Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
31. Pertandingan Pertama Menyamakan Skor


__ADS_3

*Pritttt* Peluit kembali dibunyikan. Wasit memberikan isyarat pada Ana untuk berganti pemain.


"Semangat Ana" Aku mencoba memberikan semangat pada Ana agar mentalnya tidak jatuh.


Namun dia masih bersikap acuh, tatapan Ana tajam menatap kebencian padaku. Sejenak aku melupakan tatapan itu dan masuk kedalam lapangan. Berada di posisi bek dan mencoba melakukan adaptasi pada lapangan dan pemain.


Dari pandanganku, pemain lawan memang selalu terus menyerang. Kami hanya memiliki waktu normal 22 menit untuk mencetak gol dan menyamakan kedudukan. Di lini belakang ada Gita, Ayu, dan Desi. Di lini tengah ada Arin, Rega, Vena dan di lini depan sebagai striker ada Ika, Mega dan Fara.


Bagaimanapun juga semua pemain harus kerja keras dan kerja sama agar bisa menyamakan kedudukan. Saat ini Rega sebagai captain tim yang mengatur rekan-rekannya. Dia sendiri anak kelas 11 tapi tidak terlalu akrab dengan Ana. Dia juga baik padaku, meskipun jarang berbicara dia tidak pernah memojokkan ku seperti teman lainnya.


"Ayo ayo semangat, semangat, kita pasti bisa" Teriak Rega mencoba membangkitkan pemain yang sudah murung.


Aku bersiap diri menempati posisikku. Saat ini bola ada di kaki lawan, mereka mencoba masuk dalam pertahanan kami. Aku mencoba mencegahnya dan berhasil merebut bola dari kaki lawan. Ada dua pilihan maju atau bertahan. Jika aku bertahan maka tidak ada kesempatan untuk menambah gol. Jika melawan maka masih ada kemungkinan untuk mencetak gol.


"Maju, maju" Teriakku pada lini depan. Aku, mencoba menggiring bola, menggocek bola sambil menipu lawan dengan beberapa gerakan. Beberapa pemain lawan berhasil aku lewati.


Di bagian depan aku melihat Mega yang memiliki kecepatan lari yang sangat baik. Disana Mega berdiri bebas tanpa perlawanan. Aku mencoba memainkan bola lambung, saat ini aku tidak peduli teriakan dari coach Alam yang menyuruh kami bertahan. Aku mencoba mengikuti tempo permainan dengan bola lambung.


Memang aku salah karena bermain sendiri dan tidak mengikuti instruksi pelatih. Tapi bagaimanapun di dalam lapangan harus mempunyai keputusan sendiri agar tidak menyia-nyiakan kesempatan.


*bluk*


Bola melesat jauh ke daerah depan. Mega mengejarnya dengan kecepatan yang dia punya. Pemain pertahanan lawan tidak bisa mengimbangi kecepatan Mega dan akhirnya dia berhasil mendapatkan bola hingga satu lawan satu dengan penjaga gawang.


*bluk*


"Gollllllllll" Gol yang sangat cantik bisa menipu penjaga gawang dari lawan. Semua kegiranagn dan tidak melakukan selebrasi yang berlebihan karena masih ketinggalan skor. Penonton yng diam juga bersorak ramai, pendukung kami kembali bergemuruh dan bernyanyi untuk memberikan semangat.


"Bagus, ayo kembali fokus dan fokus" Ucap coach alam di samping lapangan. Rega juga memberikan semangat yang berkobar agar tidak kendor. Sepertinya pertahana lawan sudah bisa di tembus karena kecepatan di lini belakang tidak bisa mengimbangi kecepatan yang mega miliki.


Bola kembali di kuasai oleh tim lawan. Pemain kami mencoba berbagai upaya untuk merebut bola tapi sayangnya masih belum bisa. Pemain lawan memainkan perlambatan tempo, tersisa 15 menit waktu normal. Mau tidak mau aku harus ikut maju dan membantu penyerangan lagi.


Akhirnya bola bisa direbut oleh tim ku. Sekarang bola dioper ke lini belakang. dengan sabar memainkan kaki ke kaki, lalu aku mencoba kembali menembus pertahanan lawan. Menggiring bola serta memperlihatkan skill yang pernah aku pelajari dengan David.


Permainan tidak lagi menggunakan umpan lambung. Aku mencoba menggunakan taktik segitiga dengan memberi isyarat pada Rega dan ia sampaikan pada para pemain. Meskipun aku tidak pernah melakukan latihan game dengan mereka setidaknya aku mengikuti tempo permaian dengan menikmati permainan yang ada. Semua pemain mengerti, jadi taktik segitiga sudah berhasil menembus lini tengah dan berhasil mendekat ke kotak pinalti.


Aku, Rega dan Ika jiga ikut melakuan serangan dan melancarkan taktik segitiga. Akhirnya bola terakhir jatuh di kakiku dan dengan tenang melakukan eksekusi ke dalam gawang.


* bluk*


"Yaps tepat sasaran yang diinginkan"


"Gollllllll" Gol kedua dicetak olehku. Semua menghilangkan rasa permusuhan dan merayakan keberhasilan bersama-sama dengan damai. Tapi kita tidak boleh larut dalam selebrasi kemenangan karena kita masih kalah skor dengan pemain lawan.


"Bagus Key, semangat untuk menyamakan kedudukan" Rega mendekstiku dan memberikan beberapa araha.


"Oke"


Sepertinya pemain lawan juga frustasi. Mentalnya seakan kendor karena untuk menembus pertahan lini belakang dari tim kami saja tidak mampu. keadaan ini bisa dimanfaatkan untuk kembali menyerang.

__ADS_1


Aku selalu mencoba melakukan pertahanan ataupun serangan. Terkadang aku juga menempati sisi bek kiri dan bek kanan secara bergantian dengan Gita yang memiliki posisi asli di bek kanan. Hal itu mampu memeprsulit lawan untuk menembus pertahanan kami. karena sukar membaca posisi yang ada.


Sorak-sorak semakin ramai membuat semangat kami semakin membara. Waktu sudah mendekati menit-menit akhir tapi masih saja skor tidak berubah yaitu 3-2. Aku memutar otak untuk melakukan penyerangan. Dengan sabar aku melakukan operan demi operan hingga berani membawa bola sendirian ke depan pertahanan lawan.


Lariku memang cepat tapi masih lebih cepat lari dari Mega. Saat ini Mega sudah menanti di depan bersamaku. Aku memutuskan dengan tendangan langsung karena posisi Mega dikepung kedua pemain lawan jadi sangat sulit untuk membagi bola padanya.


*bluk*


Tendangan ku berhasil ditepis oleh kiper hingga menghasilkan tendangan pojok bagi tim kami. Sisa menit waktu hanya 2 menit saja, sepertinya tendangan pojok adalah kesempatan terakhir yang harus kami manfaatkan.


"Key, aku percaya sama kamu ayo lakukan tendangan pojok" tatapan Rega memiliki harapan terakhir yang sulit untuk dikatakan dengan jelas, dan aku bisa membaca itu.


Mau tidak mau aku harus melakukannya dengan baik. Meskipun aku tidak pernah melakukan tendangan pojok baik di dalam pertanidnag tarkam dan pertandingan lainnya. Kali ini aku mencoba dengan kepercayaan yang tinggi.


Menciun bola sebagai tanda bahwa bola itu berpihak padaku. Aku menenangkan pikiran dan hati, lalu dengan tenang mengeksekusi bola. Disana sudah ada Fara, Arin, Ika, Mega dan Rega. Pemain jangkung sudah ada Fara dan Arin yang siap mengeksekusi dengan sundulan. Aku fokus dengan Fara dan Arin, karena mereka paling tinggi di tim kami. Aku bisa memanfaatkan ketinggian mereka.


*bluk* tendangan bola dengan on target langsung disambar oleh sundulan Arin.


"Gollll" Gol dramatis yang kami peroleh dan berhasil menyamakan kedudukan. Kami berhasil bangkit dari kesalahan hingga mnajdikan tin meraih poin seri. Kami senang dan merasa bangga dengan hasil yang didapatkan.


"Makasih ya key, karena kamu tim kita bisa bangkit" Ucap Rega di tengah-tengah ruang ganti baju.


" Tidak kok, kami kerja sama. Saya juga terima kasih sama kamu karena sudah memberikan kesempatan untuk melakukan tendangan pojok"


"Iya sama-sama" Semua tim ikut senang dan berterima kasih padaku. Tapi aku berkata kemenangan terjadi karena kerjasama bukan karena individu. Sedangkan coach Alam masih terdiam dan tidak berbicara padaku. Apalagi Ana yang memberikan wajah ketusnya. Aku hanya diam sambil menikmati hal yang menurutku bisa membuat bahagia.


Kami semua pulang dengan bangga meskipun hasilnya seri. Di pertandingan tadi aku juga melihat kak Dika yang berteriak kegiarangan tapi aku menghiraukan nya. Keputusanku sudah bulat untuk menjauh dari kak Dika agar bisa menjaga keutuhan persahabatan ku bersama Yuri.


Semua pemain bergembira di dalam bis. Tapi aku hanya memilih diam untuk menelaah pertandingan tadi. Mencoba mempelajari trik dari lawan yang menurutku juga sangat cantik bila dilakukan. Aku mencoba mengingat agar bisa digambar dan dipelajari. Sepertinya hidupku sudah direnggut oleh bola. Bukan setengah tapi sepenuhnya.


Setelah sampai di sekolah kami pulang ke rumah masing-masing. Menunggu angkot tapi sudah malam, jadi aku mencoba diam saja mencari tumpangan bis atau ojek. Tapi masih sepi dan untung saja ada Rega yang menawarkan boncengan padaku. Dan rumah kita juga serarah. Jadi aku ikut dengan Rega dan aku memilih untuk berhenti di halte tempat biasa Riki berjualan.


"Makasih banyak ya kak Rega sudah nganterin saya"


"Sudah santai aja, panggil saja Rega gak usah pakai kak karena kita satu tim" Aku mengangguk mengerti lalu Rega pergi berlalu.


Aku juga mencari sosok Riki, tapi sepertinya dia sudah pulang. Biasanya dia masih jualan tapi kenapa sudah pulang. Jadi aku berjalan ke warung pak Abi. Disana pak Abi malah tertidur jadi tidak enak menganggunya. Langkahku segera menuju rumah untuk pulang dan beristirahat. Karena dua hari lagi akan diadakan pertandingan yang kedua.


Merebahkan diri paling nyaman adalah di atas kasur dengan ditemani bobo si boneka kesayangan. Lalu menatap jendela yang dipenuhi taburan bintang. Atau menatap langit-langit kamar yang sudah agak usang. Karena menatap kesana adalah caraku untuk meluapkan cerita yang sedang tersimpan hingga aku lupa waktu dan terlelap dengan senang.




"Uahhhhhhhhhhh" Melemaskan badan setelah tidur sangat bagus. Apalagi berolahraga lebih bagus namun belum ada waktu. Dan pagi ini sepertinya aku ingin memasak sesuatu yang spesial yaitu ikan tongkol suwir.



Memasak dengan asik sampai lupa waktu. Jam sudah menunjukan pukul 06.10 dan aku masih belum bersiap diri astaga. Akun bergegas cepat untuk segera berangkat. Berlari dengan kekuatan penuh hingga sampai di halte. Tapi sepertinya aku sudah ketinggalan angkot biasa.

__ADS_1



\*tin, tin\* motor yang aku kenal berhenti tepat di depanku yang masih celingukan mencari angkot.


\*tin, tin\* aku masih menghiraukannya dan pura-pura tidak melihat.



"Masih kuat nunggu angkot, ini udah jam 06.30 kalau kamu tidak berangkat maka akan telat sekolah" Aku mencoba menatapnya pelan. Kak Dika masih tenang dan sabar menungguku.



"Kita sudah lama loh gak pernah bicara, sekali ini aja kamu lupakan semuanya dulu dan ikut sama aku karena kalau tidak kamu bisa telat" Aku mencoba berhenti lalu menurunkan ego. Tapi aku tidak ingin Yuri melihatnya . Kalau aku tidak ikut kak Dika maka aku akan terlambat masuk sekolah.



"Ayo ikut key, aku cuman mau nolong kamu kok" Kak Dika terus saja memaksaku. Dan aku juga tidak ada pilihan lain selain ikut dengannya. Tapi saat berboncengan aku menjaga jarak. Di dalam perjalanan kami juga sama-sama diam hingga sampai ke gerbang sekolah.



"Makasih ya kak" Kak Dika hanya mengangguk dan aku pergi berlalu. Saat langakhku agak jauh, aku mencoba membalikkan badan dan melihat kak Dika ternyata masih menatapku. Dan aku langsung berjalan kembali ke kelas. Apa mungkin kak Dika masih suka padaku. Pertanyaan terus saja melintas dalam pikiran ini. Tapi sudahlah yang penting masuk dulu kedalam kelas.



"Keyyyy" Teriak Yuri saat melihat aku datang ke dalam kelas. Dia langsung memelukku dan memberikan selamat atas keberhasilan dalam sepakbola kemarin.



"Key tau gak, kamu menjadi buah bibir di sekolah ini setelah berhasil menyamakan kedudukan kemarin" Ucap Yuri dan dibenarkan oleh Ari yang duduk disampingnya.



"Maksudnya? "


"Mereka banyak yang suka dengan permainanmu"


"Sudahlah, itu semua berkat tim kok" Aku tidak mau menghiraukan atas pujian yang mereka berikan.



Apalagi kata mereka banyak yang suka dengan permainanku kemarin. Jika aku terus berlarut dengan kesombongan maka semua itu akan menghancurkan karirku secara perlahan. Nyamuk saja akan mati karena tepuk tangan. Jadi aku ingin menjadi pemain biasa saja yang tidak perlu sanjungan tinggi tapi bisa membuktikan pantas masuk kedalam tim inti atau bahkan masuk ke timnas yang sudah sangat aku impikan dari dulu.



Ternyata benar saja ucapan Yuri dan Ari. Setelah bel istirahat berbunyi aku berjalan untuk menuju kantin. Disana banyak yang membicarakan tentangku atas pertandingan kemarin.



Semua perhatian mereka terutuju padaku yang sedang berjalan. Bahkan di papan mading terlihat jelas berita sekolah yang mengatakan bahwa permainanku yang cantik mampu mengimbangi skor lawan.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2