
Kekalahan kali ini sangat membuat kecewa pada diri masing-masing pemain. Apalagi mereka harus menelan kegagalan dan kembali dengan tangan kosong ke Indonesia.
"Ayolah bangkit" Semua terduduk lemas. Ada yang masih di tengah lapangan dan menatap kegagalan yang sudah terlihat jelas.
Aku juga termenung sambil menatap kemegahan stadion yang menjadi saksi bisu karena kegagalan kami untuk hari ini. Aku berharap akan kembali lagi bermain untuk kemenangan di masa depan.
Kesedihan bercampur menjadi satu, antara sakit fisik dan juga sakit karena menelan kekalahan di negeri orang. Aku bingung apa yang harus dilakukan selanjutnya, seakan semua terlihat semakin patah.
"Keyla, kemarilah jangan menangis" Pelatih menemui satu per satu anak asuhnya. Begitu juga denganku yang ikut diberikan nasehat.
"Ingat, jalan kamu masih panjang. Dan jangan bersedih oke"
"Siap Coach" Pelukan hangat dari pelatih yang menjelma sebagai seorang ayah.
Tim kami kembali ke hotel untuk berkemas diri. Mungkin besok sore akan segera terbang kembali ke Indonesia dengan membawa tangan kosong.
Kesunyian terlihat di setiap lorong hotel. Biasanya mereka tertawa siang sambil bercanda. Begitu juga suasana kamar yang begitu sepi. Tidak ada pembicaraan seperti sebelumnya. Hanya sebatas bicara jika perlu saja. Mereka semua terdiam menatap kepiluan ini.
"Key, kenapa? " Ucap Tara saat aku memilih untuk duduk menyendiri setelah menyelesaikan makan malam di bawah.
"Tidak apa-apa" Sahutku sambil menikmati malam yang dingin.
"Aku turut berduka karena cidera tanganmu"
"Terima kasih"
"Jangan bersedih, karena kamu adalah pemain yang sejati. Demi kemenangan merelakan tanganmu seperti ini" Ucap Tara padaku.
Dia mencoba mwnghiburku dengan pujian, tapi aku tau jika dirinya juga memeluk kesedihan dari kekalahan hari ini. Mimpinya sama denganku, untuk menjadi pemain hebat agar bisa membawa nama baik Indonesia ke kancah dunia. Aku rasa smeua pemain memiliki mimpi yang sama.
Namun setiap pemain memiliki tujuan yang berbeda, ada yang ingin membuktikan bahwa dia bisa. Ada yang ingin membungkam para perundung, ada pula yang ingin menyatukan keluarga. Salah satunya adalah aku. Namun tujuan paling utama adalah Untuk bangsa ini.
"Ini bukan tentang kemenangan dan kekalahan, namun tentang nama baik bangsa"
"Benar, Terima kasih atas nama bangsa. Karena telah membawa kami hingga ke titik ini. Dan maaf karena tidka bisa membawa kemenangan" Sahutnya lagi dan membuatku tersenyum.
Malam ini aku tidak menghubungi keluargaku ataupun orang-orang yang aku sayang. Aku tidak peduli ada pesan masuk karena aku belum siap memberitahukan kegagalan ini.
"Tidurlah nak, semua akan baik-baik saja. Kamu adalah yang terbaik dari segalanya"
"Kakek, maaf karena aku kalah" Kakek hanya tersenyum lalu kembali menidurkan aku dalam pangkuannya.
Pagi
Semua barang sudah dibereskan. Kami diberikan kesempatan untuk berjalan-jalan di Singapura dan sore harinya kami akan kembali ke Indonesia.
"Apa kamu sudah membeli sesuatu? " Tanya Tara
"Sudah"
"Baiklah, ayo kita menikmati makan disini" Aku dan beberapa pemain pergi ke resto di Singapura.
Menikmati hidangan mereka yang sudah berlabel halal. Setelah itu tidak lupa bersantai dan menikmati pemandangan sambil mengambil foto sebagai kenangan.
Sayangnya aku tidak bisa melakukan gaya bebas karena tanganku lagi ngambek dan tidka mau diajak kompromi. Namun masih bisa melakukan teriakan dan menari kecil untuk melupakan rasa sedih.
"Key" Suara yang tidak asing memanggilku. Namun sepertinya aku salah mendengar.
"Keyla" Teriakan itu kembali berseru saat aku ingin pergi dari taman ini.
"Mengapa kamu tidak menoleh? Lelaki tampan di sana sedang memanggilmu Keyla" Tutur Tara sedikit menjelaskan.
Aku merasa aneh dengan suara itu, tidak mungkin dia akan datang kesini. Sedangkan jarak kita yang cukup jauh antara Singapura dan Amerika.
"Key"
"Kak Dika" Aku tercengang, ternyata itu benar kak Dika.
Pikiranku keliru jika itu bukan dia. Ternyata orang yang memanggilku dari tadi adalah kak Dika. Aku segera berlari dan memeluknya. Meluapkan rasa rindu yang telah lama.
Aku rindu kasih sayangnya, rindu perlindungan serta perhatian seorang kakak pada adiknya. Aku terus ingin memeluknya erat dengan meluapkan emosi dalam diri yang bercampur aduk.
"Kak Dika" Teriakku sambil berlari. Dia juga merentangkan tangannya lalu memeluk dan menggendong ku seperti anak kecil saja.
"Keyyy"
"Kakk" Kerinduan yang telah lama kini terlepas begitu saja. Aku memeluknya dengan erat walau hanya dengan satu tangan.
Pelukan antara adik dan kakak membuat semua orang tercenag melihatnya. Mungkin mereka mengira bahwa kak Dika adalah pacarku, padahal dia kakakku.
__ADS_1
*buk, buk, buk* aku memukul punggungnya dengan keras. Berulang kali pukulan itu aku berikan karena dia telah membuat ku menderita karena rindu.
"Aduh, aduh sakit Keyla"
"Biarin, suruh siapa datang kesini" Ketusku kesal.
Sebenarnya kekesalan ini bukan karena kakDiika datang kesini. Melainkan karena dia tidak pernah datang ke Indonesia untuk menemuiku setelah kepergiannya ke Amerika.
Bahkan kami juga jarang berkomunikasi. Hanya menelpon disaat sedang rindu berat. Kak Dika juga jarang menceritakan kehidupannya, tidak sepertiku yang selalu menceritakan kehidupanku padanya.
"Tenang dulu, aku akan menjelaskan"
"Tidak, aku membenci kak Dika" Ketusku dengan kesal.
"Duduklah dulu" Dia mencoba menemukan aku. Aku sangat marah karenanya aku menahan rindu antara kak Dika dan juga ayah.
"Aku kesini beralasan ke rumah temanku, karena ingin menonton pertandinganmu key"
"Berarti kak Dika sudah menonton ku dari kemarin? " Dia tersenyum.
Aku menatapnya dengan sinis karena dia datang tanpa memberiku kabar. Lalu dia berkeliaran di negeri ini tanpa memberitahuku yang masih mengenggam rindu dengan berat.
*buk, buk, buk*
"Aduhh, kenapa memukulku lagi? "
"Karena kak Dika tidak menemuiku" Kesal ku.
"Iya maaf, karena aku tidak sempat"
"Kenapa? "
"Aku malu saat datang kesana banyak mata yang memandangku saat membawa bunga untukmu"
Aku terkejut, ternyata bunga beberapa hari yang lalu adalah dari kak Dika. Dan teman sekamarku mengira itu dari fans atau penggemar rahasiaku.
"Kak dika" Rengekku terharu lalu kembali memeluknya. Dia menerima pelukan itu dan mengelus rambutku seperti dulu.
"Oh iya, bagaimana tanganmu? " Ternyata dia masih sama perhatian padaku.
"Tidak apa-apa hanya patah tulang saja, ini akan diobati lebih lanjut saat pulang ke Indonesia" Jawabku.
"Patah tulang saja? Ini sudah jelas parah dan kamu masih bisa bersantai"
"Iyalah, kan masih jauh dengan nyawa" Kak Dika menggeleng dan aku tertawa.
Rasanya pagi ini aku terhibur dengan kedatangan orang yang aku sayang, yaitu kakakku. Kami berbicara banyak hal, tentang kasih sayang dan kehidupan kak Dika di Amerika.
Aku juga bercerita padanya bahwa ibu kandungku telah memilih pulang ke rumahku lagi setelah perceraian ibu dengan suaminya yang kejam dan menjadi tersangka penganiayaan atau KDRT.
Kak Dika ikut senang mendengar cerita itu. Dia juga mengetahui berita yang sudah tersebar dan menjadi perbincangan hangat. Namun dia tidak tau jika lelaki itu adalah suami dari ibu kandungku.
"Di luar sini dingin, kamu harus masuk dan jangan terlalu lama disini"
"Tapi aku ingin ngobrol banyak dengan kak Dika" Aku tidak rela jika pertemuan ini hanya sesingkat itu, la akan kembali lagi ke Amerika dan aku kembali ke Indonesia.
Kak dika memberikan jaketnya untuk melindungi tubuhku, katanya agar tidak kedinginan di hari ini. Dia juga menyuruhku untuk cepat kembali ke hotel.
"Kak" Kak Dika menoleh
"Kenapa? "
"Apakah tidak bisa kembali lagi ke Indonesia?" Wajahnya terdiam, lalu menggeleng dan menatapku.
"Baiklah, jangan pernah kembali lagi. Lagipula aku lebih senang sendiri. Dan lupakanlah jika tidak pernah memiliki adik yang bernama Keyla" Entah kenapa rasa kecewa kembali muncul.
Aku tidak menginginkan kehidupan yang rumit. Namun takdir sudah memberiku hidup rumit yang harus dijalani dengan berbagai kesabaran.
Ungkapan rasa kecewa datang secara tiba-tiba. Air yang tenang kini meluapkan smeua kekesalannya, aku benar-benar membenci saat mereka pergi ke luar negeri. Dan secara bersamaan, aku juga rindu dengan kehadiran mereka.
"Aku juga tidak akan menganggu kak Dika dan ayah lagi" Setelah itu aku berbalik dan berjalan membelakangi nya.
Biarlah pertemuan ini adalah akhir dari segalanya. Aku memang egois karena mengatur kehidupan kak Dika dan ayah. Namun mereka juga egois karena meninggalkanku disaat rasa kasih dan sayang melekat untuk mereka.
Aku pikir pertemuan hari ini bisa membawa kak Dika pulang lagi ke Indonesia, namun nyatanya salah. Pertemuan hanya memberikan kebahagiaan sementara dan berakhir dengan kecewa karena kak Dika tetap saja tidak mau pulang lagi ke Indonesia.
"Keyy, berhenti" Aku sudah mengatakan untuk tidak bertemu lagi. Namun mengapa kaki ini berhenti saat kak Dika menyuruhku berhenti.
"Berhentilah" Dia berlari lalu memelukku.
__ADS_1
"Aku tidak ingin kehilangan adik sepertimu. Aku memiliki alasan untuk pindah ke luar negeri"
"Aku tau" Jawabku.
Rasa haru kembali muncul. Kak Dika menangis sambil memelukku. Dia mengatakan bahwa kepindahannya ke luar negeri adalah perintah mamanya karena tidak ingin dia dan ayahnya memiliki hubungan denganku.
Kak Dika juga tidak ingin itu terjadi. Namun mau tidak mau dia harus menurutinya. Dia menangis sejadi-jadinya dan mengatakan bahwa sangat menyayangiku.
"Jangan pergi, biarkan walau kita beda negara tapi kita tetap menjadi saudara" Ucapnya kembali dalam tangisan.
"Apakah aku pantas menjadi saudara kak Dika? Jika mama kak Dika saja tidak ingin menerimaku. Dan ayah tidak akan pernah menemuiku" Sahutku dan tenggelam dalam tangisan itu.
"Siapa bilang? Kamu pantas menjadi keluarga kami" Suara yang muncul membuatku terkejut.
" Tante, ayah" Aku terkejut melihat keluarga ini.
"Mama, papa? " Begitu juga kak Dika yang terkejut melihat kedua orang tuanya.
Ayah dan mamanya kak Dika menghampiri kami berdua. aku tidak tau mengapa mereka ada di sini sedangkan kak Dika bilang bahwa mengelabui mereka agar bisa datang ke pertandingan ku.
"Maaf, maaf tante bukan maksudku untuk menjadi keluarga kalian" Ucapku tertunduk karena tidak ingin melihat pertengkaran di antara mereka.
"Maafin tante ya, bagaimanapun kamu tidak bersalah. Bagaimanapun kamu juga anak dari suami tante" Tangannya menggenggam ku. Tatapannya benar-benar tulus lalu memelukku dengan erat.
Dia menangis karena merasa bersalah. Kesadarannya kembali bahwa aku anak baik. Dia juga berkata bahwa ini semua salah ibuku dan bukan salahku.
Lebih tepatnya kesalahpahaman karena saat itu ayah pergi disebabkan mamanya kak Dika yang selalu memarahinya dan membuat lingkungan tidak nyaman.
Sehingga ayah memilih untuk mencari kenyamanan dan bertemu dengan ibu. Ternyata mereka menikah siri, jadi aku bukanlah anak haram.
"Benarkah ayah? Aku bukan anak haram? " Ayah menggeleng lalu memelukku dengan erat. Begitu juga dengan mamanya kak Dika yang berstatus sebagai ibu tiriku.
Dengan sekejap keutuhan keluarga yang hancur kini telah kembali dan menghilangkan semua prasangka buruk atas kesalahpahaman yang pernah ada.
Mereka memberikan penjelasan sangat panjang dan tidka ingin mengucilkan aku lagi. Dan sekarang satu per stau masalah berakhir, ayah kembali memberikan kehangatan padaku sebagai seorang anak. Dan aku juga sudah memaafkan semua kesalahan mereka padaku.
"Ayolah, kita makan bersama-sama sebentar saja" Ajak ayah.
"Tapi sore ini aku akan terbang ke Indonesia, dan sekarang aku akan kembali ke hotel ayah" Jelasku.
"Rencana bagus, dan kita juga akan terbang ke Indonesia untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini pada ibumu nak"
"Benarkah? " Aku dan kak Dika terkejut secara bersamaan.
Ayah dan mamanya kak Dika mengangguk dengan senyuman. Tatapannya menandakan bahwa mereka berdua tidak bohong.
"Terima kasih ayah, Terima kasih tante"
"Terima kasih papa, Terima kasih mama" Aku, kak Dika, ayah dan istrinya saling berepelukan seperti keluarga utuh.
Sekarang kami berjalan ke tempat berbeda, mereka ke hotel yang disinggahi sedangkan aku ke hotel untuk segera pergi dan kembali ke Indonesia.
Kekalahan ini ada hikmahnya karena aku bisa kembali berkumpul dengan ayah. Lalu menyelesaikan semua kesalahpahaman yang ada. Tuhan memang adil, di balik rasa kecewa pasti tersimpan kebahagiaan yang tak terduga.
Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta
"Alhamdulillah ya Allah, mendarat dengan selamat" Rasa syukur yang terucap saat kami sudah menginjakkan kaki di Indonesia.
"Key, kemarilah biar aku bantu"
"Terima kasih Sasa" mereka membantuku untuk membawa barang-barang ku karena tangan ini masih bergantung pada penyanggah patah tulang.
Aku bersyukur karena rasa kepedulian mereka masih melekat, walaupun tim ini akan dibubarkan sebentar lagi karena masih belum ada jadwal turnamen untuk kedepannya.
Kami akan dikembalikan ke tim di kota masing-masing. Mungkin akan dipanggil lagi setelah adanya rencana dalam turnamen yang akan datang.
"Hah? Banyak wartawan? " Aku kebingungan saat banyak wartawan yang menyambut kedatangan timnas.
Apakah mereka menyambut seorang bintang? Padahal aku bukanlah seorang bintang karena telah gagal membawa tim kebanggaan untuk menang.
"Keyla, beristirahat di rumah. Dan jangan patah semangat"
"Siap coach" Salam perpisahan malam ini dan pelukan dari pelatih yang selalu menjadi ayah untuk kami semua.
"Keyla, Keyla"
"Ibuuuu, bapak, mbakku" Aku melihat mereka, keluarga yang sangat menyayangiku. Serta tidak lupa sahabat-sahabatku dan keluarganya yang juga ikut menejemputku di bandara ini.
"Ibu, bapak" Aku memeluk mereka semua dengan erat.
__ADS_1