
Ternyata perempuan itu ibu kandungku, dia berdandan sangat mewah dan bahkan tidak terlihat seperti ibuku yang dulu. Pakaiannya dari atas hingga bawah memang benar-benar terlihat sangat mahal.
"Key ini ibu nak, ibu sangat kangen sama kamu" mudah sekali ibu berbicara tentang rindu. Kemarin aku yang mengemis pelukannya tapi dia campakkan. Sekarang dia datang tanpa ada kemauan ku.
Aku tetap menghiraukan ibu dan terus menatap celingukan mencari angkot. Tapi masih saja belum ada angkot lewat. Hatiku sakit bila mengingat masa itu. Aku bagaikan orang gila mengemis rindu dan kasih tapi ia hiraukan dengan menyebutnya sebagai orang asing.
"Key, sudah lama ibu ingin bertemu denganmu" ucapnya kembali. aku terus saja menahan tapi kali ini aku akan berbicara dengannya.
"Tapi saya tidak rindu, karena kerinduan saya pupus di patahkan oleh cinta yang terbuang" sahutku sambil menghindari ibu.
Aku pikir ibu akan pergi tapi ternyata ibu menghampiriku kembali.
"Key, maafin kesalahan ibu. Ibu tidak ingin melakukan itu tapi ibu terpaksa Key" wajahnya menatap dengan penyesalan tapi aku sudah tidak peduli.
"Jika aku boleh memilih, aku akan memilih untuk tidak lahir kedunia" ketusku kesal yang disaksikan oleh beberapa siswa dan orang-orang yang ada di halte ini.
Tidak lama kemudian angkot datang dan. Aku menaikinya. Di dalam angkot mereka bilang aku anak durhaka, aku anak yang tidak mau diuntung dan bahkan ada yang mengecamku karena telah menghiraukan surga yang nyata di dunia.
"Anak itu tidak tau sopan santun, bagaimana bisa dia bersikap seperti itu pada ibunya sendiri"
"Iya benar, memangnya dia lahir dengan hanya batuk saja lalu keluar apa? padahal melahirkannya bertaruh nyawa" Aku hanya pura-pura tuli di dalam angkot ini.
Semua orang hanya bisa berpendapat tanpa mengetahui perjalan hidup apa yang telah aku lewati. Dan kesalahan apa yang telah ibu lakukan padaku. Jika saja mereka tau, aku yakin mereka akan melakukan kekecewaan yang sama sepertiku.
Di sepanjang jalan terus saja mereka mengolok-olok diriku. Aku hanya diam dan menutup telinga serta hati serapat mungkin agar tidak ada yang aku dengar dari mulut mereka.
Sesampainya di halte, aku menemui Riki untuk menghilangkan sedih. Dan juga berpamitan untuk pergi ke luar kota besok, selama 2 Minggu. Di situ aku menahan tangis dan kekecewaan bila mengingat ibu. Tapi harus berbicara seperti aku sedang baik-baik saja.
"Berarti aku tidak lihat kamu bersekolah dong key" tanya Riki dengan tatapan sendu. Karena biasanya aku selalu berbincang dengan Riki baik berangkat sekolah ataupun sepulang sekolah.
Kadang juga aku mengajarkan beberapa pelajaran padanya. Karena aku tidak ingin Riki buta huruf di masa depan. Aku mencoba memberikan pelajaran yang aku dapat di sekolah walaupun aku tidak terlalu pintar. Setidaknya Riki bisa merasakan bangku sekolah denganku.
"Tenang saja, aku hanya sebentar. Dan nanti aku pasti akan kembali"
"Iya sih key, tapi aku kesepian" bagaimana tidak kesepian, akhir-akhir ini aku jarang menemuinya di hari Minggu karena kesibukan yang aku kerjakan. Baik sibuk dengan bola atau urusan lainnya.
"Kan masih ada pak Abi, dan kamu tidak usah sedih aku pasti akan kembali. Dan aku akan belikan oleh-oleh untukmu dan keluargamu Ki" aku mencoba menghiburnya dengan berbicara oleh-oleh pada Riki yang wajahnya mulai murung.
"Aku tidak butuh oleh-oleh, aku hanya butuh kamu pulang dengan membawa juara Key" ucap Riki sambil tersenyum serat memberikan semangat paskah. Aku pikir dia akan murung padaku ternyata Riki memberikan semangat.
"Iya, doakan saja aku pulang membawa juara. Aku janji akan mentraktir mu makan bersama pak Abi. Seperti hal biasa saat aku mendapatkan bonus" sahutku antusias saat melihat senyum Riki kembali.
Lalu aku berpamit pulang padanya. Sedangkan pak Abi kali ini ia tidak menjaga warung karena sedang tidak enak badan. Dan yang menjaga warung hari ini adalah salah satu orang kepercayaannya tapi itupun hanya dijaga sebentar. Selanjutnya ia akan pulang, begitu juga dengan Riki.
"Assalamualaikum, Bu" aku menghampiri ibu di warung ternyata ibu dan bapak sudah pulang. Jadi aku mampir ke rumah ibu, sekalian untuk meminta ijin berangkat besok.
"Waalaikumsalam, kamu sudah pulang" ibu menyambut ku dengan senyuman.
"Bu," aku langsung memeluk ibu dengan rasa yang pilu. Aku membutuhkan kehangatan saat ini.
__ADS_1
"Kamu kenapa menangis?" Air mataku tidak bisa dibendung terlalu lama. Akhirnya terjatuh juga membasahi pipi.
"Key bakalan berangkat besok ke luar kota. Ibu sama bapak baik-baik disini ya" ucapku yang terus menangis.
Berat rasanya meninggalkan keluarga ini, karena aku baru pertama kali keluar kota untuk bermain bola. Itupun jarak kota yang akan aku singgahi lumayan jauh.
"Kamu tidak usah mikirin ibu sama bapak, kami disini akan baik-baik saja. Dan kamu harus jaga kesehatan disana. Kalau bisa makan yang banyak jangan sampai sakit. Serta harus semangat membawa gelar juara untuk pulang" nasehat yang indah memasuki telingaku.
Setiap saat aku ingin bertanding, pasti ibu menyelipkan pesan dalam pelukan kehangatannya. Tidak pernah lupa mengingatkanku untuk menjaga kesehatan dimanapun dan kapanpun.
"Iya bu, Key akan selalu mendengarkan pesan dari ibu" sahutku dan memeluknya kembali.
Seharusnya tugas ini dilakukan oleh ibu kandungku. Tapi ia tidak mampu melakukannya hingga tugas ini dilakukan oleh orang lain yang jelas-jelas tidak memiliki hubungan darah dengan aku tapi memiliki kasih sayang seperti anaknya sendiri.
"Bu, apakah Key salah membenci ibu kandung key" aku memberanikan diri bertanya pada ibu. Aku sudah tidak kuat menahan beban rasa dalam dadaku.
"Maksud kamu?" Tanya ibu yang tidak mengerti apa yang aku maksud.
Kami berdua langsung duduk di sofa. Tanganku tetap merangkul dan bergelayut manja pada ibu. Mumpung tidak ada mbak Yeni dan mbak Nike jadi aku bebas meminta kasih sayang pada ibu.
Aku mencoba menjelaskan tentang perilaku ibu kandungku yang mencampakkan anaknya sendiri di tempat perbelanjaan yang sangat besar. Bahkan tidak mau menerimaku dengan baik serta menganggap ku sebagai orang lain.
Lalu aku bercerita juga tentang kejadian tadi saat sepulang sekolah. Ibu kandungku datang untuk berbicara padaku. Tapi rasanya sesak di dada mengungkapkan rasa kecewa yang membuat mulutku berkata "lebih baik aku tidak di lahirkan ke dunia"
"Kamu tidak boleh begitu, dia tetap ibu kandungmu" nasehat ibu sambil membelai lembut rambutku.
"Tapi ibu tidak jujur pada key, ibu pernah bilang kalau ibu kandung key tidak ingin bertemu dengan key karena takut suami barunya memarahinya. Bukankah begitu Bu?" Ibu langsung terdiam dengan pertanyaan ku selanjutnya.
"Darimana kamu tau?" Tanya ibu heran saat aku mengetahui itu semua. Aku menjelaskan bahwa malam itu aku tidak sengaja mendengar ibu berbicara dengan bapak tentang hal tersebut. Aku tau itu hal yang menyakitkan, tapi aku memilih diam agar ibu tidak merasa bersalah karena telah menyembunyikan kebenaran itu padaku.
Aku juga mengetahui semuanya, bahkan juga mengetahui saat ibu bertemu dengan ibu kandungku saat ia meletakkan uang saku yang sudah biasa dikirimkan setiap bulan melalui amplop putih dan selembar surat.
"Ibu jiga tidak berbicara saat ibu kandungku datang kesini" Ibu terdiam mendengarkan semua pernyataan ini.
Aku mengetahui semuanya tapi lebih baik memilih diam. Karena menurutku jika ibu kandungku mencintaiku, maka dia akan rela tidak menikah demi menjaga anaknya.
Tapi yang paling menyakitkan adalah, dia bersenang-senang dengan kemewahan bersama lelaki dan anaknya. Sedangkan aku terpuruk pilu dalam kegelapan di setiap malam.
Untung saja ada keluarga ibu yang setia menyayangiku tanpa pilih kasih. Memberikan kasih sayang yang tulus saat aku pikir hidupku telah hancur tanpa kasih sayang seorang ibu. Tapi Bu Yanti datang sebagai pahlawan yang sudah ku anggap surgaku sendiri.
"Maafin ibu ya nak, tidak jujur dengan itu semua" ibu menangis karena telah membohongiku.
"Tidak Bu, key tidak pernah marah dengan ibu. Key malah bersyukur karena telah mengetahui kenyataan yang pahit. Dan key janji akan mengubah kepahitan yang menjadi manis di masa depan" ucapku.
Tanganku sibuk menyeka air mata ibu karena tidak ingin melihatnya menangis. Apalagi setiap tetes dari matanya, adalah sebuah rasa sakit yang biasa aku rasakan juga. Jadi aku tidak ingin ibu menangis tentang kesalahan yang tidak ia perbuat.
Aku memeluk ibu kembali dengan erat. Berkata tidak ingin melepaskan rasa sayang yang ada. Bahkan tidak rela membagi ke orang lain tentang kasih sayang yang aku rasakan dengan kehangatan yang tulus hingga saat ini.
"Kamu kenapa nangis key? " Mbak Yeni yang jahil tiba-tiba datang dan diikuti oleh mbak Nike yang ada di belakangnya.
__ADS_1
"Gapapa, key cuman mau pamit aja soalnya besok ke luar kota"
"Hah? Berapa lama"
"Kan kemarin key sudah cerita, ahh mbak Yeni dan mbak Nike pasti tidak mendengarkan" Ucapku dengan kesal.
Padahal aku sudeh menceritakannya bahwa akan pergi ke luar kota untuk melakoni laga pertandingan bola kurang lebih selama 2 minggu. Dan sekarang mereka berdua bertanya lagi, pasti kemarin tidak mendengar pasti cetitaku.
"Udahlah, Key mau beresin baju dulu" Ucapku beranjak dari tempat duduk.
"Ibu sudah membereskan semua baju dan perlengkapanmu selama 2 minggu ke depan nak" Aku memberhentikan langkah setelah mendengar pernyataan ibu.
Aku kembali menatap ibu dengan tatapan menyelidik. Dan ibu meyakinkan bahwa semuanya sudah siap dan aku tinggal berangkat besok pagi. Kata ibu bapak yang akan mengantarkan aku ke tempat klub.
"Ibu, makasih banyak ya" Aku memeluk ibu kembali dan sanngat bahagia. Ibu tau apa yang aku butuhkan dan apa yang aku inginkan. Aku akan bekerja keras lagi untuk menjadi pemain hebat yang mampu membahagiakan ibu dan bapak.
"Jangan ke ibu saja dong, kita juga ikut beresin. Ya nggak mbak"
"Iya Yen" Ternyata mereka berdua menghilang dari rumah karena membelikan barang-barang yang aku perlukan seperti obat-obatan dan menyiapkan semuanya di rumahku.
"Iya mbak, makasih banyak" Aku langsung memeluk mereka berdua dengan erat. Aku bersyukur memiliki saudara yang sangat baik dan perhatian seperti mereka walaupun terkadang sering usil.
"Gak ada lagi yang aku usilin, dan gak ada lagi temanku bertengkar selama 2 minggu" Ucap mbak Yeni melepaskan pelukanku.
Matanya sendu dan bibirnya sedikit pilu. Butiran-butiran air mulai terjatuh dari matanya yang lugu. Aku juga ikut terharu dengan kebaikan yang mereka berdua lakukan.
"Iya key, mbak juga merasakan hal yang sama. Pasti rumah ini sepi, tidak ada lagi yang berisik. Tidak ada lagi yang manja ke ibu" Sambung merka Nike sambil menghempaskan nafas dengan kasar.
Aku tau kesedihan mereka bukan tanpa maksud. Kesedihan mereka memiliki dasar atas nama rindu. Aku sangat bersyukur jika mereka berdua merasakan kehilangan saat kepergianku ke luar kota. Berarti mbak Yeni dan mbak Nike sudah sangat menyayangiku.
"Tenang aja mbak, key bakalan menghubungi kalian semua" Ucapku yang disammbut pelukan keduanya dengan kehangatan. Lalu aku melihat bapak yang berdiri di tengah-tengah ruang jalan. Matanya menatapku dengan bangga, tapi bibirnya tidak pernah berkata apapun.
Aku menghampirinya, tatapan bapak yang sangat memiliki arti. Matanya seakan berkata bahwa aku adalah harapan terbaik untuk membawa kemengan agar membuat suatu kebanggan untuk ibu dan bapak.
Kedua anak bapak dan ibu sudah berhasil membahagiakan mereka yaitu mbak Yeni dan mbak Nike. Sedangkan aku yang masih belum membahagiakan mereka berdua.
"Pak, key mau pamit pergi besok" Pamit ku pada bapak. Matanya menatap bangga, bibirnya tersenyum kecil padaku.
"Berangkatlah nak, raihlah mimpimu setinggi-tingginya. Kelak kamu akan menjadi anak hebat" Ucap bapak yang menahan tangis.
Tangannya gemetar membelai lembut rambutku. Aku membalasnya dengan pelukan kasih sayang bapak. Apakah ini peran seorang bapak yang akan terdiam dalam seribu bahasa tapi didalam hatinya menyimpan kasih sayang yang begitu dalam.
"Terima kasih pak, telah menyayangi Key dengan sepenuh hati seperti anak bapak sendiri"
"Kamu adalah anugerah yang dikirim Tuhan, dan tugas kami sebagai orang tua adalah melindungi anak-anaknya" ucap bapak semakin membuatku hari. Kasih sayangnya begitu besar.
Bapakku adalah orang yang paling baik di dunia. Tidak pernah banyak berbicara tentang kehidupan, kasih sayang atau segalanya pada aku dan kedua anak kandunganya. Tapi ucapan satu kata mampu menceritakan semua hal yang disimpan rapat dalam jiwanya yang lembut.
"Dah yuk masuk, kamu harus tidur sini malam ini" Mbak yeni menyeret tanganku dan begitu juga dengan mbak Nike. Mereka tidak melepaskan aku untuk tidur di rumahku. Hanya saja aku diberikan kesempatan mengangkat barang yang akan aku bawa besok.
__ADS_1