Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
79. Menunggu Pacarku


__ADS_3

*Kringgggh, kringggg* aku kembali memanggil Yuri dan Ari sekaligus dengan panggilan grup.


"Lama sekali angkatnya, tadi aja pas aku tidur mereka menelpon banyak sekali" Ucapku sambil menatap layar ponsel sesekali.


"Halo key" Bentak Yuri dan Ari dengan suara keras di telepon. Aku terkejut sampai terkungkal dan telingaku tersakiti sakit, untuk saja tidak jebol gendang telinga ini.


"Gila, untung saja gendang telingaku tidak pecah" ketusku pada mereka.


"Kamu sih, ditelpon dari tadi malah gak diangkat" Sahut Yuri dengan nada kesal.


"Iya, pesanku juga gak dibalas" Sambung Ari yang juga ikut kesal.


Aku langsung mengecek riwayat pesan dan ternyata mereka menulis pesan secara pribadi bukan di grup. Mereka menanyakan tentang pertandingan tadi. Tapi karena aku kecapean jadinya tidak ada yang aku balas pesan mereka satupun.


"Maaf, tadi aku tidur. Memangnya ada apa? "


"Aku cuman ingin tau hasil pertandingan tadi key" Tanya Ari padaku dengan ucapan bibir yang memelas.


"Iya" Sambung Yuri.


"Alhamdulillah, aku menang" Aku menceritakan tentang kemenangan ini. Mereka berdua sangat bahagia. Dan saat mereka bertanya apakah aku sudah bermain dengan baik, tapi aku menyebutnya sudah ada perubahan. Karena semangat mereka juga, aku bisa melewati kesulitan.


Mereka juga bilang bahwa tugas sekolah dan catatan sudah mereka kerjakan untuk ku. Ari dan Yuri adalah sahabat yang sangat baik, tanpa aku suruh mereka pasti mengerti agar aku tidak ketinggalan pelajaran.


Saat malam aku terlarut dalam kesendirian, tanpa basa-basi aku terlelap dan menikmati semilir angin dari jendela yang aku buka sedikit. Biarlah lelap ini sejenak menghilangkan perih, pikiran atau apapun yang berdiam dalam otakku.




"Duh pagi-pagi sudah lapar. Padahal udah makan" Entah kenpa sesampainya di sekolah pada pagi ini perut terasa lapar sekali. Aku bergegas menuju kantin dan ternyata masih sepi. Membeli roti saja mungkin sudah cukup buat pengganjal perut



"Wah wah wah, enak ya habis bolos sekolah sekarang makan di kantin" Suara tidak berguna, datang tak diundang pulang tak diantar. Siapa lagi kalau bukan rena dan kawan-kawan.



"Iya bener ren, yang sok cantik lagi" Ternyata adel sudah bergabung dengan geng mereka. Geng toksik yang membuat telingaku bosan.



Daripada mendengarkan mereka lebih baik aku makan saja. Menikmati setiap gigitan roti sambil meminun sebotol air mineral. Rasa nyaman yang terusik oleh mereka berempat, tapi aku tidak peduli.



"Gila, udah suka bolos budek lagi" Rasanya ingin aku cabut bibirnya yang suka berbicara tanpa otak, tapi aku ingat pesan ibu dan bapak bahwa aku harus menjadi orang sabar.



"Hmmmmmffuuuuu" Tarik nafas dan hembuskan lalu kembali makan.



"Mending kalian makan, sepertinya perut kalian lapar karena dari tadi meracau tidak jelas" Ucapku pada mereka agar tidak ngoceh saja membuat pagiku buruk.



"Kita tuh gak level makanan kayak gitu, ya nggak besti? " Rena, Dewi dan Puja aku pikir dia akan menjadi lebih baik ternyata mulutnya semakin tambah buruk.



"Bilang aja gak punya uang, atau mau aku traktir roti? " Ejekku pada mereka yang membuat wajahnya semakin kesal.



"Orang miskin kayak kamu mana ada uang" Dia berbicara seolah-olah memiliki uang terbanyak didunia. Ngomongnya mendekat ke arahku, mana mulutnya bau lagi. Bau keburukan yang membuat panas.



"Kaliaan banyak uang, tapi sayang gak ada bakat. Wekkk" Ejekku padanya dan langsung pergi membawa sisa roti dan minuman di tanganku.



"Kurang ajar banget sih, awas aja ya" Teriaknya dengan penuh kekesalan, tapi aku tidak peduli dan lebih memilih pergi daripada harus meladeni hal kecil seperti mereka.



Bener kata ibu, kalau bisa jangan pakai otot lebih baik pakai otak. Andai saja aku tidak menahan emosi, sudah habis mereka semua di kantin. Kesal sekali rasanya, tapi sudahlah yang penting membalas pakai bicara saja sudah cukup. Selanjutnya tunggu aku balas dengan prestasi.



"Key, kamu dari mana" David menyapaku saat aku ingin masuk ke dalam kelas. Dia duduk di bangku yang terletak di depan kelas seperti menunggu seseorang.



"Lapangan" Udah tau tanganku bawa makanan, masih saja dia bertanya-tanya.



"Jutek amat, oh iya gimana pertandingannya kemarin" Ternyata dia masih peduli padaku. Kadang dia dingin kadang juga hangat. Dasar orang aneh yang tidak bisa di tebak.



"Alhamdulillah menang" Jawabku singkat. langkahku bergegas masuk ke dalam kelas dan meninggalkannya.



"Key aku belum ngomong kamu udah pergi aja" David menahanku untuk masuk. Tubuhku berada di ambang perbatasan pintu.

__ADS_1



"Apa lagi David, tadi kan udah aku bilang kalau pertandingan kemarin...... "


"Oke, oke nanti tugasnya ya" Belum selesai aku bicara, David langusng menjawabnya tapi dia mengalihkan pembicaraan.



David memang aneh tadi dia bertanya tentang pertandingan. Namun setelah aku jelaskan, dia mengalihkan pembicaraan yang mengatakan tentang tugas. Padahal ari dan Yuri tidak berkata jika ada tugas hari ini.



Saat aku lihat sekeliling rupanya ada Adel yang jalan menuju arah David. Mata David seperti ketakutan saat dia berdekatan denganku. Apa yang terjadi padanya aku tidak tau. Tanpa sepatah kata lagi aku masuk meninggalkan dia sendiri.



"Key" Ari dan Yuri teriak bersama saat melihatku datang. Seperti biasa, bila aku tidak masuk sehari pasti mereka akan merindukanku. Lebih tepatnya rindu untuk bercanda bersama. Maklum, kami kembali berkumpul setelah pertengkaran hebat kemarin.



"Gimana? " Tanyaku pada mereka


"Beres dong, nih buku tugasmu dan ini buku catatanmu." Ari dan yuri memberikan buku catatan dan tugas yang harus dikerjakan. Mereka melakukan semua ini karenaku.



"Makasih banyak" Kami berpelukan seperti teletabis saja. Saat bersama mereka rasanya hidupku lepas dan bebas. Tanpa emosi, tanpa paksaan, dan bahkan kenyamanaku berada di samping mereka.



"Gimana kemarin? " Ari menanyakan hasil pertandingan. Aku bercerita keseluruhan pada mereka berdua. Rasanya sangat asik sambil tertawa dan mengoceh bersama. Bahkan mereka juga ikut bahagia dalam kemenangan yang aku dapatkan.



"Kak dika ini aku sudah membelikan makanan yang enak" Pasangan yang selalu bucin di setiap saat.



"Itukan bakso sehari-hari kali Yur" ketusku yang membuat ari tertawa geli melihat kelakuan salah satu sahabatnya yang bucin.



"Beda key, ini bakso penuh dengan kasih sayang"


"Terserahlah"



Seharian di sekolah aku bersama mereka, dan di setiap waktu saat di kantin pasti Yuri akan bucin dengan kak Dika. Sedangkan Ari sudah memilih diam karena tidak ingin menemukan cinta yang salah lagi.




Sepulang sekolah aku langsung mencari angkot dan bergegas ke tempat klub untuk latihan. Membawa sepatu bola serta seragam bola untuk persiapan bertanding. Latihan hanya di hari ini saja, untuk besok berlatih di rumah. Begitulah seterusnya karena mereka memberiku ijin untuk berlatih sendiri.



Hal tersebut disebabkan karena jarak rumahku, sekolah dan tempat berlatih bertentangan arah. Jadi pelatih serta manajer mengijinkan aku untuk bergantian berlatih di lapangan dan di rumah. Hanya satu yang mereka minta yaitu saat bertanding aku menampilkan yang terbaik.



"Huaaaa, latihan harus semangat walau rasanya lelah" gumamku untuk menyemangati hari yang benar-benar letih.



Bersiap diri menggunakan sepatu dan baju untuk latihan. Berjalan menuju lapangan dan ternyata disana masih sepi. Alangkah baiknya aku mengambil perlengkapan bola yang diletakkan dalam gudang. Mengambil peralatan untuk latihan. Untung saja ada beberapa teman yang datang serta membantuku. Jadi terasa ringan karena dikerjakan bersama-sama.



"Alhamdulillah, beres juga. Lebih baik kita pemanasan saja dulu" Ucapku mengajak mereka untuk melakukan pemanasan.



"Iya key benar juga" Aku dan mereka melakukan pemanasan bersama sambil menunggu teman-teman yang datang.



"Hey, kamu rajin sekali" Suara seseorang membuatku terkejut. Aku segera mengalihkan pandangan pada pemilik suara itu.



"Kamu" Ternyata Reyhan, bagaimana bisa dia masuk ke dalam lapangan latihan sedangkan dirinya bukanlah pemain.



"Iya aku, yang ngasih nomor kemarin. Tapi kamu tidak menelpon, padahal sudah ku tunggu" Aneh banget orang satu ini. Mengapa harus aku yang menelpon dahulu sedangkan aku tidak ada perlu dengannya.



"Lagian aku tidak ada perlu denganmu" Sahutku sambil melakukan pemanasan. Tapi rasanya risih sekali dia berada di sampingku.



"Kamu ngapain disini, bukankah ini latihan khusus untuk tim wanita" Aku tidak bisa menahan rasa penasaran yang ada jadi aku mengucapkannya.



"Kamu gak tau kalau aku itu putra dari asisten pelatih penjaga gawang, jadi yang sesukaku dong latihan disini" Sombong sekali pembicaraannya, mentang-mentang dia anak pelatih jadi seenaknya ke luar dan masuk disini.

__ADS_1



"Kita latihan bersama yuk"


"Apaan sih, lebih baik kita latihan berpisah" Aku tidak suka saat dia mendekat dan tangannya memegang tanganku. Kita saja baru kenal tapi seakan sikapnya tidak sopan padaku. Dia memperhatikan ku dengan tatapan aneh lalu mengajakku latihan bersama.



Aku tau dia seumuran denganku, dia juga pemain bola. Tapi apakah harus berlatih bersama dengan para wanita disini. Apa karena dia anak asisten pelatih jadinya seenak jidat ikut nimbrung di latihan. Kemarin-kemarin dia tidak terlihat kenapa sekarang ada, dasar aneh.



"Lebih baik kamu latihan sendiri saja. Di lapangan sana masih kosong" ujarku sambil menunjuk lapangan kosong di sebelah utara.



Aku berlatih jauh darinya, tidak lama kemudian pelatih dan asisten pelatih sudah berkumpul. Kami berbaris dahulu untuk berdoa sebelum latihan dimulai. Hal biasa yang dilakukan agar selalu dalam lindungan Yang Maha Pencipta dan diberikan kelancaran.



Selanjunya mendengarkan arahan pelatih untuk jadwal latihan hari ini. Setelah semua itu selesai kami melakukannya. Melakukan apa yang diperintahkan dan menjalani latihan dengan senang serta menghilangkan beban di kepala agar latihan menjadi nyaman.



"Lihat dan perhatikan intruksi pelatih. Latihan yang sungguh-sungguh" Teriakan coach Jaka untuk menjadi penyemangat kami pada saat latihan. Tidak ada kata lelah dan leyah-leyeh untuk berlatih. Jika di tim kecil saja kita malas berlatih maka kaki kita tidak akan bisa menginjaki tim yang lebih besar.



Permainan bola bukanlah hanya berlatih, bertanding, dan menang atau kalah. Tapi bermain bola juga menguji mental, kesabaran dan persahabatan. Pertandingan bola adalah hal yang harus dilakukan dengan hati yang ikhlas agar mendapatkan ketenangan dimanapun itu.



\*pritt\* peliit berbunyi tandanya latihan telah selesai. Semuanya berkumpul di tengah lapangan untuk mendengarkan nasehat serta pembekalan dari pelatih. Setelah itu latihan di bubarkan.



"Aduhh, malam banget lagi. Mana gak ada angkot" Gumamku saya menunggu di pinggir jalan.



"Key, mau pulang bareng aku gak? " Reyhan tiba-tiba datang menghampiri. Serasa dia memata-matai diriku. Risih sekali rasanya bila bertemu dengannya lagi.



"E... Maaf, pacar aku mau jemput" Terpaksa bohong deh, karena melihat gerak-geriknya yang aneh serta tatapan yang genit padaku. Bahkan terlintas senyum licik dari bibirnya.



"Memangnya kamu punya pacar? " Dia teriak dengan nada sedikit marah. Tadi dia senyum-senyum tapi sekarang berubah menjadi jahat.



"I... Iya, sebentar lagi dia jemput kok" Sahut ku yang agak takut. Apalagi jalanan terlihat sepi karena teman-teman sudah pulang semua.



"Kamu harus denganku, ayo" Tangan Reyhan kembali mencengkeram tanganku dengan keras. Dia terus memaksaku untuk ikut dengannya.



Aku benci melihat kelakuan dia padaku. Aku terus memberontak dan tidka ingin ikut pulang bersama dia. Terlihat sangat jelas ada hal aneh dalam diri Reyhan.



"Apaan sih han, mendingan kamu pulang sendiri" Aku melemparkan tangan Reyhan dengan keras. Rasanya ingin menonjok seseorang seperti Reyhan. Yang berbuat semaunya saja.



"Keyla, kamu kenapa menolak ku. Aku hanya ingin anterin kamu kok" Tiba-tiba wajahnya kembali baik, sepertinya dia memiliki kepribadian ganda.



"Aku sudah bilang kalau aku dijemput han" Aku membentaknya dengan kesal.



Berkali-kali aku berkata telah dijemput pacarku namun dia tidka percaya dan terus saja mengejar pembicaraan untuk mengetahui seseorang yang akan menjemputku kali ini.



"Mana pacarmu, kalau dia tidak datang maka aku yang akan mengantarmu" Aku tidak bisa berkutik. Aku juga tidak bisa menolaknya karena sepertinya dia menakutkan.



Saat aku berfikir ingin menelpon seseorang agar dia menjemputku, tiba-tiba ada motor yang mendekat ke arah kami. Aku tidak tau motor siapa itu.



"Key, ayo pulang" Mataku langsung terbelalak dan bersyukur karena itu David. Dengan adanya David aku tidak takut lagi.



"Sayang, kamu lama banget sih" Ucapku sambil sesekali melihat Reyhan yang murung. Rasanya jijik sekali mendengar apa yang aku katakan barusan. Tapi sudahlah, yang penting aku selamat dari Reyhan.



"Lihat, pacarku datang kan. Dia gak mungkin ingkar janji dan lupa untuk menjemputku" Sombongku padanya sambil memegangi lengan David yang masih berada di atas motor. Dengan kesal Reyhan pergi meninggalkan kami berdua. Dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


__ADS_1


~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2