
Coach Alam terus saja berbicara tentangkh pada David. Semua pemain mendengarkan sambil duduk. Seakan-akan aku dan David yang di sidang sekarang.
"Kamu tau, skil yang dia miliki sangat bagus padahal saya belum pernah mengajarkannya pada semua siswa"
"Bagus sekali kalau begitu coach" Sahut David saat coach Alam mencoba menjelaskannya.
"Dan key, kamu harus mengasah lebih banyak lagi skil kamu dengan David. Dan juga berlaku untuk kalian semua. Kalau perlu berlatihlah setiap hari bersamanya" ucapnya padaku dan semua pemain.
"Yeyyyy, saya sangat suka coach berlatih dengan cogan"
"Saya juga suka coach, kalau perlu selamanya sih"
Semuanya bersorak kegirangan hanya untuk berdekatan dengan David. Dasar teman-teman gesrek yang sudah terhipnotis oleh ketampanan David.
Sedangkan aku masih sangat kesal, jangankan berlatih setiap hari dengannya. Berlatih sehari saja rasanya sangat malas bila mengingat kejadian saat dia melemparkan buku itu dengan keras dan menghiraukan aku.
"Mohon maaf coach, saya sudah berlatih di SSB wanita dan saya juga sudah cukup di latih oleh coach Alam saja" Jawaban sebagai alasan agar tidak terlalu sering dekat dengan David lagi.
Tujuanku sekarang adalah menghindari David setelah tujuan pertamaku menantinya kini telah hangus. Ternyata benar kata orang, seiring berjalannya waktu semuanya akan berubah termasuk David.
"Ohh tidak, tidak, pemain hebat harus banyak menimba ilmu key" Aku diam mendengarkan nasehat coach Alam. Bagaimanapun juga dia pelatih terbaik yang dimiliki sekolah saat ini jadi aku tidak bisa menolaknya.
"Baiklah coach, saya akan berlatih lebih giat lagi"
"Bagus, sekarang kembali ke barisanmu dan kita akan berdoa sebelum melakukan latihan hari ini"
Aku berjalan ke barisan belakang dan bergegas duduk sambil memberikan wajah kesal saat menatap David. Sedangkan dia masih sama, kembali menatapku dengan tatapan dingin seperti es batu. Dengan cepat aku menundukkan kepala seraya berdoa untuk memulai latihan hari ini.
Berdoa telah selesai, latihan pertama adalam lemanasan fisik bagi pemain agar tidak kram untuk latihan. Pemanasan yang dilakukan juga dipimpin oleh David. Dia mengajarkan pemanasan yang dilakukan pada saat diluar negeri dan kami semua mengikutinya.
Sekarang sudah saatnya untuk berlatih. Dia akan melatih beberapa tembakan pada gawang atau bisa disebut latihan menendang untuk finalty. Kemudian latihan untuk melakukan gocekan pada bola serta membawa bola melekat di kaki.
"Key, kemarilah"
"Siap coach"
"Kenapa kamu latihan tidak energik seperti biasanya? " sejenak aku terdiam.
"Hmm, mungkin karena cidera kemarin yang dapat mempengaruhi permaian bola saya coach" Coach Alam mengangguk dan mengerti apa yang aku jelaskan. Memang setiap pemain yang cidera harus bekerja dengan keras untuk mengembalikan performa terbaiknya.
"Oke, saya sudah mengambil keputusan dari kejadian yang kamu alami" Aku tidak tau keputusan apa yang sudah diambil. Hanya bisa berharap semoga keputusan itu tidak merugikan diriku. Aku juga takut bila keputusannya adalah mengeluarkan aku dari tim. Oh tidak, tidak, pikirku terlalu negatif untuk itu.
"Kamu akan nerlatih dengan David di ujung sana"
"Hah, berdua dengan dia? Mengapa tidak dengan coach Alam saja" Tanyaku heran karena tiba-tiba aku dipasangkan berlatih dengan David. Benar-benar kejutan yang mencengangkan.
"Tidak, tidak, saya hanya ingin kamu menyerap ilmu yang David miliki di luar negeri. Biar kamu bisa kembali ke performa yang lebih baik lagi" Keputusan macam apa ini, aku yang ingin menghindari David malah harus berdekatan dengan dia lagi.
Jika David datang lalu menemuiku di sekolah ini, mungkin hari ini aku sangat senang karena berlatih dengannya. Tapi sekarang berbeda suasana, aku kesal dengan David. Dan aku tidak tau apakah aku membencinya, setelah dia melemparkan buku dan mengatakan bahwa tidak mengenaliku.
Titik itu sangat menyakitkan vid, andai kamu tau itu sangat sakit sekali. Bahkan melupakanmu adalah cara terbaik untuk membuat hatiku tenang. Dan sekarang cara terbaik itu dipatahkan dengan kenyataan harus berlatih bersamamu.
Aku takut kembali mengingat masa bahagia dulu saat kita berlatih bersama. Karena saat ini mungkin sudah waktunya kita hapus masa lalu itu.
"Wahhh, enak banget key coach. Saya juga mau" Sahut Mega sambil tertawa kecil
"Mendingan kamu saja yang berlatih dengannya Meg" Teriakku padanya.
"Heh, sudah key ayo berlatih" Ucap coach Alam
"Key kalau gak mau kasih aku saja" Sahut Ika dari kejauhan dan meringis geli.
"Ini ambil, aku tidak mau hehehehe" Berpura-pura tertawa agar tidak stres berlatih dengannya.
"Ayoooo key, astaga malah bercanda"
__ADS_1
"Aduh, aduh sakit coach. Nanti telinga saya copot gimana kan tidak ada gantinya" Dengan ringannya tangan coach Alam menjewer telingaku dan membuat semua teman-teman tertawa padaku.
Bukannya berlatih bola, tapi dia menyuruhku untuk berlari kecil. Katanya sebagai pemanasan awal untuk memulihkan gerak di kakiku. Aku tidak tau apa yang dia lakukan tapi menurut adalah cara tersendiri untukku. Mungkin itu yang terbaik jadi aku mengitunya saja.
"Bagakamana bisa kakimu cidera? "
"Bukan urusanmu" ketusku menjawab dengan singkat.
"Itu urusanku, jadi aku bisa tau bagaimana cara memulihkannya 100% agar kamu bisa berlatih dan bermain dengan baik" Dengan tatapannya yang dingin, tidak ada senyum bahkan bicara bagai seorang raja. Dia pikir aku tidak bisa begitu, aku juga bisa jutek padanya tanpa harus tersenyum dan tertawa seperti dulu.
"Ayo latihan dengan bola, seperti dulu" Aku langsung melotot padanya. Sepertinya dia keceplosan membicarakan latihan tentang dulu.
"Dulu? Aku baru kenal kamu kok" Sahut ku, karena David yang aku kenal dulu adalah sahabatku. Dan David yang ini aku baru mengenali sikapnya.
"Maksudku kamu berlatih seperti dulu yang diajarkan oleh coach Alam" Aku tau bukan itu maksudmu vid, hanya saja kamu mencoba menutupinya. Aku langsung bergegas mengambil bola tanpa perkataan apapun padanya.
Latihan ini sama saja dengan latihan yang dulu tidak ada bedanya. Hanya saja dia menambahkan sedikit bumbu yang dia dapatkan dari luar negeri. Ada beberapa latihan yang belum sama sekali aku coba baik dari David yang dulu ataupun dari pelatih.
Aku berlatih dengannya, sedangkan teman-teman ku berlatih bersama coach Alam. Katanya aku beruntung berlatih dengan David, tapi menurutku tidak. Meskipun wajahnya tampan, tapi hatinya buruk. Menyakitiku dengan menantinya beberapa tahun yang panjang, lalu datang dan melupakanku dengan sengaja.
"Oke semua, latihan hari ini kita akhiri dan lanjut di hari selanjutnya" Akhirnya berakhir sudah latihan kami. Waktunya untuk pulang ke rumah dan beristirahat dengan tenang tanpa David.
"Baik coach" Aku menjawabnya dengan senang.
"Key, gimana latihan sama dia enak gak? " Dengan rasa penasaran Rega menanyai ku saat kami berada di ruang ganti.
"Biasa aja ga, palingan cuman ada beberapa hal yang ditambahkan untuk kepulihan kakiku" Sedikit menjelaskan padanya, tapi sebenarnya malas membicarakan dia.
"Key, key, pasti dia asik orangnya ya" Tiba-tiba Ika juga mendekat dengan rasa penasaran nya.
"Nggak juga, biasa saja"
"Key pasti dia ganteng banget ya" Mega juga mendekatiku dan memuji-mujinya
"Ah key, padahal belum selesai kami bertanya tentangnya" Wajahnya menampakkan rasa kecewa. Tapi aku bodo amat dengan orang yang bernama David.
"Ayo pulang, kalian mau nginep apa"
"Iya key, iya sabar dikit napa" Kami bergegas pulang dan meninggalkan ruang ganti. Mereka pulang dengan motor masing-masing. Aku ingin bonceng dengan Rega ternyata dia berboncengan dengan saudaranya yang baru ikut ekstra basket.
Sepertinya aku harus menumpang kak Dika setiap hari nih. Tapi harus bilang ke Yuri dulu kali ya takutnya ada kesalahpahaman. Kepalaku terus melihat kiri kanan tapi tidak melihat kak Dika. Aku tidak melihat kak Dika, biasanya ada tapi sekarang tidak ada.
"Kak, kak, tunggu"
"Iya kenapa? "
"Liat kak Dika gak? "
"Dia libur latihan hari ini key"
"Ohhh, makasih banyak ya kak" Aku bertanya pada teman basket kak Dika ternyata dia absen dan tidak latihan jari ini. Sepertinya aku harus menggunakan ojek online nih.
*tinnnn, tinnnnn*
"Key, ayo naik"
"Hah naik? " Aku terkejut saat kak Doni tiba-tiba datang dan menyuruhku untuk naik ke motornya.
"Tadikan aku sudah bilang kalau kamu harus pulang denganku"
"Aku kan tidak bilang iya " Sungguh kesal aku melihat Doni memaksa.
Tapi saat aku melihat sekeliling sudah kosong. Kalo mau pesan ojek online harus menunggu dulu. Dan sekali lagi aku menoleh ke belakang hanya ada David menaiki sepeda motornya. Dia menatapku dan begitu sebaliknya aku menatapnya juga. Dengan terpaksa aku ikut bersama Doni dan pulang bersamanya. Lagipula ini lebih baik daripada harus berurusan dengan David.
"Ayo deh"
__ADS_1
"Nah gitu dong" Pandanganku sesekali menoleh ke belakang menatap David lalu kami pergi berlalu meninggalkannya.
"Key, kamu itu memiliki skil yang bagus dan kamu juga cantik"
"Hah, maaf aku tidak mendengarnya. Suara sepeda motor bising sekali Don" Ucapku karena malas mendengar percakapan dari Doni. Biarlah dia bicara sendiri tanpa aku hiraukan.
Di dalam perjalanan Doni selalu berbicara padaku. Tapi aku hanya menjawabnya iya, tidak dan maaf aku tidak mendengarnya. Lagipula pikiranku bingung entah berputar dimana. Sepertinya perjalannaku juga tidak fokus seperti biasa. Apalagi harus berfikir tentang permainan bola dan David lagi. Bosan dan sungguh bosan sekali.
"Berhenti don"
*crittttty* Doni memberhentikan sepedanya dan menepi di trotoar.
"Kenapa key? " Aku tidak menjawabnya dan langsung pergi ke arah mobil yang menarik pandanganku. Aku bergegas menghampiri mobil yang berhenti di jalan seberang. Aku bergegas cepat agar tidak ketinggalan.
"Key tunggu" Teriakan Doni tidak aku perdulikan lagi. Yang paling penting secepat mungkin aku bisa menghampiri mobil itu.
"Om keluar om" Aku berdiri di depan mobilnya yang ingin berjalan.
*tinnnnnn* mobil itu terus saja dia jalankan. Tapi dengan ego aku menghalangnya dari depan.
"Apa maumu, kamu mau mati ya" Teriaknya dari dalam mobil, dia mengendarai mobil bersama seorang perempuan di dalam
"Om tolong, beri tau dimana ibuku om" Mataku memohon belas kasih padanya untuk memberitahu keberadaan ibu.
*tinnnnnn, tinnnnnn*
Dia terus membunyikan klakson mobil dan berharap aku mundur dari sana. Tapi aku tidak akan mundur sebelum dia memberikan jawabannya.
"Kalau kamu tidak minggir, aku akan menabrakmu" Ancam nya padaku
"Om tolong kasih aku petunjuk keberadaan ibu"
"Pergilah cepat"
*bremmmm, bremmmmm*dia terus saja menginjak pedal gas dan ingin melajukan mobilnya tanpa menghiraukan aku.
"Awas key"
*bruk* aku terjatuh di trotoar dengan luka yang sedikit ringan.
"Kamu gapapa? " Aku tercengang saat tau David yang menolongku bukan Doni. Padahal aku berangkat dengan Doni tapi kenapa harus David yang menolong. Sedangkan Doni baru saja berjalan ke arahku.
"Bukan urusanmu, mengapa kamu membantuku bukankah kita tidak saling kenal" Ocehan padanya sambil terbaring di trotoar
"Bodoh sekali mau bunuh diri seperti itu, jangan mati konyol lah. Minimal tobat dulu kek" Sahutnya yang membuat aku semakin kesal.
"Bukan urusanmu, mau aku bunuh diri atau apapun bukan urusanmu" Aku kesal dan langsung berdiri. Aku tidak peduli walaupun dia juga terjatuh. Tanganku tergores luka kerasnya jalanan. Dan itupun aku tidak peduli karena hanya memikirkan om itu.
Aku tidak tau namanya, tapi dia ada hubungannya dengan ibu. Dan jika diingat, dia juga yang sudah menamparku, membanting ku hingga memberikn bekas luka pada saat itu. Keyakinanku sangat besar bahwa dia ada hubungannya dengan kepergian ibu. dan tidak mungkin bila dia tidak mengetahui tentang keberadaan ibu saat ini.
"Aku harus menemukan orang itu, karena dia pasti memiliki hubungan dengan kepergian ibu" Batinku sambil melihat laju mobil yang sudah teramat jauh dari jangkauan netraku.
"Key kamu tidak apa-apa" Doni yang baru datang juga membuatku kesal. Sudah kesal karena om itu, lalu kesal dengan David dan kesal juga dengan Doni.
"Mengapa kamu baru kesini, bodoh" Teriakku kesal padanya. Dan David juga masih berdiri di sampingku.
"Maaf, tadi aku lagi ngecek sepeda key" Alasan yang tidak masuk akal dan tidak bisa di Terima.
"Diamlah" Bentakku padanya.
"Key mau kemana? " Aku berjalan dan meninggalkan mereka berdua disana. Aku tau hari sudah malam tapi aku tidak peduli meskipun berjalan sendiri. Setelah agak jauh aku langsung berlari, lagian tempat kejadian tadi juga agak dekat dengan halte dan tempat Riki berjualan.
Aku terus saja berlari dengan sekuat tenaga tanpa menghiraukan apapun. Aku luapkan kekesalan itu dengan lari yang cukup kencang. Aku meninggalkan Doni dan David disana berdua. Tidak peduli apa yang mereka lakukan yang penting aku berlari. Dan akhirnya tiba juga di rumah.
__ADS_1