
David memberikan sebuah kotak besar padaju. aku tidka tau apa isi kotak itu. aku menerimanya dan bertanya tentang isi kotak itu pada David.
"Apa ini?" Kotak itu ia serahkan padaku. Tapi aku tidak tau apa isi di dalamnya.
"Buka saja, siapa tau kamu suka" Ucap David sambil melemparkan senyuman padaku. perlahan aju membukanya, dan mataku terkejut saat mengetahui isi kotak itu.
"Wahhhh, gila ini sepatu bola vid" Tanganku gemetar saat membuka kotak itu dan ternyata isinya sepatu bola. Mataku berbinar kebahagiaan menatap sepatu berwarna merah itu.
"Ini buat aku? " Tanyaku dengan keheranan. karena sepatu ini sepertinya mahal.
David hanya mengangguk sebagai tanda bahwa sepatu ini benar untukku. Kali ini Allah benar-benar baik, bukan hanya bola yang di berikan tapi sepatu juga sampai pada tanganku melalui David. perlahan-lahan doaku terkabulkan oleh sang pencipta.
Rasanya lengkap sudah bila permainan bola ku sudah memiliki sepatu bola. Biasanya aku hanya menggunakan sepatu sekolah atau menggunakan sandal saja untuk latihan. Tapi kali ini aku akan menggunakan sepatu bola seperti pemain bola yang hebat.
"Kamu coba saja, siapa tau cocok" Aku langsung mencobanya dengan senang hati. David membantuku untuk memakai sepatu bola dengan baik dan benar. Di dalam kardus itu juga lengkap dengan kaos kaki dan deker sebagai pelindung tulang kering.
"Gimana key, enak gak sepatunya? "
"Hehehe, sepatunya kebesaran sih vid. Tapi gak apa-apa aku bisa mengatasinya kok" Sambil menggoyangkan sepatu yang kebesaran dan tidak pas dengan kakiku.
"Yah maaf ya key, soalnya aku gak tau ukuran kakimu" Ucap David seakan merasa bersalah padaku karena memberi sepatu yang ukurannya kebesaran. Padahal aku tidak menghiraukan hal itu karena dia sangat baik padaku dan selalu mendukungku dengan memberikan bola serta sepatu yang bagus ini.
"Nggak vid, seharusnya aku yang meminta maaf padamu karena telah merepotkan. Aku janji nanti bila aku sudah memiliki uang akan mengganti semua yang telah kamu berikan"
"Gak usah key, cukup kamu bermain bola dengan baik aku sudah seneng kok" David memberiku semangat dan terus memberikan energi positif padaku.
Dia juga bilang bahwa kakeknya memiliki toko sepatu bola di luar negeri jadi dia bisa mendapatkan seloatu itu dengan mudah. Sebenarnya aku malu terus-terusan diberikan sesuatu oleh David. Aku juga berjanji pada diriku bila nanti sudah memiliki banyak uang, aku akan mengganti semua uang David.
"Yaudah, ayo kita coba sepatumu jangan bengong saja" David menarik tanganku untuk menuju kelapangan dan berlatih dengan sepatu baru. Padahal aku masih melihat dan menatap sepatu ini, rasanya tidak percaya karena Aku menggunakan sepatu mahal.
Aku mengikutinya sambil membawa bola yang terletak di dalam tas. Kali ini perlengkapan bola ku sudah sangat baik, David kembali mengajariku tentang beberapa skil dalam bola hingga aku menjadi bisa dan terbiasa.
Awalnya aku masih kesusahan karena baru pertama kali menggunakan sepatu bola ini. Apalagi sepatunya kebesaran dan menyusahkan bila digunakan untuk berlari. Otakku mencari cara agar bisa menggunakan sepatu dengan nyaman.
Sejenak aku berfikir lalu membuka kaos kaki dan memasukannya ke dalam sepatu sebagai pengganjal agar sepatunya pas dan nyaman saat digunakan.
Kami bermain dengan nyaman, mengoper antara kaki satu ke kaki lainnya. Skil yang diajarkan oleh David sudah aku ikuti meskipun belum sepenuhnya. Aku menikmati permainan yang David ajarkan. Perlahan demi perlahan aku sudah mengimbanginya walaupun skill David diatas rata-rata.
Sedangkan aku masih jauh dibawah David dan menunggu banyak waktu untuk memperkuat skil yang indah dan bagus seperti David. Kami bermain hingga lupa waktu. Senja kembali menyapa dan kami menghentikan permainan serta bergegas segera pulang.
Seperti biasa David mengantarku pulang. Berboncengan dengan sepeda mengikuti alur senja yang mendadak hilang. Dan aku selalu berhenti tepat di persimpangan jalan kampungku karena tidak ingin David mengetahui rumahku.
Padahal ia sering mengatakan ingin mengetahui rumah yang aku tinggali saat ini tapi selalu saja kata-kata dari mulutku menolak ia untuk. mengetahuinta. Bukan karena aku tidak ingin menerima tamu, tapi karena tidak ingin memberitahu tentang rumahku saja. Sebab banyak mulut tetangga yang jahat disana.
"Hati-hati di jalan vid"
"Siap key" Aku melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan bersamanya. Lalu aku kembali berjalan dibawah lampu remang-remang yang menerangi jalan menuju rumahku. Membuka pintu dan bersiap untuk membersihkan diri.
Meletakkan bola dan sepatu di atas lemari pakaian. Memperhatikannya ternyata indah juga, terletak berdampingan antara sepatu dan bola mengisi satu sama lain. Tapi yang tidak indah adalah dinding kamarku yang sunyi. Tidak ada sebingkai foto pun yang tergantung dalam tembok-tembok indah. Hanya dataran kosong yang tiada hiasan satupun. Karena foto hanya aku simpan di dalam album usang yang aku buat sendiri.
Tubuhku yang lelah kini terkapar di atas ranjang kecil. Bersama bobo yang menjadi teman tidurku setiap malam. Sejenak pandangan ini menatap langit-langit kamar yang banyak sarang Laba-laba. Catnya yang usang mulai terkelupas sedikit demi sedikit.
Setiap hari menatapku yang terlelap dibawahnya. Tanpa ia sadari, aku juga menatapnya bila memikirkan sesuatu yang menggumpal dalam otak. Terkadang berbicara pada dinding, terkadang pula berbicara asing tanpa tujuan sebagai pendengar untuk memberi saran yang bisu. Tapi hanya itulah yang aku lakukan karena sepi menghantui.
__ADS_1
Pada suatu pagi kembali muncul sinar jingga nya dari ufuk timur. Memaksaku untuk bangun menikmati hari dengan udara segar. Minggu pagi yang indah aku tenang untuk bersantai dengan damai. Tapi saat aku keluar kamar, tidak ada sesosok ibu yang aku temukan.
Akhir-akhir ini ibu tidak pernah pulang di pagi hari. Biasanya ia sudah datang dan terlelap dalam kamarnya. Tapi kamar itu kosong hanya ada sebuah bantal sebagai pengganjal lelah ibu. Meskipun ibu pulang terlambat, tapi dia pulang tidak membawa tangan kosong. Kadang membawa beras, kadang membawa telur, kadang pula membawa bahan makanan lainnya.
Bila tidak sempat membeli bahan makanan maka ibu akan meninggalkan uang diatas meja dan esoknya aku yang berbelanja. Tapi saat ini bahan makanan selalu ada, aku selalu memasaknya dan ibu jarang memakannya.
Paling hanya tatapan dalam 1 sampai 3 jam saja, setelah itu ibu sudah pergi. Atau bahkan tatapan itu tidak akan ada karena ibu masih terbangun dalam lelapnya yang lesu bekas kerja semalam.
\*klek\* membuka pintu di pagi hari yang begitu nyaman. Udara sejuk yang masih bersih tidak tercampur oleh pendoaa sepertiku. Menghirup udara dari Tuhan yang selalu tersedia dan tak akan pernah ada habisnya.
"Subahannlah, udara sejuk setiap pagi. indahnya bukan main, mungkin ini gambaran sedikit surga di dunia. Allah memberiku kesempatan menyambutnya di pagi ini" gumamku di teras rumah.
Netra ku meneliti di sepanjang jalan, di setiap sudut hingga di persawahan. Indahnya bukan main, lalu apa lagi yang harus kita keluhkan bila Allah sudah menyediakan di dunia tempat yang begitu baik bagi umatnya. Hanya saja umatnya terkadang masih kurang bersyukur sepertiku.
Aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil bola dan sepatu. Berlatih di halaman rumah yang masih sejuk ditemani tetesan embun pagi. Hitung-hitung olahraga untuk melenturkan otor-otot yang kaku. Mencoba mengingat kembali permainan dan skil yang diajarkan oleh David.
Hanya membutuhkan beberapa kayu yang aku gunakan sebagai perumpamaan lawan. Berlatih selayaknya pemain bola profesional tapi hanya menggunakan peralatan seadanya. Benar kata kakek tua itu, tidak perlu barang apa yang diinginkan tapi hanya perlu niat, dan usaha lalu diselingi oleh doa kepada sang Pencipta alam.
Bermain-main dengan asik meski dengan kayu, lalu tembok dan batu yang menjadi teman. Mentari juga ikut menikmati Permainan yang aku suguhkan. Jangan membandingkan ku dengan ronaldo pemain dunia, dengan permainan David saja, aku masih bukan apa-apa.
Tapi tidak ada salahnya untuk terus percaya diri mencoba kemampuan yang ada. Gagal bangkit lagi, dan apapun itu jangan sampai patah semangat.
"Ternyata capek juga yah bermain sendiri, tapi asik sih karena bisa melatih cara bermain yang baik" Gumamku, berbicara sendiri yang disaksikan rumput-rumput liar sedang aku duduk.i. Lalu aku rebahkan tubuh ini di atas mereka. Biarkan saja mereka merasakan bau-bau dari keringat ku yang menetes.
Setidaknya itu keringat perjuangan hehehe. Setelah beberapa lama menghabiskan keringat, aku bergegas untuk membersihkan diri. Tidak ada agenda yang aku buat bila hari libur. Hanya saja aku akan melakukan apa yang aku mau.
__ADS_1
Menggerakkan kemana langkah kaki asalkan aku senang. Tapi kali ini aku ingin keluar dari persembunyian. Terbang menuju kota yang luas, mengepakkan sayap-sayap yang aku simpan selama ini. Tapi aku tidak memiliki kendaran dan uang juga tidak ada. Hanya beberapa lembar yang aku simpan di tabunganku dan tidak akan cukup bila aku menjelajahi kota yang penuh misteri, menurutku.
"Bosan sekali, bingung juga ingin ke kota tapi tidak ada uang" Selama ini aku tidak pernah mengelilingi kota kelahiranku. Aku hanya berjalan-jalan di dalam kampungku. Indah permai bagai permata, sebenarnya aku seperti anak-anak lain yang juga ingin melihat dunia luar. Tapi sayang susah sekali untuk keluar dari kampung, biaya dan nyaliku tidak kuat bila sendiri.
Andai saja ayah dan ibu tidak berpisah, pasti aku akan merengek pada mereka untuk membawa jalan-jalan ke kota. Menikmati suasana kota yang tidak pernah aku sentuh. Belajar tentang kota dan apapun itu setidaknya aku melihat apa yang ada di kota tapi tidak ada di kampungku.
"Apa ini waktunya aku bersantai? Tapi aku tidak bersantai" Berbicara di depan cermin, disaksikan bobo dan benda-benda lainnya di rumah. Bila mereka bisa berbicara mungkin akan menganggapku gila.
Yapsss, tepat sekali gila dan gila. Mendingan aku jalan-jalan ke sawah saja biar menikmati burung-burung yang sibuk memakan padi, membuat sangakar, terbang mengelilingi awan atau bahkan merawat anaknya.
Langkah selanjutnya tertuju pada persawahan. Meski mentari sudah menunggu tapi masih belum di atas kepala. Aku berkeliling ke sawah yang ditanamo padi, jagung, cabai dan masih ada beberapa tanaman yanga da. Indah-indah dan sejuk, tidak ada polusi yang masuk. Hanya ada udara segar tanpa polisi udara seperti di jalanan.
"Suasana yang segar, memanjakan mataku. sawah yang indah, dan padi sudah mulai menguning" gumamku saat sampai di sawah.
Lihatlah padi semakin menunduk karena isinya sudah banyak. Begitupun peribahasa yang sesungguhnya mengartikan bila orang yang memiliki banyak ilmu makan akan semakin diam dan tertunduk.
Suatu saat nanti aku akan berbuat demikian, jika sudah menjadi orang hebat maka akan semakin merendah tapi tidak akan bisa direndahkan. Memunduk bukan berarti kalah tapi menunduk itu menandakan mana yang berilmu banyak dan tidak berilmu sama sekali.
Pandanganku juga tertuju pada cabai-cabai disana. Indah bukan main karena buah cabai yang lebat dan warna merah serta hijau bersautan dalam satu pohon. Setiap tangki terdapat buah cabai yang melimpah. Sungguh akan kaya orang yang menjual cabai karena saat ini harganya sedang melonjak.
Tapi yang tidak orang-orang ketahui, penampakannya yang indah tidak menjamin ia baik. Karena saat sudah tergigit dan kita cicipi maka akan membuat bibir kita kepedasan. Begitu juga dengan manusia, jangan hanya memandang dari penampilan saja makan pandanglah segalanya dari dalam maupun luar.
Karena penampilan yang baik tidak menjamin hatinya juga baik tapi jika hati sudah baik maka penampilan apapun akan terlihat lebih baik.
Melewati jalanan yang kecil di sela-sela persawahan harus ekstra hati-hati karena kalau tidak kita akan terjatuh. Tapi bila berjalan di jalanan besar kita seenaknya saja dan tidak hati-hati maka ujung-ujungnya kita akan celaka karena kelalaian.
Begitulah gambaran kehidupan yang harus kita pahami, begitu juga aku yang harus paham tentang sesuatu didunia. Allah tidak akan memberikan sesuatu itu ke dalam dunia kecuali dapat kita jadikan gambaran kehidupan.
__ADS_1
~~~ BERSAMBUNG ~~~