
Setelah bertemu cocah Alam aku keluar dari ruangan menuju ke lapangan belakang sambil berlatih bola. Memang hari ini bukanlah jam olahraga tapi aku tetap berlatih jika ada kesempatan. Sampai-sampai aku tidak ke kantin bersama Ari dan Yuri.
Akan tetapi mereka membawakan ku minuman dan makanan. Mereka tidak akan pernah lupa padaku bahkan mereka berdua kadang melihatku bermain bola di lapangan belakang.
"Key, kamu kenapa berlatih terus akhir-akhir ini. Sampai kita jarang ke kantin bareng lagi" Ucap Ari saat aku istirahat bermain bola.
"Iya Ri, Yur, aku kecewa dengan penampilanku saat pertama melakukan pertandingan di tim tarkam putri. Permainanku tidak sebagus dulu pada saat sebelum cidera" Aku mencoba menjelaskan pada Ari dan Yuri tentang keadaanku yang membuat harus berlatih lebih giat.
"Benar juga sih key, apa mungkin karena cidera mungkin waktu itu ya? Apakah sudah sembuh? " Tanya Yuri lagi padaku.
"Cidera ku sudah sembuh, tapi setelah cidera aku markir sekitar 2 bulan lebih" Mencoba menjelaskan yang sangat detail pada Yuri. Karena kalau tidak dia tidak akan mengerti.
Mungkin karena setelah cidera aku tidak mencoba di pemain tarkam bayaran lagi. Jadi tidak ada tolak ukur untuk melakukan permainan yang terbaik. Makanya saat pertandingan kemarin penampilanku menurun. Walaupun tidak jelek sekali tapi hal itu membuat teguran dari pelatih dan manajer karena apa yang mereka lihat dulu tidak sebagus apa yang dicoba saat pertandingan pertama.
"Ayo kita ke kelas, aku sudah selesai berlatih" Kami bertiga pergi ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Tapi aku mengganti baju terlebih dahulu, karena saat latihan aku menggunakan baju olahraga agar baju seragam ku tidak bau.
Sepulang sekolah aku langsung pulang ke rumah. Seperti biasa memanggil mbak Yeni untuk berlatih lari bersama motor. Agar nanti aku terbiasa berlari cepat. Setelah berlatih motor aku kembali berlatih bola hingga malam.
"Key, kamu ini latihan terus. Apa tidak mau makan? "
"Eh ibu, mbak Nike kalian mau kemana? " Tanyaku padahal sudah jelas-jelas mereka menghampiriku malah tanya lagi.
"Ya ke kamu lah" Sahut mbak Nike dan kami langusung duduk di teras rumah.
"Kamu boleh berlatih terus nak, tapi jangan lupa makan ya" Nasehat ibu kembali keluar. sepertinya hatinya sangat tidak tega melihatku latihan terus-terusan sampai lupa makan.
"Iya bu" Mengambil nasi yang dibawa ibu dan langsung memakannya dengan lahap.
"Kamu kenapa berlatih terus key, tidak biasanya kamu seperti ini" Aku tidak tau mau jawab darimana pertanyaan ibu. Tapi aku takut ibu semakin khawatir. Jika aku bohong lagi bisa menambah dosa, apalagi dosaku banyak pada ibu.
"Key dapat teguran karena kemarin permainannya buruk bu" Sahut ku dengan pelan lalu menghela nafas.
"Habiskan dulu makananmu baru dengarkan perkataan ibu" Ucap ibu membuatku menghabiskan makanan dengan cepat.
"Key, permainan buruk itu dapat dijadikan pelajaran agar kamu kedepannya tidak meremehkan dan terus berlatih walaupun sudah sukses. Bedanya saat ini kamu berlatih untuk menjadi sukses dan nanti di masa depan kamu berlatih untuk mempertahankan kesuksesan. Tapi ingat, bekerja keras diselingi dengan doa pada Tuhan" Aku mendengarkan nasehat ibu dengan baik. Mengangguk dan merasa nyaman atas nasehatnya.
"Ingat, jangan emosi" Teriak mbak Nike di telingaku.
"Aduh, mana ada aku emosi" Teriakku dengan kencang karena kesakitan dan menatap mbak Nike dengan kesal.
"Nah itu" Mbak Nike selalu mengingatkan agar aku tidak emosi setelah kejadian tentang kekerasan tersebut semua keluarga ibu selalu bilang agar aku tidak emosi. Padahal di dalam rumah aku tidak emosi karena mendapatkan saudara seperti mbak Yeni dan mbak Nike walaupun kekonyolan nya melebihi batas. Tapi kalau di luar seperti ada bisikan 'hajar lah'.
"Oh iya nih mbak belikan kaos kaki bola sama deker untukmu" Memberikan bingkisan yang ada di tangannya.
"Makasih mbak tersayang" Aku memeluknya dengan erat sampai mbak Nike sesak karena tidak bisa nafas. Memang sengaja karena aku suka menggodanya.
"Lepas, lepas mbak nggak bisa nafas"
*Plak* tangannya dengan keras memukul kepalaku. Akhirnya aku melepaskan pelukan itu sambil tertawa padanya.
Waktu sudah malam, ibu dan mbak Nike pergi pulang. Aku masuk ke dalam rumah mempersiapkan barang-barangku yang akan aku bawa di pertandingan besok. Untung saja aku mendapatkan ijin dari sekolah melakukan pertandingan di luar. Jadi membuatku lebih nyaman dan mudah dalam bertanding.
Melihat sepatu yang aku bawa yaitu sepatu David dan milikku. Membawa dua sepasang sepatu agar digunakan untuk cadangan. Setelah semuanya sudah selesai, aku merebahkan diri di atas kasur. Tiba-tiba pikirku melayang kembali, masuk ke kamar ibu bersama bobo. Melihat sekeliling dan mencari apa yang harus aku temukan. Dan masih sama kamar itu benar-benar kosong.
"Kapan ibu akan pulang, apakah engkau sengaja mencekik diriku dengan rindu bu. aku harap itu tidak, karena disini aku merindukanmu" berbicara pada kamar kosong yang hanya terpampang sebuah foto dalam bingkai.
Apakah begini rasa rindu menyiksaku. Apakah begini rasa rindu yang menghantui ku. Berharap ada petunjuk untuk mencari ibu tapi hasilnya sama saja kosong. Tidak ada yang aku cari dan tidak ada yang dapat aku temukan.
Mengikuti alunan merdu suara jangkrik di malam hari, aku terlelap memeluk bobo dan akhirnya tidur di tempat ibu. Berharap meredam rasa rindu walaupun hanya sebentar yang penting aku bisa menenangkan hati.
Pagi ini aku berangkat ke tempat pertandingan diantarkan oleh bapak. Setelah itu bapak pulang karena ingin membantu ibu berjualan. Semua barang-barang sudah aku siapkan tadi pagi dan semoga saja pertandingan hari ini lancar.
"Bismillah key, kamu pasti bisa" Mengucapkan semangat pada diri sendiri agar bisa menampilkan permainan yang terbaik. Langkahku masuk ke dalam ruang ganti, rupanya masih kosong dan belum ada yang datang.
__ADS_1
Permainan tarkam memang berbeda, kami akan bertemu di tempat ruang ganti karena tidak seperti permainan besar lainnya. Kecuali permainan tarkam kami di luar kota maka akan berangkat bersama-sama menggunakan bus yang sudah disiapkan oleh manajer.
"Kosong amat, kayak kuburan" Ucapku sambil mengganti pakaian dengan jersey latihan. Aku melakukan pemanasan sendiri di ruangan sambil menunggu rekan-rekan yang datang. Tidak ada salahnya melakukan pemanasan agar tubuh menjadi kuat saat melakukan pertandingan nanti.
"Key, pagi amat datangnya" Ani salah satu teman satu tim yang datang dan menegurku.
"Kan pelatih bilang jam 8 harus sudah ada disini, jadi aku datang setengah 8 agar tidak telat" Sahut ku menjelaskan sedikit padanya.
"Iya sih, tapi itu terlalu awal jangan rajin-rajin. Disini tuh terkenal dengan jam karet" Tegur nya sambil membuka tas dan mengambil baju untuk berganti pakaian
"Pemain terbaik itu menghargai waktu ni, biar nanti kalau aku masuk timnas jadi bisa disiplin" Menurutku pemain hebat bukan hanya karena skil tapi karena sopan santun serta kedisiplinan yang dilakukan.
"Mimpi kamu key" Ani meremehkanku, tapi aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi pemain timnas disuatu saat nanti. Cepat atau lambat aku akan berusaha untuk bermain di timnas. Aku hanya diam mendengarkan ucapan Ani yang meremehkan. Karena percuma menjawab lebih baik membuktikan.
Tidak lama kemudian ruang ganti sudah penuh dengan para pemain kami dan pelatih serta asisten pelatih. Bahkan manajer juga hadir disini untuk memantau perkembangan dari para pemain-pemainnya.
"Key, kemarilah" Coach Jaka memanggilku. Dia adalah salah satu pelatih yang melatih kami di tim tarkam ini.
"Iya coach" Aku menghampirinya.
"Kamu harus bermain dengan bagus, karena jika kita menang di tarkam ini maka kita akan melawan tim tarkam yang ada di luar kota" Mataku melotot saya mendengar penjelasan coach Jaka.
Karena kemarin aku hanya dituntut untuk menang sedangkan yang aku tau kemenangan ini hanya untuk mendapatkan gelar juara tarkam saja. Ternyata aku baru mengerti setelah Coach Jaka menjelaskan.
"Berarti kemenangan ini akan membawa kita ke luar kota coach? " Tanyaku kembali untuk mendapatkan kejelaan yang lebih detail.
"Betul, kamu adalah salah satu pemain yang dibeli dari kampung setelah. Sedangkan disini adalah pemain yang menempati kampung ini" Aku mengerti sekarang, mengapa manajer marah saat melihat permainanku jelek kemarin. Karena aku satu-satunya pemain yang dibeli dengan kontrak.
"Dan saya masih percaya dengan permainan kamu agar bisa berkembang serta memposisikan diri dengan baik" ujarnya.
"Baik Coach, sya akan pegang kepercayaan Coach"
Peserta dalam tarkam ini terdapat dari berbagai kampung di kota ini. Sedangkan kampungku belum ada tarkam wanita dan hanya tarkam lelaki saja. Untuk menjadi pemain saja aku harus membela kampung orang tapi yang terpenting aku bisa bermain bola dengan baik serta mendapatkan pengalaman.
"Baik coach, saya akan mengeluarkan penampilan terbaik saya" Aku meyakinkan bahwa nanti bisa bermain dengan baik di pertandingan kedua ini.
"Ingat dan pegang ucapan saya karena masih mempercayaimu karena kamu salah satu pemain yang saya lihat memiliki potensi yang baik walaupun kemarin penampilan yang diberikan buruk key"
"Baik coach"
__ADS_1
Pujian bukanlah awal yang bagus, tapi pujian itu adalah tanggung jawab besar untukku yang memikul beban nanti di tengah lapangan untuk bermain yang bagus. Tapi aku harus ingat kata coach Alam bahwa aku harus bermain dengan tenang tanpa ada tekanan. Memang berat jika banyak yang memujinya karena pujian bisa saja membuat kita terjatuh atau bisa membuat kita melanbung tinggi.
Setelah memasang perlengkapan bola, kami bergegas keluar lapangan untuk melakukan pemanasan sebentar dan juga melakukan pengecekan lapangan. Pemanasan sudah dilakukan dengan baik. Pelatih dibantu oleh beberapa asisten pelatih lainnya seperti pelatih fisik, kiper, dan lainnya.
"Ayo masuk, cepat segera ganti baju" Teriak Coach Jaka pada kami semua.
Beberapa menit berlalu pemanasan telah usai. Kami masuk kembali ke dalam ruang ganti dan berganti jersey yang digunakan untuk pertandingan hari ini. Sebelum pertandingan selalu dilakukan doa bersama untuk mendapatkan kemenangan setiap pertandingan.
Berdoa telah selesai, semuannya bersiap memasuki lapangan. Sebelum menginjakkan kaki ke rumput hijau aku berdoa kembali agar diberikan kemudahan serta kemenangan di permaiann ini.
"Ya Allah berikanlah kemudahan saat kaki ini menginjakkan di lapangan hijau. Aamiin" Berdoa sepenuh hati akan mempermudah si setiap perjalanan.
Tidak lupa bernyanyi lagu kebangsaan terlebih dahulu. Sorakan para warga datang menyaksikan pertandingan. Banyak yang merelakan pekerjaannya hanya demi menonton pertandingan. Dukungan warga sangatlah meriah membuat hatiku senang karena bermain akan terasa nyaman apalagi di kandang sendiri.
\*prittt\* peluit panjang awal permainan dimulai. Bola berada di kaki lawan. Aku harus siap menghadapi tekanan kapanpun yang diberikan oleh tim lawan. Aku terus fokus merebut bola bukan merebut karir lawan, di otakku adalah bola dan bola. Lepas ambil lagi, jatuh bangun lagi.
Saat ini tim lawan mulai menyerang dari sisi kiri. Aku yang menjadi bek kiri harus tangguh dan siap menerima serangan yang diberikan. Pemain lawan terlepas dariku, dia berhasil melewati ku dengan tipuan taktiknya. Aku terus mengejar dan jangan sampai dia masuk ke dalam kotak pinalty.
Untung saja aku berhasil menghalau dia dengan menaikkan kecepatan agar dia tidak masuk ke kotak pinalty. Setelah itu aku menggiring bola tapi saat melepaskan bola tersebut lali memberikan umpan yang salah hingga menyebabkan pemain lawan menguasai bola.
"Fokus Key, fokus" teriakan dari pinggir lapangan terdenagr jelas.
Dia menggiring dengan cepat, bahkan kecepatan ku untuk mengejarnya tidak sampai. Karena jaraknya yang terlalu jauh denganku sehingga tendangannya membuahkan hasil menjebol gawang kami di menit ke 20.
"Gimana sih, kamu harus fokus key fokus" Teriak Rani padaku. Bahkan penonton juga bersorak kesal karena kesalahan umpan yang aku berikan. Memang aku akui bahwa umpan ku tidak sempurna dan menyebabkan bola jatuh di kaki lawan.
"Fokus key, kamu pasti bisa" Dira adalah pemain gelandang bertahan dan memberikan semangat agar aku bangkit.
"Kamu bisa key, kamu bisa dan pasti bisa kembali ke penampilan bagusnya" Aku teriak memberikan semangat pada diri sendiri. Kali ini aku menutup telinga dengan cacian para penonton.
"Ganti key, ganti key" Teriakan yang menggema aku lupakan sejenak agar fokus bermain dan mendapatkan kemenangan kali ini.
Aku akan selalu ingat jika cacian itu adalah ucapan semangat untuk berjuang, jika permainan telah baik makan cacian itu akan berubah menjadi tepuk tangan dengan senyuman dari berbagai sudut.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1