Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
47. Hadiah Dari Yuri dan Ari


__ADS_3

Selesai makan kami langsung bersiap untuk melanjutkan pelajaran. Sedangkan Rena jarang memperhatikan guru di salah satu pelajaran tertentu, dia hanya menunduk dan mencorat-coret buku. Kadang seperlunya saja dia menatap ke depan saat guru menjelaskan dan kadang juga tidak menatapnya sama sekali. Sungguh aneh dan benar-benar aneh perilakunya.


*tetttttttttt* bel sekolah sudah berbunyi, pertanda waktunya untuk pulang.


Aku meminta Ari untuk menghubungi Ibu atau bapakku agar tidak menjemput dikarenakan aku akan belajar ke rumah Ari. Mereka berdua sangat membantuku yang tidak memiliki ponsel canggih seperti mereka. Bila ada tugas maka mereka berdua yang akan mencarinya atau bahkan mengerjakannya hingga selesai. Karena aku sendiri tidak punya ponsel ataupun laptop sebagai penunjang sekolah.


"Gimana ri, udah telpon bapak atau ibuku? "


"Tenang key, aku sudah mengirim pesan soalnya ponselnya tidak ada yang menjawab mungkin mereka sedang sibuk"


"Oke siap, terimakasih banyak Ari"


"Sama-sama Keyla" Kelakuan yang sudah menjadi ciri khas diantara kami bertiga.


Tertawa di dalam hal kecil adalah suatu yang sangat indah bagi kami. Menjadi kenangan yang akan selalu diingat untuk masa tua nanti.


"Oh iya, kamu sudah menelpon supir dan mama kamu? " Tanyaku pada Yuri yang sibuk memeriksa ponselnya.


"Sudah Key, ini baru saja aku kirim tapi hanya pak supir yang membalasnya sedangkan mama masih belum membacanya mungkin dia sibuk" Wajahnya kembali murung tapi kami memiliki banyak hal untuk menghibur Yuri.


"Yasudah ayo kita pergi saja, supir ku sudah menunggu di depan" Ucap Ari sambil Yuri untuk berjalan.


"Hey tunggu, apa kalian melupakan" Gumamku yang ketinggalan dibelakang.


"Eh iya lupa" Sahut Ari dan Yuri secara bersamaan sambil menepuk jidat mereka. Dengan sigap mereka berjalan disampingku sambil membantu agar perjalanan tidak terganggu.


Saat berada di gerbang sekolah, aku melihat Rena kembali. Lelaki yang menjemput Rena mengalihkan perhatianku. Sepertinya aku mengenalinya, tubuhku mematung sambil menatap Rena yang sedang berbincang. Sayangnya lelaki itu menggunakan masker jadi aku tidak bisa mengenalinya.


"Key, kenapa" Tanya Yuri yang menghampiriku


"Kamu lihat itu? " Aku menunjuk ke arah Rena dan lelaki itu"


"Iya Rena" sahutnya


" Satunya lagi"


"Sepeda motornya" Ucap Yuri dengan polosnya.


Padahal tanganku sudah jelas-jelas menunjuk laki-laki yang berbicara dengan Rena tapi dia malah menyebutkan sepeda motor. Lalu apa masalahnya aku dengan sepeda motor. Astaga Yuri, ingin rasanya aku mengarahkan matanya dan fokus ke lelaki itu.


"Bukan Yuri, itu lelaki yang bersama Rena" Tanganku geram dan langsung dengan cepat mengubah arah kepala Yuri dan matanya dengan tuntunan jari telunjuk ku.


"Ohhhh, itu. Gak tau key"


"Kan aku belum nanya"


"Pasti kamu mau tanya lelaki yang bersama Rena itu siapa kan? ya sudah sebelum pertanyaan itu keluar aku jawab dulu bahwa aku tidak tau"


Jawaban yang sangat cerdas seperti seorang peramal. Padahal aku belum memberikan pertanyaan itu tapi Yuri dengan percaya diri menjawabnya. Aku hanya bisa diam dan menatap mereka berdua.


"Hey, kalian lihat apa? Ayo masuk" Ucap Ari yang keluar lagi dari mobil dan berjalan ke arah kami


"Kamu tau lelaki bersama Rena itu ri? "


"Oh itu, dia kakaknya"

__ADS_1


"Dari mana kamu tau? "


"Saat itu aku mengantarkan Rena ke ruangan kepala sekolah dan kami berbincang-bincang, katanya Rena dijemput dan diantar oleh kakanya" Ari menjelaskan apa yang dia ketahui tentang Rena.


"Ohhh, kakaknya" Mataku terus saja memperhatikan sepeda motor itu.


Sekarang aku ingat bahwa motor itu yang pernah menyerangku saat di rumah sakit waktu itu. Seseorang yang mengendarai motor itu telah menyakitiku dengan benda tajam. Lalu apakah benar dia kakanya Rena, dan apa masalahnya hingga dia ingin melukaiku.


"Emangnya kenapa key? " Tanya Ari lagi


"Oh tidak apa-apa, aku cuman salah orang" Sahut ku untuk menyembunyikan terlebih dahulu karena belum pasti dia orang yang ingin mencelakai ku di rumah sakit waktu itu.


"Woyyy, kalian mau kemana kok rombongan tapi aku tidak diajak" Kak Dika mengagetkan kami. Dia datang tiba-tiba di belakang kami sambil mengendarai motornya keluar dari sekolah.


"Karena anda tidak di ajak" Sahut ku


"Jahat sekali, aku ikut ya"


"Kami itu mau belajar kelompok, dan kak Dika beda kelas dengan kita jadi tidak bisa ikut"


Menjelaskan padanya pasti dia tidak bakal mendengarkan. Pasti dia bakalan tetap ingin ikut. Sedangkan Yuri hanya senyam-senyum menatap kak Dika. Maklumlah seorang pemuda yang lagi kasmaran.


"Tapi kan bisa dong kita belajar bersama, bener gak Yuri, bener gak ri" Ari hanya bisa mengangguk karena dia tidak bisa menolaknya. Sedangkan Yuri juga ikut mengangguk dengan senyumannya.


"Aku bilang tidak ya tidak , karena kalau kak Dika ikut maka fokus belajar kami jadi hilang. Sudahlah ayo masuk" Menganggu saja, selalu membuatku emosi. Aku baru sadar bahwa ini akan pergi ke rumah Ari tapi mengapa aku yang mengatur, seperti tidak masalah lagi pula ini yang terbaik biar fokus belajar.


Kami bertiga langsung masuk ke dalam mobil. Sedangkan tangan Yuri selalu melambaikan kebahagiaan dan seakan tidak rela meninggalkan kak Dika sendirian. Yang bisa membuat Yuri tersenyum bahagia adalah bersama kak Dika. Hatinya sangat melekat untuk kak Dika. Tidak ada orang lain yang bisa menggantikan nama kak Dika di hatinya.


Saat di dalam mobil, pikiranku terus berputar saat mengingat kakak Rena. Aku yakin itu motor yang digunakan oleh orang yang Mencelakai tanganku waktu di rumah sakit. Tapi wajahnya tidak jelas, bahkan wajah kakak Rena sama tidak jelas karena tertutup oleh masker. Aku mengingat plat nomornya dan keyakinanku masih sama kalau motor itu sama dengan motor tersebut.


"Gimana aku tidak menolak, sedangkan kalau belajar ada kak Dika maka kamu gak fokus tau" Sahut ku sambil menatapnya dengan tajam dan dia hanya tersenyum.


"Iya bener juga kata key, nanti kamu gak fokus belajar" Sambung Ari membenarkan perkataan ku. Tapi tadi dia juga ikut mengiyakan dan kenapa sekarang menolak. Dasar Ari anak labil.


"Tadi kamu mengiyakan, sekarang menolak juga sama seperti key" Ketus Yuri pada Ari


"Ya karena aku takut kalau menolak" Jawabnya dengan santai


"Huhuhu" Bantal kursi aku leparkan tepat di atas kepala Ari.


"Aduh sakit key"


"Hahahhah" Terus saja di sepanjang perjalanan kami tertawa bersama. Selalu saja bila ada dalam satu mobil pasti akan melakukan hal yang tidak membosankan. Bukan hanya dimobil tapi di manapun pasti akan membuat selalu tertawa.


Mereka adalah sahabat yang sangat aku cintai. Tanpa mereka maka aku akan kesepian. Dan bersama mereka semua masalah hidupku akan hilang walaupun tidak semuanya setidaknya aku melupakan beberapa masalah besar yang menghantui.


"Oh iya key, kita berdua punya sesuatu untuk kamu"


"Apa?" Tanyaku penasaran saat Yuri berkata ingin memberikan sesuatu padaku. Dan matanya saling bertatatapn antara dia dan ari.


"Coba tebak" Sahut Ari, sepertinya kepala dia tidak sakit karena terus melihat ke belakang.


"Ah nanti deh, tunggu di rumah kamu aja ri" Ucap Yuri yang membuatku kesal. Dia yang membangunkanku untuk mendengarkan sesuatu yang mereka bawa tapi diputuskan di tengah jalan. Rasanya sangat tidak enak. Seperti diberikan harapan lalu dipatahkan.


"Kenapa gak di sini saja, aku sudah penasaran nih" Nada tinggi kembali mencuat saat Yuri berkata demikian.

__ADS_1


Aku semaikin kesal karena Ari dan Yuri terus menggodaku. Ingin memberikan sesuatu tapi mereka menyembunyikan lagi. Katanya tempatnya tidak pas, jadi harus diberikan saat belajar di rumah Ari.


Aku hanya berdiam diri dan tidak mau berbicara dengan mereka berdua. Sedangkan Ari dan Yuri terus berbicara sebanyak mungkin untuk membuatku kesal. Awas saja nanti akan aku balas kalian berdua karena terus menggodaku. Enak saja berbincang berdua tapi membicarakanku, sedangkan aku masih ada di dalam mobil dan mereka membicarakan di depan orangnya langsung. Sangat tidak ramah dan tidak baik sekali, ingin rasanya menjitak mereka berdua.


Sesampainya di rumah ari aku tetap saja diam. Dan mereka asik sekali ngobrol sampai lupa denganku yang berjalan seperti siput. Mereka berdua meninggalkanku dibelakang. Aku hanya diam dan menatapnya kesal. Sepertinya mereka ingin mengerjaiku.


"Eh key, ayo duduk" Enak sekali mereka berdua masuk dan minum jus jeruk yang sudah tersedia di meja. Dengan santai mereka menyuruhku untuk duduk, sedangkan aku masih tertatih untuk berjalan.


"Kalian ini" Aku menatapnya kesal tapi mereka tertawa terbahak-bahak.


"Astaga key, kamu belum sembuh nak" Tante Maya keluar dari dalam rumah. Dia langsung menuju ke arahku dan memeluk selayaknya anak sendiri.


"Belum tante, ini nih Yuri dan Ari meninggalkan aku sendiri dan tidak mau membantuku untuk berjalan" Aku melontarkan kata-kata sedih lalu melemparkan senyum licik pada mereka berdua. Sepertinya perdebatan akan dimulai.


"Kalian ini sudah tau key sakit kenapa ditinggalin" Akhirnya Ari dan Yuri dimarahi rasakan itu, suruh siapa daritadi tidak mempedulikan aku.


"Maaf tante, key kan lagi manja" Sahut Ari lalu dia tertawa


"Iya tante, key lagi gak mau ngomong jadinya kita juga diam" Sambung Yuri. Mereka berdua malah melemparkan masalah padaku.


Yuri dan Ari beranjak dari tempat duduk lalu memeluk tantu maya, mamanya Ari. Kami berpelukan berempat dengan hangat. Tante Maya sudah menganggap aku dan Yuri seperti anaknya sendiri. Jadi keakraban sangat terjalin baik seperti keluarga sendiri. Bila aku tidak mendapatkan kehangatan dari ibu kandungku yang terpenting aku mendapatkannya dari keluarga bu yanti dan keluarga tante Maya yang sangat menyayangiku.


Begitu juga dengan Yuri, dia pasti merasa senang berada disini karena mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari tante Maya seperti mamanya sendiri. Jangan salahkan seseorang mencari kehangatan dari keluarga orang lain, tapi salahkan dirimu sendiri karena tidak mampu menjadi penghangat untuk keluargamu sendiri. Mungkin ini yang dapat aku katakan pada keluarga Yuri dan keluargaku.


"Oh iya tadi mama sudah masak banyak sama bibi, karena Ari bilang kalian mau datang. Ayo makan dulu baru belajar"


Kami bergegas menuju ke ruang makan. Kalo ini Yuri dan Ari membantuku untuk berjalan kesana. Tidak pernah ada pertengkaran hebat dalam diri kami, pertengkaran itu akan mudah dipatahkan dengan hati yang hangat.


"Siap tante, pasti masakannya sangat enak-enak. Bener nggak key? "


"Bener Yuri, kan tante Maya pintar memasak kalau kita bertiga pinter ngehabisin"


"Hahahhahaha" Ruang makan ricuh setiap kami datang, selalu saja ada canda tawa yang terlempat jika berkumpul bersama.


Makanan yang lezat selalu dihidangkan saat kami datang ke rumah Ari. Bagaimana tidak betah jika semuanya disini sangat nyaman dan serba ada. Tapi yang lebih nyaman lagi adalah bersama keluarga sendiri meskipun hidup seadanya tapi kasih sayang terus mengalir tanpa batasnya.


"Oh iya, kita belajar di kamarku saja. Kalau sudah belajar baru kita bermain game"


"Nah ide bagus " Sahut yuri.


"Oke aku setuju, aku juga ingin main ps bola ri" Setiap ke rumah Ari pasti yang aku tuju adalah bermain ps bola. Sedangkan Yuri akan membaca novel, dan Ari akan bermain game bersamaku atau bermain gamenya sendiri. Isi kamarnya sangat lengkap, cocok dibangun taman bermain buat kami para remaja jompo, hehehe.


Makan sudah selesai, kami bergegas untuk belajar di kamar Ari. Ruangan yang besar, terdapat meja dan kursi serta tempat belajar khusus untuk Ari. Suasana yang asik serta melihat pemandangan dari jendela kamarnya yang mengarah ke bukit. Pasti saat pagi akan terasa sejuk.


"Oh iya key, kita mau ngasih kamu sesuatu nih" Ucapan Yuri masih belum aku percaya. Jangan-jangan dia ingin mengerjai ku lagi.


"Kalian pembohong" Aku masih saja melanjutkan belajar tanpa memperdulikan mereka.


"Wah sepertinya ada yang ngambek nih yur" Ari megejekku tapi aku tidak mempedulikan mereka.


"Baiklah, ini hadiah kamu tapi jangan ngambek lagi" Yuri memberikan kotak besar yang dibungkus kertas kado.


"Apa ini, kenapa kalian memberiku ini. Aku semakin curiga" Tatapanku sinis menatap ari dan yuri secara bergantian


"Jangan curiga dulu, lihat saja isinya" Ari. Menjawab seakan omongannya meyakinkan hatiku.

__ADS_1



__ADS_2