
Aku pulang ke rumah, semua tubuhku lelah dan badanku rasanya sakit. Apa karena pikiranku terlalu banyak sehingga memberikan efek samping pada tubuhku ini. Entahlah, yang penting aku ingin istirahat dahulu.
*Dretttt, drettt* (dering ponsel)
"Aduh, baru saja aku merebahkan diri. Memangnya tidak bisa apa melihatku istirahat sebentar saja" Gumamku kesal berbicara sendiri dan bergegas mengambil ponsel.
Ternyata itu adalah ibunya Ani, dia memintaku untuk datang ke kantor polisi dan menjelaskan kronologi yang ada kemarin untuk dijadikan informasi lebih lanjut agar kasus hilangnya ani tidak buntu.
"Baik tante, key akan segera berangkat" Apapun yang berkaitan tentang Ani, aku akan membantu untuk menemukan salah satu sahabatku walau tubuh ini masih lelah.
Aku segera berganti baju dan bergegas untuk pergi. Aku berpamit pada ibu dengan alasan untuk keperluan sebentar karena aku takut ibu khawatir apabila aku berbicara jujur.
"Aduhhh, bisa cepat sedikit tidak pak? "
"Iya mbak, di depan sepertinya ada macet"
"Kita cari jalan lain saja pak"
"Oke mbak"
Bapak ojek online memilih putar balik karena waktuku sangat sedikit dan harus cepat menemui mamanya Ani di kantor polisi untuk memberikan keterangan.
Sesampainya disana aku duduk dan memberikan keterangan yang aku ketahui. Semua keterangan itu aku berikan dengan jelas tanpa ada kekurangan ataupun kelebihan tentang apa yang telah di ucapkan. Aku juga berkata tentang mobil yang berwarna hitam saat aku kembali menemui Ani.
Hampir 1 jam aku duduk di depan polisi untuk memberikan keterangan. Memang sangat susah karena keterangan itu terus berkembang hingga ke ujung yang aku ketahui.
"Baiklah, keterangan kamu sudah saya terima dan kamu boleh keluar" Aku keluar dari ruangan dan menemui mamanya Ani.
Matanya sembab karena terus menangis tanpa henti atas kehilangan Ani anak kesayangannya. Bagaimana bisa aku tega jika melihat air mata ibu dalam sebuah kesedihan yang dalam.
"Tante"
"Key, Terima kasih atas keterangan yang kamu berikan" Aku memeluknya dengan erat.
Saat ini tubuh dan hatinya sangat lemah. Orang tua manapun tidak akan ada yang mau kehilangan anak yang dia sayangi.
"Tante, maafin Key yang tidak bisa menjaga Ani dengan baik" Aku merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Ani sahabatku dengan baik sehingga dia diculik.
Aku dan keluarga Ani begitu dekat saat kami berdua menajadi sahabat di klub tarkam. Ani sering bercerita denganku, dan tidak jarang kami juga duduk bersama dan bercerita saat ada waktu senggang dia sela-sela latihan.
"Kamu tidak salah nak, om yang salah karena tidak menjemput Ani tepat waktu" Ayahnya Ani mendekat menampakkan wajah kekecewaannya pada dirinya sendiri. Aku juga tidak bisa berkata apapun karena situasi saat ini benar-benar serius.
Kesedihan dan kekecewaan pada dirinya sendiri sangat terlihat dari mata kedua orang tua Ani. Bagaimana bisa aku menahan hal seperti ini. Sedangkan air mataku juga meneteskan air kesedihan.
"Ani pulanglah, aku benar-benar merindukanmu" batinku berseru dalam pilu. Menatap kedua orang tua Ani yang membuatku tidak bisa menahan kepedihan.
Di lain sisi aku takut dan khawatir dengan keadaan Ani di luar sana dan di lain sisi aku tidak tega melihat air mata kedua orang tua Ani menetes kembali.
"Om, tante, kalian harus pulang dan beristirahat. Kita berdoa di rumah, minta pada sang Pencipta agar Ani bisa ditemukan" Ucapku untuk mengusir kesedihan mereka yang menetap disini.
"Baiklah nak, kamu juga pulanglah dan hati-hati di jalan"
"Baik om"
Mereka berdua mau mendengarkan apa yang aku bicarakan tadi. Sehingga mereka berdua pulang dan mencoba membuat rasa ketenangan dengan mendekatkan diri pada pemilik alam semesta ini yaitu Allah SWT .
Aku juga kembali pulang, tapi rasanya pikiran ini penuh tentang tanda tanya. Kemana kepergian Ani sebenarnya. Aku bahkan tidak mengetahui itu. Aku juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi hari ini.
"Ya Allah, tolong kembalikan Ani untuk bersama kami. Dan tolong lindungilah dia dimanapun kakinya berpijak. Aamiin ya rabb" Doaku sebelum tidur berharap ada kabar baik tentang Ani besok.
Malam ini aku memaksa mata untuk terpejam dan menyingkirkan sejenak pikiran yang sangat sesak. Aku ingin tidurku terlelap walaupun tidak sepenuhnya.
*dretttt, dretttt*
"Aduh, baru saja ingin tidur. Siapa sih telepon malam-malam seperti ini" Kesalku dan kembali mengambil ponsel yang ada di atas nakas.
"David" Seketika wajahku ceria dan mengangkat telpon tersebut.
"Halo David apa kabar? " Entah mengapa rasaku sedang bahagia saat ini karena sedang bertelfonan dengan David.
"Halo Key, kabar aku baik. Bagaimana denganmu. Dan aku rindu sekali denganmu karena kita sudah lama tidak bertemu" Perkataannya membuat hatiku sejuk.
"Hmm, kabarku alhamdulillah baik kok" Jawaban singkat.
Dalam telepon selalu saja aku tersenyum-senyum sendiri. Aku sangat senang berbicara dengannya. Dia menceritakan semua pengalaman mulai dari awal seleksi hingga masuk ke dalam timnas dan bermain melawan singapura kemarin.
Dia sangat antusias menceritakan semuanya padaku. Kami tidak berpacaran, namun di hati ini seakan berkata memiliki hubungan yang spesial. David terus saja berkata bahwa dia akan pulang setelah pertandingan selesai dan akan bermain di klub yang terbaik.
"Vid, bolehkah aku bercerita? "
"Boleh dong silahkan, apa sih yang nggak buat kamu" Aku berfikir sejenak tentang kesedihanku karena kehilangan Ani. Aku ingin berbicara tentang Ani padanya.
"Ehmmm" Namun bibirku terdiam dan membisu.
Aku kembali mengingat jika bercerita hal yang membuatku sedih, aku takut akan berpengaruh pada David yang membuat penampilannya turun
Aku tidak ingin dia ikut berfikir keras tentang bilangnya Ani.
"Apa? "
"Hmmm, kamu kapan pulang? "
__ADS_1
"Sudah benar dugaanku, kamu juga merindukanku seperti aku merindukanmu. Tapi kamu selalu saja berbohong dan menyembunyikan kerinduan itu"
Ucapannya sangat tepat sekali. Aku sangat pemalu untuk mengatakan bahwa hatiku juga sangat rindu dan ingin melihatnya lagi di sekolah. Bibirku hanya bisa memantulkan senyum karena pembicarannya.
"Ti... Tidak, aku tidak rindu"
"Tapi kangen, hahahahha" Tertawa sangat puas dari David. Membuatku kembali tersenyum sendiri di kamar ini.
"Sekarang kamu tidur karena sudah malam, kamu nyalakan videonya dan aku akan menjagamu hingga kamu terlelap" Tuturnya lembut dan sangat romantis.
Dia rela terus mengangkat ponselnya yang sedang melakukan video call denganku. Katanya ingin menunggu aku terlelap baru dia akan mematikan ponsel tersebut.
"Baiklah, aku tidur dulu ya dan kamu jaga diri baik-baik di sana" Dengan senyumannya yang khas terpantul di layar kaca.
Aku terlelap dan sesekali dia mendongeng tentang sepak bola padaku. Akhirnya aku bisa tidur dengan nyaman tanpa ada rasa tekanan.
\*drettt, dretttt\*
"Aduh siapa sih pagi-pagi sekali. Aku kan ingin berangkat sekolah" Telepon di dalam tas berbunyi, sekarang ponsel ini sibuk dengan orang memanggilku di waktu yang tidak tepat.
Saat aku melihatnya itu adalah nomor mamanya Ani. Aku segera mengangkatnya, siapa tau ada informasi tentang Ani.
"Halo, assalamu'alaikum tante"
"Waalaikumsalam Key, Key Ani meninggal" Tubuhku seakan membeku mendengar perkataan itu. Bibirku membisu dan rasanya seluruh tubuh sangat lemas.
Aku yakin ini hanya kebohongan dan aku tidak percaya semua ini. Ani biasanya suka becanda dan aku tau itu. Pasti dia mencoba membohongiku agar aku bisa menjenguknya kali ini.
"Tante becanda kan? Ayolah tante ini masih pagi, dan tidak mungkin Ani pergi secepat itu. Pasti dia sudah ditemukan kan? "
"Tidak nak, Ani sudah meninggalkan kita semua" Isak tangis terdengar saat beberapa kalimat keluar dari bibir mama ani di telepon.
Aku langsung masuk ke dalam rumah dan berganti pakaian. Kali ini aku menghubungi Ari dan Yuri untuk membantuku membuatkan surat ijin sakit karena aku ingin ke rumah Ani. Hatiku masih belum percaya sebelum melihat Ani sepenuhnya.
"Buk, Key mau menjenguk sahabat Key yaitu ani untuk terakhir kalinya, Key mendengarkan kabar bahwa Ani meninggal"
"Apa? Benarkah? " Aku mengangguk, mataku sudah berkaca-kaca menampakkan kesedihan.
Ibu memilih untuk menutup warung dan ikut bersamaku ke rumah Ani. Begitu juga dengan bapak yang ikut bersama kami. Dalam satu motor kami berboncang tiga yaitu bapak, aku dan ibu.
"Pak apakah tidak bisa cepat"
"Tidak nak, sabarlah. Kamu harus bisa menenangkan diri" ucap bapak.
Melajukan sebuah motor dalam perjalanan yang pilu. Mataku takut melihat kenyataan tentang Ani. Aku tidak ingin dia pergi begitu saja, dia sudah berjanji untuk bermain dan mengambil kemenangan lagi bersamaku.
"Kiri pak" Benar saja, bendera kuning sudah terpasang.
Aku melangkah secara perlahan ke dalam rumah. Terlihat peti mati berwarna putih yang sudah tertutup rapat. Ibu dan bapak juga ikut masuk untuk memberikan bela sungkawa pada keluarga Ani.
"Tante, Ani? " Aku menunjuk ke peti mati tersebut sambil melihat mamanya Ani yang sedang bersimpuh memeluk peti itu.
"Key, Key kemarilah" Aku berlari dan memeluk mamanya Ani. Tangisku pecah dan tidak bisa terbendung lagi. Aku terus menangis dalam pelukannya. Aku tidak menyangka Ani pergi secepat itu.
"Ani, kenapa kau pergi meninggalkanku. Jika memang kau tidak suka padaku, maka pergilah sejenak saja lalu kembali" Berbicara pada peti mati di hadapanku adalah pembicaraan orang gila.
__ADS_1
Benar aku sangat gila, karena sahabat dalam satu tim kini pergi tanpa pamit. Aku terus berbicara dengan udara, sedangkan air mataku terus saja mengalir deras dan membasahi peti mati ini.
"Kau bilang ingkn menjadi pemain hebat bersamaku, dan kau juga bilang ingin menjadi pemain timnas kan? Tapi kenapa kau meninggalkan aku lagi Aniiii" Teriakanku mengejutkan orang-orang yang sedang melayat.
\*buk, buk, buk\* Aku memukul keras lantai keramik itu.
Di samping peti mati Ani aku meluapkan kekeselan yang menyelimuti hatiku karena tidak mampu menjaga Ani sehingga dia menjadi seperti ini.
"Ani kembalilah, aniiii" Teriakanku semakin menjadi-jadi. Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan agar memeluk Ani untuk terakhir kalinya.
"Bukankah sudah ku bilang jangan becanda, kau masih banyak berhutang janji padaku" aku meracau terus dan berusaha membangunkan Ani, walaupun itu mustahil.
Tanganku berusaha untuk membuka peti mati itu secara gila. Tapi mereka mencoba menahanku dengan sekuat tenaga. Aku terus saja memberontak untuk membuka peti itu.
"Key, keyla, Ani sudah tenang di surga sana nak. Kamu harua mengantar Ani dengan pikiran yang jernih" Belaan lembut dari mamanya Ani membuat hatiku tersentuh.
Tapi rasa ini benar-benar kacau, aku tidak bisa berpikir jernih. Rasaku masih sama merasakan kekecewaan pada diriku sendiri. Rasa bersalah terus melintas di benakku saat ini.
"Tante, katakan padanya bahwa aku menunggu Ani. Dia akan kembali bermain bola bersamaku serta tertawa di sepanjang latihan tante" Aku tidak bisa menerima semua kenyataan ini.
Mamanya ani kembali memelukku dan mencoba menemukan jiwa yang gila ini. Begitu juga dengan ibu yang mencoba menemukan hatiku agar tidak kacau kembali. Aku terus saja meracau tidak jelas tentang keinginan Ani yang selalu disampaikan padaku dan aku selalu mengingat itu.
"Bukankah kau ingin menjadi teman duel terbaik bersamaku Ani? Dan mengapa kau pergi serta meninggalkan aku sendiri" Ocehan itu terus saja spontan keluar dari mulutku.
"Tante, ibu, semuanya. Ani meninggal karena di bunuh. Pasti ada yang sengaja membunuh Ani" Aku terus berbicara kenyataan yang aku ketahui. dan keyakinanku besar bahwa Ani meninggal karena dibunuh oleh penculik tersebut.
Tapi mamanya Ani berkata bahwa dia ditemukan hanyut di sungai. Seseorang melihatnya bahwa Ani melakukan bunuh diri. Dia tidak di culik akan tetapi meloncat dari sungai untuk mengakhiri hidupnya.
"Tidak, Ani tak sebodoh itu. Tolong dengarkan aku"
"Tenanglah nak, ibu ada disini. Hatimu saat ini sedang kacau.
Tidak ada seorangpun yang percaya dengan ucapanku. Padahal aku berbicara tentang kebenaran namun tidak ada respon dari mereka semua.
Tapi keyakinanku masih sama bahwa Ani dibunuh, dia tidak mungkin melakukan bunuh diri karena hal-hal kecil. Selama ini Ani tidak pernah memiliki masalah yang teramat besar.
Meskipun dia putus cinta tapi dia selalu bersemangat menjalani hari bersama nasehatku. Tapi keluarganya masih mengatakan hal sama tentang kematian Ani karena bunuh diri.
"Nak tenang, yang sabar. Sahabatmu sudah tenang di surganya Allah"
"Ibuuu" Belaian tangan lembut ibu mencoba menenangkan aku. Sedangkan tubuhku semakin lemas seperti tidak ada tenaga sama sekali.
Kepalaku pusing, tanganku sulit di gerakkan. Kakiku juga sama, tidak ada tenaga lagi untuk memberontak. Suaraku juga hampir habis karena terus berteriak, Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
"Nak bangunlah" Suara ibu membangunkan ku. Tubuh ini masih terasa lemas sekali.
"Dimana Ani bu? "
"Ani sudah berjalan ke pemakaman" Aku langsung berdiri dan mengejar ambulan yang sedang membawa Ani ke tempat istirahat. Tapi sayang langkahku terlalu kecil, lalu bapak datang dan mencoba membawaku menggunakan motor.
__ADS_1
Akhirnya aku sampai di pemakaman dan menyaksikan bagaimana sahabatku sudah masuk ke rumah barunya. Dia terbaring abadi di dalam sana dan menuju surganya Allah.