Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
94. Menjadi Detektif


__ADS_3

Aku mencoba mendengarkan penjelasan yang lebih jelas meskipun tadi malam aku hanya mendengarkan sekilas saja. Yuri menjelaskan panjang lebar dan intinya adalah Yuri tidak setuju dengan pernikahan tersebut.


"Baguslah kalau kamu tidak mau, karena aku setuju denganmu Yur" Sahut ku dengan santai.


*plak* Ari memukul kepalaku saat mendengar apa yang aku katakan tadi.


"Kamu kenapa bilang begitu Key, kan enak Yuri punya ayah tiri yang akan menjaga dan mendidiknya" Jelas ari


"Tidak ri, tadi malam...... " Aku menceritakan pada Ari dan Yuri bahwa tadi malam aku mendengarkan lelaki itu bicara sendiri. dia bergumam akan mengambil alih semua harta mama Yuri. Karena dia menikah bukan karena cinta melainkan karena harta.


*brak* yuri menggebrak meja dengan keras, membuat aku dan ari terkejut menatap Yuri.


"Aduh, sakit" Aku tertawa melihat kelakuan Yuri. Dia yang memukul meja dan dia juga yang merasakan kesakitan.


"Hahahha, makanya jangan sok mukul meja. Dipikir meja itu empuk kayak kasur apa" Gumamku sambil tertawa kecil.


"Habisnya aku kesal, dari wajahnya aku sudah melihat jika dia orang jahat" Ternyata pemikiran Yuri memang benar. Bahwa lelaki itu memiliki pemikiran yang buruk.


"Tapi aku bingung bagaimana caranya untuk berkata pada mama" Yuri bingung karena mamanya sudah sangat mencintai lelaki itu.


Aku dan Ari juga tidak memiliki cara untuk mencari tau tentangnya. Kami menjadi bingung apa yang harus dilakukan untuk menolong Yuri.


"Tenang, masalahmu adalah masalah kita juga. Jadi kita akan mengeluarkan kamu dari masalah ini" Ucap ari, dan aku sangat setuju dengan perkataan Ari.


"Betul, aku akan melakukan apapun kalau perlu jadi detektif" Ucapku dengan semangat untuk membantu Yuri.


"Oh iya, seminggu lagi mama akan mengadakan lamaran mendadak dengan lelaki itu. Dan juga akan di meriahkan dengan pesta" Aku memiliki ide saat Yuri mengatakan hal tersebut.


"Oke dengarkan ide ku" Aku membisikkan sesuatu pada mereka berdua.


"Aku setuju" Tutur Ari dan Yuri dengan apa yang telah aku katakan.


"Terus kapan akan kita lakukan? " Tanya Yuri yang penasaran dengan keberhasilan dari rencana yang sudah aku susun.


"Kita lakukan setiap waktu, tapi nanti aku nyusul kalian karena nanti sore aku latihan bola"


"Oke siap Key" Senyuman kembali ada di bibir kami. Mengusahakan rencana berhasil agar mama Yuri tidak jadi nikah dengan lelaki buruk itu.


"Sudah, sudah. Ayo kita ke kantin. Aku lapar sekali" Gara-gara berbincang keluarga Yuri, perutku sakit karena lapar. Kami bertiga langsung pergi ke kantin untuk memesan makanan.


Di perjalanan aku melihat David bergandengan dengan Adel. Dia hanya menatapku dan tidak menyapanya. Tangannya dipeluk erat oleh Adel seperti pasangan yang sangat mesra. Mataku tidak berkedip melihatnya, begitu juga David tapi dia memalingkan wajah dan tidak menyapaku.


"Kalian kenapa sih? Sedikit dekat sedikit bertengkar" Ucap Ari saat melihat aku dan David saling menatap tapi tidak menyapa.


"Tidak, tidak apa-apa" Sahut ku singkat.


Yuri dan Ari sudah tau tentang perasaanku dengan David. Karena aku selalu menceritakan apa yang sedang terjadi padaku dengan David. Bahkan mereka juga tau tentang masa kecilku yang berlatih bola bersama David. Tentang buku, bola dan sepatu milik David yang ada di tanganku.


Tidak ada yang aku sembunyikan tentang David pada mereka berdua. Tapi Yuri dan Ari selalu menyembunyikan hal tersebut agar tidak ada yang tau tentang perasannku pada David kecuali Ari dan Yuri.


"Pasti kalian bertengkar" Ucap Yuri yang tau tentang perasan aku.


"David menjauhiku, saat Adel mengancamnya kemarin" Ucapku dengan murung. Aku tidak tau ada apa dengan David.


"Sudahlah, masalah cinta sampingkan dulu key. Kamu sekarang fokus ke permainan bolamu" Aku setuju dengan ucapan Ari, wajahku yang murung kembali tersenyum karena perkataan mereka selalu membangkitkan semangatku.


"Sudahlah, ayo ke kantin. Katanya kamu lapar" Sambung Yuri sambil menarik tanganku dan Ari.


Kami memesan makan dan duduk di bangku bersama seperti biasa. Tapi kali ini berbeda karena kak Dika jarang berkumpul dengan kami. Dia sekarang lebih fokus belajar untuk meningkatkan nilainya karena ingin masuk ke Universitas ternama di luar negeri.


"Eh key, ri. Coba lihat Rena disana" Ucap Yuriri sambil menunjukkan ke Rena yang duduk sendirian dan termenung sambil makan.

__ADS_1


"Iya, dia kenapa ya. Tiap hari kayak tertekan gitu. Kasihan sekali Rena" Sahut Ari yang merasa ubah melihat perubahan Rena yang semakin tidak bisa diprediksi.


"Sepertinya dia tertekan dengan vidio yang tersebar itu" Ari dan Yuri mengalihkan pandangannya dan menatapku dengan tajam. Sepertinya mereka berdua belum tau tentang apa yang Rena alami saat ini.


"Benarkah key? " Aku mengangguk dengan pertanyaan Yuri yang masih belum percaya sepenuhnya.


"Aku kurang tau pasti, mengapa dia seperti ini. Dia pernah bilang bahwa semua ini karenaku hingga mamanya marah padanya" Aku mencoba menjelaskan sedikit pada Ari dan Yuri.


"Aku tidak setuju, semua ini karena ulah dia sendiri" Tutur Ari dengan tegas.


Memang benar semua itu karena dirinya sendiri. Tapi tidak sepantasnya seorang teman menjatuhkan mentalnya yang sudah terjatuh saat ini. Karena aku yakin Rena perlu dukungan penuh.


"Sudah lah, ayo kita pergi ke kelas. Bentar lagi bel akan berbunyi" Aku mencoba mengalihkan Ari dan Yuri agar tidak terus menyalahkan Rena. Aku tau dia salah, tapi itu tidak sepantasnya dia terus saja di hujat.


Aku yakin Rena akan baik-baik saja jika semua orang mau mendekati dan bertanya tentang masalahnya. Terkadang manusia tidak butuh bicara, hanya butuh teman yang mau mendengarkan dan memberikan bahunya untuk bersandar.


Saat sepulang sekolah aku mendengar kabar baru hari ini. Kabar yang sngat menggembirakan. Pelatih mengumumkan bahwa kita akan melakukan pertandingan di luar kota dan bertanding melawan sekolah SMA terbaik di sana.


"Ingat, kalian harus berlatih sungguh-sungguh. Tidak ada yang berbicara ataupun becanda saat sedang melaksanakan latihan. Tidak menutup kemungkinan permainan kalian akan di lihat oleh para pelatih timnas"


"Siap coach" Semuanya sangat senang mendengarkan kabar baik ini begitu juga denganku.


Dengan adanya pertandingan ini, aku memiliki dua kesempatan untuk menunjukkan performa yang baik agar bisa dilirik oleh para pelatih timnas putri. Aku sangat ingin bermain untuk timnas. Agar namaku dikenal oleh negara.


"Coach mau tanya, kapan jadwal pertandingan tersebut? " Aku bertanya demikian karena takut jika jadwal ku bertabrakan dengan tim tarkam yang sedang aku bela.


Untung saja cocah Alam menjelaskan bahwa tim kami akan bertanding terlebih dahulu dibandingkan jadwal pertandingan dari tim tarkam. Tapi jadwal pertandingannya begitu dekat, setelah pertandingan SMA maka aku harus fokus kembali untuk persiapan pertandingan tarkam.


"Ingat, kalian harus bermain tenang. Kalah menang dalam pertandingan sudah biasa yang paling penting kalian menunjukkan permainan yang terbaik" Nasehat seorang Coach sangat berpengaruh bagi penampilan anak asuhnya.


"Siap Coach" Apapun caranya kami harus bermain dengan baik. Dan apapun hasilnya kita harus tetap menerima dengan lapang dada. Bila menang kita akan senang dan bila kalah kita akan berjuang lebih keras lagi.


"Siap coach"


"Keyla, kamu jangan terlalu sering makan bakso" Tatapan Coach Alam sangat tajam padaku. Solertinya dia tau jika aku sangat suka dengan bakso.


"Baik Coach" Jawabku sambil menggaruk-garuk kepala.


"Hahahhah" Semua tertawa saat mendengar teguran yang diberikan padaku. Padahal akhir-akhir ini aku jarang makan bakso, palingan makan nasi goreng dan juga nasi biasa saja heheheh.


Sepulang latihan, mobil Ari sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Kami akan menjalankan rencana yang telah aku buat untuk menggali informasi dari lelaki tersebut yang ingin menikahi mamanya Yuri.


"Ayo cepet naik" Ucap Ari dari dalam mobil. Aku begegas naik untuk mempercepat waktu.


"Duh bajuku bau nih habis latihan" Bau keringat menyebar di dalam mobil. Untung saja mobil Ari wangi jadi tidak ada masalah dengan bau badanku.


"Tenang aja, mobilku sudah ada pewanginya. Yang penting sekarang kita akan menjadi detektif" Semangat kami ingin melakukan penyelidikan ini.


"Ayo pak, kita ke rumah Yuri terlebih dahulu".


Kami berangkat menuju rumah Yuri. Sesampainya di sana kita akan parkir terlalu jauh agar tidak di curigai oleh orang rumah yang ada di rumah Yuri. Yuri keluar dengan mengendap-endap agar tidak ada yang tau.


"Gimanan? Aman? " Tanyaku saat Yuri sudah masuk ke dalam mobil Ari.


"Sudah aman kok, mama gak ada di rumh. Hanya ada bibi dan pak satpam" Jelasnya.


"Adikmu? "


"Aman, dia sama bibi kok" Kami langsung berangkat untuk melakukan pengawasan pertama.


Rencanaku yang pertama adalah memasang GPS pada mobil lelaki itu. Jadi kita tau arah mobil itu akan pergi. Untungnya Yuri cekatan saya memasang alat tersebut di bawah mobil saat dia pulang sekolah. Karena lelaki itu selalu saja mampir ke rumahnya menemui mamanya.

__ADS_1


"Kalian tau tidak? Aku hampir ketahuan" Aku dan Ari langsung menoleh ke Yuri. Kami terkejut dengan perbuatannya, jika ketahuan maka rencana akan gagal.


"Kocak, lalu bagaiman kamu bisa lolos" Sahut Ari yang penasaran dengan gerakan Yuri selanjutnya.


Dengan percaya diri Yuri memberikan senyuman dan tanda tatapan mata bahwa dia memiliki ide yang cemerlang.


"Aku bilang mau mencari kucing di bawah mobil. Takutnya kucingku terlindas" Aku dan Ari saling menatap lalu kami tertawa keras mendengarkan pernyataan yuri.


"Hahhahahahha" Kocak sekali, memangnya tidak ada alasan lain selain kucing main di bawah mobil. Dasar Yuri kocak.


Sesampainya di titik mobil tersebut, kami melihat mama Yuri yang sedang makan di suatu resto. Mereka makan sangat romantis diiringi dengan lilin-lilin yang menyala.


Sedangkan Yuri sangat kesal melihat kelakuan mamanya, seperti anak baru gede yang sedang dimabuk asmara. Aku dan Ari hanya bisa memperhatikan saja. Lalu kami mencoba turun dan mengintip lebih dekat apa yang sedang mereka bicarakan.


"Pelanggan langkahmu, agar kita tidak ketahuan"


"Oke siap" seperti detektif yang sedang melakukan pengintaian.


Sangat romantis, ucapan kata sayang dan saling membelai lembut tangan kekasih yang menggambarkan film romantis di TV. Ternyata rayuannya sangatlah gombal sekali. Pantas saja mamanya Yuri terpincut oleh rayuan bujuk nya.


"Kita kapan menikah, aku sudah tidak sabar hidup bersamamu" Ucapnya sambil memegang tangan mamanya Yuri. Tatapannya sangat dalam seperti memiliki rasa cinta yang sebenarnya.


"Kita kapan menikah, aku sudah tidak sabar hidup bersamamu" Ucap yuri sambil menirukan nada bicaranya dengan ejekan nya.


"Nyenyenyenye" Aku menambahkan ejekan Yuri agar seru.


"Sssstttt, jangan berisik" Tegur ari yang membuat kami terdiam seketika.


"Sebentar ya, aku mau ke toilet dulu" Mama Yuri pergi ke toilet dan meninggalkan lelaki itu sebentar.


"Aduhh, gagal terus rencanaku" Teriaknya kecil sambil menjambak rambutnya.


"Tuh kan, dia memiliki rencana yang sedang disembunyikan. Yaitu mengeruk harta mamamu Yur" Ucapku dengan tegas pada Yuri.


"Stttt, jangan berisik"


"Heheh, iya is maaf" Teguran Ari kembali membuatku diam. Karena kami takut ketahuan.


"Gilang, kamu ngapain disini sih" Seorang perempuan datang menghampirinya. Ari segera menyuruh Yuri untuk mengeluarkan ponselnya untuk merekam semuanya.


"Cepet rekam"


"Iya, iya, sabar" Rekaman sudah siap. Yuri segera mengambil vidio dari percakapan mereka. Sedangkan mama Yuri sangat lama sekali untuk tiba dan menyaksikan apa yang sedang mereka perbincangkan.


Ternyata wanita itu adalah pacarnya gilang yang akan menjadi ayah tiri Yuri. Sangat licik sekali, bukan hanya satu wanita melainkan banyak wanita yang dia tipu.


Kata-kata rayuannya menipu wanita tersebut. dia mengatakan bahwa lagi jalan dengan mamanya. Dan dia juga mengusir wanita tersebut dengan kata-kata manis hingga si wanita pergi dari tempat itu.


"Mulut sampah, beraninya mengatakan seperti itu. Aku akan menghukummu lelaki bo*oh" Tutur kasar keluar lagi dari. mulut Yuri yang selalu memandangi lelaki dan wanita itu.


Tidak lama kemudian mamanya Yuri datang dari toilet. Wajah lelaki itu biasa saja seperti tidak terjadi apapun. Ia kembali merayu mamanya Yuri tapi masih belum ada jawaban karena dia hanya menginginkan lamaran dan pertunangan saja seminggu lagi.


Sedangkan untuk pertanyaan tentang menikah, mamanya Yuri masih menunda dengan alasan memikirkan karir dan restu dari anaknya serta melakukan perjalanan agar saling mengenal satu sama lain dari masing-masing pasangan.


"Yuri, sepertinya mamamu akan pulang" Ucap Ari yang mengintipnya di bagian depan.


"Ayo sembunyi" Aku menarik tangan mereka berdua dan bergegas sembunyi di samping parkiran sepeda motor dengan menyembunyikan wajah.


Mereka berdua lewat di belakang kami. Berpegangan mesra seperti pasangan muda. Saling berbincang-bincang dan sangat romantis. Becanda dan tertawa seakan dunia milik berdua.


__ADS_1


__ADS_2