Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
85. Menghibur Bapak


__ADS_3

Ibu mendekat padaku dan bertanya-tanya tentang perkembangan karir sepakbola saat ini. Perhatian ibu melebihi lerhatianku tentang bola. Bahkan ibu selalu melarang untuk memakan gorengan.


"Sangat baik bu, latihannya sangat-sangat baik bu" Ucapku untuk menunjukkan bahwa semua baik-baik saja. Walaupun hariku sakit aku tidak ingin mengatakannya pada ibu. Biarlah aku saja yang merasakan rasa sakit ini.


Biarpun tadi Rey melakukan tindakan yang membuatku takut, biarlah aku saja yang menyimpannya agar tidak menambah beban pikiran ibu. Bahkan aku juga tidak cerita tentang aku yang menemukan keberadaan ibu.


Setiap ke warung aku selalu membantu ibu mencuci piring. Kadang aku juga membantu menjual nasi, karena bapak dan ibu pernah mengajarkku bagaimana cara menjual nasi pada pembeli. Jadi aku sekarang sudah bisa menjaga warung sendiri saat ibu lagi ijin sholat.


"Key, kamu besok lusa melakukan pertandingan akhir ya? " Tangannya sibuk menjual nasi pada pembeli. Tapi pikirannya sibuk memperhatikan perkembangan pertandingan tentangku.


"Iya bu, kalau menang maka bisa bertanding ke luar kota bu" Aku menceritakan serta membagi kesenangan pada ibu. Agar ibu tau bahwa aku harus tetap semangat dan berkembang agar menjadi pemain timnas.


"Wah gila key itu bagus sekali, bertanding di luar kota itu snagat baik loh buat karirmu key" Ucap bapak-bapak kampung sebelah langganan ibu yang sendang membeli nasi.


Mereka juga menceritakan bahwa jika kita bermain konsisten maka akan mendapatkan hasil yang sangat baik. Dan tidak menutup kemungkinan bisa mengikuti seleksi timnas.


"Benarkah pak" Aku beranjak dari tempat cuci piring untuk mendengarkan cerita dari bapak tersebut.


Katanya yang harus aku pikirkan adalah penampilan dengan menunjukkan skil yang paling baik, jika rejeki maka akan ada pelatih timnas yang datang mencari bibit unggul di pelososk desa.


"Iya key, bapak dulu juga pemain bola. Tapi karena patah hati, permainan bapak menurun dan dikeluarkan dari klub" Ternyata pilu juga cerita bapak ini. Suasana hati sangat berpengaruh dalam perkembangan dari penampilan.


"Semangat ya pak, semoga anak bapak nanti akan menjadi pemain terbaik di masa depan". Gumamku padanya.


Sedikit aku memberikan semangat pada bapak yang kehilangan impiannya untuk bergelut di lapangan bola karena hanya masalah hati yang mengusik hidupnya sehingga dia memilih untuk menggantung sepatu sejak dini.


"Aamiin, makasih ya Key atas doanya"


"Iya Pak sama-sama"


"Ini bu uangnya, saya pamit dulu ya bu"


"Iya Pak" Bapak itu pergi dari warung dan aku melanjutkan kegiatanku membantu ibu.


Ibu bilang katanya aku tidak boleh menyerah, harus semangat, tidak boleh putus asa, tidak boleh gampang puas dan yang paling penting adalah berdoa.


Pemain hebat itu tidak tumbuh dari uang, melainkan pemain hebat itu akan tumbuh dari sebuah usaha dan kerja keras yang dimiliki. Semuanya butuh proses, tidak ada pemain hebat di dunia ini mendapatkan semuanya secara instan. Karena semua pasti memiliki proses masing-masing.


Saat warung ibu sudah tutup, kami berdua pulang ke rumah. Ternyata mbak Nike sudah datang dan mereka berdua sudah menyeka tubuh bapak dengan air hangat. Begitu juga bapak sudah lebih baik karena bisa berbicara lebih banyak dari kemarin.


"Key makan dulu gih, mbak belikan makanan buat kamu sama ibu tuh" Akhir-akhir ini mbak Nike sering beli nasi atau hanya lauk saja di luar. Karena ibu jarang memasak di rumah semenjak bapak jatuh sakit.


"Alhamdulillah, kita juga lapar ya bu" Ucapku senang berkata pada ibu dan bergegas untuk mengambil makanan.


"Oh iya mbak, apakah kalian semua sudah makan belum?" tanyaku.


"Sudah Key, Yeni sama mbak udah makan. Bapak juga sudah tadi Yeni yang suapin bubur. Habis itu bapak minum obat" Sahut mbak Nike menjelaskan.


"Alhamdulillah, ya sudah ibu makan dulu ya nak"


"Baik bu" Ibu dan aku makan berdua di ruang dapur.


Aku menjalani keadaan dengan baik-baik saja. Walaupun otakku terus bergelimpangan pikiran yang menguasai kehidupan ini. Pikiran tentang apapun dan tidak pernah berujung.


Saat malam tiba, seperti biasa aku tidur satu kamar dengan mbak Yeni dan mbak Nike. Kali ini aku tidur di kasur sendirian. sedangkan mbak Yeni dan mbak Nike tidur dalam satu ranjang. Katanya mbak Yeni malas tidur denganku karena selalu kena pukul. Padahal menurutku tidak, karena aku tidur biasa saja.


"Kamu tidur disini ya, awas pindah" Matanya melotot berbicara padaku.


"Iya mbak Yeni tersayang, key disini gak kemana-mana kok" Sahut ku lembut sambil tersenyum licik untuk mengerjai mbak Yeni. Tapi saat pikiran licik melintas, aku terdiam karena kita tidak boleh berisik disaat keadaan bapak seperti ini.


"Ya sudah mbak, key tidur dulu ya" Ucapku bohong, karena aku terus saja memikirkan sikap ibu yang mengusir ku kejam seperti tadi.


Aku harus berkata apa lagi bila ibu sudah tidak menginginkanku. Ayah dan ibu sudah memiliki kehidupan masing-masing dengan pasangan mereka.


"Kejam sekali kalian" gumamku nenatao dinding-dinding kamar yang penuh poster. Aku masih tidak menyangka jika orang tua tidak mengakui anaknya.


Aku tidak tau, mengapa mereka begitu mudah mengorbankan kebahagaiaannku dengan sebegitu hebatnya. Mengorbankan kehidupanku demi kehidupan mereka. Katanya orang tua akan menyayangi anaknya kapanpun, tapi berbeda denganku. Karena sampai kapanpun kebahagian tidak pernah menghampiri dari tangan ayah dan ibu.


"Suatu saat key bakalan tunjukin pada kalian, kalau key bukan sampah yang kalian buang seenaknya" mataku berkaca-kaca mengingat semua yang telah terjadi.


Hidungku tersumbat karena menahan rasa sakit. Aku tau, Tuhan itu baik dan semuanya akan berjalan dengan tenang di bawah tangan Tuhan sang Pencipta seluruh alam. Suatu hari nanti akan ada banyak cinta yang datang padaku.


"Key kamu nangis? " Mbak Yeni tiba-tiba membalikkan tubuhku yang tidur membelakangi kasur mereka.


"Enggak kok mbak, key cuman pilek aja" Aku tidak ingin mereka tau atas kesedihanku. Aku hanya ingin menjalani kehidupan bahagia bersama keluarga ini.


"Oh, kalau gitu tidur saja soalnya sudah malam. Kalau perlu minum obat dulu" Ucap mbak Yeni padaku lalu dia kembali ke ranjangnya.


"Baik mbak".


Aku mencoba menutup masalah walaupun susah tapi harus dipaksa. Aku harus terlelap agar semua masalahku sudah terlupakan dengan cepat. Aku yakin jika mimpi lebih indah, dan berharap di mimpi aku bertemu dengan kakek lagi.



__ADS_1


Pagi yang indah, aku harus tersenyum dan jangan sampai menampakkan luka. Aku harus menjalani kehidupan yang baik dan aku berhak bahagia. Walaupun kebahagiaanku dijalani tanpa dukungan kedua orang tua. Karena aku menganggap mereka sudha tidak memeprdulikanku lagi.



"Buk, key mau berangkat" Ucapku sambil menghampiri ibu yang bersiap untuk ke warung. Biasanya ibu akan berangkat subuh, karena bapak sakit jadi ibu berangkat agak siang.



"Iya nak, sini ibu di belakang" Aku berpamitan pada ibu untuk sekolah. Tidak lupa berpamitan juga dengan mbak Yeni dan mbak Nike yang masih molor setelah sholat subuh.



Kebiasaan mereka berdua selalu seperti itu, mungkin mereka sangat lelah. Terkadang mereka juga membantu ibu untuk menyiapkan bahan jualan. Lalu tidur lagi, emang tukang molor.



Selanjutnya aku pergi ke kamar bapak, menghela nafas agar selalu terlihat bersemangat di hadapan bapak.



"Selamat pagi bapak" Ucapku membuat tersenyum bapak yang sudah bangun.


"Pagi nak" Walaupun suaranya masih lemas, bibirnya tetap tersenyum menatapku.



"Pak sebelum key berangkat sekolah, lihat Key main bola nih pak" Aku mengambil bola dan bermain dengan cara Mendriblenya. Bapak antusias melihatku walau tubuhnya masih lemah tidak bisa duduk.



"Mari kita sambut liak-liuk bola yang dilakukan oleh Keyla, bisa menembus penjagaan di lini belakang lawan. Mampu mengecoh pergerakan, Keyla sudah sampai di depan titik putih dan tendangan yang baik. Gollllll, goll yang sangat cantik key" Suaraku menirukan komentator bila saat timnas bertanding. Aku mengumpamakan sebagai pemain timnas.



"Gol yang cantik mampu bersarang dan merobeo gawang negara sebelah, Keyla saat ini menjadi pemain bek yang sangat di idaam-idamkan oleh negara ini. Akhirnya muncul juga pemain bek terbaik putri" Melihat bapak semakin tersenyum, aku menghiburnya lagi. Aku ingin bapak terus bahagia meski tubuhnya menahan sakit.



"Apa ini, kok pagi-pagi sudah berisik" Ucap ibu yang masuk ke kamar bapak dan menghampiriku. Wajahnya senyum ceria saat melihatku bermain bola dan menghibur bapak.



"Keyla mau nunjukin skil pada bapak seperti pemain bola timnas bu" Aku berkata pada ibu sambil menunjukkan bola yang ada di tangan.




"Sekarang waktunya berangkat, nanti kamu telat loh" Ucap ibu sambil menunjukkan jam dinding yang ada di kamar bapak.



"Eh iya bu, key lupa saking asiknya main bola buat ngehibur bapak" Tanganku menepuk jidat karena lupa bahwa harus segera berangkat agar tidak telat.



"Sana pamitan sama bapak, terus segera berangkat" Pintanya padaku. Aku segera berpamitan pada ibu dan bapak lalu pergi ke sekolah.



Pergi menaiki angkot seperti biasa. Kali ini aku tidak menyapa Riki dan pak Abi karena aku takut terlambat masuk. Sesampainya di tengah perjalanan, angkot yang aku naiki macet. Untung saja ada Doni, aku langsung berangkat bareng Doni menaiki motor.



"Makasih banyak Don, kalau tidak ada kamu pasti aku bakalan terlambat ke sekolah" Ucapku dibayangi dengan kerasnya angin jalanan.



"Iya Key, Sama-sama. Aku senang kok berangkat bareng kamu, kalau bisa kita berangkat bersama setiap hari" Teriaknya karena kecepatan Doni membuat suara menjadi kecil.



Aku bingung harus bicara apa, di lain sisi aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara aku dan David. Dilain sisi juga aku ingin menghargai Doni yang sudah menawarkan kebaikan untukku.



"Iya nanti aja aku hubungi kamu ya" Sahut ku yang lebih aman agar memikirkan hal itu belakangan saja. Lagipula Doni sangat baik padaku, aku sudah menganggapnya teman baik semenjak saat itu.



"Iya oke, oh iya Key besok aku mau nonton pertandingan terakhirmu" Ucapnya lagi


"Tapi kan kamu sekolah Don"


"Bolos aja"

__ADS_1



\*plak\* tanganku langsung memukulnya, enak saja dia bolos sekolah hanya untuk melihatku bertanding. Lagipula pendidikan lebih penting dari apapun.



"Tidak, tidak, tunggu pertandingan selanjutnya saja"


"Tidak mau" Doni malah ngebut di jalanan dan membuatku hampir terjungkal. Untung saja aku segera memeluknya agar tidak terjatuh. Tidak lama kemudian kami telah sampai di sekolah.



"Gila, kenapa kamu ngebut " Teriakku dengan kesal sat turun dari motor Doni.


"Habisnya takut telat"



"Sudahlah, ayo masuk" Aku berjalan dengannya melewati lorong sekolah.



Aku juga berpapasan dengan David yang berboncengan bersama Adel. Biasanya hatiku sangat sakit, tapi mau bagaimana lagi karena sepertinya adel memiliki kuasa atas David.



"Sayang aku, ayo kita ke kelas" Hatiku cemburu saat Adel bergelayut manja di lengan David.



Aku hanya bisa melihatnya saat mereka menyalipku dan Doni. Sedangkan David menatapku dengan tatapan penuh makna dalam diannya, sepertinya dia sangat tertekan dengan adel.



"Ayo key, ke kelas" Saat aku asik menatap David, Doni juga menggenggam tanganku dan mengajak untuk mempercepat langkah sampai ke kelas. Kelas aku dan doni bersebelahan.



"Oh iya key, akhir bulan aku mau debut di tim kota key" Ucap Doni sambil mengandengku berjalan.



"Key, key, key" Pukulan kecil dari tangan Doni menyadarkanku.



"Eh iya Don maaf" Saking sibuknya melihat David dan Adel, aku sampai lupa mendengarkan Doni.


"Iya ada apa Don" Tanyaku lagi tentang apa yang Doni bicarakan.



"Aku akhir bulan ini sebut dengan tim kota, kamu nonton ya key" Ucapnya bahagia paduku. Aku juga senang mendengar berita itu, berarti doni sudah ada perkembangan



"InsyaAllah aku nonton kalau tidak terbentur jadwal Don" Sahut ku.


"Siappp key, aku ke kelas dulu ya"


"Iya don" Sesampainya di depan kelas kami berpisah, aku masuk dalam kelas dan begitu juga dengan Doni



Dan di dalam kelas aku melihat Adel dan David. Berduaan bagaikan ratu dan raja saja. Apalagi adel yang sok cantik, padahal masih cantikan dora daripada dia. Kesal sekali meliat wajahnya dan tingkah dia manja pada David. Membuatku ingin muntah di hadapannya.



"Minggir, minggi. Kalau pacaran jangan di tengah jalan aku mau lewat" Ketusku sambil mendorong bada Adel karena nyempil di tengah-tengah hingga aku tidak bisa masuk.



"Apaan sih, memangnya kelas ini punya kamu. Dasar orang miskin" Dia membalasku dengan omongan yang tidak perlu aku dengarkan.



Aku diam dan mematapnya dalam-dalam. Melihat penampilannya yang seperti ibu-ibu arisan dengan dandanan yang sangat berlebihan. Lalu mengejeknya agar membuat dia kesal.



"Nyenyenyenye" Ejek ku padanya


"Ihhhh, dasar orang miskin. Kali ini kamu pasti iri lihat aku sama David bilang aja" Kurang ajar nenek lampir yang kedua. Pengen ditonjok sepertinya. Tapi sudahlah, sepertinya aku juga kana gila jika menuruti perkataannya.


__ADS_1


~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2