Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
24. Ari Di Gigit Ular


__ADS_3

Teriakan lelaki itu berhasil menghentikan pertengkaran ku dengannya. Aku menatapnya dengan tatatapn sinis dengan rasa kekesalan yang masih menggebu dalam hati ini. Apalagi Ari juga belum keluar dari semak-semak itu.


"Kamu juga, senior itu harus dihormati bukan dibantah dan berkelahi dengannya" Bentakan keras mengarah padaku. Aku hanya terdiam menatap dengan tatapan tajam. Dia adalah senior lelaki yang ingin menghukumku di gerbang tadi pagi.


"Kalau mulut dia tidak sembarangan, maka saya tidak melawan kak" Jawabku sambil menatap senior perempuan yang sedang kesakitan memegang tangannya


"Sudah cukup, kamu akan aku hukum? Cepat duduk" Aku menghela nafas panjang-panjang untuk menenangkan diri dan kembali duduk ke tempatku. sedangkan rasa kesal masih belum menghilang.


"Aaaaa, tolonggg, tolonggg" Teriakakn Ari terdengar sangat jelas dari balik semak-semak belukar. Tanpa basa-basi aku berlari ke arah Ari.


"Hey tunggu, kamu ngapain woy" Teriakan itu tidak aku dengar lagi. Hanya ada teriakan Ari yang masuk dalam telingaku.


"Ari kamu kenapa" Ari sudah duduk lemas di tengah semak-semak belukar. dia memegangi kakinya yang berselonjor ke depan.


"Tolong key, tolong" Ari meminta tolong sambil menunjukkan luka yang ada di kakinya. Ternyata itu gigitan ular.


Pinggirannya seperti membiru, aku langsung melakukan pertolongan pertama dengan menyesap luka tersebut supaya bisa itu keluar dan tidak menyebar. Aku menyesapnya hingga beberapa kali dengan membuang darah untuk menghilangkan sedikit racun yang masuk.


Lalu aku berusaha membawa dia keluar dari semak belukar itu. Dengan sekuat tenaga aku memapahnua secara perlahan. Sedangkan di sana sudah ada tandu yang disiapkan untuk membawa Ari ke rumah sakit untuk dilakukan perawatan lebih lanjut.


"Yang sabar ya ri, setidaknya bisa ular sudah aku keluarkan walau tidak sepenuhnya" Ucapku saat membantu untuk membawa Ari ke rumah sakit. aku ikut dengan mobil ambulan yang membawa Ari.


Aku sangat benci dengan mereka, pada saat Ari teriak minta tolong, tidak ada satupun dari mereka yang masuk ke semak belukar. Mereka hanya menunggu di luar sana dengan memanggil ambulan saja tanpa ada tindakan untuk menolongku mengangkat Ari keluar dari dalam semak-semak. Awas saja nanti kalau Ari kenapa-kenapa akan aku hajar mereka semua.


Beberapa menit kemudian kami sampai ke rumah sakit. Beberapa perawat langsung sigap membawa Ari secepatnya ke ruang UGD.


"Ri ayo bangun, buka matamu" Ari pingsan pada saat perjalan ke ruang UGD. Aku semakin cemas melihat dia tanpa pergerakan. tangannya lemas dan matanya terpejam rapat. Pikirku semakin tidak karuan.


"Dokter tolong sahabat saya dok" Teriakku pada dokter yang ingin menangani Ari.


"Tenang yah, tenang, kami akan melakukan perawatan pada teman kamu. Dan kamu tunggu di luar ya"


"Tapi dok" Dokter itu menutup pintu dan menyuruhku untuk menunggu. Dalam keadaan hari kacau aku mondar mandir di depan pintu ruangan.


"Bagaimana keadan ari? "


"Ini semua gara-gara kamu, seharusnya kamu melarang anggota kamu untuk melakukan ini pada kami" Teriakku pada senior lelaki itu yang tidak tau namanya.


Yang jelas dia adalah ketua OSIS dan harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Dia juga datang bersama kepala sekolah untuk memastikan keadaan Ari.


"Tolong tenang, ini rumah sakit"


"Aahhgg" Aku menendang tembok dan memukulnya dalam keadaan kesal.


"Sudah sudah, kalian harus tenang" Kepala sekolah mencoba menenangkan aku yang masih dalam keadaan kesal.


Aku terus saja duduk dengan pikiran kacau. Berdiam diri untuk berdoa pada sang Pencipta agar tidak terjadi apa-apa dengan Ari. Dia satu-aatunya sahabat yang aku sayangi, aku tidak ingin ditinggal lagi oleh orang yang aku cintai.


Tanganku memegang kepala yang mulai sakit karena terus kepikiran. Sedangkan dokter sangat lama tidak keluar dari ruangan tersebut. aku juga bingung harus berbuat apa, di lain sisi aku terdiam kebingungan dan di sisi lain juga aku memikirkan dengan kecemasan.


"Nak key" Teriakan mama Ari yang berlari menuju kearahku. Aku langsung memeluknya dan menangis dalam pelukannya.


"Tante, ari tante"

__ADS_1


"Gimana keadaannya sekarang? "


"Key kasih belum tau tante, tapi tadi dia pingsan"


"Sudah-sudah, ayo kita berdoa semoga Ari tidak apa-apa ya" Wibawanya yang tenang, sedikit mengajakku juga ikut tenang. Tapi aku tau kekhawatiran seorang ibu pasti melebihi segalanya.


"Bapak gimana sih, kenapa tidak menjaga siswa hingga aman. Kenapa bisa melakukan kecerobohan dalam MOS di semak-semak yang banyak ularnya" Tutur kasar keliar dari bibir seorang ibu pada kepala sekolah. Sedangkan aku masih dalam pelukannya.


"Mohon maaf Bu, ini semua bisa saya jelaskan" Sahutan halus kepala sekolah yang merasa bersalah.


"Awas saja jika terjadi sesuatu pada anak saya, saya bakalan laporkan kasus ini" Bentak mama Ari dengan rasa kekesalan. Sedangkan mereka hanya terdiam entah merasa bersalah atau tidak akupun tidak tau.


Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan. Wajahku dan mama ari sudah cemas untuk mendengar perkataan dokter. Aku langsung bergegas mendekat untuk mendengarkan penjelasan dokter.


"Gimana dok anak saya" Ucap mama Ari dengan wajah yang begitu cemas juga


"Alhamdulillah, anak ibu bisa di selamatkan. Untung saja ada pertolongan pertama dengan mengeluarkan sedikit bisa dalam tubuhnya jadi bisa itu tidak terlalu banyak menyebar ke tubuh" Penjelasan dokter yang panjang lebar membuatku bersyukur karena Ari baik-baik saja.


Kami semua langsung masuk untuk menjenguk Ari yang masih belum sadar. Mamanya duduk di samping Ari sambil mengelus lembut rambut pitranya itu. tangannya menggenggam erat dengan harapan anaknya segera bangun dari pingsannya.


"Saya selaku kepala sekolah mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keteledoran saya mengawasi kegiatan ini bu, dan saya janji akan tanggung jawab sepenuhnya" tutur lembut kelapa sekolah.


"Tanggung jawab sudah sepatutnya dilakukan oleh semua warga sekolah termasuk bapak, saya tidak ingin hal ini terjadi lagi baik itu pada anak saya atau yang lainnya" Tegas mama Ari pada kepala sekolah yang ikut menjenguk di ruangan ini.


"Baik bu, saya harap semoga anak ibu keadannya lekas membaik dan bisa beraktivitas kembali di sekolah" Mama Ari hanya diam tidak menjawab, mungkin masih ada kesal dalam hatinya.


"Yasudah bu, saya pamit undur diri dan kembali bertugas ke sekolah" Mama ari hanya mengangguk. Akupun juga ikut pergi ke sekolah bersama mereka berdua.


" Tante, key pamit dulu ya. Semoga Ari cepat sembuh"


Di dalam mobil aku duduk bersama senior itu di belakang. sedangkan yang di depan adalah bapak kepala sekolah yang menyetir mobil dengan ketenangan dan fokus melihat jalan. Kami bertiga hanya diam tanpa suara sedikitpun. Rasa canggung dan juga kesal pada diriku saat melihat wajah senior itu. Sesekali aku melihatnya lalu memalingkan kembali wajahku saat dia kembali menatap ke arahku.


Beberapa menit perjalan hanya bunyi mesin yang menyelimuti kami didalam mobil. Hanya beberapa suara saja, itupun jika aku ditanya kepala sekolah begitu juga dengannya yang akan berbicara bila di tanya oleh kepala sekolah.


"Kalian berdua langsung kembali ke kegiatan selanjutnya" Ucap kepala sekolah setelah mobil itu berhenti di parkiran sekolah.


"Baik Pak" Ucap kami berdua secara bersamaan. Aku langsung berjalan ke tempat teman-teman melakukan aktvitas MOS. Dan tidak ada rasa peduli ku pada senior itu.


"Hey, kamu " Aku mendengarnya tapi tidak ingin menoleh saja. Biarkan saja dia memanggil dan yang jelas aku tidak mau mendengar dia walaupun ketua OSIS.


"Kamu punya telinga gak sih? "


"Hey, sekali lagi kamu tidak menoleh mmakaakan aku kasih kamu surat cap jelek pada saat MOS"


Spontan aku langsung menoleh ke arahnya. Bukan karena aku takut pada ancamannya. Tapi yang aku takutkan dikeluarkan dari sekolah karena hal bodoh yang dilakukan dan aku tidak ingin berpisah dengan Ari sahabatku.


"Saya" Tanyaku kembali


"Iya, iyalah memangnya siapa lagi" Ketusnya dengan kesal. Aku berjalan menghampirinya


"Siapa namamu"


"Memangnya kakak tidak melihat nama dadaku yang tertulis besar" Ucapku sambil menunjukkan nama dada yang masih terpasang rapi.

__ADS_1


"Oke, kamu key. Kenapa kamu sangat tidak patuh dengan aturan yang ada disini"


"Hah? Tidak patuh, bukannya kalian yang tidak patuh dengan peraturan yang berlaku di sekolah ini dengan melakukan hal seenaknya pada siswa. Karena kelakuan kalian, sahabat saya masuk rumah sakit" suaraku meninggi saat mengingat kejadian tadi. Sedangkan dia hanya terdiam menatapku dengn kesal. Aku tidak peduli apapun yang akan dia lakukan.


"Oke, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu baru kamu menarik kesimpulan"


"Sudahlah kak, kegiatan masih banyak. Lain kali sebagai ketua harus melakukan hal yang lebih asik tapi tidak mematikan" Ucapku dan langsung bergegas pergi meninggalkannya. Aku segera masuk ke barisan tim ku.


Tapi tatapan mata senior yang bernama Ayana atau akrab disapa Ana memandangku dengan tatapan bengis. Mungkin karena dia sempat bertengkar terlebih dahulu denganku. Jika aku tidak bersalah maka tidak ada kata takut. Jika aku benar maka kata lawan adalah hal yang paling tepat bagiku.


Mengikuti kegiatan MOS pada hari ini sangat menyebalkan. Karena mereka lupa waktu untuk mengistirahatkan kami, padahal sudah jam untuk istirahat. Dan yang paling parahnya adalah kegiatan sholat dzuhur yang ditunda-tunda hingga mepet dengan waktu asar. Sekarang malah di disuruh untuk mendengarkan pidato mereka yang tidak penting. Padahal waktu sholat asar sudah mepet tapi mereka menghiraukan waktu sholat.


"Permisi kak, ini waktu sholat asar sudah mepet dan sebentar lagi akan menjelang maghrib tapi kenapa tidak diistirahatkan" Tanyaku sambil berdiri dan memecahkan suasana hening di dalam suswa yang duduk bersimpuh mendengarkan"


"Kamu bisa diam tidak, saya belum selesai menjelaskan"


"Penjelasanmu tidak penting dibandingkan panggilan Tuhan" Seketika semua hening. Aku langsung bergegas pergi menuju masjid untuk melaksanakan ibadah, tapi tidak ada yang berani mencegahku. Dan ternyata yang tidak aku duga yaitu beberapa dari mereka yang beragama muslim juga mengikutiku untuk melaksanakan sholat.


Melakukan ibadah dengan khusyuk dan tenang menghadap sang Pencipta. Berdoa diberikan kesehatan yang baik serta perjalanan yang hebat. Setelah itu kami kembali berkumpul ditengah lapangan seperti tadi. Karena hari menjelang petang, senja juga mengintip di ufuk barat. Kami semua dipulangkan agar tidak terlalu malam sampai di rumah.


Aku menunggu di masjid dan melakukan sholat maghrib terlebih dahulu lalu menunggu angkutan umum di halte sekolah.


"Gila, baru sehari saja sudah sampai malam begini. Aduh, mana jalanan sepi gak ada angkot lagi" Gumamku yang dikelilingi lampu remang-remang disana.


*tinn* akun terkejut, Tiba-tiba ada sepeda motor yang berhenti tepat di depanku. Tangannya perlahan membuka kaca helmnya sedangkan aku masih serius menatapnya.


"Kalau kamu nunggu angkot malam hari gak bakalan ada, mendingan bareng sama aku" Ternyata senior itu tadi. Tadi aja marah-marah tapi mengapa sekarang baik nawarin tumpangan, dasar aneh.


"Tidak usah, saya menunggu bis saja" Jawabku singkat


"Bis biasanya tiba sekitar jam 7 setelah Isya' baru ada. Memangnya kamu mau nunggu disini sampai malam. Disini suka banyak preman kalau sudah petang seperti ini" Jelasnya. Tapi aku masih memilih diam tidak berkutik.


"Ini helm aku, kalau kamu mau ikut silahkan pakai kalau tidak mau ya sudah aku pulang dulu dan hati-hati ada preman yang suka sama anak kecil" Ngeri juga mendengar penjelasannya. Tapi aku kan bukan anak kecil, apa karena tubuhku yang lebih kecil darinya sehingga dia mengatakan aku anak kecil.


"Baiklah aku ikut" Aku mengambil helm itu dan menggunakannya. Sebenarnya aku juga takut sendirian disini. Apalagi aku baru kali ini ada di daerah yang tidak pernah aku kenali. Dengan rasa terpaksa aku ikut denagnnya.


Di dalam perjalanan pulang, aku hanya terdiam saja. Tidak berani berpegangan padanya walau naik motornya agak ugal-ugalan.bsuasana di atas motor juga sunyi tanpa suara kami berdua hanya ada bising motor dengan kecepatan tinggi menyalip beberapa kendaraan yang terlintas.


"Kak bisa pelan gak sih" Tanyaku dengan suara keras karena jalanan yang bising dengan berbagai kendaraan"


"Hah apa? "


"Pe.. Lan.. Pe.. Lan"


"Santai saja, aman kok"


*crittt*


"Kenapa berhenti disini, rumah saya masih jauh di depan sana" Ucapku dengan kebingungan saat dia memberhentikan motornya.


"Bentar, aku mau beli makanan buat mama dulu" Aku mengangguk mengerti dan menunggunya di sepeda motor. Duduk di bawah trotoar melihat ramainya kendaraan di malam hari. Indahnya juga lampu-lampu taman yang berjajar.


"Kamu mau beli juga nggak? " Tanyanya padaku

__ADS_1


"Tidak usah, saya kenyang" Sahut ku singkat



__ADS_2