Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
129. Bolos Sekolah


__ADS_3

Menikmati es kelapa sambil memandnagi lautan biru yang indah bersama bocah-bocah ini membuat aku tertawa riang bersama mereka. Dalam sekejap saja aku akrab dan bercerita banyak hal. Aku bercerita tentang bola dan mereka bercerita tentang pertemanan mereka di kampung ini.


"Kakak kenapa tidak sekolah" Pertanyaan itu membuatku bingung ingin berbicara apa.


Karena tidak mungkin jika aku berkata bahwa hari ini sedang bolos maka hal itu akan merusak pola pikir mereka.


"Hmmm, kaka lagi ada acara di sekolah jadi pulangnya cepet deh"


Aku terpaksa berbohong agar mereka tidak mengikuti jejak ku yang jelek ini. Aku ingin mereka belajar lebih baik lagi di masa depan.


"Enak ya kak jadi orang besar, sekolah kalau ada acara pulang. Sedangkan kita palingan kalau ada rapat guru pasti dipulangkan" Aku mengangguk dan tersenyum paksa pada mereka.


Sedikit aku menggeleng tidak setuju dengan jawaban tersebut.


"Tapi itu kan baik, agar kalian bisa pandai untuk belajar"


"Iya juga sih"


Memang anak kecil rasa taunya sangat tinggi, jadi aku harap mereka bisa menikmati masa-masa yang sekarang dimana mereka harus terus bermain dan tidak memikirkan rumitnya kehidupan.


"Kakak, aku mau tanya. Apakah jadi orang dewasa itu enak? Karena nanti aku ingin menggapai cira-citaku menjadi tentara"


Aku menarik nafas dalam-dalam. Jangan sampai memberikan pengertian tentang buruknya kehidupan yang aku jalani saat ini.


"Jadi dewasa itu sangat seru dek, jadi kamu harus berjuang menggapai cita-cita yang kamu inginkan dan jangan patah semangat. Jika kamu terjatuh maka kamu harus berfikir jernih untuk bangkit karena kamu akan jatuh di atas bintang-bintang"


Ucapan itu membuat mereka semua kembali tersenyum kesenangan. Mereka ingin cepat-cepat dewasa agar bisa menggapai keinginan yang mereka impikan saat ini. Ada yang ingin menjadi tentara, polisi, pemain bola seperti ronaldo, pemain bola seperti benzema dan masih banyak lagi.


"Aku ingin cepat bertumbuh dewasa, agar mimpiki bisa tercapai"


"Iya aku juga"


"Aku juga" ucap mereka secara bersautan.


"Tidak, tidak, kalian harus menikmati masa kecil kalian dengan senang-senang dulu"


"Biar apa kak? Bukankah masa dewasa itu seru kata kakak tadi?"


Memang seru tapi tidak semuanya kehidupan itu baik, seru karena harus memilih antara baik dan buruk. Antara masalah dan solusi dan masih banyak lagi untuk menjadi dewasa. Apalagi di dewasakan oleh keadaan saat masih kecil.


"Betul, tapi kalian nikmatilah masa kecil ini dengan bermain. Bagimana jika kita bermain di tepi sana sambil berenang"


"Ide bagus kak, ayo kita kesana teman-teman"


Ucapanku berhasil mengalihkan perhatian mereka tentang penjelasan masa dewasa. Bagaimana bisa aku menjelaskan tentang perjalanan rumit orang yang sudah dewasa. Aku tidak mau mereka memikirkan hal berat sebelum masanya tiba.


"Kak ayo berenang"


*byurrr*


*byurrr*


"Tidak, kalian saja. Kakak tidak bisa berenang" Aku tersenyum melihat mereka yang asik menikmati suasana air laut berwarna biru.


Tubuhnya sangat lihai meliak-liuk berenang sambil menyelam. Aku menangis setiap sudut, mereka meloncat dari jembatan kayu dan tertawa menyebur ke dalam pantai biru ini.


Kakiku hanya bisa merasakan air yang dingin. Sedangkan tubuhku hanya bisa duduk saja karena takut tenggelam saat ikut berenang bersama mereka.


"Yuhuuuu"


*byurrrt*


Air laut yang menampilkan kejernihan, tidka semua aman. Ada yang tenang namun mematikan, ada pula yang terlihat bergelombang bisa dianggap sebagai teman. Tapi yang aku bicarakan bukan tentang air laut.


"Hahahha, asik sekali"


"Hey kalian, awas saja" Kami berperang air dengan sangat kegirangan.


Aku juga ikut tertawa dan kembali melemparkan air kepada mereka. Rasanya aku kembali ke masa lalu. Masa kecil yang pernah aku lewatkan, kini muncul kembali dengan orang baru.


"Aaaaaaa" Mataku terbelalak dan jantungku berdegup kencang. Aku terpeleswt dan hampir terjatuh ke dalam laut.


Tangan kekar meraih pergelangan tanganku dan menahan agar tubuh ini tidak masuk ke dalam air laut yang cukup dalam. Aku menatapnya dengan tajam dan menggenggam tangan itu dengan erat.


"Cieeee, lagi tatap-tatapan nih" Suara ejekan dari beberapa bocah itu menghancurkan tatapan kita yang saling bersautan. Wajahku juga memerah karena rasa malu. Aku segera menepi dan melepaskan genggaman tangannya.


"Kamu gapapa? "


"Kamu? Aku gapapa kok" Aku tidak tau darimana datangnya Adit. Tiba-tiba dia ada dihadapanku dan menolongku.


Memang rasanya sangat romantis, tapi jantungku masih saja berirama sangat keras karena takut kembali jatuh dan tenggelam.

__ADS_1


"Kalau tidak bisa berenang jangan bermain di tepi laut" ujarnya.


"Memangnga kamu siapa yang bisa melarangku? lagipula aku main air bersama mereka. Lalu kamu sendiri ngapain di sini? " Tanyaku heran saat melihat dia tiba-tiba datang tanpa undangan.


"Aku lagi bersantai dan menikmati laut. Kamu sendiri ngapain disini? " dia kembali melempar pertanyaan padaku.


"Aku lagi main lah, memangnya gak boleh? "


"Hmmm main ya, ini kan masih jam sekolah" Aku lupa jika hari ini aku sedang bolos sekolah. Apalagi tubuhku masih dibalut dengan seragam sekolah yang lengkap.


"Ehmmm, iya itu ee.... Ada kegiatan jadi pulang lebih awal"


"Benarkah? Apakah aku salah lihat jika sekolahmu tadi masih belum pulang. Karena tadi aku melewatinya" Dia benar-benar menyebalkan.


Sepertinya aku tidak bisa berbohong lagi pada Adit. Tapi bagaimanapun kebenaran tidak bisa di tutup dengan kebohongan lain.


"Baiklah, aku bolos"


"Hah bolos? Hahahahha"


Dasar orang aneh, dia tertawa sangat keras membuatku menatap wajahnya yang konyol dengan perasaan heran. Dia tertawa lepas seperti orang yang tidak waras.


"Mengapa tertawa? "


"Ya lucu saja, kamu bolosnya sendirian. Biasanya orang bolos itu beramai-ramai. Karena aku sering bolos juga dulu"


Memangnya dia pikir aku bolos karena sengaja tidak mengikuti pelajaran hari ini apa. Padahal aku bolos karena sudah terlambat masuk saat mengantarkan ayah pergi.


"Ihhhss" Aku berdesis kesal.


*plak*


"Aduh, sakit Key" Pukulan keras mendarat di lengannya. Karena dia aku kembali mengingat kepergian ayah. Rasa sedihku kembali datang tanpa diundang.


"Bodo amat" Langkahku bergegas cepat dan meninggalkannya.


"Tunggu, tunggu, maafkan aku hanya becanda" Dia mengejarku dengan rasa bersalah. Tapi karenanya akun kembali mengingat kepedihan. Rasanya ingin aku pukul lagi dengan keras.


"Oke, oke maafkan aku, tolong behenti. Maaf aku salah" Dia berusaha menarik ku ke hadapannya.


"Apaan sih, lepasin dong" Aku risih dengannya yang terus mengikutiku untuk meminta maaf secara berlebihan. Padahal aku hanya pergi karena tidak ingin berbicara dengannya.


"Tolong jangan marah"


Aku mempercepat langkah ini kembali. Aku tidak memperdulikan ocehannya yang terus mengejarku.


"Key tunggu"


"Aaaa" Tangan Adit terlalu keras menarik ku hingga kami berdua terjatuh.


Tubuhku menimpa Adit yang berada di bawah. Mataku terbelalak karena terkejut dengan posisi yang konyol saat ini. Jantungnya terdengar karena berdegup dengan kencang. Begitu juga dengan jantungku yang saling bersautan.


"Kamu gapapa? " Suaranya membangunkan pikiranku dari lamunan yang sangat konyol.


"Astaga, maaf-maaf karena aku menimpamu" Aku segera bangkit dan membersihkan tubuh ini. Kali ini aku yang merasa bersalah karena menimpa tubuhnya dan membuat baju Adit menjadi kotor.


"Sini biar aku bersihkan"


"Tidak, tidak usah. Aku bisa sendiri Key" Dia menahan tanganku untuk tidak membersihkan bajunya. Tapi matanya menatapku dengan senyuman dibibirnya yang penuh arti.


"Hmmm, sepertinya aku ingin pulang" Aku tidak ingin lama-lama bersamanya disini. Apalagi aku takut terpesona dengan wajahnya yang sangat tampan.


"Baiklah, aku antar kamu pulang sjaa"


"Tidak usah, aku bisa memesan ojek kok"


"Tidak usha menolak, ayo pulang bersamaku"


Tangannya mengenggam dengan paksa dan menarik ku untuk mengikutinya masuk ke dalam mobil yang dia bawa. Aku hanya bisa terdiam dan mengikuti perkataannya.


"Bagaimana jika dia bilang ke ibu kalau aku bolos. Ah sungguh menyebalkan" kesalku dalam hati.


Kenapa saat aku bertemu dengan Adit rasanya selalu saja terlihat bodoh. Dan selalu saja dia membantuku beberapa kali. Tapi sekarang aku takut jika dia akan memgadu pada ibu.


Benar saat itu membantuku untuk bernafas setelah tenggelam. Lalu membantuku agar tidak jatuh ke laut. Dan yang terakhir membantuku untuk tidak jatuh ke pasir pantai karena tubuhnya menjadi bantal.


Aku harap kali ini dia membantuku kembali untuk mengatakan pada ibu bahwa aku tidka bolos sekolah dan bermain di pantai.


"Kenapa diam saja, bicaralah"


"Bicara apa, bibirku sariawan" Sahutku ketus.

__ADS_1


Malas sekali satu mobil dengan orang yang baru saja aku kenal. Entah mengapa aku selalu tidak nyaman berada di samping cowok yang baru aku kenal. Tapi berbeda jika cowok itu David, rasanya aku ingin sekali selalu bersamanya.


"Oh iya Key, kamu tidak melihat berita kah? "


"Berita apa? "


"Pertandingan bola, timnas indonesia U-19 melawan timnas singapura"


Aku terkejut dengan berita itu, artinya David akan bermain di pertandingan. Lalu tanganku segera mencari ponsel untuk segera menghubungi David dan memberikan semangat.


"Astaghfirullah" Kesalku dengan menepui jidat. Aku lupa membawa ponsel, mungkin ponsel itu ketinggalan di atas kasur.


"Ada apa? "


"Aku lupa membawa ponsel"


"Lihat di ponselku saja, nih"


"Hmm, tidak usah. Biar aku melihatnya sendiri di rumah"


"Hmm baiklah"


Dasar bodoh, mengapa bisa ponsel itu lupa. Pantas saja tidak ada nada dering seseorang menghubungiku. Saat aku pulang, pasti sudah banyak pesan dari Ari dan Yuri. Dan aku harus segera membalasnya, jika tidak maka besok akan menjadi bulan-bulanan mereka berdua.


"Hmm, berhenti di persimpangan saja yah"


"Kenapa? Bukankah rumahmu masih masuk ke dalam gang"


"Iya sih, tapi di sana gangnya sempit"


Aku segera membuka sabuk pengaman dan bergegas untuk turun dari mobil Adit. Aku tidak ingin dia mengikuti ku ke rumah.


"Tunggu, tunggu, kenapa harus buru-buru sih"


Entah ada apa dengan perasaanku ini, jika aku berdekatan dengannya selalu saja jantung ini berdebar kencang.


"Oh iya aku lupa,Terima kasih banyak atas tumpangannya. Dan maaf lain kali kita bertemu lagi"


*klek*


Adit mengunci pintu mobil dan dia tidak membiarkan akun keluar dari mobil ini. Jantungku semakin berdebar karena takut saat berduaan di dalam mobil. Aku takut dengannya apalagi sototan matanya aneh.


"Tolong buka, aku ingin pulang"


"Oke, tapi aku minta nomor kamu dulu Key. Sudah dari kemarin kamu belum memberinya"


Dia selalu memaksa untuk meminta nomor ponsel padaku. Sedangkan aku tidak ingin memberikan nomor tersebut sembarang pada orang lain.


"Tapi ponselku tertinggal, bagaimana jika lain kali saja"


"Tidak, tidak, kamu harus menyimpan nomorku saja" Tanganya kembali memberikan nomor ponsel itu padaku. Padahal kertas kemarin sudah aku buang.


"Baiklah" Aku segera menerimanya dan keluar dari mobil Adit. Adit melajukan mobilnya untiky pulang, begitu juga denganku yang ikut berlalu pulang ke rumah.


Kali ini aku harus pulang bersembunyi dari ibu. Aku ingin sendiri dan tidak mau bertemu siapapun dulu. Aku ingin menikmati kesendirianku yang sunyi agar bisa leluasa menangis untuk mengeluarkan kekacauan yang masih terlintas.


"Hah, kenapa tidak ada pesan satupun dari Ari dan Yuri. Apakah dia tidak khawatir denganku yang tidak masuk sekolah" Gumamku sambil memeriksa pesan dalam ponsel.


Ternyata dugaanku salah, tidak ada pesan yang masuk dari mereka berdua. Aku pikir pesanku akan penuh dengan ocehan mereka.


"David, David, David" Gumamku sambil mencari nama David. Aku ingin mengirimkan pesan dan bertanya tentang pertandingannya.


*Hai vid, bagaimana kabarmu disana. Sudah lama kamu tidak memberikan pesan padaku*


*oh iya, 2 hari lagi pertandingan timnas Indonesia di awal laga. Apakah kamu termasuk tim inti? *


*ting* (pesan terkirim)


*ting* (pesan terkirim)


Sepertinya David sibuk, karena pesan yang aku kirimkan belum dia balas juga. Rasanya sangat bosan, ingin menghubungi Ari dan Yuri tapi sepertinya lebih baik sendiri dulu.


Aku ingin bercerita, tapi tidak mungkin menceritakan semua ini pada ibu. aku takut ibu menjadi marah dan akan berimbas pada penyakitnya. Lebih baik aku pendam saja sendirian, menangis disini tidak mungkin ada yang mendengar karena aku sendiri.


"Sebaiknya aku mandi saja, membersihkan luka yang ada"


Aku membersihkan diri dan berharap rasa sakit yang masih melekat ikut terbuang bersama aliran air yang kotor. Menyegarkan diri lalu mengambil pakaian dan kembali duduk di dalam kamar.


"Bo, kemarilah. Aku ingin bercerita" Bobo menjadi teman satu-satunya di rumah ini saat hatiku membutuhkan tempat untuk cerita.


"Apa kau tau? Ayah kembali meninggalkan ku. Dia pergi ke luar negeri. Aku yakin kau pasti akan terkejut, tapi bibirmu tidak pernah bicara padaku bo" Seketika air mata kembali menetes. Tidur terlentabg menatap langit-langit sambil memeluk erat bobo.

__ADS_1



__ADS_2