Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
39. Demo di Sekolah


__ADS_3

Aku tidak setuju dengan keputusan yang diberikan oleh kepala sekolah yang merelakan coach Alam untuk mundur menjadi pelatih hanya karena nama baik sekolah agar tidak terjadi keributan kembali.


"Tapi pak, coach Alam orang baik. Dia melatih sepenuh hati untuk tim sepak bola kami" Aku kembali mencoba menegaskan agar coach Alam tidak dikeluarkan dari sini.


"Sudah key, lebih baik kamu keluar dan saya akan mempertimbangkan lagi tentang pengunduran diri dari coach Alam" Aku bergegas keluar dengan wajah yang ditekuk. Latihan kali ini benar-benar membosankan. Tidak ada semangat untuk berlatih kembali.


Awalnya aku membenci cocah Alam karena dia bersekongkol demi uang. Tapi mengapa rasa ingin tauku sangat tinggi saat mendengar orang itu mengancam cocah Alam karena anaknya. Pikirku semakin melayang tidak karuan. Di taman ini aku menayandarkan tubuhku dan kabur dari latihan hari ini.


"Sekarang lagi latihan, kenapa kamu kabur? "


"Eh kak Dika, loh sekarang kan juga jam pelajaran tapi kenapa kabur" Aku kembali memberikan pertanyaan padanya.


"Jam kosong gara-gara demo"


"Demo di kantor bupati? " Ucapku kembali


"Tidak, demo di kandang sapi" Sahutnya dan kami tertawa berdua.


"Gimana rasanya jalan berdua dengan Yuri kemarin? "


"Sudah tidak usah mengungkit Yuri, ada yang lebih penting darinya"


"Enak saja, Yuri sahabatku jadi dia yang lebih penting" Nada ku agak meninggi saat dia bilang Yuri tidak penting.


"Dengarkan dulu, ini tentang coach Alam"


"Hah coach Alam? " Pikirku bertanya-tanya saat kak Dika menyebutkan nama coach Alam. Aku tidak tau rahasia apa yang dia dapat dari coach Alam.


"Dengarkan baik-baik" Kak Dika menyuruhku untuk diam dan menyimak tentang apa yang ingin dia sampaikan.


Kak Dika bercerita semua tentang coach Alam. Dia mengetahui sesuatu bahwa putri coach Alam yang berumur 13 tahun berada di rumah sakit karena terkena penyakit leukemia. Penyakit yang langka dan membutuhkan banyak biaya untuk mengobatinya.


"Apa? " Mataku melotot daat mendengarkan itu. Aku berfikir bahwa semua itu ada kaitannya saat orang itu menekan coach Alam untuk tetap mematuhi perintahnya dan jika tidak maka dia akan memutus biaya untuk putrinya.


"Ada apa key? " Ucap kak Dika. Aku menjelaskan tentang apa yang aku tau. Lalu segera aku bergegas pergi dari taman dan ingin masuk ke ruang kepala sekolah.


"Tunggu key, tunggu" Teriakan itu tidak aku hiraukan aku bersiap diri untuk memasuki ruang kepala disekolah.


"Tunggu, kamu mau apa" Tangan kak Dika mencengkeram tanganku dengan erat.


"Saya mau menjelaskan semuanya bahwa coach Alam adalah robot permainan"


"Percuma kamu masuk, tapi tidak ada bukti" Sejenak aku terdiam dan meresapi.


Sepertinya memang benar, bila aku berkata bahwa coach Alam adalah korban maka aku harus memiliki bukti. Sedangkan aku hanya memiliki tangan kosong, dan orang yang menyuruh cocah Alam saja aku tidak tau karena wajahnya tidak pernah terlihat.


" Kamu tunggu disini sebentar" Kak Dika menyuruhku menunggu di luar sedangkan dia berlari pergi entah kemana.


Saat aku mengintip ruang kepala sekolah, dan di dalam masih ada cocah Alam dan kepala sekolah masih berbincang. Aku tidak mendengar apa perbincangan mereka hingga harus 4 mata. Sebenarnya perbuatan ini tidak baik karena mendengarkan tanpa izin. Tapi aku sangat ingin menolong coach Alam agar tidak mundur.


Apalagi pertandingan terakhir besok juga berpengaruh dengan berita coach Alam akan mundur apabila kalah. Pasti anak-anak banyak yang tidak semangat dengan semua ini. Karena mereka akan merasakan tekanan hebat dan harus menang dalam menghadapai pertandingan agar coach Alam tidak mundur.

__ADS_1


"Ayo key" Kak Dika datang tapi aku tidak melihat sesuatu yang dia bawa. Dia berangkat dengan tangan kosong dan kembali dengan kosong.


"Bentar, bentar, apa yang kak Dika bawa? "


"Sttttt, ayo kita masuk"


*tok tok tok*


"Mohon ijin untuk masuk pak"


"Iya Dika silahkan, apa ada keperluan dengan saya " Tutur lembut kepala sekolah menyambut kak Dika dengan ramah. Karena kak dika adalah salah satu murid yang disayang karena sebagai ketua OSIS.


"Saya ingin menyampaikan sesuatu pak"


"Apa Dika? " Kak Dika mengeluarkan sebuah flashdisk dalam sakunya.


"Bolehkah saya meminjam laptop dari bapak?"


"Boleh silahkan" Kak Dika mencoba memasang flashdisk ke laptop. Matanya mencari sesuatu file untuk ditunjukkan. Tapi aku tidak tau apa yang akan dia lakukan


"Kamu jangan mainkan anak itu lagi"


"Tapi permainan key sangat bagus"


"Kalau dia dimainkan maka anak saya tidak bermain di pertandingan itu" Sepertinya aku mengenali suara dari percakapan itu. Aku terdiam dan menyimak suara yang dikeluarkan. Sedangkan coach Alam menatap dengan sendu dan pasrah atas semua yang terjadi.


"Ingat kalau kamu macam-macam maka biaya anak kamu akan saya cabut" Ancaman yang sangat tidak asing. Aku mendengarnya tapi tidak tau siapa yang berbicara itu. Bahkan aku juga tidak mengerti mengapa kak Dika memiliki rekaman itu.


"I... I... Iya Pak"


"Jadi kamu bermain kotor di sekolah ini"


"Maafkan saya pak, saya membutuhkan uang itu untuk anak saya pak. Hikssss.... Hiksss..." Tangisan tulus dari seorang ayah yang ingin menyelamatkan hidup anaknya menggema di ruangan ini. Tidak terasa mataku sedikit lembab dengan beberapa butiran air mata yang melekat.


"Siapa dia, tolong jelaskan" Bentakan geram dari kepala sekolah pada cocah alam. Kami hanya bisa diam agar tidak menambah masalah yang ada. Hanya coach Alam yang bisa menjelaskan ini semua. Karena yang tau jalan alur ceritanya hanya dia.


"Baik Pak, sebenernya........ " Coach alam mencoba menceritakan apa yang sudah terjadi pada dirinya.


Dia mengatakan bahwa ada salah satu orang tua dari pemain sepak bola putri yang mengiming-imingi dia uang agar anaknya selalu dimainkan di tim sepak bola putri sekolah ini. Hal tersebut dikarenakan untuk menambah jam terbang putrinya agar bisa memperkaya skil dan dikenal orang. Karena alasan dari orang tersebut adalah ingin memasukkan putrinya ke timnas. Itulah yang membuat orang itu bermain kotor.


Coach Alam juga bercerita bahwa dia menolak tawaran itu berulang kali. Hingga pada suatu hari anaknya masuk ke rumah sakit dan divonis menderita leukimia. Penyakit langka dan harus melakukan cuci darah. Biaya yang ditanggung untuk pengobatan sangatlah besar. Sedangkan gaji coach Alam sebagai pelatih tidaklah banyak. Dengan terpaksa dia harus mengambil tawaran yang diberikan oleh orang tersebut.


"Tapi itu bukan alasan yang tepat, kenapa kamu tidka bilang dengan saya" Bentak kepala sekolah setelah mendengarkan kesusahan yang dialami oleh coach Alam.


"Karena saya malu pak, saya hanya orang kecil yang memilih diam"


"Lalu apa lagi ceritamu tentang orang itu" Ucap kepala sekolah yang ingin mengetahui semua borok yang ada di balik tim aekoakh ini.


Saat dalam pertandingan, orang itu selalu ingin anaknya bermain di menit awal bahkan menjadi tim inti. Lalu di menit-menit terakhir menggantikan key sebagai pemain pengganti.


Hal itu ia lakukan karena ada paksaan dari orang tersebut. Bahwa dia tidak ada niatan untuk menggantikan key di dalam pertandingan karena menurut coach Alam aku adalah bek terbaik yang dia miliki.

__ADS_1


"Maksud coach alam apa? Bukankah awal latihan aku hanya menjadi anak gawang dan hampir tidak pernah mendapatkan arahan dari coach" Aku mencoba mengungkapkan beberapa pikiran yang tersimpan sendiri. Coach Alam mampu berkata bahwa aku bek terbaik, sedangkan di awal latihan saja aku hanya disuruh menjadi anak gawang.


"Kamu memang terbaik key, saat itu.. ... . " Coach Alam mulai bercerita kembali.


Coach Alam juga menceritakan, bahwa saat awal aku memasuki tim sepak bola putri dia sudah mengetahui skil yang aku miliki. Karena coach Alam juga sering melihat aku tampil di tarkam yang ada di kampung-kampung. Bahkan dia juga berkata selalu menunggu aku bermain karena skil yang dimiliki sangat baik. Jadi coach Alam tau kualitas bermain ku.


Dia juga berkata bahwa alasan dia menyuruhku untuk menjadi anak gawang yang memungut bola dari teman-teman lalu menyimpan ke dalam gudang adalah kemauannya sendiri. Dia ingin menguji berapa besar mental yang aku miliki. Karena pemain yang memiliki skil bagus belum tentu memiliki mental yang bagus. Maka dari itu di beberapa latihan dia menyuruhku melakukan hal yang sama. Dan hasilnya aku selalu diam tidak pernah menolak hal tersebut.


Coach alam juga berkata bahwa dia memantau ku, saat semua pulang dia melihat kegigihan pada diriku yang selalu nerlatih bola. Memainkan pasing pada tembok sekolah dan menunjukkan beberapa skil yang pemain lain di dalam tim belum ada yang diajarkan olehnya. Maka itulah alasan dia memasukkanku ke dalam pemain cadangan. Sebenarnya aku adalah pemain inti, tapi orang itu yang menyuruh coach alam untuk melepasku sebagai pemain cadangan atau tidak dimainkan sama sekali.


"Kenapa coach menurutinya, key sangat ingin menjadi pemain hebat dan memiliki pelatih hebat seperti coach" Suaraku lirih menahan kenyataan yang pahit.


"Maaf key, saya hilaf karena uang"


"Tapi kenapa harus saya coach"


"Karena kamu memiliki skil di atas rata-rata. Bahkan larimu sangat hebat dibandingkan Mega tapi kamu sabar dibenci oleh beberapa orang disana" Sekali lagi ada orang yang ingin menghancurkan mimpiku tapi aku tidak mengenalnya.


"Lalu apa alasanmu menganti key pada saat tim kita sudah menang dengan 1-0. Hal itu yang membuat para siswa membenci karena gagal melesat ke final setelah menelan kekalahan" Bentak kepala sekolah yang mencoba mengintrogasi kembali.


"Karena dia menelpon saya untuk mengeluarkan key dalam pertandingan agar tidak dimainkan dan membuat namanya terkenal karena bisa membuat sekolah menjadi menang pak"


*brukkkkkk*


"Mengapa kamu melakukan itu, ini hal yang sangat buruk" Amarah kepala sekolah semakin memuncak atas tindakan yang dilakukan oleh coach Alam hingga membuat jegaduhan di sekolah saat ini.


"Maaf Pak saya benar-benar minta maaf atas perbuatan yang saya lakukan" Suasana semakin tegang di dalam ruangan kepala sekolah. Hanya kami berempat yang ada disana.


"Siapa orang yang menyuruhmu itu"


"Orang tua dari Ana pak" Jawabnya ketakutan saat kepala sekolah membentak nya.


Semua menjadi diam saat mendengarkan kenyataan. Aku juga terdiam dengan pernyataan yang disampaikan coach Alam. Aku tidak menyangka bahwa ayah Ana melakukan keegoisan ini. Dia hanya mengutamakan ketenaran anaknya tanpa harus memikirkan hal yang akan terjadi.


"Maaf Pak, menurut saya coach Alam hanya korban dan ayah Ana yang harus mempertanggung jawabkan semua ini" Kak Dika coba menjelaskan apa yanga da dipikirannya.


Aku setuju dengan ucapan kak Dika karena coach Alam saat ini dalam kesulitan ekonomi. Tapi dia hanya berdiam diri dan berjuang sendiri hingga melakukan jalan hitam agar mendapatkan uang.


"Saya akan memikirkan semuanya dan meninjau nya kembali, saya tidak menyalahkan Coach Alam karena hal ini terjadi bukan karena anda " Ucap kepala sekolah. Dia akan melakukan peninjauan dan meminta apa yang harus diperbaiki.


"Terima kasih Pak"


"Oh iya, saya ingin anda melakukan hal yng terbaik untuk membawa kemenangan SMA kita di pertandingan terakhir besok. Saya juga berharap anda bisa membawa tim kami juara 3. Tolong jangan ada tekanan apapun dan berikan tim terbaik yang anda miliki"


"Baik Pak, saya akan melakukannya" Kepala sekolah memeprcayakan semuanya pada coach alam. Beliau tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan tentang masalah ini. Karena tim sekolah masih memeiliki kesempatan untuk pertandingan terakhir yang merebutkan juara 3.


"Oh iya, hanya ada kalian bertiga disini. Saya harap semua yang sudah dibicarakan di ruangan ini jangan sampai bocor ke luar ruangan"


"Baik Pak" Aku dan kak Dika berbicara secara serentak. sedangkan coach Alam hanya mengangguk dan mengerti. Lalu kepala sekolah menyuruh kami keluar dari ruangan. Aku kak dika keluar dari ruangan sedangkan coach Alam masih melanjutkan pembicaraan dengan kepala sekolah.


Aku melemparkan tubuhku di tempat duduk yang berada di taman sekolah. Hatiku tenang walaupun sedang kacau karena ada masalah ini. Setidaknya coach Alam tidak dikeluarkan sebagai pelatih.

__ADS_1



__ADS_2