
Sungguh aku tidak mengajari dia berkata demikian, namun pertanda apakah ini. Apakah pertanda bahwa dia akan menjadi sepertiku yang banyak bicara jika sudah mengenal orang dengan dekat. Aku harap dia tidak seperti demikian.
"Kaira, jangan berbicara seperti itu. Itu tidak sopan" Aku mengajarkan tentang sopan santun sedikit agar dia tidak menjadi orang seperti ku. Kaira hanya mengangguk lalu tersenyum dan memeluk David dalam gendongannya.
"Tidak apa-apa, aku memang tampan" David terlalu percaya diri, dan ini semua karena Kaira.
"Apakah ini adik kecil yang kamu ceritakan key"
"Benar kak, dia adikku dari suami ibu yang sekarang" Kak Dika mengerti karena sebelumnya aku telah menceritakan padanya lewat ponsel.
"Dia lucu sepertinya, nama kalian juga hampir mirip"
"Iya kakak, aku dan kak Key sama-sama cantik" Jawab Kaira dengan lugu sambil berpose sok cantik.
"Ah anak ini" Aku menggeleng sambil tersenyum karena kelakuannya.
"Hei kaira, cepat salim dengannya"
"Apa ini juga kekasih kak key? "
"Tidak, dia kakakmu juga. Jadi kamu harus bersikap sopan" Kaira mengangguk seperti orang dewasa. Dasar anak ini, memang sama denganku.
"Baiklah, sekarang aku adikmu kak. Dan aku ingin di gendong olehmu" Semua mata memandangi Kaira.
"Hahahahaha" Kami semua tertawa terbahak-bahak karena kelakuannya. Dari di gendong David dan sekarang di gendong kak Dika. Memang dasar anak menyebalkan.
"Baiklah, kemari" Kak Dika mengambil alih gendongan itu.
"Lihatlah key, dia sama denganmu. Sama-sama menyusahkan ku"
"Hahahhaha" Gemuruh tawa kembali menghiasi malam ini.
Malam yang benar-benar indah, ibu dan ayah telah menyelesaikan kesalahpahaman itu. Tapi aku tidak bisa mencegah ayah untuk kembali ke Amerika.
Ayah bilang di sana dia melakukan pengobatan atas penyakitnya, aku sempat marah tapi dia berkata bahwa pengobatannya berjalan dengan lancar hanya membutuhkan sekali pengobatan lagi dan ayah akan kembali pulang.
Tapi tidak dengan kak Dika yang akan menetap dan melanjutkan pendidikannya di sana. Semua memang tidak sesuai harapanku untuk berkumpul, tapi cintaku kembali datang disini. Dan sekarang aku akan memanfaatkan waktu bersama orang-orang yang aku sayang.
1 bulan kemudian
Hari ini ini pernikahan mbak Nike, kebahagiaan terlukis dengan indah. Aku selalu menemani setiap langkah mbak Nike melakukan prosesi pernikahannya.
"Mbak, lihatlah mbak Nike sangat cantik"
"Iya Key, sama sepertiku" Jawab mbak Yeni dengan kesombongannya.
"Aku rasa tidak, karena mbak Nike tidak mirip dengan mbak"
\*plak\*
"Aduh, sakit"
"Rasakan itu, aku tidak peduli"
"Kurang ajar, punya saudara gini amat main tangan. Awas saja akan aku laporkan ke dinas perlindungan anak"
"Memangnya kau anak-anak? "
"Bukan sih" Percakapan konyol di malam yang bahagia.
Mbak Nike terlihat sangat cantik dan anggun, raut wajahnya sangat bahagia karena pernikahannya kali ini. Tapi ada prosesi dimana aku terharu.
Prosesi bapak melepaskan anak perempuan pertamanya. Bagaimanapun seorang ayah tidak akan rela melepaskan anak perempuannya, dia akan terdiam walau hatinya sebenarnya menyimpan luka sangat kejam.
"Hiksss, hikssss, hiksss"
"Key, kenapa menangis? " Tanya Ari
"Lihatlah, bapak menahan tangisnya saat melepas mbak Nike"
Walaupun bapak tidak menangis, tapi matanya tidak bisa menampakkan kebohongan. Aku sudah bisa membaca hati bapak yang sangat terluka di prosesi ini.
"Hiksss, hiksss,hiksss"
__ADS_1
"Kamu.mengapa menangis yuri? " Tanya Ari kembali
"Karena Key menangis, jadi aku ingin menangis"
\*plak"
"Sakit key, Aaaaa" Tangisannya semakin kencang membuat gaduh pernikahan ini. Aku menyumbat mulutnya dengan tangan.
Dan tibalah saat prosesi foto bersama. Lebih tepatnya foto keluarga yang nantinya akan dikenang hingga mbak Nike memiliki anak.
"Mbak, apakah mbak Nike tidak akan tinggal disini? "
"Tidak, mbak akan ikut suami. Dan kami sudah memiliki rumah sendiri" Jawaban yang membuatku tidak senang.
Jika mbak Nike pergi dari rumah ini maka tandanya aku akan bertengkar dengan mbak Yeni saja. Dia yang akan menjadi musuh bebuyutan ku.
"Baiklah, aku akan tetap menyayangimu mbak. Walaupun musuh bebuyutan ku kurang satu"
"Haha" Mbak Nike tertawa sambil memelukku.
Aku yakin semua akan bahagia pada waktunya dan akan pergi entah ke tempat suami atau ke tempat lain yang diimpikan. Intinya jangan pernah lelah untuk kembali pulang.
Maka dari itu manfaatkan setiap sisa hari yang ada untuk dijadikan kenangan. Karena kita tidak tau kapan harus pergi dan kembali. Hanya bisa berangan-angan, namun belum tentu semua akan terjadi sesuai dengan harapan yang telah dimimpikan.
6 bulan selanjutnya.
Waktu begitu cepat berlalu. Aku mendapatkan panggilan lagi dari timnas untuk bermain menghadapi lawan yang baru di turnamen ini. Melakukan pelatihan yang cukup panjang untuk mempersiapkan di pertandingan yang akan datang.
Perjuangan kami sudah mati-matian di tengah lapangan. Namun kami kalah dan keluar sebagai juara 2.
"Maaf Bu, Key tidak dapat meraih emas"
"Tidak apa-apa, kamu sudah mendapatkan perak" Pelukan ibu dengan hangat.
"Nak ayah bangga karena melihatmu berhasil mendapatkan medali ini. Sekarang ayah yang akan menepati janji untuk menjagamu" Kehangatan kembali aku rasakan.
Sekarang yang aku rasakan bukan hanya pelukan ibu lagi. Tapi ada pelukan ayah yang sudah benar-benar pulang dan menetap kembali di Indonesia. Dan kak Dika yang rela datang ke Indonesia hanya untukku.
"Om bangga padamu Key, karena sudah dari dulu kamu terlihat jago main bola"
"Iya om, tapi kami kalah"
"Kalah menang sudah biasa, yang penting tetap semangat" Pelukan dari keluarga Ari.
Ari dengan keluarganya yang ikut menonton pertandingan ku, sekarang mereka datang lalu merangkulku dengan kasih sayang seperti dulu.
"Selamat nak, ibu dan bapak bangga padamu"
"Terima kasih bu" Pelukan satu lagi dari keluarga bu Yanti, keluarga yang selalu menjagaku dengan ikhlas tanpa pamrih. Memberikan kasih sayangnya seperti anak sendiri.
"Key, selamat sahabatku"
__ADS_1
"Terima kasih banyak Riki sahabatku" Aku juga bisa membayarkan Riki untuk menonton bola di stadion. Karena kami bermain di Indonesia.
"Key, kamu meraih mimpi dengan baik. Hikss.. . Hiksss.." Dia salah satu sahabatku juga, benar sekali dia adalah Yuri. Selalu saja menangis dengan tidak jelas.
"Ah tangisanmu menyakitiku sobat. Berhentilah menangis" Pelukan yang hangat darinya. Dan juga dari ibu Yuri serta adiknya yang ikut datang menonton.
Dan satu lagi adalah dia yang selalu ada untukku. David, sedang berjalan perlahan menghampiriku. Membawa sebuah bunga mawar merah dan semakin mendekat.
"Untukmu, selamat atas kemenangan ini"
"Terima ksih banyak" Senyumku semakin lebar karenanya.
"Apakah tidak ingin memelukku? " Aku sudah tau dari senyumnya yang licik.
"Tidak, aku tidak mau memelukmu. Apalagi di depan keluargaku" Aku tersenyum melihat wajah David kecewa. Bibirnya manyun saat mendapatkan penolakan.
"Baiklah, aku merangkulnya saja" Ucapnya pasrah.
Kami tidak pernah berpelukan secara disengaja, anggaplah pertemanan jarak jauh. Karena sampai saat ini tidak ada status tentang pacaran.
"Hahahah, kasihan sekali kalian. Aku harap suatu saat kalian menikah dan memiliki anak lalu menjadi punggawa juga" Tumben sekali celetuk Yuri benar.
"Aku harap begitu Yuri, aku ingin menikahi Keyla suatu saat jika sudah dewasa"
\*plak\*
"Ternyata dirimu masih sama suka memukul ku sembarangan wahai sang punggawa" Ucapannya benar-benar membuat pipiku merah. Dasar David, tapi aku tetap menyayanginya.
Dan lihatlah, aku sudah merasakan perjalananku sampai saat ini. Bola yang aku kagumi dan aku sanggupi untuk bermain bersamanya.
Banyak perjalan yang aku lalui hingga titik ini, dan pada akhirnya bola telah mengumpulkan semua cinta yang aku miliki dan mereka menatap dengan senyuman serta hari yang gembira.
Lihatlah sang punggawa atas nama Keyla adara telah mendapatkan cinta yang hilang di masa lalu. Kini mereka semua datang secara perlahan dan bersatu kembali.
Bersatu dalam naungan sebuah bola yang menyatukan perasaan jauh, salah paham, pertengkaran dan apapun itu kini telah mnjdi satu dalam sebuah kebgiaan.
"Kakek, lihatlah aku disini sudah berhasil. Dan aku harap suatu saat bisa kembali mengharumkan nama bangsa. Tapi bukan juara dua melainkan juara 1.
Oh iya satu lagi, ibu membawa foto kakek dan aku akan memberikan semua medali kemenangan. Dan akan aku gantung dalam bingkai foto kakek
Ceritaku sampai disini, dimana aku berhasil mengumpulkan semua cinta yng hilang. Dan aku akan terus melanjutkan perjalanan dan perjuanganku dengan bola. Sampai kapanpun dan selalu tentang bola.
Aku mengingat pesan kakek bahwa perjalanan masih panjang. Banyak mimpi yang harus aku kejar, Tidak mesti kemenangan dan permainan hanay sampai disini saja. Masa depanku terus berjalan hingga aku bisa sampai di ujung yang telah diinginkan.
Namun aku sangat berterima kasih dan banyak bersyukur pada Tuhan. Karena telah memberiku waktu dan kesempatan untuk menyusun semua tujuan dan keinginan untuk menjadi manusia yang beruntung menikmati semua momen dalam rangkai kehidupan yang tak pernah lurus.
~~~~ TAMAT ~~~~
Terima kasih banyak pada penonton setia yang sudah mengikuti certa author sampai ke titip penyelesaian ini🥰. Tanpa dukungan dari kalian mungkin tidak ada kata semangat untuk menulis. Karena setiap komentar dan view yang bertambah, saya jadi semangat menulis untuk menerbitkan karya-karya baru🥰🥰😘😘.
Panjang umur untuk kalian orang-orang baik🥰🥰🤲🏻🤲🏻.
__ADS_1
Jangan lupa untuk memnatau karya selanjutnya yang akan Ongoing setelah ini❤❤. Dengan judul dan genre yang berbeda yaitu "ANTARA CINTA DAN MAFIA"