Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
86. Terkunci


__ADS_3

Adel terus mencaci dengan ucapan kata miskin. Sebenarnya aku sangat geram mendengar ehekan itu, rasanya ingin aku memukulnya namun diri ini harus tenang dari kata amarah.


"Kamu bisa diam gak sih Del? " Bentak David pada adel. Sepertinya dia juga kesal dengan kelakuan adel yang mengejekku orang miskin terus.


"Ihhh, David. Kamu kok belain dia sih. Kenapa gak belain aku" Ucapnya dengan nada manja seperti seorang ratu.


"Kamu sudah keterlaluan dengan Key, dia teman aku di kelas ini. Kamu mau di serang anak-anak satu kelas" Bentak David kembali.


Adel melihat sekitar dan semua temanku di kelas menatap dia dengan kesal. Apalagi Ari dan Yuri, rasanya ingin menampar bibir Adel. Geram melihat kelakuan dia yang suka merendahkan, bahkan seakan-akan dia anak orang paling kaya.


"Ihhh, apaan sih kalian menatapku seperti itu Aku benci sama kalian semua" Dengan marah, Adel keluar dari kelas kami dan meninggalkan David. Apalagi jam pelajaran sebentar lagi akan dimulai.


Aku tersenyum melihat kelakuannya. Biarlah dia pergi yang penting kelas ini aman tanpa si Adel tengil. Lagian siapa suruh sok-sokan menghina akhirnya dia kena batunya. Setiap orang memiliki kehidupan tapi jangan pernah kehidupannya di usik agar engkau tidak dicekik.


Saat aku duduk di bangku, Tiba-tiba Yuri langsung menghadap ku. Dia berkata bahwa tau semuanya tentang aku dan kak Dika. Dia mengatakan bahwa kita saudara. Kata Yuri kak Dika membenciku karena dia merasa bahwa aku adalah anak pelakor yang pernah menghancurkan kehidupannya dulu.


"Sttt, pelankan suaramu. Jangan sampai yang lain tau" bisikku padanya. Dia memang jago dalam bergosip, sampai-sampai dia bergosip tentang sahabatnya di depan orangnya langsung.


"Maaf, maaf Key bukan bermaksud begitu. Dan aku sangat marah dengannya" sambungnya. B


Yuri bahkan sempat tidak ingin berbicara dengan kak Dika, karena Yuri ingin membela ku. Dia juga berkata bahwa kak Dika masih belum bisa menerima semuanya. Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan, semua masalah hidup sudah penuh aku tanggung sendirian.


"Yur, bilangin ke kak Dika ya. Bilang aja kalau aku tidak akan merebut ayah. Biarlah ayah tinggal bersama keluarga kak Dika karena aku sudah nyaman dengan hidupku yang sendiri" Bisik kecil pada Yuri.


Ari juga mendengar semua tentang hal tersebut. Tapi mereka berdua tidak ada niatan untuk meninggalkanku bahkan ingin menyatukan aku lagi dengan ayah.


Saat istirahat di kantin, aku melihat kak Dika. Kami sama-sama diam bahkan semenjak kejadian malam itu, tidak pernah ada tegur sapa lagi baik aku dan kak Dika. Hanya Yuri dan Ari yang menjadi penengah agar kami kembali berteman seperti dulu.


"Nih kak duduk sini saja" Yuri menyeret tangan kak Dika agar kami duduk berempat dalam satu bangku.


"Key jangan bengong gitu ah, ngomong dong" Gertak Ari yang membuat pikiranku kabur.


"Iya, ini sudah ngomong. Aku ke kamar mandi dulu ya" Aku ingin menghindari kak Dika. Saat ini mungkin belum waktunya untuk berbicara dengannya.


"Tapi ini key.. " Aku beranjak dan tidak memeprdulikan apa yng dilakukan Ari dan Yuri. Aku bergegas ke kamar mandi sendiri. Termenung di dalam wc duduk sambil melihat ponsel yang tidak ada gunanya.


"Gini amat masalah, datang gak diundang dan Pulang gak diantar" Gumamku dalam kesendirian di dalam wc.


*ting* Tiba-tiba pesan dari mbak Yeni masuk. Aku melihat dan sangat terkejut.


"key saat ini bapak dibawa ke rumah sakit karena tadi tidak sadarkan diri. Nanti kalau kamu mau pulang kuncinya di bawah keset. Kalau kamu mau ke rumah sakit ganti baju dulu ya" (Bunyi pesan).


Aku bergegas keluar dari wc tapi sayang kamar mandi terkunci dari luar. Aku ingin menelpon Yuri untuk meminta bantuan, sayang sekali baterai ponselku habis dan tidak bisa di hidupkan.


*brak, brak, brak*


"Apa ada orang di luar. Tolong buka" Teriakku sambil menggedor-gedor pintu. Tapi tidak ada jawaban dari luar. Aku terus teriak dan mencari cara untuk bisa keluar dari sana.


"Tolongg, disini ada orang tolong"


*brak, brak, brak*


Aku ingin mengolongi pintu, sepertinya terlalu kecil untuk tubuhku. Takutnya nanti tersangkut dan tidak bisa keluar. Terpaksa aku naik ke atas untuk melewatinya. Menginjakkan kaki ke tempat wc duduk dan naik hingga sampai ke atas.


*bruk*


"Alhamdulillah, kurang ajar pasti kerjaan Adel atau Rena" Bengis ku dan segera keluar dari kamar mandi. Aku akan memberinya pelajaran sebelum pergi ijin dari sekolah untuk menjaga bapak di rumah sakit.


"Adel, rena" Teriakku dengan kencang dan masuk ke dalam kelas mereka. Aku tau semua ini pasti ulah mereka berdua. Karena hanya mereka berdua yang membenciku dan selalu mencari keributan.

__ADS_1


"Apaan sih, orang miskin teriak-teriak. Gak bisa bayar hutang ya" Ejek Rena dengan gayanya.


"Aku tau ini kerjaanmu kan" Bentak ku sambil memegang kerah baju Rena. Alisku rasanya ingin menyatu karena kelakuan mereka berdua.


"Hey, orang miskin gak level megang kerah baju kita ya" Tangan Adel mencoba melepaskan tanganku yang melekat di kerah Rena.


"Kalian keterlaluan, jangan ngunciin orang sembarangan" Aku memegang kerah Rena dan juga Adel secara bersamaan dan tatapan menyelidik aku arahkan terhadap mereka.


"Lepasin key, jangan nuduh sembarang kalau tidak ada bukti" Ucapnya padaku


"Tidak perlu bukti, cukup dengan perkataan Puja dan Dewi aku sudah mengerti" Sahut ku geram.


Untung saja saat berjalan menuju kelas mereka aku melihat Puja dan Dewi ingin pergi ke kantin untuk membelikan makan Rena dan Adel. Mereka asik ngobrol dengan senang karena telah membuatku terkunci di dalam kamar mandi.


"Maksudmu apa? "


"Mereka bilang kalian sangat bahagia telah mengunci ku" Bibir mereka berdua langsung membeku. Tadinya yang banyak bicara kini menjadi diam saat tau kebenarannya terbongkar.


*brak*


"Aaaa, sakit key" Tanganku mendorong mereka berdua dengan keras hingga tersungkur di atas lantai.


"Kurang ajar" Ucap adel dan langsung menjambak rambutku. Aku tidak tinggal diam, tanganku mencoba meraih baju Adel dan menjangkau wajahnya.


*brak* rambutnya dapat ku jangkau, lalu kembali aku pegang dan melemparkan Adel dengan keras. Rena juga membantu Adel dan kami bertengkar di dalam kelas. Tiba-tiba aku mengingat kata ibu, jika harus menahan amarah agar tidak terjadi masalah lagi.


Aku melepaskan genggaman rambut mereka. Rena dan Adel juga sudah terkapar. Aku berdiri dan menatap mereka dengan kesal.


"Kali ini aku hanya memberikan pelajaran, tapi lain kali sudah ku gampar dengan habis kalian" Ketusku penuh emosi.


*brak* aku menendang meja dengan kesal sebagai tanda peringatan.


"Astaghfirullah, aku harus ijin untuk pulang terlebih dahulu" Aku lupa jika ingin pulang menemani bapak di rumah sakit. aku bergegas ke ruang guru untuk meminta ijin ke wali kelasku bu Tri. Syukurlah bu Tri memberiku ijin untuk pulang terlebih dahulu.


Aku juga berkata pada Ari dan Yuri bahwa harus pulang terlebih dahulu karena bapak sedang masuk ke rumah sakit. Rencananya Yuri dan Ari akan ke rumah sakit untuk menjenguk bapak sepulang sekolah nanti.


Saat aku mengambil tas, tidak ku lihat David di dalam kelas. entah kemana dia tapi itu tidak terlalu penting karena aku harus cepat pergi menyusul bapak. Aku juga khawatir dengan keadaan bapak, bagaiaman bisa penyakitnya kambuh lagi. Padahal tadi pagi bapak sudah enakan.


"Ayolah, cepat sampai" Gumamku dalam tatapan khawatir dengan keadaan bapak.


Mencari angkot lalu berangkat ke rumah sakit. Mbak Yeni sudah memberitahuku tempat kamar bapak. Saat tiba di pintu kamar, aku melihat bapak terlelap dengan bantuan selang oksigen dan selang infus di tangannya.


Rumit sekali duniaku, baru saja aku senang melihat bapak sudah baikan dengan penyakitnya. Tapi tiba-tiba penyakit itu kambuh lagi hingga membawa bapak tidak sadarkan diri hingga dibawa ke rumah sakit


"Pak, pak bangun pak" Aku langsung berlari dan menangis di samping bapak.


"Kamu sudah pulang Key? " Aku mengangguk saat mendengarkan pertanyaan dari mbak Yeni.


"Aku ijin, hatiku khawatir memikirkan keadaaan bapak. Hikssss, hiksss pak bangun" Ucapku kembali agar bapak segera bangun melihatku.


"Stttt, bapak sudah tidur dan kata dokter keadaanya membaik. Untung saja cepat di bawa ke sini" Mendengar pernyataan mbak Yeni, hatiku sedikit lega dan tanganku mulai menghapus air mata yang menetes.


"Kamu tidak usah menangis, kamu harus bisa tersenyum kuatin bapak. Kayak mbak Yeni gini nih" Mendengar perkataan mbak Yeni aku juga tersenyum.


Padahal saat aku terbangun di tengah malam, mbak Yeni menangis di tempat tidur. Kadang juga ia menangis di kamar saat belajar. Bagaimana bisa seorang perempuan akan kuat jika lelaki pertama yang ia cintai terbaring lemah seperti ini.


Aku saja menangis dan khawatir dengan bapak. Aku takut dengan cerita tentang kehilangan. Aku takut akan hal buruk yang terjadi. Tapi aku harus bisa menghibur bapak dan aku selalu berdoa dalam setiap sujud agar ibu dan bapak diberikan kesehatan dan kebaikan.


"Loh key, kamu sudah pulang" Ibu datang dan menegurku karena pulang terlalu awal.

__ADS_1


"Ibu" Aku memeluk ibu dengan erat. Aku tau saat ini ibu lelah tapi pasti ia akan menampakkan tawanya bukan kesedihan dan rasa lelahnya.


"Kamu kenapa pulang dahulu? " Tanya ibu padaku.


"Key khawatir bu sama bapak, tapi Key gak bolos kok. Key ijin ke bu guru biar bisa pulang lebih dulu" Aku mencoba menjelaskan takutnya ibu menganggapku sedang bolos sekolah.


"Syukurlah kalau kamu tidak bolos, ingat ya sekolah kamu juga penting loh" Nasehat ibu padaku.


"Tapi bapak juga lebih penting bu"


"Nak, nak, kamu ini memang kebahagiaan yang Tuhan kirimkan buat keluarga ibu" Ibu memelukku dan mbak Yeni. Kehangatan mana lagi yang aku rasakan jika bukan kehangatan dari seorang ibu.


Saat sore hari Ari dan Yuri menjenguk bapak. Aku bercerita tentang sakit yang dialami bapak. Aku ditemani mereka berdua di ruangan. Ari dan Yuri juga menghiburku, katanya agar aku tersenyum dan tidak memikirkan beban apapun. Mereka tidak pernah lupa untuk membuat hariku lebih berwarna.


Mereka berdua juga membawa buah tangan untuk bapak. Ari dan yuri juga mengajak bapak dan mbak yeni berbincang-bincang seperti keluarga sendiri. Mbak yeni dan mbak Nike sudah sangat akrab dengan mereka berdua. Jadi sudah seperti adik sendiri katanya.


Dulu saat aku bertengkar dengan Ari, mereka berdua slelau menanyakan tentang Ari. Katanya kenapa dia tidak pernah datang sehingga membuat mbak Nike dan mbak Yeni rindu kekonyolannya. Tapi yang paling penting itu adalah masa lalu, dan sekarang kita harus membangunnya lagi untuk memoererat tali persahabatan.


"Key, aku dengar tadi kamu bertengkar dengan duo tengok itu? " Tanya yuri dengan wajahnya penasaran. Dia selalu suka membuka gosip di awal keheningan.


"Oh itu, bukan apa-apa. sudahlah lupakan duo sejoli itu"


"Kata Key yur, lupakan mereka karena otaknya ada saja dengkul dan selalu berbuat ulah"


"hahahhaah"


Untung saja berada di luar jadi tidak menganggu istirahat bapak. Kami terus berbincang banyak hal dan tertawa kesana kemari dengan cerita yang berbeda.


Saat Ari dan Yuri pulang, tinggallah aku dan mbak Yeni di sini. Disini aku dan mbak Yeni yang menjaga bapak. Kadang bergantian juga dengan mbak Nike. Tapi saat malam mbak Nike pulang karena harus kerja besok pagi. Sedangkan ibu juga pulang agar bisa beristirahat. Biar aku dan mbak Yeni yang menemani bapak.




Saat adzan subuh berkumandang aku terbangun. Membersihkan diri di kamar mandi rumah sakit dan berganti baju bersih untuk beribadah pada sang Pencipta. Mengambil air wudhu dengan baik lalu beribadah dengan khusyuk menghadap rumah Allah.



"Ya Allah, yang maha pengasih lagi maha penyayang. Engkaulah pemilik kehidupan ini, hamba hanya meminta untuk memberikan kesembuhan dan kesehatan bagi bapak serta ibu hamba saat ini. Hamba ingin melihat mereka tersenyum" Dalam sendu aku mengadu pilu.



Di hadapan sang pencipta, aku hanyalah makhluk paling kecil dan sangat kecil. Aku menunduk serendah-rendahnya untuk memohon ampunan dan meminta perlindungan dan harapan padanya. Aku berlindung padanya dan hanya kepada Tuhanku lah aku bersujud dan bersyur.



Saat ini adalah hari pertandingan ku, sepertinya aku harus ijin untuk tidak bertanding dan menjaga bapak disini. Aku bimbang, jika pertandingan ini kalah maka tim kita tidak akan bisa bermain di luar kota. Tapi jika aku ikut bertanding lalu bagaimana dengan bapak.



"Ya Allah, tunjukkan jalan dan kebaikan engkau pada hambamu yang lemah ini" Aku bersujud begitu lama. Berdoa dalam aujud akhir dan berharap dikabulkan akan semua doa yang telah aku panjatkan.



"Key, ayo makan dulu" Aku terkejut saat melihat ibu sudah datang dan membawa rantang untuk sarapan ku dan mbak Yeni.



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~

__ADS_1


__ADS_2