
David menjelaskan bahwa tarkam itu adalah sebuah pertandingan bebas dan bisa dimainkan dengan tarkam kelompok wanita dan laki-laki. Atau bisa juga bermain campur antara wanita dan laki-laki.
Tapi pada saat bermain campur antara wanita dan laki-laki, kita harus hati-hati. Karena permainan dalam tarkam sangat keras, bahkan bisa mematahkan karir.
Kita hanya bisa bermain tenang dan hati-hati, bila saat mencetak gol jangan selebrasi berlebihan karena tidak semua penonton senang dengan selebrasi yang dilakukan.
"Berarti permainan ini bahaya dong vid? " penasaran dalam hatiku tidak bisa diam sebelum menemukan jawabannya.
"Tidak bahaya jika kita hati-hati key" sahutnya. lalu aku kembali lagi mendengarkan penjelasan dari David.
Permainan yang memang sangat keras bisa mematahkan lawan ataupun karir, David juga pernah merasakan cidera setelah bermain tarkam. Untung saja bisa disembuhkan walaupun dia harus istirahat selama 4 bulan untuk tidak merumput di lapangan.
"Ngeri sekali bisa cidera selama itu. kamu tidak kapok? "
"Tidak key, karena itu adalah konsekuensi bagi pemain bola. dan hal itu juga bisa terjadi kapanpun dan di manapun" jelasnya.
Tapi permainan yang apik di dalam tarkam dapat menarik pelatih-pelarih lokal untuk merekrutnya dan masuk dalam tim tarkam yang sedang kita bela. Atau bahkan bisa masuk kedalam tim luar seperti tarkam di desa lain. Dan jika bisa bermain dengan konsisten, tidak menutup kemungkinan akan bermain di timnas.
Karena saat ini sudah ada timnas perempuan yang bisa bertanding melawan tim-tim internasional. Walaupun timnas perempuan masih belum nerkembang pesat seperti timnas lelaki.
"Lalu, aku berada di posisi mana? " Tanyaku yang masih belum tau posisi dalam bertanding. Karena selama ini aku juga tidak pernah masuk ke dalam pertandingan. Hanya saja David memberiku pengertian ilmu tentang posisi di dalam sepak bola. Sedangkan aku belum mencoba posisi manapun.
"Nanti kamu mencobanya di awal pertandingan, dimana kamu diletakkan maka kamu harus menggeluti posisi itu dan fokus dengan tanggung jawab yang diberikan untuk menjaga pertahanan dari kekalahan" Ucapnya sedikit menjelaskan dan juga agak membingungkan karena belum adanya praktek langsung dalam lapangan.
David juga menjelaskan bahwa pada saat pertandingan harus dinikmati agar bisa memberikan pemainan yang tenang. Jika kita tidak menikmati permainan maka semuanya akan hancur.
"Oh iya key, di desa sebelah ada pertandingan tarkam dan kamu bisa lihat bagaimana cara mereka bertanding"
"Kapan vid? "
"Sepertinya saat liburan semester ini, tapi nanti aku kabarin lagi biar kita sama-sama bermain" sahutnya yang membuat hatiku semangat.
"Beneran vid" Tanyaku dengan sedikit rasa bahagia. David mengangguk untuk memberikan isyarat bahwa dia tidak berbohong.
Setelah ujian akhir pasti akan ada liburan semester. Dimana libur itu selama 1 sampai 2 minggu tergantung sekolahnya. Dan pertandingan bola juga diadakan untuk mengasah permainan bola yang bagus serta mencari bibit-bibit muda yang baik.
Aku juga sangat senang mendengar pernyatan dari David, karena bisa menonton pertandingan dan menikmatinya secara langsung.
Saat kami asik berbincang-bincang, langit menghitam. Menutupi sepenuhnya mentari yang bersinar. Hembusan angin cukup kencang meresap dalam tubuh yang tenang. Menatap barat, timur, utara dan selatan semua dipenuhi semburan awan hitam. Sepertinya hujan akan turun.
*tik, tik, tik* rintik hujan turun secara perlahan saat aku dan David ingin pulang. Langkah kami terhenti, menatap kembali situasi.
"Sepertinya hanya gerimis saja" Pikirku
Tapi saat langkah kami ingin berjalan ke luar lapangan, hujan deras mengguyur semua alam. Petir bersautan dan tirai hujan semakin besar.
Aku dan David berdiam diri di bawah pohon besar. Ingin kami pulang tapi keadaan tidak memungkinkan. Lebih tepatnya aku yang tidak ingin pulang karena takut kedinginan.
*blukkk* David membuang bola yang aku peluk.
"Ayo key"
"Aaaaaa" Dia menarik tanganku dan membawanya di tengah-tengah hujan untuk menari bersama. Awalnya aku takut sakit, tapi semakin lama semakin asik menikmatinya. Seketika tawa aku kembali terlukis.
*pyarrr, pyaarrr* melompat kesana kemari, menikmati tarian bersama deraian hujan. Melompat di genangan air yang cukup banyak menggenani lapangan. Kali ini aku benar-benar tertawa lepas, meskipun aku menangis juga tidak akan ada yang tau bahwa hujan akan menghapus air mata piluku.
__ADS_1
Rumput ilalang menjadi saksi bisu, dari seorang anak manusia menari dan bernyanyi diiringi deraian hujan dengan tawa. Menikmati titik-tiktik yang turun ke bumi. Seakan kesedihan ku ikut tenggelam dan bahkan juga mengalir mengikuti arus air hujan yang berlari.
Aku tadahkan wajah ini menatap langit, berbicara dalam hati seakan menatap keberadaan sangat pencipta alam yang sedang memandangiku dari surga.
"Terima kasih ya Allah, engkau memberikan senyumku lagi walau sedetik" Lalu sekali lagi aku kembali melompat. Saling berpegangan tangan dan berputar senang bersama David. Hingga hujan berhenti dan munculah pelangi penyejuk hati.
Kami berdua langsung pulang untuk berganti baju agar tidak sakit. Seperti biasa aku meminta David untuk menurunkan di persimpangan jalan. Lalu aku segera berlari untuk sampai ke rumah, sedangkan David juga bergegas pergi dan berlalu bersama gerimis yang ditemanin pelangi siang ini.
*klek*
Membuka pintu secara perlahan, tak sengaja kakiku menginjak sesuatu. Ternyata sebuah amplop, tidak asing karena ini pasti amplop dari ibu. Saat ku buka, benar saja berisi surat dan uang.
Terkadang aku membaca surat itu tapi terkadang juga aku malas membacanya. Dan surat itu selalu tersimpan rapi di dalam laci. Tidak akan aku buang agar menjadi saksi saat ibu bertemu denganku dimasa depan.
Uang yang dikirim hari ini cukup banyak, mungkin ibu tau bahwa aku akan melakukan liburan semester. Beberapa lembar uang 100 ribuan menghiasi amplop putih. Tapi sayang itu tidak berarti buatku, hanya saja aku membutuhkan uang untuk bertahan hidup.
"Tenang saja bu, uang ini tidak akan aku hamburkan kok" Ucapku sambil membolak-balikan uang yang sangat banyak di tangan.
Selama ini uang yang ibu berikan tidak pernah habis, aku menggunakannya untuk kebutuhanku saja. Aku selalu mencatat pengeluaran ku dan pemasukan dari ibu. Karena suatu saat nanti aku akan mengembalikannya lewat kesuksesan yang aku jalani sendiri.
Benar kata ibu bahwa tanpa uang kita tidak akan hidup senang. Tapi menurutku uang lah yang merenggut kesenangan dalam hidup ini. Menjadikanku sunyi dalam perjalanan. Menjadikanku senyap dalam perkataan yang hilang tanpa teman. Karena apa? Karena uang yang merenggut ibu dari dalam hidupku.
Aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu memasak untuk makan. Kali ini tidak ada artinya air mataku untuk dibuang sia-sia hanya menangisi ibu yang sudah rela meninggalkan aku sendiri. Aku pikir air mata ini mahal untuk menangisi hal yang tidak berarti.
Benar kata kakek bahwa hidupku masih panjang dan aku harus benar-benar bangkit. Di hati memang masih ada nama ibu dan ayah, namanya melekat hebat sedangkan orangnya sudah menghilang tanpa jejak.
Foto yang aku pegang hanya ada satu, keluarga lengkap dan utuh sebelum menghilang satu per satu. Saat aku mengecek laci di kamar ibu, semuanya sudah kosong. Tidak ada yang tersisa apapaun kecuali selembar surat dan beberapa hiasan yang menjadi saksi antara ibu dan ayah saat menjalin kasih.
"Senyap yang aku rasakan sudah terbiasa menghiasi tidurku. Lalu apalagi yang harus di keluhkan sedangkan semuanya sudah menghilang tanpa jejak" gumamku sendiri duduk diatas ranjang.
Tapi aku tidak akan mundur lagi, aku harus menjalani hidup yang sunyi ini menjadikannya catatan asik. Akan aku selipkan episode-episode yang aku jalani sendiri tanpa peran pembantu sekalipun. Hanya peran utama dan peran baik yaitu Bu Yanti dan keluarga.
Malam ini aku ingin menikmati rembulan yang agak redup. Karena awan hitam masih sedikit menyelimutinya. Tapi tidak ada kata gentar untuk terus menatapnya dan menikmati walau bintang dan bulan sedikit bersembunyi.
Bersenandung damai ditemani para jangkrik liar yang juga ikut berpartisipasi. Desiran angin malam membawaku dalam kenangan, tapi aku tidak akan terus larut di dalamnya. Karena itu menyakitkan bila terus saja diingat.
"Hai bulan, dengarkan aku ingin bernyanyi ya. wajar bila saat ini, ku iri pada kalian........ " menyanyikan lagu favorit tentang patahnya kehidupan keluarga. menghiasi malam ini bersama rembulan.
Semakin malam angin semakin menjadi. Hembusannya seakan membisik untuk masuk ke dalam hati dan juga tulang-tulang rusukku. Tapi aku masih tertidur di teras sambil menatap rembulan. Menggambarkan hayalan yang aku rancang sendiri.
"Suatu saat nanti aku akan menemukan ibu dan ayah. Ingatlah aku bisa hidup dan sukses tanpa bimbingan kalian. Disini aku sendiri dan kalianlah yang membuat hatiku gersang diapit sunyi" Ucapku sambil mengangkat jari ke atas langit.
Mencoba menggambarkan angan-angan yang aku tulis dan gantung di atas sana. Merakit satu per satu impian di atas bintang. Berharap di masa depan menjadi bintang sungguhan yang dikagumi banyak orang.
Tapi angin malam malah menguasaikku kembali. Desirannya semakin membesar dan memaksaku untuk masuk kedalam rumah. Aku juga tidak ingin sakit karena kedinginan serta masuk angin. Aku hanya diam lalu beristirahat di dalam ranjang bersama bobo.
hari yang melelahkan aku jalani kembali kali ini. Menatap jam dinding ternyata sudah pukul 08.00 malam. Meskipun masih dibilang sore tapi ini cukup untuk membuat terlelap. Merebahkan sedikit penat dan pikiran yang meracau. Menghilangkan penyakit yang datang tanpa aku undang.
Saat mataku menatap langit-langit kamar, aku tersenyum. Pikiranku kembali melayang terbang saat David bersamaku bermain hujan. David membuat senyumku kembali walaupun tak sepenuhnya. Ternyata baru aku sadari bahwa hujan itu asik dan sangat asik. Apalagi bermain dan menari dibawahnya sambil ditemani seorang teman yang sangat asik juga.
Sekali lagi aku memiliki harapan baru, yaitu mempunyai teman seperti David untuk waktu yang lama. Bermain bersamanya, baik itu bermain bola atau yang lainnya. Tapi tiba-tiba kantuk menghampiri dan memaksaku untuk terlelap dalam alinan mimpi-mimpi.
__ADS_1
Senin pagi yang cerah, waktunya menghirup udara segar. Menikmati pemandangan alam yang diberikan secara percuma. Suara burung bersenandung damai diatas langit. Menyaksikan aku yang bersiap diri untuk nergegas ke sekolah.
Aku sangat senang untuk berangkat ke sekolah karena ini hari yang aku nanti-nantikan. Yaitu penyegaran otak yang sudah agak beku karena terlalu banyak berfikir tentang ujian kemarin.
Seminggu ini adalah hari tenang, dimana semua siswa akan melakukan Clasmeet. Meskipun rapot sudah dibagikan, tapi yang paling penting adalah seminggu sebelum liburan semester. Pasti semua sekolahan akan melakukan hal yanga sama.
Membuat lomba, membuat pentas seni atau yang lainnya. Sekaligus sebagai salam perpisahan bagi kakak kelas 3.
Sesampainya di sekolah sudah ada beberapa pengumuman tentang perlombaan. Ada lomba olahraga, seni lukis, abstrak, dan juga lomba nyanyi.
"Apakah tidak ada pemain perempuan? "
"Tidak ada key, semuanya pemain laki-laki. tapi jika sudah dibutuhkan mungkin pemain perempuan akan masuk"
"Ohhh, begitu ya" begitulah jawaban panitia saat aku bertanya tentang bola.
Kali ini aku hanya menjadi penonton saja. Walau sebenarnya aku ingin bermain bola sih, sedangkan di sini hanya ada pertandingan bola laki-laki saja. Aku lihat saja nanti, cara bertanding kelasku yang melawan kelas lainnya.
Upacara pembukaan sudah dilaksanakan. Semua pertandingan resmi dilakukan. Kelasku tampil yang pertama dan melawan kelas 3A. Menit bermain yang diberikan hanya sedikit yaitu 2x20 menit dengan istirahat 5 menit.
Hal itu dilakukan oleh panitia karena waktunya untuk melaksanakan lomba terbatas yaitu hanya seminggu. Sedangkan lomba olahraga lainnya dilakukan di lapangan masing-masing. Hanya sepak bola saja yang dilakukan di lapangan rumput dengan suasana pegunungan yang indah bila tidak ada kabut yang menutupi.
Untuk perlombaan seni dan bernyanyi dilaksanakan di dalam ruangan karena butuh ketenangan. Ingin ikut melukis tapi sayang aku tidak bisa menggambar. Menggambar gunung saja lancip, sudah itu dikasih persawahan dan matahari di tengah gunung.
Itulah gambar legenda yang sering aku gambar hingga saat ini. Tapi sudahlah, aku tidak memiliki keahlian untuk menggambar.
"Key, ayuk kita lihat pertandingan bola" Aku mengangguk saat ari mengajakku ke lapangan. Karena itulah yang aku mau, menonton pertandingan bola yang asik. Karena siswa yang sedikit, permainan sepak bola hanya dilakukan oleh 8 orang saja termasuk penjaga gawang.
"Sepertinya asik nih" Gumamku dalam hati.
~~~ BERSAMBUNG ~~~
__ADS_1