Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
18. Menikmati bakso pak Ali


__ADS_3

Telingaku tuli dengan teriakan mereka tentang apapun. telingaku hanya mampu mendengar teriakan David dari ujung ke ujung untuk memberiku arahan yang pasti. apapun itu aku lakukan untuk bisa menjadi pemain yang lebih baik lagi.


*prit*


"Gollllllll" Semua bersorak gembira karena tim kami melakukan gol cantik dari operan jarak jauh yang dilakukan pemain belakang. Semua pemain tidak melakukan selebraai untuk menghemat waktu. Semua langsung kembali ke posisi masing-masing.


Lalu melakukan perebutan bola dengan baik. Terus saja menekan tim lawan di menit-menit akhir. Benar saja selang 3 menit tim kami melakukan gol kembali dan kedudukan menjadi 3-2. Kami merasa senang dan terus saja menekan kembali untuk menyamakan kedudukan.


Pertandingan ini adalah pertandingan yang sangat menegangkan. Memenagkan pertandingan ini dapat masuk ke pertandingan selanjutnya. Setiap oertandingan harus menang untuk menjaga harga diri dari tim. Aku berusaha terus menampilkan yang terbaik meskipun hanya pemain bayaran. Hingga di menit tambahan kami berhasil mencetak gol kembali dengan kedudukan 3-3.


*pritt* peluit panjang dibunyikan. Meskipun skor akhir sama itu tidak masalah yang penting tidak kalah. Hal ini untuk mempertahankan harga diri dari seorang pelatih dan sebuah tim yang bertanding. Aku juga ikut senang dan bersorak gembira bersama semua pemain dan pelatih.


Kami senang karena bisa keluar dari tekanan dan bisa menyamakan pendudukan hingga menit akhir pertandingan. Anehnya pendukung mereka juga mendukungku, tidak ada yang mengejek saat aku masuk kelapangan. Memang pendukung setia sangat susah dicari. Tapi pertandingan kali ini nenar-benar asik dan menegangkan.


"Bagus key, ternyata cantik juga permainan mulai" David melontarkan kata-kata pujian. Tapi aku hanya diam saja, karena pujian juga bisa menghancurkan impian.


"Kalo gini caranya kamu bisa masuk timnas" Ucap David kembali memberikan semangat


"Sudah, sudah, aku masih butuh ilmu yang lebih banyak lagi. Sekali dia kali bermain itu tidak cukup yang penting kita konsisten latihan dan bermain untuk memepertahankan performa yang baik" Sahutku yang diikuti anggukan David sebagai isyarat mengerti


"Pinter juga kamu key, Lama-lama aku yang belajar sama kamu"


"Hahaha, bisa aja kamu" Kami berdua tertawa di samping lapangan.


"Key, key" Suara asing terdengar memanggilku. Aku segera menoleh dan melihat darimana suara itu berasal.


"Oh iya Pak, ada apa ya? " Ternyata itu suara pelatih dari tim yang aku mainkan. Aku segera pergi kearahnya.


"Ini bayaran kamu karena sudah membantu tim saya" Bapak itu memberiku 1 lembar uang 50 ribuan. Dia berkata bahwa itu uang gaji sekali tampil saat pertandingan tadi.


"Oh iya Pak, Terimakasih ya" Ucapku. Aku dan David langsung bergegas pergi untuk pulang. Semua benda-benda seperti baju dan sepatu sudah aku lepaskan dan memberikannya kepada pelatih.


"Tunggu key" Tangan pelatih itu memegang bahuku. Seakan mencegah untuk pergi dan ingin berkata sesuatu


"Iya Pak, ada apa lagi ya kan baju dan sepatu sudah saya kembalikan"


"Kamu mau kan main lagi besok, tolong saya" Pelatih itu memohon padaku dengan tatapan sendu. Aku tau derita dari seorang pelatih adalah disaat anak didiknya sakit dan cidera makan dia butuh sekali pemain yang baik untuk mendukung timnya.


"Tapi saya tidak bisa pak" Aku menolaknya, karena ini bukan pertandingan resmi dan aku takut cidera. Dari permainan yang aku lihat, banyak tim yang melakukan segala cara untuk menang. Bahkan ada yang tega menyakiti pemain lawan untuk mendapatkan kemenangan. Sedangkan aku lebih baik mundur daripada harus terluka dan tidak bisa bermain bola lagi.


"Saya akan membayar kamu lebih dari ini"


"Tidak pak, dalam sepak bola tidak semua tentang uang. Saya ingin bermain hanya untuk mendapatkan ilmu saja" Tegas ku dan langsung pergi menarik tangan David yang masih terdiam disana.


*prok, prok, prok*


"Hebat kamu key, baru saja kenal bola tapi sudah mencintai bola. Bahkan uang banyak kamu tolak" Ucap David yang sedang berjalan di sampingmu.


"Sebenarnya aku memikirkan sesuatu, bukankah dalam setiap pertandingan ada tim-tim yang sudah tercatat dan terdaftar baik itu tim inti ataupun cadangan. Tapi mengapa aku bisa langsung masuk tanpa harus terdaftar" Tanyaku serius pada David. Langkah kami seketika terhenti. David berbalik menatapku dan ingin memberikan penjelasan. Aku diam lalu menatap David kembali.

__ADS_1


"begini key" Mataku menyimak, telingaku mendengar serta otakku merekam. David berkata bahwa tarkam yang ada di kota ini sangatlah lucu. Tarkam yang tadi adalah pertandingan antara kelurahan. Dimana tidak ada pemain terdaftar atau apa, jadi yang ada hanya pertandingan bisa menang dan dapat hadiah.


Pemain pengganti bisa diambil dari penonton disana. Mereka akan memberikan imbalan pada pemain pengganti tersebut. Karena di tarkam tidak ada aturan yang jelas seperti aturan liga Indonesia. Asalkan pemain yang ikut dalam tarkam tidak melebihi umur atau tidak melebihi tinggi badan yang ditentukan.


Terkadang meski ada peraturan tinggi badan, tapi tetap saja ada yang lolos seleksi. Mungkin karena ada cuan yang menggoda mata setiap panitia atau penyelenggaraan.


Ada juga tarkam yang memiliki aturan yang ditetapkan. Dimana terdapat pemain tim yang sudah didaftarkan baik itu pemain inti ataupun pemain cadangan. Para pemain tidak boleh diganti oleh pemain lain yang namanya tidak ada dalam tim yang sudah terdaftar.


Jika ada yang melanggar maka akan dikenakan sanksi. Jadi ada atau tidaknya pemain makan tetap harus melakukan permainan sesuai dengan tim yang ada. Atau jika tidak mampu bisa mengundurkan diri dari turnamen tarkam.


"Apakah tarkam tanpa terdaftar itu ada di seluruh kota? " Tanyaku penasaran


"Tidak, adanya disini saja"


"Hahahhaha, kami berdua kembali tertawa bersama di sepanjang jalan. Ternyata aku baru tau jika ada tarkam yang bebas mengganti pemain dengan menggunakan penonton. Aku kira itu terjadi di semua tempat ternyata ada di tempatku saja.


" Oh iya, kamu mau ikut aku gak"


"Kemana key? "


"Ke tempat Riki kerja"


"Memangnya riki kerja dimana? Bukannya dia masih kecil dan belum cukup umur ya? " Tanya David serius untuk mengetahui tentang riki.


Aku menjelaskan padanya bahwa riki adalah pedagang asongan yang menjadi tulang punggung keluarganya. Ibu Riki yang hanya bekerja Sebagai buruh cuci.


"Kasihan juga ya si Riki" Ucap David yang ibah setelah mendengar kehidupan pilu yang Riki alami. Lalu kami berdua bergegas untuk pergi ke tempat Riki dan pak Abu. Rasanya aku sudah rindu mereka, padahal hanya beberapa hari tidak kesana. Tapi rindu ini sangat menyakitiku.


"Rikiiiiiiii" Teriakku saat sudah sampai di jalanan dan melihat Riki sedang menjajakan dagangannya di pinggir lampu merah.


"Key" Riki langsung menepi dan menghampiriku dengan David. Dia langsung memelukku, ternyata Riki juga rindu karena aku beberapa hari tidak kesini.


"Halo bro" Riki menyulurkan tangannya dan David menyambutnya. Mereka bersalaman selayaknya sahabat lama lalu berpelukan. Indah sekali pertemanan, apalagi David mau berteman dengan kita. Padahal sudah tau latar belakang dari kami yang sudah tidak putih. Sedangkan David, aku yakin bahwa dia orang kaya tapi tidak pernah menunjukkan kesombongannya.


"Oh iya ki, pak Abi kok gak ada di warung? " Tanyaku saat melihat warung terbuka tapi tidak ada pak Abi disana.


"Oh palingan pak Abi ke kamar mandi sebentar " Sahutnya dengan santai


"Yuk kita ke pak Abi, aku mau traktir kalian semua" Sambil menunjukkan senyuman dan selembar uang 50 ribu. Cukup untuk makan bakso sama es teh untuk berempat


"Wuih, kamu banyak uang kok sampai mau ngetraktir"


"Biasalah, rejeki" Kami bertiga berjalan menuju ke warung pak abi


"Alhamdulillah key, tapi kenapa gak kamu tabung" Tanya riki


"Karena,,, aku,, banyak uang"


"Hahahahha" Aku dan riki tertawa karena memang selera humor kami yang rendah dan mudah untuk tertawa. Saat aku lihat David dia masih belum tertawa, aku senggol sedikit tangannya baru dia mencoba tertawa. Lebih tepatnya David memaksakan untuk tertawa.

__ADS_1


"Eh kalian sudah dari tadi" Ucap pak abu yang datang dari arah yang berlawanan. Kami bertiga langsung bersalaman kepada pak Abi yang seperti bapak sendiri.


"Bapak darimana saja" Tanyaku sambil menepuk tangan pak abu seperti biasa.


"Oh itu dari toilet sebentar" Jawabnya sambil menunjuk ke arah toilet di seberang sana


"Bapak gak takut warungnya kemalingan ya? " Potong David membuka suara sambil menatap pak abu heran


"Nggak nak, karena rejeki sudah ada yang ngatur" Pak Abi selalu percaya bahwa rezeki sudah ada yang ngatur. Banyak atau tidaknya kalau bukan rejeki pasti akan diambil kembali.


"Oh iya, kamu siapa" Tanya pak Abi yang bingung melihat David pertama kalinya.


"Kenalin pak, saya David temannya key" Sambil menyulurkan tangan untuk bersalaman sebagai tanda perkenalan


"Oh, temanmu key" Aku mengangguk sebagai isyarat mengiyakan perkataan dari Pak Abi.


"Oh iya Pak, aku mau traktiran" Bicara ku yang heboh sendiri dengan memegang uang yang aku pamerkan pada mereka


"Wahhh, asik nih horeee" Sahut pak Abi yang melompar kegirangan seperti anak kecil.


"Yaudah yuk kita ke tempat bakso pak Ali" Bakso yang paling enak menurutku adalah bakso pak ali.


Tempatnya di seberang jalan lampu merah. Suasana tempatnya namamu, dan rasanya pun tidak kalah dengan tempat makan resto yang terkenal. Sambutan pak ali ramah, apalagi pada anak jalanan. Bahkan pak Ali sering memberikan makan gratis pada hari jum'at pada anak jalanan dan tukang becak. Katanya harta akan berkah bila saling berbagi. Katanya juga berbagi tidak akan membuat jatuh miskin.


Sesampainya di sana aku memesan bakso 4 mangkuk. Harganya yang murah hanya 5000 saja pernah porsi bakso. Serta es teh dengan harga 3000 rupiah per gelasnya. Pak Ali sudah kenal akrab dengan aku, Riki, bahkan pak Abi. Jadi kami berbincang-bincang disana sambil makan. Begitu juga dengan aku, yang mengajak David untuk sama-sana berbincang-bincang agar tidak diam merenung mikirin hidup heheheh.


Awalnya aku pikir David anti makan di pinggiran jalan. Tapi saat aku lihat dia sangat menikmati bakso pak Ali, betapa nikmatnya setiap suapan demi suapan yang masuk kedalam mulut hingga kenikmatan di sendok terakhir. Bahkan mangkuknya bersih tanpa ada sedikitpun kuah yang tersisa.


"Baksonya enak banget key" Sambil menatap dengan bahagia karena habis makan bakso satu mangkuk.


"Kamu mau nambah? "


"Nggak usah key, kalo aku nambah besok-besok aku gak bakalan kesini lagi"


"Memangnya kenapa? " Sahut ku dengan heran


"Karena aku kekenyangan " Aku tertawa mendengar pernyataan yang David berikan. Bakso pak ali memang sangat enak, menurutku inilah bakso terenak di dunia. Karena aku belum merasakan bakso lainnya yang ada di dunia ini. Hanay bakso pak alk yang aku cinta, hehehe.


Semua mangkuk sudah kosong. Kami berempat puas dengan semangkuk bakso yang pak ali sajikan. Nikmat dan sangat nikmat, apalagi bila makan bersama-sama. Lalu kami berpamit untuk beranjak pergi dan bersantai duduk di warung pak abi sambil berbincang-bincang.


Bising kendaraan membuat kericuhan desa dengan suara kenalpot yang terus berteriak. Suasana yang indah menjadi kelabu karena asap udara kotor. Beda dengan di tempat tinggal ku yang aman, asri serta dipenuhi pemandangan indah. Baik itu padi, jagung, rumput serta illang tertata rapi. Semua yang ada didunia tidak luput dengan ciptaan Tuhan yang maha Esa.


"Oh iya, sebenarnya aku dulu penjual koran" Ucapku memecah keheningan dalam ramai-ramai kendaraan.


"Bener kamu key? " Tatapan David menatap serius padaku. Sepertinya David akan meninggalkan aku dan tidak mau berteman lagi setelah mendengar pernyataan latar belakang yang hitam sebagai anak jalanan.


"Iya" Aku sudah pasrah, yang penting aku menerima ketulusan dari orang-orang yang mau berteman denganku saja


__ADS_1


__ADS_2