudmu, kamu ingin mematahkan kakinya" Emosiku melunjak di ubun-ubun.



Bagaimana tidak jika seorang teman yang sangat dekat denganku disakiti hingga merintih kesakitan. Dan sekarang dia tergeletak memegang kakinya.



"Key tenang Key, tenang"


"Matamu dimana, coba lihat dia sudah terjatuh tapi masih kamu injak" Bentakan kembali dengan keras sambil mendorongnya. Tapi wajahnya masih merasa tidak bersalah.



Peluit wasit mencoba memisahkan. Aku mencoba tenang dan membantu Ani untuk memanggil tim medis agar segera mendapatkan perawatan. Terpaksa Ani harus diganti karena tidak dapat melanjutkan permainan.



Untung saja dia hanya keseleo dan luka karena bekas injakan dari pemain lawan. Ia ditandu keluar lapangan, tatapannya memelas padaku seperti mengatakan bahwa ini menyakitkan.



"Tenanglah kawan, kamu baik-baik saja. Bersabarlah dan kakimu akan sembuh" Ucapku sambil memberinya semangat. Aku shabat tidak tega melihatnya seperti itu.




"Apa sit, salah saya apa" Dia marah pada wasit yang memberinya kartu merah. Dia masih tidak terima atas keputusan wasit.



"Salahmu, menginjak temanku secara sengaja" Ucapku sambil memberikan isyarat untuk menatap mataku secara dalam.



Lalu pertandingan dimulai kembali, kali ini ban kapten berada di tangan Rika. Aku tidak mau memegang ban kapten karena masih belum bisa mengontrol emosi seperti tadi.



Pertandingan kembali di mainkan dan kami memanfaatkan kesempatan karena tim lawan mendapatkan kartu merah sehingga harus bermain dengan 10 orang.



"Gollllll" Teriakan gol kembali terdengar dari penjuru dukungan kami.



Pertandingan babak satu kembali heboh dengan 2 gol yang kami tambahan. Dan di babak kedua kami menambah gol kembali hingga skor akhir menjadi 5-0 kemenangan bagi tim kami.



Semuanya bersokrak gembira, sedangkan aku memilih diam dan memapah Ani untuk kembali ke ruang ganti. Karena kakinya saat ini tidak bisa digunakan untuk jalan dan membutuhkan perawatan yang lebih.



"Ayo" Ajakku dengan sepenuh hati untuk membantunya berjalan.



"Ayo ani" Ira juga datang menbantuku merapat Ani. Biarpun kami masih bertengkar tapi aku tidak akan membiarkan dia sakit sendirian.



"Makasih ya, sudah membantuku" Ucapnya membuka pembicaraan saat sedang asik berjalan secara perlahan menuju ruang ganti. sedangkan teman yang lainnya asik merasakan kemenangan dengan sorak bergembira kembali hari ini.



"Maafin aku ya Key, karena hal kemarin" Ucapnya padaku.

__ADS_1



"Sudahlah, ayo kita pergi" Kami semua kembali ke penginapan dengan senang hati. Sedangkan Ani harus di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.



Aku kembali ke kamar bersama Ira sambil tertawa senang. Tapi sebenarnya hatiku masih cemas dengan keadaan Ani. Aku takut terjadi ham buruk pada kakinya.



"Key, jangan bengong aja" Ucap Ira saat melihat aku yang masih menatap pada satu titik.



"Eh iya ira, ada apa"


"Aku mandi dulu ya. Gatal sekali nih"


"Oke siap. Cepetan jangan tidur di kamar mandi ya"


"Kamu bisa aja, hehheh"



Sambil menunggu Ira mandi, aku menghubungi keluargaku untuk memberitahu bahwa kali ini kami menang dan berhasil melaju ke babak semifinal final. Pertandingan terbaik yang aku miliki selama bergabung disini.



Apalagi yang diharapkan adalah kemenangan untuk di bawa pulang. Karena suatu kebanggaan dapat menang di kota orang. Aku janji sama bapak akan bermain bagus dan mengeluarkan kemampuanku untuk meraih yang terbaik.



\*tok, tok, tok\* ketukan pintu berbunyi saat aku dan Ira ingin tertidur. Aku langsung beranjak dari kasur dan membukanya.



"Astaghfirullah, Ani" Ira langsung berdiri saat aku menyebutkan nama Ani.



Aku dan Ira mmbantu Ani untuk duduk di kasur. Dia bercerita katanya tidak ada luka yang terlalu parah. Hanya saja bengkak yang ada di kakinya membuat Ani tidak dapat bermain di semi final dan juga final.



Kabar buruk yang membuat aku terdiam bersama Ira. Tidak ada yang lebih baik saat kami bermain bersama dan meraih kemenangan bersama. Aku dan Ira langsung memeluk Ani untuk memberikan semangat padanya.



"Kamu tidak usah sedih. Aku bakalan bermain dengan baik, jika aku mencetak gol maka namamu yang akan aku pegang" Ucapku membuat Ani tersenyum sebentar lalu kembali murung.



Tiba-tiba air matanya terjatuh dari kedua mata yang sedang merasakan sakit. Baik sakit dalam dirinya dan juga di kakinya. Permainan di akhir adalah idaman seluruh pemain. Apalagi final yang akan selalu menjadi idaman untuk mencetak gol di sana agar dapat dikenal.



"Sudah jangan menangis. Aku dan Ira akan berjuang agar kita menang"



"Iya Ani, benar kata key. Aku akan berjuang buat bisa menang" Sambung Ira dan mencoba untuk membuat hati Ani menjadi tenang.



"Bukankah kemengan kita adalah kemenanganmu juga? " Ani mengangguk dengan pertanyaanku.



Karena dalam bola adalah bermain secara kelompok bukan individu. Individu sendiri adalah permainan tentang skil yang dimiliki untuk dilirik para pelatih yang hebat.



"Aku akan membuat kamu merasakan kemengan dalam lapangan, walaupun kamu duduk di bangku cadangan" Ani langsung menangis dengan keras. Ia memelukku dan juga Ira. Merasakan kebahagiaan karena aku dan Ira membuat semangatnya kembali walaupun tidak dapat main di pertandingan akhir.



Pagi yang cerah, burung-burung bersautan dalam sarangnya. Aku dan Ira mengajak Ani berjalan-jalan untuk menikmati pagi yang cerah. Kami diberikan kebebasan hari ini untuk berbelanja dan berjalan-jalan di luar penginapan.


"Aku naik apa? " Tanya Ani yang kebingungan karena kakinya yang sakit.


"Tenang aja, aku dan Ira sudah menyiapkan semuanya" Aku dan Ira sudah meminjam kursi roda yang ada di kenginapan ini. Hal ini mempermudah kami untuk mengajak Ani jalan-jalan.


"Kok bisa, kemarin kenapa tidak ada" Dia heran karena tadi malam ia jalan di papah oleh pelatih dan tidak ada yang menawari kursi roda padanya.


"Karena sudah malam, mungkin kursi rodanya tidur kali"


"Hahahhahah" Tertawa kami bertiga masih sama. Sama-sama gila dan kocak.


Kami menikmati percikan sinar mentari pagi. Hembusan angin segar mengelilingi embun-embun yang bersautan diantara rerumputan. Kami bertiga berbelanja di tempat toko-toko terdekat.


__ADS_1


__ADS_2