Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
160. Kekalahan


__ADS_3

Setiap pertandingan, pelatih hanyalah pengarah dan slesbihnya kami yang akan bermain dan berfikir dalam sebuah permainan agar bisa menikmati dan menjalankan dengan baik sesuai instruksi pelatih.


"Baiklah, sekarang kalian bersiap untuk masuk ke stadion dan melakukan pertandingan. Saya hanya memantau dan memberi intruksi dari samping lapangan, selebihnya kalian yang akan bertanding dan mengambil keputusan"


"Siap coach"


Teriakan semangat dari tim garuda pertiwi Indonesia. Semangat berkobar bagaikan jiwa raga merah putih yang akan menerjang kerasnya angin dari berbagai arah.


Suara menggelegar seakan pertandingan ini milik kami dan dilakukan di rumah kami. Teriakan menghilangkan sedikit ketakutan, dan berharap pertandingan akan berjalan dengan baik dan aman.


"Subhanallah, indah sekali pemandangan ini" Baru saja aku masuk, tak kuasa hatiku haru saat melihat stadion yang ramai dikelilingi sporter Indonesia dan Singapura.


Bentangan bendera merah putih bertebaran, sungguh indah bangsa negeriku yang menghargai setiap para anak bangsa untuk mengharumkan negeri. Mereka semua mendukung dengan jajaran semangat tinggi.


Kali ini kami bermain melawan Singapura, tim tuan rumah yang memiliki pemain terbaik dalam timnasnya. Namun tim kami tidak kalah lebih baik dari tim mereka.


"Menyanyikan lagi Indonesia Raya" Perintah pembaca acara.


Setelah menyanyikan lagi kebangsaan Singapura. Sekarang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.


"Indonesia tanah airku........ " Air mata kembali menetes. Sorot kamera memandangi satu per satu dari para pemain untuk diambil gambarnya.


Aku tidak fokus pada itu, karena mataku fokus pada sang saka merah putih yang dibentangkan di depan kami bangga sekali rasanya impianku menjadi pemain Indonesia kini telah tercapai.


"Bismillahirrahmanirrahim" Kami kembali menempari posisi masing-masing.


Pertandingan kali ini lain dengan pertandingan ku pada sebelumnya. Karena pertandingan ini disoroti beberapa kamera yang ada di setiap sudut.


Aku bangga menjadi warga negara Indonesia. Aku harap ibu melihatku yang sedang asik bergelut dengan lapangan sebentar lagi. Semoga aaja ibu melihat jelas wajahku di televisi.


*prittt* peluit dibunyikan, tandanya kami akan berperang di lapangan hijau.


Permainan demi permainan kami lakukan hingga mendapatkan hasil skor imbang yaitu 1-1 untuk Indonesia dan Singapura.


Permainan tim Singapura tidak bisa diremehkan, karena permainan mereka cukup baik dan ngotot seperti kami. Pertahanan yang cukup kuat hanya bisa mampu menahan imbang dan tidak menambah skor untuk kami. begitu juga dengan timnas Singapura.


Dari permainan pertama kami bisa memberikan banyak pelajaran untuk dijadikan pedoman dalam permainan selanjutnya melawan tim-tim asia yang memiliki kekuatan cukup besar. Salah satunya timnas Thailan dan Vietnam yang cukup diwaspadai dalam setiap pertemuannya.



Hari-hari terus berlalu, kami melanjutkan pertandingan kedua dan berhasil mengalahkan Filipina dengan skor tipis yaitu 2-1. Kemenangan tipis namun bisa membuat kami berbahagia karena sudah mengantongi 6 poin.



Setiap pertandingan selalu melakukan konsentrasi yang cukup tinggi. karena tidak ada lawan yang lemah, semua lawan memiliki kekuatan masing-masing. Maka dari itu terus berkomitmen untuk melakukan yang terbaik demi nama bangsa.



Di ruang rapat pertemuan Timnas



"Pertandingan terakhir adalah melawan Thailand, disini kalian harus bekerja keras untuk masuk ke semifinal"


"Siap coach"



Perintah dari pelatih untuk bekerja keras lagi. Karena jika hasilnya imbang maka masih ada kemungkinan untuk lolos dan melaju ke babak semifinal final namun jika kalah maka kita akan berhenti disini saja.



Kami kalah poin kemennagan dengan Singapura, maka pertandingan selanjutnya kami harus wajib menang. Dan besok adalah penentuan untuk melawan tim terkuat di Asia Tenggara dengan julukan gajah putih itu.



"Apakah kita akan berhasil? "


"Pasti, jangan menyerah dulu sebelum berperang"


"Aku tidak yakin" Ucapan Tara melemah saat ingin melawan Thailand besok.



"Hatimu, hatiku, bermain untuk negeri ini. Maka satukan hati kita agar bisa bermain dengan baik demi nama garuda di dada" Gumamku pada Tara dan teman-teman lain setelah melakukan pertemuan di ruangan tersebut.



"Kenapa kalian diam? " Tanyaku kembali saat mereka sepertinya merasa bahwa akan gagal.



"Entahlah key, mengapa aku merasa tidak enak badan setelah melihat permainan Thailand yang membantai Filipina kemarin"



"Jangan tertunduk, jikalau pun kami kalah besok maka harus kalah dengan terhormat. Dan jika menang maka harus rendah hati jangan sombong"



"Semangat" Teriakku untuk membangunkan garuda yang mulai lesu.



"Benar katamu, kami harus berdiri untuk menegakkan kepala garuda dan terbang untuk mencakar lawannya"



"Iya key, kita harus semangat"

__ADS_1


"Semangat"


"Semangat" Teriakan keras mengundang pelatih yang mencoba tersenyum diantara pintu masuk ruangan ini.



Dia mengacungkan jempol pada kami semua untuk tetap semangat. Banyak latihan, kekeluargaan, persiapan mental, nasehat dan banyak lagi yang juga kami bawa untuk bekal.



Walaupun masih banyak masukan yang diberikan oleh beberapa penggemar kami di tanah air Indonesia. Besok adalah laga hidup dan mati untuk mempertahankan nama bangsa.



Biarlah berjuang mati-matian demi bisa meraih kemenangan. Agar latihan yang kami jalanan mendapatkan hasil yang memuaskan. Serta membawa jutaan senyum saat kembali ke tanah air Indonesia.



\*drettt\* dering telepon.



"Halo Assalamu'alaikum Key"


"Waalaikumsalam"


"Bagaimana kabarmu malam ini? "



Aku tau dia khawatir dengan keadaanku karena saat melawan Filipina kemarin aku mendapatkan takel yang keras. Untung saja aku baik-baik saja dan hanya sakit ringan. Dan juga baru kali ini aku bisa mengangkat telepon anak ini.



"Dingin sekali malam ini vid, sepertinya mataku susah untuk terlelap"



"Sudah kuduga, pasti memikirkan pertandingan besok" Aku hanya tertawa kecil mendengar ucapannya.



Seakan dia tau segalanya tanpa harus aku beritahu. Setiap aku susah tidur saat pertandingan akan dilangsungkan, David sudah mengetahui bahwa pikiran ini bergelit dengan apa yang harus dilakukan besok di tengah lapangan.



"Oh iya key apakah kamu baik-baik saja setelah mendapatkan tackel keras kemarin"


"Alhamdulillah aku baik-baik saja"




Dia sepertinya tau semua tentang amarahku yang gampang terpancing. Bahkan David mengajariku untuk tetap tenang melawan Thailand besok, karena keajaiban akan datang bersama semangat dan ketenangan dalam pertandingan.



"Sekarang kamu istirahat dan jangan sampai begadang karena besok harus memiliki stamina yang baik saat melawan Thailand"


"Siap boss"



"I love you"


"Hah, apa? " David langsung mematikan ponselnya. Aku tersenyum dengan ucapan itu.



"Sepertinya telingaku baik-baik saja, hanya syok mendengar ucapan David" Gumamku sambil tertawa kecil.



Pertandingan Indonesia vs Thailand


"Apa kamu gugup? " Tanya Sasa yang duduk disampingku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.


"Benar, aku juga gugup. Aku harap kali ini mendapatkan hasil yang baik"


"Aku rasa begitu, semoga saja kami mencuri poin untuk masuk ke pertandingan selanjutnya" Jelasku.


*puk, puk, puk*


"Kita harus bisa" Ucap Sasa yang saling menguatkan sambil menepuk punggungku.


"Siap"


Aku kembali berdoa agar diberikan kelancaran dalam pertandingan ini. Seperti biasa aku memandangi foto orang-orang yang aku sayang sebelum pertandingan.


Hal itu membuat semangatku membara agar bisa bermain tenang dan baik dalam lapangan. Aku yakin semua pemain merasakan ketegangan, namun kami harus tau caranya untuk menghilangkan ketegangan itu.


"Ayo anak-anak kalian harus segera siap-aiap untuk masuk ke lapangan"


"Siap coach"


Semuanya sudah siap dan berbaris untuk memasuki lapangan yang megah dengan sorakan penonton yang semakin ramai. Apalagi Indonesia dan Singapura begitu dekat jadi masyarakat Indonesia sangat banyak yang mendukung kami disini.


"Ya Allah, ini adalah permainan yang menentukan kemenangan untuk kami. Kemenangan dan kekalahan akan berdampingan maka berikanlah yang terbaik untuk kami" Doaku sebelum masuk ke lapangan.

__ADS_1


Lagu Indonesia Raya dikumandangkan dengan lantang oleh para pemain dan juga para pendukung timnas Indonesia. Air mataku tidak bisa terbendung dan akhirnya lolos juga.


Harapan demi harapan tersusun secara beraturan. Keajaiban Tuhan terus berdatangan dengan memberikan rahmat dan keindahan dalam hidupku Bersyukur adalah cara yang tepat untuk membalas semua nikmat itu.


*pritt* peluit dibunyikan, aku segera bermain dengan baik untuk memastikan pertahanan lini belakang tidak terjadi kesalahan.


Permainan terus berjalan dan kami sama-sama kuat. Serangan dan percobaan terus dilakukan namun belum ada yang menghasilkan gol satupun.


"Key, naik" Teriakan adalah perintah yang harus aku jalani.


Mengikuti isyarat pelatih dan berani menggiring bola hingga masuk ke pertahanan permainan lawan. Namun tetap saja masih gagal untuk memberi sentuhan akhir.


"Ah, ayo key semangat" Teriakan pada diri sendiri adalah cara untuk menyemangati di setiap detiknya.


Hingga peluit akhir babak pertama dibunyikan, skor masih 0-0 dan belum ada peluang yang menghasilkan gol baik dari tim lawan dan dari tim kami.


"Permainan kalian sudah masuk dalam taktik saya, hanya saja peluang tidak di selesaikan dengan baik" Evaluasi saat ini oleh pelatih.


Lagi-lagi kesulitan ada pada sentuhan akhir. Tendangan yang tidak akurat dan tidak bisa di kontrol dengan baik setelah mendekati gawang lawan.


Beberapa kali ada peluang dan beberapa kali juga peluang itu terbuang sia-sia. Tidak ada yang salah, hanya saja ketenangan masih belum kami kuasai. Maka harus cepat berbenah untuk menunjukkan bahwa kami layak untuk melangkah ke tempat selanjutnya.


"Sekarang di babak kedua saya harap kalian bisa melakukan yang terbaik lagi. Dengan arahan dan latihan yang sudah saya berikan"


"Siap coach"


Istirahat telah usai, saatnya kami kembali bangkit dan bermain untuk negara di babak kedua dengan semangat baru untuk mencetak gol.


*prittt* peluit babak kedua dibunyikan.


Aku bermain sekaligus mengamati, tim lawan semakin terlihat ambisius dalam melakukan serangan. Mereka tidak segan-segan bermain keras.


"Prittt"


"Golll"


Menit ke 59 tim lawan mencetak gol. Baru saja kami masuk ke babak kedua namun sudah kebobolan.


"Fokus, fokus" Teriakan sang kapten untuk menyemangati kami.


Aku terus fokus menjaga pertahan lini belakang dan sesekali memberikan umpan langsung untuk striker yang sudah menunggu.


*bluk*


"Bagus key" Gumamku dalam hati saat bola berhasil mendarat dengan tepat.


Namun sayang masih saja belum bisa melewati pertahann yang tinggi dari pemain Thailand. Dan beberapa kali peluang gagal sehingga hal itu sangat di sayangkan.


"Hey, hey" Pemain lawan mendekat, ini adalah hidup dan mati untuk menahan mereka agar tidak kembali membuahkan gol yang menyebabkan kekalahan.


Aku menjaga dengan ketat, tidak peduli walaupun kalah tinggi dengan penyerang tersebut.


*bruk*


"Aaaaa" Sangat di sayangkan, aku kalah duel dengannya.


Dorongan keras membuatku terjatuh. Tanganku terbentur keras ke tanah dan sepertinya mengalami hal yang cukup serius.


"Aaaaa, aduhhh" Teriakan yang tidak bisa dihindarkan sambil memegang tangan.


Pemain lawan terkena ganjaran kartu kuning dan tim medis segera menolongku untuk melihat luka ini. Aku merasakan sakit yang cukup luar biasa. Sepertinya kali ini aku mengalami luka dalam.


"Tenang, tenang key" Mereka melihat ada hal serius dan ternyata aku mengalami patah tulang.


"Coach" Tim medis memberikan tanda bahwa aku harus diganti karena tidak bisa melanjutkan permain.


"Coach, tapi.... "


"Tidak Key, tangan kamu terluka cukup parah"


Perdebatan beberapaenit antara aku dan pelatih. Egoku tidak ingin diganti karena smangat ini masih membara untuk membawa kami lolos. Namun hingga akhirnya aku digantikan dan tidak bisa melanjutkan permainan di menit ke 74.


"Bagaimana keadaanmu? " Tanya pelatih saat aku sudah menepi menghampiri bangku cadangan.


Aku menggeleng dengan mata menatap kepedihan. Bukan karena aku egois dan tidak memberikan kesempatan pada yang lain. Namun aku ingin memberikan hal terbaik bagi negeriku.


"Istirahatlah nak, kamu sudah bermain cukup baik" Ucap pelatih sambil memelukku.


"Coach" Kesedihan kembali hadir. Menangis dalam pelukannya bukanlah jalan yang terbaik. Biarkan menangis untuk sekejap lalu kembali dalam ketenangan.


Dengan tangan kiri yang dibantu oleh penyangga patah tulang, aku duduk di bangku cadangan untuk menonton permainan rekan-rekan di babak kedua ini.


Hanya bisa memanjatkan doa untuk membantu perjuangan mereka. Sungguh sangat disayangkan karena aku hanya bisa bersorak tanpa bisa membantu pertahanan di lini belakang yang terlihat sangat bersusah payah untuk mencegah lawan.


"Ayo sedikit lagi, hey. Aduhh" Semua teman-teman melihat geregetan saat peluang masih saja belum bisa di manfaatkan dengan baik.


Dan kemudian serangan kembali dilakukan oleh pemain lawan. Pertahan kami di daerah belakang semakin amburadul dan tidak bermain dengan tenang.


Hingga tim lawan kembali menghasilkan gol di menit-menit terkahir. Skor menjadi 2-0 dan bertahan hingga menit akhir pertandingan. Skor uang menyedihkan, namun harus diapresiasi karena mereka sudah berjuang mati-matian demi nama bangsa agar tidak selalu diinjak-injak.


*pritttt*


"Kalah" Batinku berseru.


Bohong bila aku tidak bersedih, kali ini aku kembali menangis karena kegagalan untuk masuk ke semifinal final. Kami berhenti di titik ini dan harus kembali pulang.


Semua tertunduk lesu membawa hari, karena telah gagal untuk melaju ke semifinal. Perjalanan kami hari ini cukup sampai sini, karena kami kalah poin dengan tim singapura. sehingga harus lapang dada pulang membawa tangan hampa.


"Tidak apa-apa, perjalanan kalian masih panjang" Pelatih mecoba menenangkan. Namun pada akhirnya kami semua tetap menangisi kekalahan.

__ADS_1



__ADS_2