
Ayah Ana segera masuk dan menatap anaknya dengan heran. Dia mengernyitkan wajah dan menatap tajam Ana yang duduk terdiam di depan kepala sekolah.
"Kenapa wajahmu, ulah apalagi yang kau perbuat"
"Tidak ayah, ini semua karena Key" Ana menunjuk ku lalu ayahnya mencoba mendekat padaku dengan tatapan amarah. Sedangkan kak Dika langsung bergegas menghalanginya walaupun dia tau tubuhnya tidak mampu menghalangi ayah Ana.
"Mohon duduk dulu pak, kita bicarakan apa yang sudah terjadi" Dengan hormat kepala sekolah mempersilahkan untuk duduk tapi ayah Ana terus membidik ku dengan tajam. Lalu melihat ke arah ana yang sudah babak belur karena pukulan yang aku lakukan.
"Kamu menyuruhku duduk sedangkan anakku sudah babak belur seperti ini" Bentaknya yang membuat suasana semakin mencekam. Bahkan kepala sekolah diam-diam dengan memberi kode pada salah satu guru yang ada di sana untuk memanggil satpam untuk jaga-jaga jika terjadi keributan.
"Saya akan menjelaskan semuanya, anak bapak melakukan kesalahan yang besar karena sudah berbuat pertengkaran di sekolah. Saya akan memberikan skorsing selama 1 minggu untuk Ana agar dia bisa belajar menghargai orang" Dengan tenang kepala sekolah mengungkapkan kepada ayah Ana.
"Kamu tidak lihat luka di wajah anakku, dia yang terluka tapi dia juga yang mendapatkan hukuman skorsing" Tutur kasar dengan nada tinggi mengejutkan kami semua. Sepertinya otaknya sudah mendidih dan membutuhkan air untuk disiram.
"Saya mempunyai bukti perbuatan anak bapak"
"Saya tidak butuh bukti, saya butuh keadilan untuk anak saya. Saya juga ingin seseorang yang melakukan ini dihukum seberat-beratnya" Ketusnya.
"Itu urusan saya, dan saya yang akan mengurusnya hingga selesai"
"Dan urusan saya yaitu melakukan visum, lalu menyebarkan bahwa sekolah ini melindungi pelaku kekerasan" Terus saja kata-kata kasarnya membantah omongan kepala sekolah.
Dengan tenang kepala sekolah membuka kembali laptop yang ada. Tangannya dan matanya terus mencari sesuatu tapi aku tidak tau apa yang sedang dicari.
"Bapak boleh melakukan itu, dan saya juga akan melakukan hal yang sama yaitu melaporkan bapak atas perbuatan kotor karena sudah membayar coach Alam untuk mengikuti kemauan bapak yang terus memaksa untuk memainkan Ana hingga tim sekolah kalah. Bahkan bapak melakukan kelicikan dengan membayar beberapa pemain lawan yang disuruh untuk melukai key. Di laptop ini sudah ada buktinya tinggal diserahkan dan di putar oleh pihak kepolisian" Seketika bibir ayah ana membeku dan terdiam.
Aku terkejut dengan pernyataan yang diberikan oleh kepala sekolah. Yang aku tau ayah Ana hanya menbayar coach Alam untuk melakukan kemauan yang dia suruh. Tapi aku tidak tau jika ayah Ana juga membayar beberapa pemain lawan untuk mencelakiaku.
"Apa? " Ucapku yang terkejut dengan pernyataan itu
"Apa benar ayah Ana yang melakukan hal kotor hingga kakiku seperti ini pak? " Tanyaku pada kepala sekolah
"Benar, dia yang membayar pemain lawan untuk melukai kakimu key"
Kali ini mataku menatapknya dengan tatapan yang penuh amarah. Aku sangat marah, ingin rasanya menjambak rambutnya. Ayah dan anak sama saja ingin merusak karirku dengan cara apapun. Tanganku terus mengepal ingin memukulnya keras-keras.
"Asal om tau, saya ingin menjadi pemain hebat dengan kerja keras yang saya lakukan. Tidak ada uang sepeserpun untuk saya buang agar menjadi pemain hebat. Dengan kaki saya ini bisa membuktikan semuanya om. Tapi mengapa om ingin menghancurkan semuanya"
Kali ini aku tidka takut untuk membentak ayah Ana dengan nada tinggi dan emosi yang membakar hati. Suasana semakin hening, dadaku terasa sakit karena menahan amarah yang sangat dalam.
"Sudah key, kamu duduk saja biar bapak yang akan mengurus semuanya" Ucap bapak kepala sekolah. Aku langsung duduk dengan ditenangkan oleh Yuri dan Ari. Semua menatapku dengan tatapan sendu karena luka yang dibuat secara sengaja.
Dan pada akhirnya Ana keluar dari sekolah karena ayahnya yang meminta Ana pindah sekolah. Padahal kepala sekolah hanya memberinya skorsing selama 1 minggu. Tapi ayah Ana tidak mau lagi berurusan dengan sekolah ini. Tatapannya juga mengancamku secara bisu. Tanpa rasa takut aku juga melawan tatapannya dengan terus menatap matanya.
Sedangkan Puja dan Dewi juga mendapatkan skorsing selama 4 hari karena sudah berkelahi dan dengan sengaja menginjak kakiku. Di dalam ruangan orang tua mereka berdua saling memahami anaknya masing-masing. Aku juga kasihan melihat Dewi dan Puja, karena sebenarnya mereka tidak bersalah. Mungkin hanya karena pertemanan yang membuat mereka melakukan itu.
Sedangkan aku juga mendapatkan skorsing yang sama dengan Ana yaitu selama 1 minggu. Aku menerima dengan lapang dada karena aku sadar atas kesalahan yang aku perbuat. Aku juga meminta maaf pada Ari dan Yuri karena tidak bisa melindunginya dari pertengkaran ini.
"Maaf ya yur, ri karena salahku kalian ikut ke dalam sini. tapi untung saja kalian tidak mendapatkan hukuman" aku tersenyum dan memegang tangan mereka berdua.
"key, kamu istirahat ya. aku janji akan menuliskan semua mata pelajaran"
"iya benar kata ari, aku akan membantumu untuk menyalin catatan" mereka berdua adalah sahabat terbaik yang aku miliki.
Aku menjalani waktu skorsing dengan melakukan pemeriksaan pada dokter serta melakukan terapi agar mempermudah penyembuhan. Aku juga melakukan terapi sendiri di rumah agar otot-oto kaki tidak kaku. Disamping itu, Yuri dan Ari selau bergantian menuliskan catatan untukku. Terkadang mereka berdua ke rumahku untuk menjenguk keadaanku serta membawa buah tangan.
Hari-hari berlalu, rasanya sangat bosan berdiam diri di rumah. Hanya bisa meregangkan otot di depan teras lalu berjemur di sinar mentari pagi. Selebihnya aku hanya rebahan di kamar.
Sebenarnya aku sangat tidak ingin tinggal di rumah bu yanti tapi mau bagaimana lagi karena ibu yang menyuruhku untuk tinggal disana. Apalagi perlakuan mbak Yeni dan mbak Nike sangat baik padaku. Jika mereka keluar, pasti pulang ke rumah akan membawa sesuatu untukku. Rasanya seakan aku disayang keluarga sendiri.
__ADS_1
Saat itu di minggu pagi Ari dan Yuri berencana main ke rumah. Aku pikir mereka hanya berdua ternyata bersama kak Dika. Untung saja aku masih belum pindah dari rumah ibu dan masih tinggal semntara di sana.
Kadang juga aku pulang ke rumah hanya untuk merebahkan lelah di atas ranjang ku. Apalagi aku susah tidur bila berada di tempat seseorang. Terkadang siang hari aku memilih tidur di rumah karena di rumah ibu sepi, karena ibu dan bapak ke warung sedangkan mbak yeni kuliah dan mbak Nike bekerja.
\*tok, tok, tok\*
"Assalamu'alaikum, key, key" Aku segera berjalan untuk membuka pintu.
"Eh kalian, ayo masuk" Mereka bertiga tidak mau masuk, katanya lebih nyaman duduk di teras sambil menatap pemandangan sawah yang menghiasi di depan rumah ibu.
"Oh iya, kalian mau minum apa? "
"Gak usah key, kita udah beli makan dan minuman biar sekalian pesta di sini" Sahut Yuri dengan memberikan banyak makanan serta minuman di dalam kresek yang dia bawa.
"Banyak sekali kalian bawa, kenapa harus repot-repot sih"
"Gak repot kali, kita cuman pengen senang-senang saja karena kamu besok masuk sekolah kan" Aku sampai lupa bila besok sudah masuk ke sekolah. Terlalu lama libur membuatku lupa waktu. Untung saja Ari memberitahuku bahwa besok aku harus sudah masuk sekolah.
"Oh iya key, kok rumahmu sepi sih"
"Ibu sama bapak ada di warung, kalau mbak Nike dan mbak Yeni lagi keluar tapi kurang tau kemana" Sahut ku, karena dirumah benar-benar kosong dan hanya aku sendiri. Kalau saja mereka tidak kesini mungkin aku sudah merebahkan diri dirumah bersama bobo.
"Bentar, bentar, kalau kita bercerita saja tidak asik. Bagaimana kalau bermain Uno" Permainan modern yang sangat disukai pemuda saat berkumpul bersama. Ari sudah menyiapkan semuanya serta aturan yang ada. Mungkin aku belum mengetahui cara bermainnya tapi mereka sangat sabar mengajarkanku untuk bermain.
Pada permainan ini, yang kalah akan dicoret menggunakan bedak bayi yang sudah dicampurkan dengan air. Permainan yang sangat asik, bermain-main sambil makan dan minum. Yang paling jago saat ini adalah Ari, sedangkan aku sudha dicoret 2 kali, yuri 1 kali, dan kak Dika sangat sering sampai wajahnya tidak terlihat. Hampir semua bedak putih memenuhi wajahnya.
Kami asik bermain hingga mbak Nike dan mbak Yeni datang. Mereka juga membawa makanan, jadi makanan kita semakin banyak. Mbak Nike dan mbak Yeni juga ikut bermain bersama kami. Permainan yang sangat asik, tapi aku masih ada dendam dengan Ari yang tidak tercoret sama sekali sungguh membuatku kesal.
Mereka bermain sampai lupa waktu, adzan Dzuhur berkumandang dan mereka semua sholat di rumah ini. Lalu melanjutkan untuk berbincang-bincang ringan.
Pada sore hari mereka semua berpamitan untuk pulang dan ibu sama bapak juga sudah datang dari warung. Jadi mereka juga berpamitan pada ibu dan bapak untuk segera pulang.
Saat mereka pulang, mbak Nike dan mbak Yeni berulah kembali. Matanya saling menatap lalu melemparkan senyum yang misterius padaku. Tanpa bicara aku langsung masuk ke kamar dan mereka berdua menyusul ku.
"Cie, sepertinya cowok itu suka sama kamu key" Ucap mbak Nike yang mencoba menggodaku.
"Iya mbak, buktinya tatapannya selalu menatap key" Sahut mbak Yeni yang mulai mengatur alur cerita opini yang mereka buat sendiri
__ADS_1
"Jangan-janagn key juga suka nih" Ucap mbak Nike
\*plak, plak\* bantal terbang ke wajah mbak Yeni dan mbak Nike.
Akhirnya kami perang bantal di kamar. Meskipun kakiku sangat susah untuk bergerak tapi setidaknya tanganku masih bisa menggapai bantal yang mendekat. Aku sebenarnya tidak marah, hanya saja ingin bahagia bersama mereka yang sama sekali belum pernah aku rasakan karena aku adalah anak tunggal.
Keakraban aku dan mbak Yeni semakin menjadi-jadi. Di rumah ini selama aku adik paling bungsu dan mereka kakak pertama dan kedua yang menjagaku. Kami tidak pernah bertengkar serius, pertengkaran kami hanya karena hal kecil. Berebut makanan, ingin di peluk ibu, ingin dicium ibu saat tidur.
Tapi mereka berdua sangat jail padaku, selalu membuat aku kesal dengan terus mengatakan jika kak Dika menyukaiku dan aku juga menyukai kak Dika. Perkataan itu terus diungkapkan berulang-ulang tapi tidak pernah ada rasa marah pada hatiku.
"Ibu, mbak Nike sama mbak Yeni gangguin Key lagi bu" Teriakku kencang yang membuat mereka berdua panik lalu menutup mulutku.
"Dasar tukang ngadu, dasar tukang ngadu" Ejek mbak yeni padaku.
"Ibuu....... " Lagi-lagi tangannya menutup mulut ku.
"Hey, ada apa kalian ini. Selalu saja bertengkar bila bersama tapi kali sudah pisah pasti bakalan mencari satu sama lain" Ibu datang masuk ke kamar, mbak Yeni dan mbak Nike langsung diam ke tempat semula.
"Aku, aku di ejek sama mbak Nike dan mbak Yeni bu" Sengaja menampakkan wajah sedih karena aku ingin manja pada ibu.
Aku senang bila dipeluk ibu di hadapan mereka berdua, karena aku akan melihat wajah miring dari mereka. Sangat asik sekali, tapi tidak pernah ada niatan di hati mereka berdua membenciku. Karena pada akhirnya kami akan berpelukan bersama-sama.
"Sini peluk ibu semuanya" Ucap ibu yang melebarkan kedua tangannya sehingga mbak Yeni dan mbak Ana langsung lari dan memeluknya.
Kehangatan yang sangat menbuat hatiku senang. Sepertinya akhir-akhir ini aku sangat suka tinggal disini tapi masih ada dari hariku yang tidak nyaman karena harus menumpang di rumah ibu. Tapi aku harus memikirkannya lagi untuk kehidupan dimasa depan nanti. Karena saat ini hanya merekalah yanga ku punya.
"Ishhh, dasar tukang ngadu"
\*tlak\* tangan mbak Nike kembali menjitakku sambil mengejek.
"Ibu, mbak Nike" Aku kembali merengek dengan tatapan sedih. Sengaja aku lakukan agar pelukan ibu semakin erat. Di malam hari kami akan tidur dengan tenang karena kehangatan dan kasih sayang. Keluarga kecil yang sederhana tapi sangat mewah untuk urusan hatinya.
Paginya aku bersekolah dengan dijemput kak Dika seperti biasa. Lalu menjemput Yuri dan Ari. Kakiku juga semakin baik keadaannya walaupun berjalan masih dibantu dengan tongkat untuk menopang tubuhku. Setidaknya ada upaya yang dilakukan, karena kata dokter proses penyembuhan itu bertahap tidak ada yang instan.
2 bulan kemudian
Kakiku semakin baik, kali ini aku sudah bisa memakai sepatu ke sekolah walaupun berjalan masih dibantu dengan tongkat. Tapi lebih sering berjalan biasa sambil melatihnya. Di satu sisi aku khawatir dengan karirku. Pada saat cidera pasti semua kemampuan akan menurun.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~