Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
147. Surat Dari Adit


__ADS_3

Ibu dan bapak tidak ingin melepaskan pelukannya padaku. Sedangkan aku juga demikian karena baru kali ini mereka datang ke stadion untuk menonton pertandingan terakhir.


"Bapak, ibu apakah aku boleh memeluk Key juga?" Tanya mbak Yeni karena melihat aku dipeluk oleh bapak dan ibu sangat lama. Mungkin dirinya juga rindi karena tidak ada yang dijahili saat dirinya berada di rumah.


"Boleh, boleh silahkan" Ucapnya sambil menyeka air mata.


Ibu melepaskan pelukan dan segera mengusap air mata yang menetes terlalu banyak. Dari sorot matanya terlihat jelas bahwa kerinduan itu menyiksa ibu.


*plak* pukulan di kepala tidak akan ketinggalan dari tangan mbak Yeni yang tengil.


"Akhirnya adikku berhasil membawa kemenangan untuk kota kelahirannya" Tidak lupa tangan mbak Yeni menghancurkan tataan rambutku yang sudah terikat rapi.


"Benar, aku juga bangga denganmu key" Mbak Nike juga datang memelukku dengan erat. Teroancar jelas kebahagiaan dalam hari di matanya.


"Terima kasih mbak, kalian berdua lah yang hebat karena terus memberikan semangat untuk meraih cita-cita yang aku impikan" Sahutku sambil membalas pelukannya.


Kebahagiaan kembali datang pada hidupku yang pernah merasakan kata kemalangan. Kini kehidupan yang aku jalani telah dipenuhi orang-orang baik. Diantaranya kedua sahabatku yang sangat baik dan keluarga angkat yang benar-benar seperti malaikat.


Di satu sisi aku bahagia dengan keakraban ini, melihat senyum dan tawa dalam suasana meriah dengan kemenangan yang luar biasa. Di satu sisi lagi aku rindu ayah dan ibu untuk hadir melihat senyumku dalam kemenangan.


Pikir ku selalu berandai-andai, jika saja mereka tidak pergi sewaktu aku kecil mungkin kebahagiaan akan dirasakan kami bertiga. Dan mungkin juga aku tidak akan menemukan kasih sayang sesungguhnya dari orang terdekat yaitu keluarga bu Yanti.


"Key, selamat ya" David mendekat padaku.


"Makasih, ini semua karenamu yang memberikan buku serta isyarat itu" Sahutku karena dia telah memberikan beberapa partisipasi dalam kemenangan, diantaranya buku yang kemarin dia berikan dan isyarat yang tadi diucapkan lewat gambaran tangan.


Karenanya aku bisa membaca strategi lawan yang benar-benar hampir sama dengan tulisan dari buku David. Dengan begitu kemenangan menjadi milik kami.


Sejenak berfikir, mengapa dengan mudah mereka menguasai taktik itu dalam semalam. Sungguh hal aneh dan penuh tanya jawab. Mungkin mereka telah berlatih keras sebelum pertandingan dimulai.


"Tidak, semua itu karena kerja kerasmu menjadi kapten" Aku tersenyum mendengar ucapannya yang terus-terus memuji, padahal aku hanya pemain biasa dan masih banyak pemain yang lebih hebat lagi.


"Cieeee, kalian sudah baikan nih? " Yuri dan Ari melihat aku yang sedang ngobrol dengan David.


Dan gatal rasanya bibir mereka jika tidak mengangguku. Aku harus berhati-hati jika tidak ingin malu sendiri dengan ucapan mereka yang menyinggung hatiku untuk David. Bibir mereka selalu bocor.


"Iya, aku dan Key sudah baikan"


"Siapa bilang? Aku masih marah denganmu karena di sekolah masih bermesraan dengan Adel" Ketusku sambil memberikan tatapan menyelidik.


"Memangnya kamu kata siapa? Sok tau saja"


"Dengar ya punggawa, aku memiliki mata-mata di sekolah jadi tau semuanya" Sahutku dengan berkacak pinggang.


Tatapan David langsung tertuju pada Ari dan Yuri. Seakan dirinya tau bahwa mata-mata yang aku maksud adalah mereka berdua. Ari dan yuri langsung mengalihkan pandangan ke sembarang arah untuk menghindari tatapan David.


Mereka mengalihkan semuanya seakan-akan tidka tau apa-apa. Bibirki swlalu dibuat tersenyum oleh kedua sahabatku yang konyol.


"Tapi aku juga tau satu hal" David kembali membuka pembicaraan. Aku penasaran hal apa yang dia maksud.


"Apa? "


"Bahwa kamu selalu memikirkan aku saat disekolah. Dan selalu mencuri pandangan saat aku berjalan dengn Adel" Aku tertegun dengan perkataannya, merasa heran dengan yang dimaksud David karena semua itu adalah benar.


"Sok tau kamu, aku saja sudah lama tidak bersekolah" Sahutku seolah-olah baik-baik saja, padahal jantung ini berdetak dengan kencang.


"Aku tau lah, karena mata-mata yang kamu letakan disekolah memberitahu semuanya. Makanya aku kesini" Wajahku langsung menatap Ari dan Yuri.


Mereka terdiam dan melihat kembali ke sembarang arah sambil tersenyum kecil. Sengaja melakukan sesuatu untuk mengalihkan tatapan ku. Aku benar-benar malu saat David mengetahui semua itu. Rasanya aku ingin memeberikan pelajaran pada mereka berdua.


"Ari, yuri" Teriakku dan mengejar mereka berdua.


Ari dan Yuri berlari kencang. Aku segera ingin menangkapnya dan memberikan gelitikan kecil untuk membuat mereka kapok karena telah memberitahu David tentang hal yang sebenarnya.


"Tunggu kalian ya" Aku tersisa berlari sambil tertawa melihat mereka mengelilingi ibu, bapak, mbak Nike, mbak Yeni dan terakhir David untuk mencari perlindungan.


"Aaaaa"


"Key"


*buk* aku terjatuh dan David sangat sigap menangkap ku sehingga kepala ini terjatuh tepat di dada David.


Mataku tercengang melihat hal ini, sedangkan dia tersenyum melihatku. Padahal aku sangat malu terjatuh di dadanya. Ini semua gara-gara Ari dan Yuri sehingga aku tersandung dan terjatuh.


"Astaga, ayo bangun. Jangan tiduran di sini" Ketus mbak Yeni sambil membantuku bangun dari tubuh David.

__ADS_1


Begitu juga dengan Ari dan ayuri membantu David untuk bangun. Aku segera berdiri dan membersihkan tubuh yang kotor. Dan mencoba membantu David membersihkan punggungnya yang juga kotor.


"Maaf, maaf, gak sengaja" Ucapku sambil menggabungkan telapak tangan sebagai permohonan maaf padanya karena telah menjadi tubuh David dengan badanku yang berat.


"Tenang saja, aku gapapa kok" Sahutnya sambil tersenyum.


"Katanya kita mau ke asramamu, dan duduk santai disana" Ucap Ibu.


"Iya betul bu, sebentar lagi aku naik bus dan kalian naik mobil saja ke asrama"


Kami semua bersama tim kebanggaan kembali ke asrama. Begitu juga dengan ibu yang ikut ke asrama untuk berbincang-bincang denganku. Sebelumnya aku membersihkan diri dan semua pemain diperbolehkan untuk menemui keluarganya.


Kami para pemain akan kembali besok ke kota kelahiran dan saat kunjungan telah habis, ibu dan keluarga segera pulang begitu juga dengan Ari dan Yuri.


"Ibu pulang dulu ya nak, kamu jaga diri baik-baik dan besok hati-hati saat pulang"


"Siap buk bos" Sahutku sambil memeluknya. Begitu juga dengan bapak yang berapmit untuk pulang.


"Jaga diri baik-baik nak, bapak bangga padamu"


"Key juga bangga pada bapak, karena menjadi lelaki hebat yang bertanggung jawab" Aku memeluk bapak dengan kasih sayang.


"Kita akan menyambutmu besok, biar orang kampung tau bahwa kamu adalah anak berprestasi, bukan benalu" Aku tersenyum melihat wajah mbak Yeni yang kesal saat mengatakan hal itu.


Karena selama ini mereka semua menganggapku adalah anak haram dan tidak berguna di kampung. Dan sekarang aku membuktikan bahwa anak kampung yang dibenci bisa bangkit ke titik tertinggi sedikit demi sedikit.


"Aku dan Ari juga pulang key, kalau David aku tidak tau apakah menunggumu atau pulang juga" Bisik Yuri tepat ditelinga saat dia memelukku.


"Sekali lagi mulutmu bicara, maka aku akan meremas nya"


"Hahahah" Yuri tertawa keras dengan ucaoanku.


"Tenang saja, David sudah tau semua. Lihat dia sekarang semakin dekat denganmu bukan" Sambung Ari dan melihat ke arah David yang ada di sampingku.


"Bagaimana vid, bagus bukan? " David mengacungkan jempol saat mendengar pertanyaan Ari. Aku tidak tau apa yang sedang mereka rahasiakan.


"Sudah pulanglah, kalian berdua snagat berisik. Oh iya ingat, jaga keluargaku saya masuk dalam mobil kalian"


"Siappp"


Senyuman mereka adalah senyumanku, jadi aku tidak merasa kesepian lagi saat mendapatkan kemenangan ini. Banyak syukur yang aku ucapkan, karena Tuhan memberiku kesempatan di hari yang paling baik ini.


"Dadahh, Hati-hati di jalan bu" Teriakku dan di balas dengan lambaian tangan oleh mereka.


"Key"


"Hmmm" Sahutku saat David memanggil dan meletakkan tangannya dibahuku.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah bisa menjawab pertanyaan kemarin?"


"Aku....hmmm, aku..... Apakah aku boleh istirahat, karena aku sedang mengantuk. Aku akan menjawabnya besok"


Sebenarnya aku bingung ingin berbicara tentang iya atau tidak padanya. Tapi sangat susah menjelaskan hal itu pada David. Sedangkan aku masih ingin mengejar cita-cita menjadi pemain timnas.


"Baiklah, aku akan menunggumu" Terlihat wajah kecewa dari David.


Ternyata aku jahat karena menyakiti perasaannya dengan memendam rasa dan tidak mengungkapkan tentang rasa dengan jujur padanya.


"Apa kamu mau pulang malam ini?"


"Tidak, aku akan pulang besok pagi dan ijin tidak masuk ke sekolah. Lagipula kamu juga akan pulang besok dan lusa baru masuk sekolah kan?" Ternyata dia hampir tau semua tentangku.


"Benar sekali, bagaimana tidurmu sekarang? "


"Tenang saja, aku sudah memesan penginapan hari ini. Dan kamu tidur jangan terlalu malam, serta jangan lupa bermimpi" Pesannya padaku.


"Iya, kamu juga jangan terlalu malam. Hati-hati di jalan"


"Iya, siap" Sahutnya sambil tersenyum dan kembali mengelus kepalaku seperti biasa.


"Dahhh" David melambaikan tangannya dan bergegas pergi. Aku membalasnya dengan senyuman dan juga lambaian tangan itu.


"Maaf, aku belum bisa menjawab semua itu. Tunggu besok dan aku akan menjelaskannya" Gumamku dalam hati sambil tersenyum paksa melihat kepergian David.


Di Kamar Asrama

__ADS_1


Kamar masih terlihat sepi karena beberapa dari mereka menyambut kedatangan orang tuanya dan berbincang-bincang hingga malam. Kali ini aku tidak melihat sosok Adit dan juga Ani, aku yakin mereka berdua datang namun tidak menampakkan diri.


"Aku harap kamu juga merasakan kemenangan ini Ani, tapi rasanya tidak lengkap bila wajahmu tak menemuiku" Aku duduk di atas ranjang dan bersandar.


Kali ini aku memikirkan Ani, karena saat kemenangan telah mendarat tapi Ani belum saja menampakkan diri. Aku tidak tau lagi apa yang harus dilakukan agar dia bisa bebas bermain bola seperti dulu.


"Keyyyy"


"Sonya. Menampakkan bahagia sekali wajahmu" Terlihat Sonya berlari dan mendekat ke arahku.


Dia berkata bahwa kedua orang tuanya memberikan hadiah yang sangat ia inginkan mulai dulu setelah kemenangan yang didapatkan.


"Hadiah apa? "


"Lihat, kamu lihat ini"


"Buku? "


"Bukan, ini album boyband Korea yang sangat aku suka" Aku menepuk jidat dengan keras.


Aku pikir dia mendapatkan hadiah yang sangat besar atau istimewa dan terdapat hadiah album boyband Korea yang dia suka. Sonya adalah salah satu pemain yang menyukai hal berbau Korea.


Dia menyukai penyanyi Korea, andai saja dia tau bahwa ada pemain bola Korea yang menjadi oanutan yaitu Son. Dia sudha bermain di Eropa, rasanya aku ingin seperti dirinya.


"Hmmm, baiklah. Selamat ya Sonya karena kamu mendapatkan hadiah besar yang selama ini diimpikan" Aku ikut tersenyum dan memluknya.


"Oh iya key, ini ada titipan dari Adit untukmu"


"Apa? "


"Bukalah" Sebuah surat dan buket bunga seperti biasa. Adit memiliki hobi memberikan bunga untukku.


"Makasih ya"


"Iya sama-sama" Sahutnya dan dia pergi ke tempat tidurnya sambil memandangi album yang ia pegang. Seakan dia telah menemukan dunia yang sesungguhnya.


****


Dear Keyla


Pertama aku mengucapkan selamat atas keberhasilanmu, maaf aku tidak bisa memberikan surat ini secara langsung karena aku ingin menyatakan hal besar.


Selama ini aku menyukaimu, bahkan bermimpi selalu bersamamu. Memang umur kita berbeda tapi hanya sedikit. Entah mengapa aku nyaman berada di dekatmu. Namun semuanya berubah saat aku tau bahwa hatimu hanya untuk David.


Bersama surat ini aku menyatakan mundur untuk mengejarmu. Sekarang kamu bebas memilih cinta dan hidupmu, karena senyummu adalah senyumku dan bahagiamu adalah kebahagiaanku.


Dan aku tidak akan egois, karena cinta yang sesungguhnya tidak harus memiliki.


Salam hangat


Adit


****


"Terima kasih atas perhatianmu selama ini dit, aku harap kamu memiliki kekasih yang lebih hebat dibanding denganku" Aku tersenyum sambil memegang surat itu dan menyimpannya.


Aku merebahkan diri dan tersenyum menatap langit-langit kamar. Aku bahagia hari ini karena telah diberikan kepercayaan untuk menjalani hidup dengan baik hingga saat ini.


Setiap sujud aku selalu berdoa agar dapat dipermudah menggapai cita-cita dan bisa bermain bola dengan baik. Dan sekarang doa itu dikabulkan satu persatu oleh Allah SWT.


"Lili, aku ingin nerbicara dneganmu" Aku berdiri dan mendekat pada Lili yang baru datang setelah bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Ada apa key? " Tanyanya dengan antusias dan bahagia menatapku.


"Mana buku yang kemarin aku pinjamkan padamu" Lili terdiam dan wajahnya mulai terlihat kebingungan. Beberapa kali terlihat dia menelan salivanya dalam-dalam.


"Ada apa? Menagapa kamu diam?" Ujarku dan menatapnya kembali dengan kekecewaan.


"Aku tau bahwa kamu membocorkan buku itu pada tim lawan kan? " Sonya dan Sela terkejut mendengar ucapanku. Mereka segera merapat pada Lili dan aku.


Aku sudah tau hal itu karena mereka sendiri melakukan strategi persis sesuai gambar dari David. Dan David juga membenarkan hal itu karena dia sendiri yang menulis serta menggambar buku itu.


Di buku tidak sepenuhnya tentang strategi timnas dannada polesan sedikit dari David tentang strategi yang dia bawa dari luar negeri. dan strategi itulah yang juga dilakuakn oleh tim lawan.


__ADS_1


__ADS_2