Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
74. Ari Menjadi Saksi


__ADS_3

Rena ijin pergi untuk memanggil Puja serta Dewi dan kebetulan mereka juga termasuk dalam vidio yang sudah tersebar. Tidak lama kemudian mereka bertiga masuk ke daalam ruangan.


"Rena, Dewi coba jelaskan apa yang sebenarnya terjadi"


"Jadi begini pak, kami bertiga duduk bersama lalu kayu datang memukul tanpa alasan"


"Benar yang diucapkan oleh Dewi pak, saya yang menjadi saksi karena berada di sana juga" tutur puja mengikuti ucapan Dewi, namun dia masih menunduk karena takut padaku.


Benar saja pikiranku, Dewi dan Puja mengatakan kebohongan bahwa akulah yang datang dan tiba-tiba memukul Rena dengan tujuan tidak jelas. Bahkan mereka juga menambahkan jika aku memukulinya saat Rena sudah terjatuh di atas lantai.


Aku sangat membenci mereka, bagaimana bisa kebohongan dari mulut mereka kembali berulah. Sepertinya hal ini sudah mereka rencanakan mulai dari penyebaran vidio hingga pernyataan yang disampaikan pada kepala sekolah tentang isi yang sama. Tidak ada satupun cerita yang berbeda.


"Baik, dari sini saya tau bahwa yang bersalah adalah Key" Keputusan yang sangat menyakitkan dari kepala sekolah. Aku tidak bersalah tapi tidak bisa berkutik apapun.


"Tidak bisa begitu pak, saya tidak bersalah. Dan yang mereka bicarakan adalah sebuah kebohongan" Aku menentang apa yang diputuskan oleh kepala sekolah. Sedangkan aku merasa tidak berbuat seperti itu.


"Sudah lah, anak orang miskin memang selalu berbuat ulah" Ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itulah peribahasa yang aku ucapkan untuk keluarga Rena. Mama Rena melontarkan ejekan serta cacian padaku. Seakan dialah orang paling kaya di dunia ini.


"Oke tenang, tenang, kalian harus tenang. Ibu tolong tenang sebentar ya" Kepala sekolah mencoba menenangkan aku yang berdiri dengan kesal karena keputusan yang membuat aku bersalah.


"Jika kamu tidak bersalah key, apakah bisa kamun memanggil saksi yang ada di tempat kejadian pada kami semua? "


Pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Karena suasana aku berjalan sendirian tanpa mereka. Bahkan aku tidak tau apa yang harus dilakukan. Aku terdiam cukup lama dan rasanya sudah melalui jalan buntu.


"Saya yang akan menjadi saksi pak" Aku terkejut dan melihat ke arah suara itu. Ternyata Ari yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan untuk menjadi saksi ku.


"Ijin masuk pak"


"Baik, silahkan ari"


"Hah? Ari? " Gumamku sambil tercengang melihat Ari. Seperti tak percaya karena selama ini kita jarang berkomunikasi karena Rena. Tapi kenapa Ari sekarang ingin menjadi saksi dan membelaku. Lalu apa yang akan dia lakukan sekarang.


"Ari? Kamu ngapain? " Rena juga terkejut saat melihat Ari masuk ke dalam ruangan. Ari hanya diam dan menghiraukan Rena.


"Saya ingin menjadi saksi dan saya mempunyai vidio seluruhnya bukan hanya sepotong saja seperti vidio yang sudah tersebar. Saya harap dari vidio tersebut bapak bisa memutuskan siapa yang salah" Ari mengeluarkan ponsel dan mencoba menyambungkan vidio ke dalam laptop kepala sekolah untuk memberikan tontonan besar.


"Tunggu, tunggu, sudah jelas anak ini yang salah. Kenapa mau lihat vidio lagi, buang-buang waktu saja" Mama Rena seakan tidak setuju untuk melihat kebenaran apa yang akan diputar pada vidio tersebut.


"Tolong ibu tenang, agar saya bisa melihat siapa yang salah" Tegas kepala sekolah agar tidak lagi berbicara omong kosong.


Kepala sekolah memutar vidio yang diberikan oleh Ari. Dan benar saja ternyata dalam vidio terlihat bahwa mereka bertiga yaitu Rena, Dewi dan Puja berbicara pada seseorang tapi dia menggunakan pakaian serba hitam. Dan pakaian itu tidak asing karena hampir sama dengan seseorang yang ada di tempat perkemahan bahkan yang berboncengan motor dan menabrak ku bersama mbak Nike.


Disana mereka sudah merencanakan karena melihatku. Mereka ingin melakukan fitnah padaku. Dan di video terlihat jelas pada awal pertengkaran, Rena mencaci kita lalu membuang jersey ku dan menginjaknya. Ternyata yang merekam semuanya adalah orang yang ada di balik baju hitam itu.


"Sudah terlihat jelas mereka yang salah, tapi siapa seseorang di balik baju hitam itu?" pikirku bertanya-tanya namun tidak pernah ku dapatkan jawaban.


Semuanya terdiam saat melihat kebenaran ada di depan mata. Wajah Rena, Dewi dan Puja mulai ketakutan. Karena mereka mengatakan kebohongan di depan kepala sekolah. Semuanya menjadi bisu setelah menyaksikan video tersebut. Bahkan mama Rena juga ikut terdiam.


Kepala sekolah bertanya pada Rena siapa orang yang berpakaian serba hitam itu. Tapi Rena tidak menjawabnya, setelah di desak akhirnya Rena mau membuka suara. Katanya orang itu tidak dia kenal, orang itu yang menghubungi Rena dan berjanjilah untuk menjatuhkan Keyla.

__ADS_1


Dan kebetulan keyla lewat saat mereka berbincang di kafe, tapi orang itu tidak pernah menbuka wajahnya pada mereka. Pembicaraan Rena sepertinya tidak masuk akal. Tapi kepala sekolah mempercayainya sedangkan aku tidak. Aku yakin dia adalah orang yang sama di tempat perkemahan dan Rena pasti mengenalnya.


"Aku sangat yakin jika mereka memiliki hubungan yang kuat" Batinku kasih tetap yakin jika Rena ada hubungan dengan orang di balik baju hitam itu.


Akhirnya kepala sekolah mengambil keputusan. Rena, Puja dan Dewi di skorsing karena berbohong dan memfitnah aku. Mereka di skorsing selama 1 minggu untuk intropeksi diri. Sedangkan aku di skorsing karena kekerasan selamat 3 hari saja.


Semuanya sudah beres, dan rapat dibubarkan. Kami semua sudah menerima surat untuk pemberitahuan skorsing. Sebenarnya aku kasihan dengan Puja dan Dewi yang selalu ikut tersandung padahal mereka sebenarnya tidak bersalah. Hanya saja salah pergaulan, kemarin dengan Ana dan sekarang dengan Rena.


"Kamu itu tidak tau diuntung, kerjaannya selalu bikin masalah dan mempermalukan orang tua. Mau kamu apa sih, mama capek lihat kamu" Bentuknya dengan kesal sambil mendorong kepala Rena.


"Ampun ma, maafin Rena" Rena dimarahi oleh mamanya. Dia terus meminta maaf namun tidak ada kata maaf karena Rena yang suka berbicara bohong.


"Ayo pulang, jangan buat malu. Untung saja kamu tidak dikeluarkan lagi dari sekolah" Dari ucapan mamanya aku yakin bahwa Rena dikeluarkan dari sekolah karena ada masalah yang sama atau bahkan lebih.


"Dewi, Puja tunggu" Aku menghampiri mereka dengan wajah sayu memegang surat peringatan sekolah.


"Apa Key, apakah kamu masih belum puas dengan semua ini" Bentak Dewi padaku. Padahal aku berniat untuk berteman bukan untuk mencari musuh.


"Aku tau kalian tidak salah, aku cuman ingin kalian menyadari semuanya dan menjadi orang baik" Memberikan nasehat pada mereka memang tidak mudah. Tapi apapun keadaannya nanti yang penting aku ingin mereka berubah.


"Aku yakin kalian orang baik, semoga kedepannya kalian menjadi orang yang lebih baik" Mereka berdua tertunduk lesu dan pergi meninggalkan kami yang ada disini.


"Bu, maafin key ya. Sudah membuat ibu repot dan selalu mempermalukan ibu" Aku memegang tangan ibu karena selalu ini beliau selalu melindungiku dan selalu sabar menghadapi ku.


Sedangkan aku selalu membuatnya susah dan malu karena sudah 2 kali ini datang ke sekolah hanya untuk mengambil surat skorsing dan peringatan.


"Kamu tidak salah, yang salah adalah keadaan. Ibu harap kedepannya kamu bisa menahan emosi agar tidak melakukan hal ini lagi ya" Masih saja ibu memaafkan ku yang sudah berbuat seperti ini. Ibu bukanlah orang tua kandungku tapi dialah yang menjagaku hingga saat ini.


Aku ingin dunia tau bahwa ibu yang merawatku dan ibu lah yang memberikan kasih sayang tanpa pamrih. Aku akan katakan pada dunia bahwa ibu lah orang tua terbaik yang aku miliki. Melindungi dan menjaga dengan hati.


"Sudahlah jangan menangis, pergi ambil tasmu dan kita pulang" Aku mengangguk dan meninggalkan ibu sendirian lalu berjalan menuju kelas untuk mengambil barang-barangku.


Saat berjalan aku melihat Ari, dia pergi saat aku berpelukan dengan ibu. Dia pergi tanpa sepatah katapun. Tapi kali ini aku sangat berterima kasih padanya, karena dia aku tidak jadi terkena sanksi yang bahkan dapat mengancam karirku untuk menjadi pemain sepak bola.


"Ari tunggu" Langkahnya berhenti dan menoleh ke belakang menatapku.


"Makasih ri" Dengan erat aku langsung memeluknya. Pelukan kehangatan sebagai sahabat, aku sangat rindu ini ri. Ternyata Ari juga menyambut pelukanku. Sudah lama kami tidak berbicara bahkan tidak tegur sapa.


"Maafin aku ya key" Ucapan Ari membuatku tersentuh, dia meminta maaf atas semua yang dilakukan selama ini.


"Aku yang minta maaaf ri, karena aku tidak bisa menjagamu dari Rena" Kami saling berpelukan dan meluapkan kasih sayang bersama-sama.


"Aku janji gak bakalan ninggalin kamu lagi key"


"Aku juga" Kami saling berbicara dengan menatap satu sama lain. Menatap rasa kasih sayang yang menghilang akhir-akhir ini. Dan waktu inilah Tuhan mengembalikan semuanya.


"Tos dulu dong, karena kamu sudah berhasil mengungkap kebenaran"


"Ide bagus"

__ADS_1


*Plak* Rindu sekali dengan semua ini. Jika Yuri tahu tentang Ari, mungkin dia akan ikut bergembira bersama denganku.


"Yeyyyyyy" Kami meloncat kegirangan dengan hati yang bahagia. Mengucap janji satu sama lain agar tidak mengulangi serta saling meninggalkan. Akhrinya persahabatan ku kembali. Aku bersenang-senang dengan Ari hingga bel istirahat telah dibunyikan.


Aku dan Ari berjalan menuju kelas untuk mengambil tasku, dan bergegas pulang. Saat masuk ke dalam kelas semuanya diam melihat wajahku. Aku tidak tau apa yang sedang terjadi. Apa mungkin mereka masih membenciku karena vidio itu.


"Keyy, coba lihat ponselmu" Yuri berteriak dan aku segera mengambil ponsel serta melihat apa yang sedang terjadi. Mataku terkejut sekaligus senang. Melihat vidio yang diberikan Ari pada kepala sekolah. Bibirku tersenyum bahagia sambil melihat seluruh kelas dan rasanya ingin loncat kegirangan.


"Alhamdulillah" Mungkin kata syukur terlebih dahulu ku ucapkan.


"Key, syukurlah" Yuri memeluk aku dengan erat


"Tapi aku tetap saja di skorsing Yur"


"Hah? Di skorsing" David dan Yuri mengucap secara bersamaan. Spontan aku menatap mereka berdua.


"Tapi kalian tenang saja, yang penting aku tidak dikeluarkan dari sekolah. Dan apa kamu tau vidio itu dari mana? "


"Memangnya kamu dapat dari mana? " Tanya Yuri penasaran. Begitu juga David yang ikut memperhatikan pembicaraan ku dengan Yuri.


Mataku terus mencari keberadaan Ari. Sampai langkahku keluar dan belum mendapatkan Ari juga. Dan ternyata Ari datang dari kamar mandi lalu aku segera menyeretnya.


"Sahabatku" Aku membawa ari ke depan David dan Yuri.


"Ari? " Lagi-lagi Yuri dan David mengucap bersama. Karena mereka tau bahwa Ari memutuskan hubungan denganku dan Yuri.


"Iya Ari sahabat kita" Aku menjelaskan semuanya bahwa Ari yang membantuku keluar dari masalah. Sehingga tidak ada sanksi berat yang dikeluarkan padaku. Dan akhirnya aku diberikan hukuman ringan.


"Aaaaaaaa" Teriakan Yuri yang membuat kami bertiga bahagia. Berpelukan seperti teletabis dengan ciri khas persahabatan kami seperti dulu. akhirnya persahabatan yang pecah kini menyatu dengan kebahagiaan.


"Sudah, sudah kita lanjutkan saja kapan-kapan" Aku melepaskan pelukan persahabatan itu


"Kamu mau kemana key" Ucap David yang daritadi melihat kebahagiaan kami bertiga. Dia setia berdiri di samping kami seakan menjadi ajudan.


"Aku harus pulang karena ibu sudah menunggu. Nih baca" Memberikan sepucuk kertas peringatan bahwa aku di skorsing selama 3 hari.


"Hah di skorsing" Yuri dan David sangat lebay. Mereka terkejut karena surat skorsing itu. Padahal itu hanya 3 hari, aku inginnya sih 1 minggu biar bisa bermain bola hehehe.


"Aku pulang dulu, kalian jangan bertengkar ya" Pesanku pada Ari dan Yuri. Berharap persahabatan akan berjalan seperti dulu dan tidak ada lagi kebencian dalam hidup.


"Oh iya, kamu mainnya yang bagus lagi vid. Terus jangan lupa nonton aku di tarkam yang akan diadakan bulan depan. Dan satu lagi, jaga tunanganmu jangan sampek keliaran" Pesanku sambil tersenyum saat mengucap tunangan pada David.


Wajah David menatap kesal saat aku menyebut nama Adel. Wajahnya berubah menakutkan tapi aku tidak takut padanya.


"Sssttttt, dia bukan tunanganku" David menempelkan jari telunjuknya pada bibirku untuk menyuruhku diam.


"Issss, apaan sih" Aku melemparkan tangan David dengan keras.


"Daah, aku pergi teman-teman semua" Pergi di skorsing serasa ingin pergi ke luar negeri. Pakai dadah segala lagi ke sahabatku dan beberapa teman yang ada di kelas. Entah apa yang ada dipikiranku seakan sangat bahagia untuk di skorsing.

__ADS_1


"Key, key, dasar kocak" Tanganku memukul kepala secara perlahan sambil tersenyum. Saat keluar kelas suasana menjadi aman karena vidio kebenaran sudah tersebar ke seluruh sekolah.



__ADS_2