
LANJUT POV ANI
Aku tidak bisa memalingkan wajah saat melihat orang yang tidak dikenal masuk ke dalam tempat latihan dan berpakaian dengan aneh. Apalagi aku sendirian saat ini.
"Siapa orang itu, mengapa menuju kesini" Mataku curiga saat melihat 2 orang itu mendekat ke arahku.
"Hmmm, permisi dek. Apakah kamu tau alamat ini? " Mereka memberikan selembar kertas padaku. Aku membacanya, siapa tau alamat itu aku kenali.
"Oh ini, ada di.... "
*plak* benda yang sangat keras memukul kepalaku, rasanya sangat sakit sekali. Kepalaku sangat pusing dan seketika semuanya gelap.
"Aduhhh, dimana ini" Aku membuka mata secara perlahan. Ternyata aku udah ada di sebuah mobil dalam keadaan terikat dan mulut di bungkam dengan kain.
"Wah.. Wah... Wah, sudah bangun rupanya bos"
"Cepat sekali dia siuman. Padahal tanganku sudah sangat keras memukulnya hingga dia pingsan"
Aku terkejut mendengar percakapan mereka. Sepertinya orang ini adalah penculik yang berusaha untuk menculik ku saat ini.
"Si bre lama sekali beli minum, mana mulutku kering sekali"
"Oya bos, apalagi kita harus buru-buru untuk membuangnya" Percakapan mereka di dalam mobil.
Jantungku berdegup dengan kencang saat mereka mengatakan akan membuangku. Aku sangat takut dan tubuhku tidak bisa berbuat apapun. Aku menatap ke jendela berharap melihat seseorang yang mendekat.
Pantas saja mereka berhasil masuk, karena satpam yang menjaga sedang tertidur. Aku tidak tau dia tertidur ataukah sudah dipukul oleh komplotan ini.
"Key, itu Key" Mataku terbelalak saat melihat Key yang ada di luar dan ingin masuk kembali ke tempat latihan
Aku mencari cara agar Key bisa menemukanku yang berada di dalam mobil ini. Tanganku dan mulut tidak bisa digunakan. Maka aku harus menggunakan kepala untuk memanggil Key.
*brak, brak, brak*
"Hmmm, hmmmm"
"Hey, bodoh. Jangan sampai dia bersuara. Kalau tidak rencana kita akan gagal.
" Maaf bos maaf"
"Cepat bungkam dia" Tangan kekar itu dengan kasar menahanku agar tidak menimbulkan suara. Tubuhku terus memberontak agar Key mendengarkan suara ini dan menuju ke arah mobil ini.
Suara keributan antara aku dan dirinya mengundang Key mendekat ke mobil ini. Mataku melotot dan seakan ingin teriak tapi rasanya sangat susah.
"Key kemarilah, ketuklah pintunya Key" Suara haru dari dalam hati. Tapi Key tidak bisa mendengarnya.
*tok, tok, tok*
"Permisi" Jendela mobil terbuka setengah.
Aku melihat Key tapi sayang penjahat ini menahanku hingga tubuh ini tersungkur ke bawah. Kakinya sengaja menginjak ku dengan keras hingga aku terjatuh ke bawah.
"Ada apa dik? "
"Apakah ini dompet om? " Sepertinya Key membawa dompet si penculik yang terjatuh.
"Oh iya dek, makasih banyak ya"
"Iya om sama-sama, lain kali dompetnya jangan sampai terjatuh lagi. Bahaya banyak penjahat om" Ucap Key dari luar.
Saat ini aku sudah pasrah karena tidak bisa berbuat apapun setelah itu pintu ditutup dan seorang teman yang membeli minuman sudah datang. Lalu mobil ini melaju kencang entah kemana arahnya aku tidak tau.
POV ANI SELESAI
"Aduh, Ani kemana ya. Tempat ini sudah kosong. Mungkin ayahnya sudah menjemput Ani" Tempat ini sudah kosong dan jejak Ani juga sudah tidak terlihat.
Akhirnya aku kembali masuk ke mobil Ari dengan wajah lesu. Kenapa bisa aku lupa menanyakan hal penting itu pada Ani. Padahal aku membutuhkan banyak informasi karena akhir-akhir ini banyak orang jahat berkeliaran di kota.
"Gimana Key? Apakah sudah bertemu Ani? "
"Tidak, dia sudah pergi. Mungkin ayahnya sudah menjemputnya. Ayo kita pergi saja" Mobil melaju ke tempat yang direncanakan oleh Yuri dan Ari.
"Oh iya Key, mobil tadi itu siapa? "
"Aku menemukan dompet milik pengemudi mobil itu. Lalu aku memberinya" Jelasku.
__ADS_1
"Aku pikir mereka penjahat atau penculik, dan kamu salah satu komplotannya"
"Hahahhaha" Tertawa dengan riang dan sangat keras. Selalu saja ada hal yang dibicarakan walaupun tidak penting.
Dalam perjalanan, aku terdiam karena mengingat ayah. Wajahku menatap pemandangan di sepanjang jalan. Indah untuk di lihat tapi tidak untuk di rasakan.
"David" Aku baru ingat tidak membuka ponsel dari tadi. Kesibukan membuatku lupa bahwa aku mengirim pesan pada David dan berharap dia membalasnya.
Benar saja, pesanku sudah di balas oleh David. Dia berkata bahwa dirinya baik-baik saja. Dan benar bahwa besok akan diadakan pertandingan perdana Indonesia vs singapura. Aku senang melihatnya, harapanku masih sama semoga David menang dan menjadi pemain hebat.
"Key"
"Hmmm"
"Apakah kamu lelah? " Tanya Ari dan aku mengangguk lalu terdiam kembali.
"Ini minumlah, untuk menghilangkan lelahmu" Aku mengambil sebotol air jeruk yang diberikan oleh Yuri. Merasakan manis setiap tegukan untuk menyegarkan tubuh dan jiwa.
Entah kenapa pikiranku masih mengejar kak Dika dan ayah. Aku tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan. Lebih baik aku memberikan dukungan pada David agar dia bisa bermain dengan baik di turnamen nanti.
"Vid, bermainlah dengan baik. Aku akan selalu mendoakan dan mendukungmu walau dari jauh" (Pesan terkirim)
Kembali mengirimkan pesan padanya agar semangat yang ada dalam tubuh David semakin membara. Aku ingin melihatnya bermain gacor, kalau perlu dia mencetak gol lebih banyak.
"Aku masih menunggumu dengan setia vid, sampai kapanpun itu" Bibirku tersenyum sedikit. Menikmati dingin dari dalam mobil karena cuaca cukup mendung hari ini.
"Tutup matamu dulu" Perintah Yuri secara tiba-tiba. Dia menutup mataku dengan penutup kain. Katanya kejutan itu sudah semakin mendekat.
"Aduhh, kalian ini ada-ada saja"
"Sudahlah diam, kamu harus menuruti perkataan kami kali ini"
"Baiklah, baiklah" Aku pasrah mengikuti semua skema dari mereka berdua.
Apalagi ulah yang akan mereka lakukan, aku tau pasti ada hal yang sangat indah disiapkan karena mereka selalu memiliki kejutan untukku dan selalu saja bisa membuatku bahagia dimanapun itu.
"Eh sebentar, tapi kejutan dalam rangka apa? " tanyaku kembali.
"Sudahlah diam, karena kejutan ini akan membuatmu senang"
"Ikuti aku" Yuri dan Ari menuntunku untuk keluar dari mobil. Dia memapah dan memberikan arahan agar aku tidak terjatuh.
"Pelan-pelan saja agar kakimu tidak tersandung"
"Baiklah, hidup kalian selalu saja ribet" Ocehan untuk mereka berdua.
"Nah sudah sampai" Aku tersenyum karena perjalanan sudah sampai. Jadi aku tidak perlu berjalan tertatih lagi.
Secara perlahan Yuri membuka penutup mata yang membalut netra ku. Setelah semua terbuka penuh, aku terkejut bukan main melihat pemandangan yang ada di depan mata.
"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun" Nyanyian itu terdengar sumbang tapi lucu. Masuk ke dalam telinga yang membuat air mataku terjatuh haru.
Karena terlalu banyak masalah yang ada, aku lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunku. Begitu sibuk hidupku dengan giliran masalah yang ada, hingga aku lupa bahwa umurku sudah sepenuhnya berumur 17 tahun.
"Ari, Yuri, Terima kasih banyak. Hikss...... Hiksss..." Aku menangis sambil memeluk Ari dan Yuri. Tangisan ini sekaligus aku luapkan tentang rasa sakit yang belum sempat aku ceritakan pada mereka berdua.
"Selamat ulang tahun ya sahabatku"
"Selamat ulang tahun, semoga sehat selalu"
Pelukan erat kami bertiga seperti teletabis tidak bisa di lepaskan. Air mataku membajiri baju mereka berdua. Aku tertegun dan tidak bisa berkata apapun.
"Sudahlah jangan menangis, kami lakukan ini semua hanya untukmu"
"Terima kasih banyak"
Dekorasi yang indah dengan suasana tepi pantai. Kue ulang tahun yang cukup besar. Seumur-umur aku belum pernah merayakan pesta ulang tahun sebesar ini. Hatiku sangat senang tapi sulit untuk di ucapkan.
"Sekarang kamu hidup lilin dan berdoa. Tapi doanya pada sangat pencipta ya bukan pada lilin"
"Hahhahah" Tawa kami bertiga yang sangat kompak.
Yuri memegang kue dan Ari bertugas menyalakan lilin. Aku memejamkan mata sejenak, berbicara antara hati dengan langit. Berdoa dari beberapa urutan doa yang aku ucapkan karena sangat banyak.
"Sudah" Ucapku.
__ADS_1
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga"
"Fffhhhuuuh"
"Yeyeyeye yey" Kebahagiaan kecil tapi menurutku inilah kebahagiaan sebenarnya, karena setiap momen pasti akan ada kenangan yang terindah.
"Apaakh kamu lupa jika hari ini ulang tahunmu? "
"iya" sahut ku, sontak membuat Yuri dna ari tersenyum.
mungkin mereka mengerti tentang apa yang aku alami dan pikirkan saat ini. Sehingga membuat otak ini ini tidka berfikir jernih karena hal tersebut.
"Sebentar, aku dan Ari punya sesuatu untukmu" Yuri pergi mengambil sesuatu yang dia ucapkan.
"Nih buka"
"Buka aja Key, pasti kamu suka" Ari dan yuri sangat antusias agar aku segera membuka kado ini.
Tanganku sibuk membuka kotak kado ini. Ada banyak lapisan kertas di dalamnya, sepertinya Ari dan Yuri sengaja agar aku sibuk membukanya hingga lelah. Tapi aku tidak peduli, lembaran demi lembaran kertas pembungkus aku buka secara perlahan.
"Sial, kenapa lama sekali. Pasti kalian mengerjai diriku kan? " tanyaku pada mereka dengan tatapan curiga. Lalu mereka berdua hanya membalas dengan senyuman.
"Jersey timnas? " Mataku melotot lebar melihat apa yang ada di depan mataku. Sebuah jersey timnas yang asli sudah ada tepat di tanganku.
"Inikan sangat mahal" Jersey ini sangat mahal karena asli.
"Tidak kok, itu murah sekali untukmu sahabatku"
"Apakah kamu suka" Air mataku kembali menetes dan ingin mengatakan terima kasih yang sangat banyak pada mereka berdua. Aku langsung memeluknya tanpa sepatah kata lagi.
"Terima kasih" Jersey yang sangat aku idam-idamkan.
Aku ingin membelinya tapi rasanya uangku tidak cukup karena harus menabung untuk membayar uang pada ibu. Aku tidak ingin menghambur-hamburkan uang jadi aku memilih untuk menyimpan keinginan ini mendapatkan jersey asli.
"Sekarang waktunya kita senang-senang" Kami bertiga menikmati minuman dan makanan yang sudah dipesan. Tertawa bersama dan menari-nari sambil bernyanyi walau suaranya sangat memecah.
Tiba-tiba aku kembali mengingat ayah dan ibu. Kapan terakhir kita merayakan ulang tahunku dengan kasih sayang yang sangat besar. Bobo saksinya hingga sekarang.
Pikiran itu kembali pecah dalam otakku sehingga aku termenung menatap deburan ombak di tepi pantai. Burung-bueung berterbangan bebas di angkasa bersama sekelompok saudaranya. Begitu juga aku ingin seperti itu.
"Key, bengong aja" Gertakan tangan itu membuat aku terkejut dan membutarkan semua lamunanku.
"Aku tau kalau kamu sedang sedih, tapi aku juga tau jika kamu selalu menyimpan itu semua" Ucap ari.
Aku menatapnya sangat dalam, mungkin Ari bisa membaca dari mataku bahwa kesedihan saat ini begitu besar.
"Ayahmu dan saudaramu pergi ke luar negeri, mereka kembali meninggalkanmu sendiri di sini. Tapi kamu jangan khawatir bahwa aku akan selalu menjadi sahabat terbaik mu"
"Betul yang di ucap Ari, kemarin aku juga menangis saat kak Dika pergi. Tapi malamnya kak Dika ke rumah untuk pamit"
Aku terkejut mendegarkan perkataan Yuri. Bagaimana bisa kak Dika berpamitan ke Yuri sedangkan padaku dia tidak pamit walaupun hanya dalam pesan.
"Apa? " Mataku melotot pada turi seakan tidak percaya apa yang dilakukan kak Dika padaku.
"Tenang, tenang, aku akan menceritakan semua" Yuri kembali menemukan hatiku yang sedang emosi. Dia tau jika aku pasti akan marah bila mendengar hal tadi.
Yuri bercerita bahwa kak Dika takut melihat wajah kekecewaan yang diberikan olehku. Apalagi kak Dika sudah terlanjur sangat menyayangiku sebagai adiknya. Bagaimanapun kak Dika denganku adalah saudara tapi dia harus pergi tanpa pamit ke luar negeri.
Kak Dika memberitahu Yuri bahwa dia sangat menyayangiku lebih dari nyawanya sendiri. Tapi takdir berkata lain, ada hal yang tidak bisa dijelaskan oleh kak Dika padaku.
"Kenapa dia lebih memilih menceritakan itu padamu, tapi tidak denganku" Aku kembali menangis dan memeluk Yuri dengan sangat erat.
Walaupun kemarin aku menemuinya saat ingin pergi ke bandara, tapi rasa kecewa itu ada karena kak Dika tidak mengatakan pasti alasannya pergi ke luar negeri. Aku tau itu bukan karena pendidikan, mungkin ada hal yang terlalu banyak ia simpan.
"Ini ada surat untukmu dari kak Dika" Selembar surat diberikan padaku.
****
Hai adik cantik, pertemuan kita singkat banget ya. Padahal baru kemarin aku menemanimu di sekolah, tapi sekarang waktunya sudah tiba untuk aku pergi ke sana. Aku sangat menyayangimu Keyla, tapi aku harus pergi. Harapanku dari kemarin masih sama, semoga kamu menjadi anak baik dan selalu menjadi yang terbaik. Aku juga berharap kamu menjadi pemain timnas di masa depan. Bermainlah yang cantik agar kakakmu ini menonton dengan bangga.
Oh iya kakak cuman mau pesan bahwa kamu tidak boleh menjadi anak yang emosional. Jaga baik-baik emosimu agar tidak lekas tua ya. hmmm, rasanya ingin mengelus lembut kepalamu dan menjitaknya bila kamu nakal
****
Pesan yang sangat singkat, tapi mampu membuat hatiku tersentuh sekali. Sekali lagi aku ingin berlari mengejar kak Dika dan ingin memeluknya sangat erat. Namun nyatanya semua sudah terlambat.
__ADS_1