
Kami terlibat dalam sebuah pembicaraan dan perdebatan. Dimana Adit selalu berkata ingin mengejarku walaupun penolakan terus yang didapatkan olehnya.
"Tapi tenang saja, aku tidak akan menyerah sebelum janur kuning melengkung"
"Apaan sih, aku masih sekolah dan ingin menjadi pemain bola yang hebat" Ketus ku dengan kesal pada Adit.
Pernyataan yang bodoh dari Adit dan jawaban yang lucu dariku membuat mereka tertawa melihatnya. Bahkan Ani dan sonya juga tertawa melihat kekesalanku ini.
"Sudahlah key, Adit kan tampan. Dan lagian umur kalian berdua hanya bertaut sedikit. Lebih baik bersamanya saja daripada mengharapkan David yang selalu menghiraukanmu" sambung Ani yang juga masuk dalam pihak Adit. Padahal aku sedang kesal saat ini dan mereka asik membicarakan tentang pasangan.
Ani dan sonya terus menggodaku untuk dekat dengan Adit. Sedangkan aku hanya diam saja karena tidak menyukai hal tersebut. Saat aku melihat Adit, dia tersenyum pada dalam arti yang disembunyikan.
"Kenapa dirimu terus tersenyum, aku ingin mual melihatnya" Ucapku dengan tatapan kesal.
"Bagaimana aku tidak tersenyum sedangkan diriku melihat seorang gadis yang cantik sepertimu" Sahutnya dengan percaya diri dan kembali melebarkan senyum padaku.
"Diamlah, aku ingin kembali ke asrama. Ani ayo ikutlah denganku"
"Tidak Key, aku harus tetap ikut dengan Adit dan menyamar sebagai orang lain" Jelasnya.
Aku mengerti karena saat ini ada hal yang sedang kami rencanakan. Yaitu menemukan Prabu dan mencari tau apa motif mereka mengincar diriku dan ingin membunuhnya.
"Baiklah, Hati-hati. Aku tidak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya" Aku memeluk Ani dengan erat. Mengelus lembut kepalanya, aku ingat kenangan itu saat kami dalam satu klub yang sama.
"Oh iya jangan lupa tonton pertandingan ku selanjutnya ya"
"Aku akan menonton dengan baik key, semoga tim kota kami bisa menang hingga akhir" Ucapnya sambil tersenyum.
Kami berdua berbicara dengan pelukan erat yang masih menempel. Meluapkan rasa rindu yang sangat besar dan mendalam. Tidak ingin rasanya melepas satu sama lain, tapi bagaimanapun aku harus rela melepasnya untuk keamanan Ani.
"Dit, kali ini aku memintamu untuk menjaganya. Karena aku sangat menyayanginya" Kali ini aku hanya bisa meminta tolong pada satu-satunya orang yang bisa menjaga Ani dengan aman.
Karena hingga saat ini dia bisa menjaga rahasia besar tersebut. Bahkan aku sendiri tidak tau tentang keajaiban ini. Benar-benar sangat mengejutkan. Jika saja dunia tau tentang rahasia ini mungkin mereka akan meluapkan ekspresi yang sama seperti ku.
"Apakah kamu tidak mencintaiku juga" Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar saat mendengar pertanyaan dari Adit.
"Tanganku sudah lama tidak memukul orang, apakah kau ingin dipukul hingga babak belur? "
"Ahh, sepertinya tidak key, karena aku hanya bercanda saja" Dia tersenyum.
Sepertinya dia ingat saat itu aku pernah menamparnya dengan sengaja karena dia terus ingin menyatakan cintanya padaku. Padahal aku tidak mencintai dirinya tapi dia terus memaksa. Akhirnya aku membuat hidung Adit bercucuran darah.
"Ani, jagalah dirimu" Ani mengangguk dengan senyuman.
Tanganku terus memegang dan sulit untuk dilepaskan. Aku memang harus kembali ke asrama, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Ani begitu saja. Karena masih ada trauma yang belum hilang, yaitu takut kehilangan.
"Key ayolah, percayakan semuanya pada Adit" Dengan lapang dada aku melepaskannya. Serta melebarkan senyum dengan rasa kepura-puraan.
Sebenarnya hari ini tidak rela melepaskan Ani lagi. Karena begitu lama aku tidak melihatnya dan dia tiba-tiba berdiri di sampingku seperti ada sebuah keajaiban yang datang secara tiba-tiba.
Ani masuk ke sebuah mobil bersama Adit. sedangkan aku harus kembali pulang ke asrama bersama Sonya. Tapi mataku terus melihat hingga mobil itu berlalu pergi dan menghilang.
Hari-hari terus berlalu dan aku sangat bersyukur karena kami sudah memasuki babak yang lebih tinggi lagi yaitu berhasil menempati posisi final. Satu langkah lagi tim ini akan bertarung mati-matian.
"Permainan kalian dari hari ke hari semakin bagus, saya sangat mengapresiasi itu. Saya harap di pertandingan final besok, semangat kalian tetap membara untuk bertarung di titik penghabisan"
"Siap coach"
Sesi latihan terakhir pada hari ini karena besok kami akan bertempur dan turun kelapangan untuk menunjukkan kemampuan kami bahwa tim ini bisa melewati rintangan yang ada.
"Saya tidak ingin membutuhkan alasan, jika ingin turun maka ucapkan iya jika tidak mampu maka ucapkan tidak sebelum hal itu terlambat dan merugikan tim"
"Siap coach"
Aku tidak menyangka bisa memasuki tim kota hingga sejauh ini. Banyak tempat yang sudah membuatku singgah namun akhirnya harus terbang lagi untuk menempati persinggahan baru.
Dan hari ini adalah persinggahan yang harus aku perjuangkan untuk menggapai kemenangan. Tidak ada kata henti dalam setiap darah yang berkobar untuk membela tim kebanggaan.
Banyak mimpi yang harus ku capai, dan banyak pula rintangan serta tantangan untuk mencapai di titik tertinggi. Aku pastikan akan melangkah secara perlahan dan berurutan agar kelak bisa mencapai impian sebenarnya.
"Sekarang kalian boleh istirahat, jaga diri, jaga pola makan dan jangan begadang di malam hari"
"Siap coach"
"Kenapa aku rindu sama ibu ya, lama sekali aku tidak bertemu dengannya" Aku membuka ponsel dan melihat belum ada panggilan dari mbak Nike atau mbak Yeni.
Biasanya mereka terus memanggilku saat di jam latihan. Tapi sekarang catatan panggilan di ponselku masih kosong.
\*dretttt, dretttt\* (dering telepon)
"Assalamu'alaikum" Aku tersenyum mendengar suara itu. Suara saudaraku yang tengil yaitu mbak Yeni.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, mbak bagaimana kabar ibu dan bapak"
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana? "
"Baik mbak. Apakah aku bisa berbicara dengan ibu? "
"Bicaralah"
Mbak Yeni memberikan telepon pada ibu. Lagi-lagi aku menelpon ibu dengan mengucapkan banyak tentang kerinduan. Dan ibu selalu memberikan banyakan nasehat tapi aku tidak pernah bosan mendengarnya.
"Bu, apakah besok kalin akan datang di pertandingan final yang aku jalani? " Dengan semangat aku menanyakan hl tersebut. Dan berharap ibu datang bersama keluarga besar.
"Sepertinya tidak bisa karena ibu sedang sibuk, bapak juga berbelanja lalu mbak Yeni dan mbak Nike ada urusan di kampus dan pekerjaannya" Jelas ibu.
Lengkap sekali kegiatan mereka, sepertinya tidka ada kesempatan untuk menonton pertandingan final yanga akan aku jalani besok. Hari yang sudha aku tunggu-tunggu dengan kehadiran mereka kini pupus beriringan dengan ucapan ibu.
Hal itu membuatku kecewa karena saat di laga final aku harus bertanding sendiri. Aku harus bermain tanpa dukungan mereka. Hanya ada dukungan Ari dan Yuri. Sungguh menyedihkan nasibku ini. Tidak bisa merayakan tentang arti kemenangan kelak.
"Baiklah, aku harap ibu dan keluarga datang melihat permainanku" Tutur kataku menjadi pilu.
"Maaf ya nak, kamu bermainlah dengan baik ibu dan bapak hanya bisa berdoa di sini saja"
Aku paham mungkin ibu dan bapak tidak bisa keluar kota karena harus berjualan dan juga jarak tempuh yang sangat jauh. Apalagi faktor usia tidak bisa bohongi lagi.
"Baiklah, ibu jaga diri baik-baik disana dan doakan key semoga besok menang ya bu"
"Iya nak, doa ibu akan selalu menyertaimu" Aku mengakhiri obrolan itu.
Mataku kembali menatap langit-langit atap kamar dengan kesendirian. Sedqngkan teman sekamar ku keluar untuk menemui keluarganya yang berkunjung setelah mereka latihan pagi ini. Jika dibilang aku tidak iri, itu tandanya aku berbohong. karena aku benar-benar iri melihat keakrabana mereka.
"Sayang sekali, padahal aku sangat mengharapkan keluarga ibu datang" Gumamku berbicara sendiri.
Apalagi aku sangat sedih jika salah satu semangatku yaitu ibu dan bapak tidak bisa hadir besok. Padahal itulah yang sangat aku inginkan karena api semangat kakiku ada di teriakan mereka.
"Keyla, keluarlah. Di sana ada yang ingin menemuimu" Lili memanggilku, dia berkata bahwa ada seseorang yang ingin menemuiku.
"Siapa li? "
"Aku tidak tau, keluarlah" Ucapnya sambil berlari kembali.
Aku sangat bahagia saat mendengar ada keluargaku yang datang. Sudah pasti itu adalah Ari dan Yuri yang akan menemuiku. Biasanya mereka akan meluangkan waktu untuk berkunjung sebentar. Apalagi hari ini adalah libur sekolah.
Tepat sekali, mereka datang di saat aku sedang kesepian. Dengan hadirnya mereka maka tawaku kembali dan bersorak ria. Sungguh sahabat yang berbakti.
"Lili mana sih, katanya ada keluargaku. Setelah aku lihat tapi tidak ada orang yang aku kenal kecuali keluarga mereka" Gumamku sambil melihat di sekeliling sudut untuk mencari keluarga yang ingin menemuiku.
"Keyla" Aku langsung mengalihkan pandangan pada suara yang ada di belakang.
"David" Aku benar-benar terkejut saat melihat bahwa yang datang bukanlah sahabatku, bukan juga ibu dan keluarga melainkan David.
Bibirku membeku melihat dirinya. Sudah lama sekali kami berdua tidak saling ber tatap-tatapan seperti ini. Bahkan kami juga tidak saling bertegur sapa.
"Bagaimana kabarmu? "
"Baik" Jawabku singkat.
Dalam naungan pohon yang ada si taman, kami berdua duduk dan bersantai. Aku hanya bisa diam kecuali David yang memulai pembicaraan baru aku bisa menjawabnya. Karena aku tidak tau harus darimana aku ingin memulai kata.
"Lama sekali tidak mendengar suaramu secara langsung, atau bahkan di telepon" Gumamnya memecah keheningan diantara kami.
__ADS_1
"Key, bisakah engkau jangan memalingkan wajah ke sembarang arah. Tataplah mataku sejenak" Aku menarik nafas sedalam-dalamnya lalu menghembuskannya secara perlahan.
Tubuh ini mengumpulkan semua energi dan membenarkan cara duduk menghadap ke David. Tapi wajahku masih menunduk karena rasa canggung dalam diriku masih ada.
"Aku telah salah paham padamu tentang Adit, aku pikir kalian berdua menjalin hubungan spesial ternyata hanya teman. Aku meminta maaf padamu atas kesalahan itu key"
David berkata dari hati yang paling dalam. Tangannya memegang kedua tanganku dengan erat sambil mengucapkan kata maaf. Aku juga bersalah padanya karena terus menyalahkan David tentang kejahatan Adel.
"Aku juga ingin meminta maaf padamu, karena selama ini terus menghiraukan tentangmu" Perlahan aku mengangkat kepala dan menatap mata David dengan berani.
Kami berdua saling mengungkapkan kesalahpahaman yang ada serta menjelaslannya agar tidak terjadi hal konyol yang dapat memecah hubungan kami lagi.
"Aku ingin mengatakan satu hal lagi padamu key"
Matanya yang bulat menatapku dengan ribuan makna. Aku tidak tau hal apa yang ingin dia bicarakan.
"Apa?, apakah aku ada salah lagi? " Aku takut jika ada kesalahn lagi dan membuat David kembali memutuskan hubungan diantara kami.
"Tidak, aku hanya ingin berkata bahwa aku juga mencintaimu" Mataku langsung terbelalak mendengarkan ucapannya. Aku tidak tau harus berkata senang ataukah bersedih.
Aku melepaskan genggaman David dan berdiri dari tempat duduk. Aku tidak tau harus berbicara apa tentang hal itu, sedangkan saat ini aku tidak ingin membicarakannya.
"Ada apa key, apakah aku salah menjawab cinta yang pernah kamu katakan padaku"
Aku baru ingat saat itu terakhir kalinya aku mengatakan bahwa aku mencintai David. Dan benar saja sekarang dia membalasnya padaku.
"Aku tidak tau harus menjawab atau tidak, sedangkan hatiku bimbang" Sahutku.
"Bimbang kenapa? Apakah kamu belum percaya dengan cintaku? "
"Iya, ada banyak hal yang menggeluti pikiranku vid" Sesuatu yang mengendap di pikiranku masih belum aku tanyakan hingga saat ini.
"Apa key, katakanlah"
"Kenapa pada saat di luar negeri kamu tidak pernah menghubungiku. Sedangkan aku sangat menunggu kehadiran dirimu walau hanya sepucuk surat" Mataku memberikan tatapan kekecewaan pada David.
Aku mencoba mengulas masa lalu. Bertahun-tahun lamanya namun kabar dari David atau bahkan surat yang ditulis tidak pernah aku Terima. Bahkan hembusan angin saja tidak ada yang datang membawa pesan padaku.
"Maaf key, aku sangat salah padamu. Karena telah membiarkan rindu menyakiti dirimu" Ucapan David melemah.
"Aku menulis banyak surat namun tidak bisa aku kirimkan padamu, karena jika surat itu sampai pada orangnya mungkin kamu tidak akan bisa melihat indahnya bola" Aku tidak paham dengan perkataan yang David ucapkan.
Sekarang aku memilih duduk dan mendengarkan penjelasan yang keluar dari mulutnya. Walaupun hal itu sudah lama, tapi aku sangat ingin mebnetahui agar tidak menghantui hidupku.
"Aku pergi ke luar negeri karena papa tau jika di lapangan aku selalu bermain bola denganmu, jadi aku memilih untuk ke luar negeri daripada harus menyakiti dirimu"
"Aku sekolah bola di sana, setiap minggu aku menulis surat dan disimpan dalam kotak hingga isinya penuh dan ingin aku beriakan setelah pulang ke Indonesia. Tapi...... "
Sejenak David terdiam dan tidak melanjutkan perkataannya. Aku menatapnya tak kuasa saat mendengar ceritanya. Ternyata sekolah di luar negeri adalah kemauan dari orangtuanya yang memaksa dia meninggalkan Indonesia karena bermain denganku.
"Tapi apa?"
"Tapi papa tau tentang surat itu dan dia membakar semuanya. Tidak ada satupun surat yang tersisa"
David menceritakan semuanya. Dia juga menceritakan alasan setelah pulang dari luar negeri yaitu memiliki janji untuk tidak bertegur sapa denganku. Bahkan wajah dinginnya diciptakan oleh tekanan dari sang papa.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~