
Tanganku terus saja sibuk mencorat coret buku dengan menggambar beberapa trik tentang bola. Sedangkan Yuri masih saja mentapku karena dia juga duduk di depan bangku yang aku duduki.
"Key"
"Hmmm" Wajahnya memelas, tapi aku lebih baik memilih diam. Sebenarnya kasihan juga anak ini tidak punya teman. Biarlah, aku mau melihat kedepannya. Dan aku akan mengajak Yuri berubah menjadi siswa yang lebih baik dari sebelumnya.
"Mau nggak key? " Matanya sudah berkaca-laca padahal belum aku pukul.
"Aku mau-mau saja asalkan kamu janji untuk meminta maaf pada teman-teman dari SMP kita dulu yang pernah kamu bully"
"Ta,,, tapi key"
"Kalau gak mau ya sudah" Aku meninggalkannya dan bergegas menuju kantin untuk makan.
"Oke aku mau" Yuri terus mengikutiku hingga sampai dikantin.
Di perjalanan Yuri selalu mengikuti dan berbicara akan melakukan hal yang aku ucapkan. Sepertinya dia akan benar-benar berubah, tapi aku masih belum yakin jika tidak ada bukti. Yaitu dengan cara meminta maaf pada teman SMP yang dulu dan sekolah disini.
Karena geng yuri sudah dikenal sebagai geng pembully. Tapi sayangnya belum ada yang berani untuk melaporkan karena mamanya adalah salah satu pemegang donasi terbesar, kecuali aku yang melawannya saat itu hingga Yuri terdiam.
"Enak aja kalian makan di tempatku, sana makan di pojokan tuh"
"Tapi kantin ini tempat makan bersama kak, kenapa tidak boleh" Keributan sudah terdengar jelas. Padahal aku masih ada di pintu kantin dan belum masuk. Ternyata Ana lagi, Ana lagi yang berbuat ulah serta keributan.
"Nih rasain" Tangannya menumpahkn gelas bersisi es ke kepala salah satu siswa yang duduk di meja makan itu.
Tanganku sangat gatal bila melihat kejadian seperti ini. Semua senior malah asik tertawa melihat dia yang tertindas. Sedangkan anak itu hanya terdiam membisu menahan malu. Padahal mereka hanya mampir untuk makan bukan untuk berbuat ulah.
*swaaarrr*
"Aduhhh, dinginn"
"Dingin ya kak? makanya otak yang panas harus segera didinginkan" tanganku sangat ringan menuangkan air es yang sama tepat di kepalanya. Dia menjerit padaku tapi semua siswa menatap sambil tertawa. Gemuruh di kantin semakin ramai saat melihat Ana tersiram dan semua bajunya basah.
"Kurang ajar sekali kamu ya" Tangannya ingin menampar, tapi sayang sudah aku tahan. Jadi dia hanya bisa diam terpaku karena tangannya tidak bisa bergerak dengan leluasa.
"Makanya kak, kursi kan masih banyak. Bisa kan duduk di tempat lain" Tatapanku tertuju padanya dengan senyuman mengejek. Senang melihat orang yang suka mempermalukan orang tapi pada akhirnya malah dia yang menjadi malu.
"Eh kamu tu anak baru, bisa-bisanya ngelawan sama senior. Uhhh" Celoteh teman Ana sangat membuat aku kesal.
Ternyata dia senior yang tadi menghukumku untuk lari. Sepertinya dia sudah bersekongkol dengan Ana untuk mengerjai ku. Tangannya mencoba untuk memukulku juga dan ujung-ujungnya tidak berhasil karena aku lebih tinggi darinya jadi sangat mudah untuk menahan tangan yang dia lemparkan keras padaku.
"Senior itu memberikan tindakan yang bisa di contoh oleh juniro, jadi kalo junior berbuat buruk berarti seniornya juga buruk"
"Aw, sakit issshh" Aku melemparkan tangan keduanya dengan keras hingga mereka merasa kesakitan.
"Kamu kalau dirundung seperti tadi jangan takut, karena kita sama-sama manusia. Ok? " Ucapku pada siswi yang disiram tadi.
Dia tersenyum dan mengangguk mengerti tentang perkataanku. Aku menyuruhnya untuk segera membersihkan baju dia yang basah karena ulah Ana agar dirinya tidak masuk angin.
"Awas saja ya, akan aku balas semuanya" Ana dan temannya bergegas pergi meninggalkan kantin.
Semua senior atau junior malah bertepuk tangan melihat kelakuanku. Sungguh sekolah yang aneh. Aku hanya tersenyum melihat mereka berlalu. Dan dengan santai aku memesan bakso, Yuri juga memesannya dan makan di depanku.
"Gila, hebat banget key. Padahal kamu masih junior tapi bisa melawan senior" Puji nya padaku dengan tatapan bangga. Padahal itu hal biasa yang harus dilakukan agar kita tidak selalu ditindas dimanapun dan kapanpun itu.
"Kamu mau makan apa bicara?"
"Iya, iya, aku mau makan" Ucap Yuri sambil melahap bakso dengan tenang bersamaku. Ditemani segelas air jeruk yang segar.
*teetttt* setelah makan selesai, aku dan Yuri bergegas pergi ke kelas untuk masuk dan mengikuti arahan dari bu Susi.
"Kamu beneran mau berubah Yuri? " Tanyaku pada Yuri saat kami berjalan di lorong kelas.
"Iya key, aku juga mau berteman dengan kamu" Suara yuri sangat semangat serta berantusias untuk berteman denganku dan berubah. Sepertinya dia memang benar-benar ingin berubah menjadi orang yang lebih baik dari kemarin.
__ADS_1
"Baiklah, ikuti syarat pertama yang aku berikan tadi"
"Minta maaf kan key? " Wajahnya tersenyum lebar menatapku. Aku hanya mengangguk sebagai isyarat.
"Oke, bakalan aku laksanakan"
"Ayo masuk kelas dulu, bel sudah berbunyi pasti bu Susi bakal segera datang.
Di dalam kelas semua siswa sudah lengkap. Beberapa menit kemudian bu Susi masuk melakukan pengenalan pada seluruh siswa dan yang pengenalan hal lainnya. Serta beberapa arahan untuk seluruh siswa agar mentaari peraturan sekolah.
Sedangkan pikiranku tidak fokus karena terus memikirkan keadaan Ari. Siang ini aku bakalan menjenguknya. Sampai jam pulang, fokusku masih teralihkan. Entah tentang bola, entah tentang Ari, atau tentang senior yang suka ngebully.
"Anak-anak, besok adalah terakhir MOS. Jadi saya harap kalian senang ya dengan sekolah ini"
"Baik bu" Sebenarnya aku tidak tau tentang MOS yang dilaksanakan oleh sekolah ini.
Baru saja aku masuk sudah disuruh melakukan tindakan seperti militer. Di hari kedua ada pembullyan padaku atau sama teman-teman di kantin. Tapi pihak sekolah tidak ada yang menganggap dengan keseriusan.
Bahkan menurutku MOS atau yang dikenal dengan masa pengenalan tentang sekolah tidak ada artinya. Mereka hanya menjadi pelampiasan senior saja. Yang lemah akan menjadi korban dan yang kuat akan dijadikan tersangka kecuali senior akan dijadikan pahlawan.
*brak, brak, brak* Saat jam belajar telah berakhir, aku langsung pergi dari kelas dan berlari untuk menuju ke rumah sakit.
Aku tidak peduli siapapun yang penting langkah ini cepat sampai ke rumah sakit. Menunggu angkot di halte dengan tujuan ke rumah sakit yang Ari tempati. Beberapa menit kemudian angkot itu datang dan aku langsung menaikinya. Di dalam angkot ada beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak yang sedang merokok. Aku hanya diam dan fokus dalam perjalanan.
"Andai saja aku punya motor pasti enak kemana-mana pakai motor" Gumamku dalam hati sambil melihat orang-orang yang berkendara menggunakan motor.
"Pak kiri pak" Tanganku mengetuk angkut sebagai isyarat bahwa aku berhenti disini. Mobil di hentikan, aku turun lalu bergegas ingin masuk ke rumah sakit. Tapi sepertinya ada yang mengikuti dan aku tidak tau siapa itu. Sudahlah, mungkin hanya pikiranku saja yang merasakan hal seperti itu. Semakin cepat aku melangkah maka semakin cepat juga aku sampai ke kamar Ari.
*klek*
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam, eh nak key"
"Tante" Aku bersalaman pada mama Ari yang sedang menjaga disana. wajahnya terlihat kelelahan tapi dia mencoba tersenyum menyanbutku.
"Gapapa tante, biar Ari istirahat saja. Key duduk disini saja biar sekalian ngobrol dengan tante"
"Baiklah nak"
Karena Ari tertidur jadi aku hanya ngobrol dengan mamanya. Katanya Ari baik-baik saja, mungkin 2 atau 3 hari sudah boleh pulang. Keadannya semakin hari semakin baik. Aku mendengarkan penjelasan mama Ari dengan baik. Lama sekali aku berbincang-bincang dengan mama Ari hingga lupa waktu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore dan waktunya aku bergegas pulang.
"Tante key mau pamit pulang dulu ya, titip salam sama Ari kalau sudah bangun tan"
"Iya, kamu hati-hati"
"Iya tante" Aku berpamitan untuk pulang karena hari sudah hampir malam.
"Key tunggu, kamu naik apa? "
"Angkot tante"
"Baiklah hati-hati" sekali aku merasakan pelukan seorang ibu yang tulus. yaitu mamanya Ari.
Berjalan sendirian keluar dari rumah sakit. Menunggu angkot di pinggir jalan, rasanya lama sekali. Aku melihat kanan dan kiri tapi angkutan masih kosong. Tidak ada satupun yang lewat. Aku terus menunggu dengan sabar sambil bersenandung dalam hati untuk mengusir sumpek di kepalaku.
"Aaaaa" Seseorang dengan menggunakan motor menyerang ku dengan benda tajam. Tanganku tergores dan darah bercucuran.
"Hey berhenti" teriakku begitu kencang sehingga didengar juga oleh orang-orang disekitar dan mereka langsung mengejar pemotor tersebut.
Menggunakan baju hitam dan helm serta masker semuanya serba hitam. Bahkan motornya tidak ada plat nomor. Aku mencoba mengingat motor tersebut, meskipun sudah berlalu tapi aku masih mengingat ciri-ciri motor tersebut. Sepertinya ini sudah dia rencanakan untuk melukai tanganku. Untung saja hanya tangan bukan perut yang tertusuk, ya meskipun darah berceceran membasahi tanganku.
"Dek kamu tidak apa-apa? "
"Hanya tangan saya yang terluka bu"
__ADS_1
"Dek ayo segera berobat" aku mengangguk saya mendengar ucapan ibu-ibu disebelahku yang panik saat melihat darah yang terus mengalir tanpa henti.
Sepertinya goresan ini terlalu dalam. Sangat perih aku rasakan tapi mencoba bertahan. Ibu-ibu itu segera membawaku masuk ke rumah sakit agar segera ditangani oleh dokter.
"Bu makasih banyak ya"
"Jangan Terima kasih dulu, kita belum sampai ke ruangan dokter" Wajahnya terus panik melihatku seakan dia melihat anaknya sendiri yang terluka, padahal aku biasa saja meskipun sudah banyak darah yang terbuang sia-sia.
"Dok tolong dok tolong" Suara teriakan ibu itu bergemuruh sampai para dokter juga menjadi bingung. Sedangkan aku menatap semua dengan heran. Dokter juga malah mondar mandir kebingungan. Dan akhirnya mereka langsung menangani ku.
Benar saja, setelah dokter memerikasanya ternyata goresan itu cukup dalam. Sehingga harus dibersihkan dan dijahit agar tidak terjadi infeksi. Dokter langsung menangani sedangkan ibu-ibu yang tadi masih ada disampingku dan ikut mendampingi. Mungkin mereka kira itu ibu kandungku makanya diperbolehkan untuk masuk, padahal aku sama sekali tidak mengenalnya tapi hatinya putih sebersih malaikat.
"Tahan sedikit ya, saya mau membersihkan lukanya" Tangan dokter sudah memegang alkohol dan kapas untuk membersihkan tanganku.
"Pelan-pelan ya dok"
"Iya tenang saja ya dek" Dengan sabar dokter menjawabnya serta melemparkan senyum agar aku tidak ketakutan.
Dokter dan beberapa perawat melakukan dengan baik dan nyaman. Sampai aku tidak ngerasa bahwa pengobatan lenganku sudah selesai. Tanganku sudah dijahit dan diperban.
"Alhamdulillah sudah selesai"
"Makasih banyak dok"
"Dokter, diamana keponakan saya? " Mama ari tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Aku terkejut melihat wajahnya yang begitu khawatir.
"Tante" Ucapku pelan.
"Key, kenapa bisa begini? " Ucapnya sambil melihat tanganku yang sudah diperban.
Lalu ibu-ibu itu segera datang menghampiri mamanya Ari dan menjelaskan semua kejadiannya. Kemudian ibu-ibu berpamitan pulang setelah mamanya Ari mengaku sebagai tanteku. Ternyata tante itu namanya tante rita. Aku sangat berterima kasih padanya karena sudah membantuku membawa ke dokter. Lalu dia bergegas pulang dan meninggalkan aku bersama mamanya ari.
"Makasih banyak ya bu" Ucapku dengan sopan sambil menciun tangannya walaupun tanganku masih susah untuk di Tekuk.
"Iya sama-sama nak, semoga kamu cepat sembuh ya" Tangannya yang lembut memeluk serta mengelus rambutku. Aku mengangguk mengerti lalu dia bergegas pergi.
Aku berjalan keluar dari ruangan bersama mamanya Ari.
"Kenapa bisa begini key? "
"Key tidak tau tante, sepertinya ada yang memiliki dendam karena pemotor itu dengan sengaja melesatkan senjata tajam nya padaku.
" Siapa dia key? "
"Key tidak tau, karena semuanya tertutup bahkan motornya tidak ada identitasnya tante"
"Ini tidak boleh dibiarkan, secepatnya tante akan usut tuntas key"
"Makasih banyak ya tante" Tangannya memelukku seperti seorang ibu yang memeluk anaknya.
Mamanya ari bercerita bahwa dia tadi mendengar teriakan dan ada yang mengatakan bahwa ada anak SMA yang dilukai menggunakan senjata tajam. Lalu dia bergegas pergi ke ruang perawatan, perasaannya menjadi tidak nyaman. pikiranya berkata bahwa anak itu adalah aku.
Dan benar saja ternyata aku yang terluka. Mama ari sangat baik karena dia yang membayar semua perawatanku tadi. Allah sangat baik dan selalu mengirim orang-orang baik untuk ada disekitarku. Dimanapun dan kapanpun yang berada atas kehendaknya.
Akhirnya mama Ari melarang ku untuk pulang sendiri dan diantarkan oleh supir. Aku juga berpesan padanya agar tidak memberitahu tentang kejadian ini pada Ari takutnya dia terkejut. Karena pada saat ini keadaannya belum stabil, dan aku tidak ingin Ari memiliki pikiran yang berat karena kejadian hari ini.
__ADS_1
~~~BERSAMBUNG~~~