
Mulutku tidak bisa diam jika tidak bertanya tentang tujuan Adit kesini. Apalagi sampai saat ini aku belum menyimpan nomor ponselnya juga karena hatiku masih dijaga hanya untuk David.
"Kamu kenapa ada disini? "
"Apakah ada yang melarang jika aku kesini, disini kan tempat permainan untuk menghilang stres"
Benar juga ucapannya, aku kesini untuk menghilangkan stres. Mungkin dia melakukan hal yang sama denganku.
"Kamu mengenalnya? " Tanya Ari saya melihat aku akrab dengan Adit.
"Kenalin aku temannya Keyla, Adit" Belum aku menjawab pertanyaan dari Ari, dia sudah mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan sahabatku ini.
Yuri dan Ari menyambut uluran tangan itu dengan ramah. Mata Yuri juga berbina-binar menatap Adit. Sepertinya dia terpesona melihat ketampanan Adit. Ternyata bukan aku saja, tapi banyak orang lain yang menyukai wajah tampan itu.
"Apakah kalian sudah bermain? "
"Sudah, sudah. Kami ingin makan malam. Apakah kamu mau ikut"
Mataku melotot pada Yuri, mengapa dia mengajaknya untuk makan. Melihat wajahnya saja aku tidak mau karena tidak ingin terlalu dekat dengannya.
"Mungkin kau bisa makan sendiri, dan kami akan pergi dulu" Aku memutuskan perbincangan mereka berdua.
Mereka memang menerima Adit dengan baik, tapi kenapa hatiku selalu menolaknya. Mungkin karena aku tidak ingin berteman lebih dekat lagi.
"Key kenapa kamu begitu? Bukankah dia temanmu. Lebih baik kita ajak dia" Apa-apaan ini, Ari mendukung Yuri untuk mengajak Adit ikut makan malam bersama kami bertiga.
Bagaimana bisa aku menolaknya, sedangkan Yuri dan Ari setuju dengan datangnya Adit. Dan aku sangat-sangat tidak setuju melihatnya ikut bersama kami berdua.
"Ayo dit kita mencari resto terenak" Tanpa basa-basi lagi Ari mengajak Adit. Mau tidak mau aku harus setuju dengan mereka. Sedangkan wajah Yuri juga sangat bahagia karena Adit mau ikut makan bersama kami.
Sesampainya di resto, Yuri memesankan makanan untuk kami. Dirinya seakan sudah tau apa yang ingin kami pesan, kecuali Adit karena mereka baru saja bertemu.
"Kamu mau pesan apa? " tanya Yuri dengan ramah. Anak itu benar-benar kepincut dengan ketampanan Adit, andai saja kak Dika ada maka aku akan mengadukannya.
"Samakan saja dengan pesanan kalian" Sahutnya ramah dan penuh senyum. Lalu wajahnya menatap padaku dengan membawa senyuman.
"Ada apa dengannya, apa dia gila melihatku dengan senyum-senyum sendiri" Gumamku dalam hati, seakan risih karena senyumannya.
Sambil menunggu makanan, Ari dan Yuri asik berbincang-bincang dengan Adit. Mereka menanyakan tentang universitas Adit saat ini. Mereka berdua juga snaat antusias mendengarkan cerita perkembangan pendidikan yanga dit berikan.
Umur kami hanya bertaut 2 tahun saja. Adit juga sudah memasuki semester 2. Dia cerita banyak hal tentang pengalamannya menjadi mahasiswa. Mulai dari ospek hingga menjadi asisten dosen.
"Key, kenapa kamu diam saja" Adit menegurku saat aku hanya terdiam dan mendengarkan obrolan mereka.
"Tidak, aku hanya lapar" Sahut ku singkat. Padahal aku hanya tidak nyaman saja bila Adit berada disini.
"Oh iya Key, apakah aku boleh meminta nomormu? Karena dari kemarin kamu tidak pernah mencantumkan nomorku di ponselmu" Aku menarik nafas dalam-dalam dan terdiam membisu.
Aku memiliki alasan sendiri untuk tidak menyimpan nomornya. Karena aku tidak ingin berhubungan dengan orang asing, apalagi dia baru saja aku kenal belum sepenuhnya.
"Key"
"Eh iya" Ari membuyarkan lamunanku.
"Kenapa? "
"Hmmm, kertasnya hilang jadi aku tidak bisa memasukkan nomormu" Ucapku berbohong padanya.
Dengan terpaksa aku memberikan nomor ponselku pada Adit. Wajahnya terlihat sangat senang, padahal itu hanya nomor ponselku bukan nomor ponsel orang yang terkenal.
"Oke Terima kasih, aku telah menyimpannya" Aku hanya mengangguk saja.
Rasanya sangat canggung duduk di sini, makan bersama Adit. Karena jika aku makan bersama Ari dan Yuri pasti sangat asik. Berbincang hal di luar nalar, becanda, bergurau, curhat galau dan banyak lagi.
Tapi jika ada Adit, rasanya seperti terkunci. Mulut terkunci tidak bisa gibah. Tangan terkunci tidak bisa mukul Ari dan yuri yang terkadang jahil. Dan masih banyak lagi.
"Hmmm, sepertinya hari sudah malam. Dan aku harus pulang" Ucapku setelah melihat jam menunjukkan pukul 8 malam.
"Benar Key, kita harus segera pulang" Sambung Yuri karena dia diberikan waktu keluar oleh mamanya. Sama denganku tidak boleh pulang terlalu malam.
"Pulang denganku saja Key, rumah kita kan searah" Aku langsung menatap Ari dan Yuri secara bergantian. Dan mereka menganggukan kepala seakan berbicara bahwa mereka setuju.
"Aku pulang sama kalian kan Ari Yuri? " Tanyaku sambil melotot.
"Aduh, sepertinya aku dan Yuri terburu-buru Key. Lebih baik kamu pulang bersama Adit" Senyum Ari dan Yuri merasa sangat puas mengerjai aku. Tidak seperti biasanya mereka terburu-buru, memang dasar sahabat kurang ajar.
"Nah itu key, ayolah" Dan terpaksa aku ikut bersama Adit.
Saat aku menoleh ke belakang, Ari dan Yuri melambaikan tangan sambil tersenyum bahagia. Memang sahabat kurang di kasih perisa manis. Awas saja besok di sekolah.
Aku menunjukkan keplaan tangan peda mereka dengan tatapan kesal. Tapi mereka berdua tetap saja kegirangan dengan senang saat aku masuk ke dalam mobil Adit.
"Awas saja kalian besok, aku akan mengerjai nya" senyum kecilku licik. Ini semua gara-gara sahabatku yang suka iseng.
__ADS_1
Adit membukakan pintu untukku seperti seorang ratu. Tanpa banyak bicara aku masuk dalam mobilnya dan menikmati malam ini di perjalanan bersamanya.
"Hmmm Key, bagaimana sepak bolamu. Apakah sudah ada turnamen lagi"
"Belum ada" Jawabku singkat.
Aku sengaja menjawabnya seperti itu agar dia tidak mau bertanya hal-hal banyak lagi tentangku. Aku bosan mendengarkan basa-basinya. Padahal sebentar lagi akan ada turnamen tarkam, tapi aku tidak ingin memberi tau siapapun kecuali orang terdekat ku.
"Apakah kamu sudah punya pacar? "
"Sudah" Jawabku dengan tegas.
"Siapa? " Anak ini mengejar pertanyaan itu, sungguh membuat kesal.
"Biar aku telepon saja agar dia tidak salah paham saat melihatku dan kau bersama di mobil ini" Alasanku semakin meningkat, begitu juga dengan hayalan ku.
"Sepertinya aku harus menelpon David agar Adit tidak terlalu banyak bicara" Batinku untuk membuatnya diam dan tidak terus menanyai ku. Apalagi hari sudah malam dan kami hanya berdua di dalam mobil ini.
*drett* (dering telepon)
"Sial, kenapa David mematikan ponselnya" Gumamku dalam hati yang kesal.
Niat hati ingin menelpon David agar aku tidak canggung di dalam perjalanan. Tapi nyatanya ponsel dia sedang tidak aktif dan berada di luar jangkauan. Apa yang harus aku lakukan agar dia tidak terus menanyai ku.
"Kenapa Key? Apakah dia tidak mengangkat telepon mu? "
"Bukan urusanmu" Sahut ku ketus.
Aku baru ingat kembali bahwa ada nomor kak Dika, aku akan menelponnya agar dia menemaniku di dalam perjalanan. Biar dia juga menghiburku dan bisa membuatku tersenyum. Rasanya aku juga rindu mendengar ocehan nasehatnya.
*Drettt* (dering telepon)
"Aduhhh, kenapa kak Dika juga tidak mengangkat ponselku. Kemana dia" Batinku benar-benar tersiksa.
Tadi David tidak mengangkat ponselku, dan sekarang kak Dika. Lalu siapa lagi yang harus aku telepon agar tidak ada yang menggangguku di dalam mobil ini dan bisa membuatku berbicara dengan nyaman.
Mataku sibuk menatap ponsel dan sesekali melihat Adit secara bergantian. Rupanya dia mengamati ku daritadi. Aku pura-pura saja bermain ponsel dan mencoba menghubungi mereka kembali. Tapi sayang belum ada yang mengangkatnya.
"Aneh ya pacarmu, telepon darimu saja tidak dia angkat bagaimana nanti kalau sudah jadi pasangan. Apalagi kamu terlihat baik dan cantik" Pujiannya terlalu berlebihan, aku tidak membutuhkan itu.
Bibirku memilih diam dan mengenggam ponsel kembali. Mataku kembali menatap jalannya dan menghiraukan pembicaraan dari Adit. Lagipula omongannya tidak ada yang penting menurutku.
*drettt, dretttt*
Aku terus mengoceh banyak hal dan tidak membiarkan lawan telepon berbicara
Bahkan aku jijik mendengar suaraku sendiri yang terbilang sangat mesra. Apakah ini arti the power of kepepet.
"Key, kamu kenapa? "
"Hmm, dadah sayang" Aku langsung mematikan telepon dan melihat rupanya yang menelpon adalah David bukan kak Dika. Aku salah mengira karena nama mereka berdua hampir sama dari awalan kata D.
"Sungguh sial, aku harus mempertanggung jawabkan hal ini besok" gumamku dalam hati.
Kocak memang, bagaimana ini jika besok di sekolah David menemuiku. Mau diletakkan dimanapun wajah ini tidak akan sanggup. Dan bahasa tadi terbilang sangat mesra, aku benar-benar merasa sangat malu.
"Aduhh, kenapa harus David bukan kak Dika. Dasar telepon gila" Kesalku dalam hati sambil memukul-mukul telepon.
"Kenapa ponselmu di pukul? "
"Ahh tidak, ini hanya panas saja ponselku" Sahut ku kembali berbohong.
"Mesra sekali kamu dengan pacarmu itu, apakah aku boleh mengenalnya? "
"Hmmm, tidak usah. Soalnya dia sangat suka menyendiri dan dia tidak senang bertemu orang asing"
"Hmm baiklah"
"Tapi jika kau ingin tau siapa dia, mungkin kau harus melihat pertandingan timnas U-19 kemarin"
"Dia pemain timnas? "
"Mungkin bisa dibilang begitu" dia hanya mengangguk.
Dalam perjalanan pikirku masih terbang tentang hal tadi. Aku bingung apa yang akan aku bicarakan pada David tentang kesalahvpahaman ini. Sedangkan aku sendiri tidak ingin berbicaran itu harena hal tersebut adalah ucapan becanda.
Beberapa menit kemudian kami berdua telah sampai di depan rumah ibu. Adit mengantarku dengan selamat dan dia juga langsung berpamitan pada ibu untuk segera pulang. Ibu juga sudah mengenal Adit karena dia anak salah satu pelanggannya kemarin.
"Aduh gimana ya, apa aku harus menelpon David lagi atau bagaimana? ". Batinku bertanya-tanya karena kejadian tadi. Aku benar-benar sangat malu, berkata sayang padanya padahal kita hanya sebatas teman.
" Biarlah, lagipula aku tidak sengaja. Buat besok saja aku mengatakan padanya " Malam ini aku segera meletakkan ponsel dan mematikannya. Melupakan sejenak lalu terlelap dalam tidurku yang panjang untuk menikmati pagi besok.
__ADS_1
Di sekolah (06.38)
"Wahhh, banner penyambutan meriah sekali" Aku sangat kagum saat melihat foto timnas Indonesia. Dan salah satunya ada foto David. Aku sangat senang karena dia sudah menjadi bintang di sekolah ini.
Apalagi David salah satu siswa yang lolos masuk ke timnas Indonesia dan bermain hingga mendapatkan juara. Tidak apa-apa hanya mendapatkan juara 2 dan yang paling penting Indonesia memiliki perjuangan yang sangat tinggi.
Aku segera bergegas pergi ke kelas. Di lorong-lorong sekolah banyak sekali banner penyambutan dan beberapa hiasan yang cantik. Aku yakin David pasti sangat senang, apalagi pagi ini akan diadakan upacara penyambutan garuda muda, yaitu David.
"Keyla" Teriak Yuri yang sudah ada di dalam kelas bersama Ari.
"Hey"
Ternyata bukan di lorong saja, kelasku juga sudah tertata hiasan rapi dengan foto para pemain bintang garuda. Indah sekali fotonya, andai aku bisa mendapatkan tempat seperti itu di timnas mungkin semua orang akan menghargaiku dengan tidak menandangku sebagai anak pelacur lagi.
"Duduklah, apakah. Kamu sudah melihatnya? "
"Sudah, hiasan penyambutan untuk David kan? "
"Betul" Saat kami bertiga telah berkumpul makan akan ada pembicaraan yang seru.
Berbincang-bincang dengan kedatangan David yang sangat dikagumi oleh sekolah ini. Mereka sangat bangga karena salah satu siswa di sekolah ini akan datang setelah membela timnas Garuda di kancah internasional.
"Oh iya, bagaimana kemarin bersama Adit" Pertanyaan konyol dari mereka berdua.
\*brak\* tanganku langsung menggertak mereka dengan memukul meja dengan keras. Ari dan Yuri menatapku dengan terkejut dan penuh rasa takut.
"Gila, ini semua karena kalian. Aku melakukan hal bodoh" Ketegangan berubah menjadi ladang tawa bagi mereka berdua saat aku merengek seperti anak kecil.
"Kebodohan apa? Bukankah aku dan kamu sama-sama bodoh? "
\*plak\* tanganku ringan memukul kepala Yuri. Sudah tau aku dan dia memang hodoh tapi yang dimaksud adalah kebodohanku saat mengucapkan sayang pada David.
"Dengarkan aku" Aku menceritakan pada mereka berdua seperti sama persis apa yang sedang aku alami tadi malam.
Menceritakan tentang menelpon David dan kak Dika yang sama-sama tidak mengangkat telepon. Lalu berbicara mesra dengan David menggunakan kata sayang bagaikan orang pacarnya dan masih ada beberapa agar bisa terlepas dari pertanyaan Adit.
"Hahahahhaha, ini lebih bodoh dariku"
"Hahahha, iya Key. Gila memang" Bukannya empati pada sahabatnya, mereka berdua menertawai ku dengan keras. Awas saja kalau ada kesempatan akan aku kerjain juga mereka berdua.
"Tenanglah, lagipula kamu. menyukai David bukan? "
"Aaahhh, diamlah. Aku pukul mulutmu itu" Ketusku.
"Sudahlah, ayo kita bersiap untuk mengikuti apel penyambutan sangat bintang" Ucapku sambil tersenyum bahagia karena David sebentar lagi akan kembali bersekolah.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~