
Kami membeli baju serta pernak-pernik yang khas di kota ini untuk dibawa pulang dan memberikan ke keluarga. Begitu juga aku yang akan membelikan kedua kakaku, ibu dan bapak. Tidak lupa juga untuk sahabatku yang setia menunggu disana.
"Baiklah, apa sudah cukup kita belanja hari ini? "
"Sudah Key, ayo kota pergi untuk membeli makan" Sahut Ira yang hampir memborong toko ini. Aku hanya tersentum dan menggelengkan kepala saja.
"Iya ayo kita makan" Kami bertiga keluar dari tempat perbelanjaan. Sekarang mencari tempat untuk makan.
Saat dalam perjalanan ke tempat makan. Mataku samar-samar melihat seseorang yang berdiri dan menatap kami bertiga. Aku merasakan aneh sekaligus trauma, takut ada yang ingin menculik ku lagi.
Aku menyuruh Ira untuk mempercepat langkah kami agar orang itu tidak lagi melihat. Saking cepatnya sampai Ani tertinggal. Aku lupa jika aku yang mendorong Ani, gara-gara orang itu Ani aku tinggalkan.
"Aduhhh, kalian ini mengapa melupakanku" Keluh Ani yang berteriak di belakang kami membuatku memberhentikan langkah.
"Astaghfirullah, ira kita melupakan sesuatu" Aku dan Ira bergegas kembali dan mengambil Ani lalu berjalan cepat menuju tempat makan.
"Kamu kenapa sih Key? " Tanya Ani dan Ira yang heran dengan perilaku ku karena berjalan cepat-cepat ke tempat makan ini.
"Lihat di ujung sana" Perintahku pada mereka tanpa harus menunjuk orang itu.
"Iya, tukang siomay kan? " Dengan polosnya Ira menjawab.
"Aduh, bukan itu. Satunya lagi" Ketusku
"Ohhh, tukang bakwan" Kali ini Ani yang menjawab. Dasar kedua temanku memang koplak.
"Astaga, bukan. Seberang jalan pakai baju serba hitam dan berdiri menatap kita" Aku mencoba menjelaskan pada mereka. Tapi belum ada yang mengetahui juga.
"Orang gila key? " Aku langsung memalingkan wajah. Ternyata benar kata Ira bahwa itu orang gila.
Aku kebingungan bahwa orang itu sudah tidak ada. Entah mengapa aku merasa terancam tapi masih penasaran dengannya. Akhirnya kami memesan makan dan menikmatinya di tempat ini. Tidak lama kemudian aku ingin untuk pergi ke kamar mandi.
"Kalian jangan kemana-mana, aku ingin ke toilet sebentar" Ira dan Ani hanya mengangguk untuk menyetujui permintaanku.
Aku berjalan sendiri sambil mewaspadai sekitarku. Takut ada sesuatu yang mengikuti dengan alasan ingin menculik ku kembali. Ternyata penculikan itu berdampak pada mentalku, saat pulang aku harus pergi ke dokter untuk periksa.
*plek* sentuhan tangan yang memegang punggungku yang membuat aku terkejut bukan main.
"Aaaaaaa..... " Tangannya dengan sigap menutup mulut ku dan membawa pergi.
"Sssttt, diam. Ini aku" Aku terkejut, saat orang itu membuka masker di wajahnya.
"David, kamu kurang ajar sekali" Kesalku padanya yang hampir membuat jantung ini berhenti berdetak.
"Iya ini aku, aku sengaja datang kesini untuk menemuimu" ujarnya.
*plak* aku memukuknya dengan keras karena sudah mengejutkan aku dan membuat aku ketakutan tentang trauma itu.
"kenapa kamu muncul tiba-tiba vid, aku kaget tau.." ucapku kesal karena aku pikir dia salah satu penculik yang sedang mengintai.
"Maaf,maaf. Jadi aku kesini ingin bertemu denganmu dan berbicara sesuatu Key"
"Apa?" Tanyaku kembali.
"Lebih baik kita duduk disana saja" ajak David padaku untuk mencari tempat lebih nyaman saat berbicara.
Aku menurutinya dan tidak lupa menghubungi kedua temanku untuk menunggunya sebentar karena aku ada urusan. Lagipula mereka menunggu di tempat makan yang nyaman dan banyak orang jadi pikirku sedikit tenang meninggalkan mereka.
"Key, aku mau pamit" dia memegang tanganku dan menatapnya dengan dalam. Aku takut dengan tatapan David, takut dia pergi lagi ke luar negeri lalu kembali ke Indonesia dan melupakanku lagi.
"Kemana?" Tanyaku dengan keras.
"Ke tempat dimana aku harus berjuang kembali" perkataannya membuatku takut. Dia berjuang kemana lagi, apakah harus kembali keluar negeri dan meninggalkanku.
"Apakah ke luar negeri lagi? " David tidak menjawabnya namun bibirnya tersenyum seperti membaca pikiranku saat ini.
Wajahku mulai cemas mendengar apa yang David ucapkan. Pikiranku beku dan penuh ketakutan tentangnya. sepertinya hatiku benar-benar mencintai David. Walaupun kadang ada yang aneh dalam kebersamaan kita.
__ADS_1
Terkadang kami berdua diam tanpa ada satu kata yang terucap. Terkadang bertemu seakan menjadi teman lama. Dan terkadang juga menyimpan rindu tapi sulit untuk diungkapkan satu sama lain.
"Kamu pasti takut ya kehilangan aku lagi" percaya dirinya sangat tinggi, padahal memang benar aku takut kehilangan David. Tapi rasanya sulit untuk mengungkap rasa.
"Enggak, siapa bilang" aku mencoba menutupinya agar tidak ketahuan jika dadaku bergetar ketakutan.
"Sudah bilang aja, matamu tidak bohong kok" aku langsung menutup mata dan memalingkan pandangan ke segala arah.
"Sudah bilang saja, jika tidak ke luar negeri lalu kamu mau kemana sih" bentak ku dengan kesal karena David terus menggodaku dengan senyumannya tanpa jawaban.
Sebenarnya hatiku senang tapi malu jika terus-terus dia menggoda dengan rayuan palsu. Dasar buaya yang tak kenal lelah. Apalagi situasi saat ini membuatku ketakutan jika dia kembali lergi jauh.
"Aku mau seleksi timnas"
"Apa" mataku melotot menatap David seakan tidak percaya. Tapi diriku sangat gembira mendengar kabar baik ini.
"Benarkah?" Senyum kembali terlihat dalam bibirku saat ku tatap anggukan kepala David membenarkan semua itu dan matanya terlihat serius tidak ada kebohongan.
"Selamat David" saking senangnya aku sampai lupa dan memeluk David untuk mengucapkan selamat. David terdiam saat merasakan pelukanku. Bahkan dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
"Eh maaf, maaf. Bukan maksudku memelukmu" aku langsung melepaskan pelukan itu saat kesadaranku telah kembali.
Aku tersenyum malu karena sudah lancang memeluknya. Rasanya canggung sekali dan ingin menghilang dari hadapan David sekarang. Aku merasa sangat brutal karena memeluknya tanpa persetujuan.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku sudah tau kalau kamu akan senang mendengar berita ini. Karena aku tau kalau kamu suka denganku kan" perkataannya membuatku kembali dipenuhi rasa malu, sepertinya David sudah mengetahui bahwa aku menyukainya. Tapi dia memilih diam.
"Baguslah, kalau kamu tau" ketusku dengan menampilkan wajah datar kembali seperti tidak ada hal apapun, namun sebenarnya wajahku sudah memerah.
"Aku akan seleksi beberapa hari disana untuk masuk ke timnas U-19"
"Hmm" sahutku sambil menganggukkan kepala.
"Gitu aja, memangnya kamu tidak memberiku selamat atau ucapan perpisahan gitu?" Ucapnya heran dengan jawabanku yang singkat. Sedangkan aku menyembunyikan senyum darinya.
"Perpisahan, seperti mau pergi jauh saja" gumamku.
Sepertinya dia salah bicara karena seketika langsung terdiam. Aku langsung beranjak dari tempat duduk dan ingin berkata banyak hal.
"Oke, semangat ya David. Semoga kamu lolos seleksi di timnas U-19. Dan semoga kamu menjadi punggawa timnas dan bertanding di luar negeri" aku mengatakan ucapan yang sangat panjang disertai gerakan yang lebay, sebenarnya aku tidak mau tapi tidak apalah sekali ini saja.
"Dan semoga nanti aku mendengar komentator menyebut namamu sebagai penyerang di timnas U-19. Kalo sudah ada disana, jadilah punggawa yang baik dan jangan selalu memikirkan cinta" ucapku.
David langsung berdiri dan mendengarkan semua ucapan perpisahan dariku. Dia tidak pernah memalingkan wajahnya saat aku berbicara. David selalu menatap di setiap bibirku yang bergerak.
"Nah satu lagi, jangan sampai lupakan ibadahmu agar dalam setiap pertandingan dapat dipermudah" Kali ini senyum David semakin melebar sambil memandangiku.
"Makasih Key" kali ini David yang memelukku. Aku terdiam membeku dengan pelukannya.
Apakah benar ini David, ataukah hanya mimpi saja. Tidak biasanya David memelukku seperti ini. Benar-benar rasa ini campur aduk. jantung berdetak cepat dan tatapan menjadi membeku.
"Aku janji akan melakukan permainan terbaik saat seleksi nanti agar bisa menjadi punggawa timnas. Dan aku janji akan kembali untukmu" dia mengatakan itu padaku tapi pelukannya masih belum ia lepaskan.
"Sudah,sudah. Aku gerah" ucapku malu karena jantungku berdebar begitu kencang. Aku melepaskan pelukan David yang begitu erat.
"Jantungmu...." Aku menelan saliva dengan kasar, sepertinya dia ingin mengatakan hal yang membuatku malu tentang jantung ini karena berdetak kencang.
"Jantungmu masih aktif kan" aku bernafas lega ternyata dia hanya ingin becanda saja denganku.
"Iya aktif, kalau tidak aktif mungkin aku mati" ketusku dengan keras.
"Hahahaha, lucu sekali kamu Key" dia tertawa keras sambil menampar kecil pipiku.
Seharusnya pipi cewek di belai dengan lembut. Tapi dia malah menampar pipiku, untung saja pelan. Kalau tidak mungkin aku hajar.
"Aku pergi dulu, kamu jaga diri baik-baik disini. Dan ini ada sesuatu dariku. Kamu harus membukanya setelah aku berlalu dari hadapanmu Key" David memberikan sebuah kotak kecil dan memberikannya padaku.
"Apa ini? "
__ADS_1
"Bukalah nanti" Sahutnya sambil mengacak-ngacak rambutku.
"Ihhh, kamu ini" Kesalku dan dia hanya tersenyum.
Iya bergegas pergi dengan pamitan itu untuk berjalan ke arah yang dituju. Sebelum dia menghilang dari hadapanku, aku membukanya dan ternyata isinya cantik sekali.
Sebuah kalung bertuliskan "KD" yang disusun rapi diantara berlian. Di dalamnya juga ada sebuah surat. Aku membukanya dan isinya adalah tentang ungkapan isi hati David.
"Aku mencintaimu Key, pakailah kalung ini dan aku berjanji akan kembali untukmu" aku tersenyum melihat surat itu, lalu pandanganku mengarah pada David dan dia mengisyaratkan tanda cinta melalu tangannya.
"Aku juga" teriakku mengalihkan semua pandangan orang-orang disana. Mungkin mereka pikir aku adalah orang gila yang teriak tidak jelas di tempat umum. Seketika aku langsung menutup mulut dan pergi.
Begitu juga David yang sudah menghilang karena menaiki mobil yang dia tumpangi tadi. Aku langsung memakai kalung yang David berikan. Kalung yang indah dan akan aku ingat janji David untuk kembali.
"Kamu kemana saja Key, lama sekali" Ucap Ira yang menungguku berdua dengan Ani disini.
"Tadi ketemu temanku, dia mau seleksi timnas"
"Apa, gila. Dia masuk seleksi timnas. Bukan main Keyyyyy" Ira histeris saat mendengar kata seleksi timnas.
*Prok, prok, prok* Tepukan tangan kecil dari Ira yang mengapresiasi.
"Beneran key? " Tanya Ani untuk memastikan kebenaran. Aku mengangguk dengan pertanyaan mereka berdua.
"Berarti kalau lolos akan menjadi pemain timnas dong"
"Iya, tapi masih butuh proses yang panjang" Jelasku sedikit pada mereka.
"Ayo kita balik" Kami bergegas kembali ke tempat penginapan. Di perjalanan aku tertawa bersama mereka bertiga sambil berbincang-bincang tentang timnas.
Merka bertanya padaku apakah aku ingin menjadi pemain timnas?. Aku menjawabnya dengan lantang dan pasti bahwa aku ingin menjadi sang punggawa garuda muda. Mengepakkan sayap-sayapnya mengunjungi beberapa negeri.
Aku akan berjuang demi apapun untuk bisa masuk ke dalam skuad garuda muda. Menjadi pemain bola hebat untuk membawa nama keluargaku agar bisa di kenal oleh seluruh Indonesia dan dunia.
"Kalau kalian apakah tidak ingin menjadi pemain timnas? " Tanyaku pada mereka berdua.
"Tidak" Jawaban mereka benar-benar sama tidak ingin menjadi pemain timnas. Baru kali ini aku mendengar pemain bola yang tidak ingin menjadi pemain timnas.
Katanya sangat susah untuk masuk ke dalam skuad di sana. Apalagi menjadi punggawa garuda tidak mudah. Butuh skil dan uang agar masuk ke sana karena pesaing dalam negeri snagatlah banyak.
"Uang? " Tanyaku
"Iya uang, pasti ada oknum yang akan melakukan penarikan uang untuk melalui jalur tikus" Aku terkejut dengan penjelasan yang Ani berikan. Dan itu juga di benarkan oleh Ira. Apakah aku ketinggalan berita tentang ini.
Seperti yang aku tau seleksi timnas itu murni menampilkan skil terbaik. Aku akan menanyakan pada David apakah benar ada yang melakukan hal seperti itu. Jika benar maka tercoreng sudah nama sepak bola Indonesia.
"Key" Ani menarik tanganku dengan keras. seketika aku terbangun dari lamuan tentang apa yang mereka ucapkan.
"Eh iya, maaf"
"Sudahlah jangan dipikirkan. Kita berdua becanda kok"
"Hahahhahah" Mereka berdua senang karena membuatku berfikiran bahwa penarikan uang itu adalah benar.
"Kurang ajar"
*plak* aku memukulnya sambil tertawa. Aku lupa jika mereka berdua tempat yang selalu membuat aku kebingungan dengan kebohongan untuk membuat lelucon. Aku pikir itu benar, ternyata mereka memainkan peran saja.
Untung aku tidak bertanya hal konyol ini pada David. Kalau sampai aku menelpon David dengan berkata tentang uang yang dalam seleksi timnas, bisa habis aku diceramahinya. Apalagi Cita-cita terbesarku adalah menjadi garuda muda.
"Baru kali ini aku melihatmu serius, apalagi percaya dengan perkataan kami" Ani sangat puas dengan wajahku yang terlihat berfikir keras saat mereka mengatakan hal itu.
"Aku pikir itu menang benar, hampir saja aku salah sangka dengan negeri ini"
"Hahahahah " Tertawa mereka mencairkan suasana hatiku yang membeku serta pikiranku yang menggumpal tentang bola. Sesampainya di penginapan, ternyata hanya kami bertiga yang baru kembali.
__ADS_1