Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
83. David yang Dulu


__ADS_3

Permainan babak kedua berlanjut dan aku harus tenang bermain serta menikmati di setiap sentuhan bola. Apabila aku gagal fokus maka permainan akan hancur.


"Tenang dan fokus" Teriak Coach Jaka saat melihat permainan dari tim lawan semakin meningkat.


Di 5 menit pertama babak kedua, mereka banyak melakukan serangan. Sepertinya tim lawan semakin semangat dan mengganti strategi baru. Pantas saja Coach Jaka teriak dengan emosi pada kami.


Benar, sekecil apapun kesalahan atau tindakan dari tim lawan tidak boleh diremehkan. Mereka semakin meningkatkan serangan sampai bola sangat susah untuk direbut. Aku berlari dengan sekuat tenaga, kali ini aku akan bertahan.


*bluk* bola kembali di kakiku. Aku melakukan umpan lambung untuk menuju ke depan. Umpan yang sangat akurat tapi sayang pertahanan tim lawan semakin merapat hingga tidak ada celah untuk masuk.


Kali ini tim lawan yang melakukan serangan. Di babak kedua mereka banyak mengganti pemain terutama pada penyerang. Penyerang kali ini memiliki kecepatan yang cukup baik. Sehingga di sisi kanan kami kualahan untuk menahannya.


Aku berlari dan membantu pertahan di sisi kanan dan bolak-balik ke sisi kiri. Tapi benar saja, aku sangat kelelahan dan tidak bisa mengimbangi. Di menit ke 60 serangan mereka membuahkan goal di gawang kami.


"Golllllll" Teriakan di bangku penonton tidak kalah heboh.


Aku harus memperbaiki dan melihat kesalahan apa yang dibuat. Sepertinya permainan teman-teman menurun karena meremehkan tim lawan. Skor di babak 2 bisa berubah kapanpun selama waktu masih bergulir.


"Ayooo, fokus we jangan kendor. Fokus terus" Teriakku dengan emosi. Karena pertahanan di kanan terlihat sangat menurun. Apa yang mereka pikirkan hingga seperti ini.


Setelah gol pertama dari tim lawan, terlihat jelas tim kami semakin menurun serangannya. Hal ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus tetap bertahan dan harus membuat mereka kembali bangkit dan menunjukkan performa terbaiknya.


"Sela, fokus " Teriakku padanya karena dia memberikan umpan yang salah kepada tim lawan yang menyebabkan serangan balik kembali terjadi. Aku kembali mengejar dan tidak memperdulikan apapun.


Tackel yang diberikan harus bersih dan tidak boleh ada kartu. Catatan itu yang selalu ada dipikiranku. Aku tidak ingin dikenai kartu, dan kali ini benar-benar berbeda. Tackel kerasku dianggap pelanggaran oleh wasit yang menyebabkan tendangan bebas untuk tim lawan.


*bluk* tendangan bebas dari tim lawan dimanfaatkan sebaik mungkin. Gol kedua tidak bisa dipungkiri sehingga skor menjadi 2-2.


"Bodoh kamu key, kenapa harus takel seperti itu" Teriak Rani kesal kepadaku. Aku diam karena ini kesalahanku yang menyebabkan tendangan bebas hingga berbuah gol.


"Sudah key, ayo berikan semangat lagi agar kami terus semangat dan bangkit" Ani kembali memberikan semangat dan mengembalikan percaya diriku. Aku semakin semangat untuk merebut bola dari tim lawan.


Saat aku berlari membawa bola, Tiba-tiba hal yang tidak terduga terjadi di tengah lapangan. Aku berhenti seketika dan memberikan isyarat pada wasit untuk memberhentikan pertandingan sementara.


"Ada apa? "


"Kaki saya sepertinya terluka sit" Tanganku bergegas membuka sepatu dan kaos yang dikenakan. Terlihat darah segar mengalir menbasahi kaos kaki.


Wasit dan teman-teman segera memanggil tim medis untuk segera masuk ke lapangan. Keadaan yang sangat darurat membuat pertandingan berhenti sementara. Dengan cepat tim medis menghampiriku.


Ternyata ada sebuah paku yang menancap pada sepatuku dan menembusnya hingga melukai kaki. Aku meringis kesakitan saat mereka mencoba melihat luka itu. Wasit menyuruhnya untuk membawa keluar lapangan untuk pengobatan.


"Key kenapa bisa begitu" Tanya Coach Jaka menghampiriku. Wajahnya terlihat heran melihat paku yang cukup besar meenmbus sepatu dan melukai kaki ini.


"Tidak tau Coach, daritadi memang sepatu saya terasa sangat mengganjal coach" Wajahku masih meringis kesakitan karena tim medis berusaha membersihakn luka agar tidak infeksi dan tetanus.


Anehnya paku yang tertancap di kakiku terlihat masih bersih dan baru. Jika memang itu paku liar, seharusnya sudah berkarat. Tapi paku ini seperti masih baru dibeli.


"Coach Key tidak dapat melanjutkan permainan dan diganti saja" Coach Jaka berunding dengan asisten pelatih lainnya untuk menggantiku.


"Jangan Coach, saya masih bisa" Ucapku pada Coach Jaka. Memang terlihat aku egois, tapi saat ini teman-teman akan kualahan menahan serangan dari tim lawan. Apalagi permainan mereka di babak kedua sangat baik.


"Tapi kakimu bisa parah key"


"Tidak Coach, saya masih bisa" Aku terus memaksa, karena kemenangan kali ini akan aku berikan pada bapak. Tapi jika tim ini kalah maka aku tidak bisa memberikan cerita tentang kemenangan pada bapak.


"Baiklah, kamu akan tetap bermain" Aku tersenyum mendengarkan keputusan Coach Jaka. Petugas medis melakukan penanganan yang sangat baik serta memberikan perlindungan luka berlipat agar nanti darah tidak menembus lagi apabila aku kembali ke lapangan.

__ADS_1


Aku masuk dengan intruksi wasit. Menahan rasa sakit yang penting tekad kuat melakukan pertahanan dengan baik.


"Semangat, fokus dan lakukan yang terbaik. Key sudah masuk ke lapangan" Teriak Coach Jaka menggema di lapangan sepak bola.


Teman-teman melihatku dengan semangat karena mereka tau jika kaki tertusuk paku maka akan sakit untuk jalan. Tapi aku yakin pasti bisa melewatinya yang penting tim menang.


Benar saja mereka menjadi semangat dan meningkatkan permainan. Permainan mereka semakin gacor di lapangan. Bahkan mereka juga berani memegang bola dan melakukan beberapa percobaan syuting saat mendekati gawang.


Begitu juga dengan aku membawa bola dan memberikan umpan pada mereka yang sudah siap di lini pertahanan lawan. Serangan kami membuahkan hasil sehingga skor sementara menjadi 3-2.


"Gollll" Mereka merayakan selebrasi, sedangkan aku mencoba bertahan dan berdiri karena luka itu sangat perih.


"Bagaimana denganmu, apakah baik-baik saja? " Tanya ani yang juga mendekat padaku saat mereka semua melakukan selebrasi.


"Tenanglah, kakiku ini sudah ada pelindung baja jadi kamu tidka udha takut" Sahutku sambil tersenyum untuk memberikan kepastian bahwa aku baik-baik saja.


"Keyla, bagaimana?" Cocah Jaka juga khawatir dengan jeadaanku, tapi aku membalasnya dengan acungan jempol sebagai tanda aku dalam keadaan baik.


Di menit-menit tambahan kami juga bermain ngeyel. Merebut bola dan terus merebutnya apabila bola tersebut dimuasai tim lawan. Begitu juga dengan aku yang meningkatkan kecepatan berlari saat bola sudah melekat di kaki. Membawanya dengan kecepatan lari yang cukup baik.


Sudah beberapa kali aku berhasil melewati pertahanan tim lawan meskipun pada akhirnya finishing masih belum sempurna. Kali ini waktu sisa 2 menit, aku harus berlari dan fokus melihat lini belakang yang kosong. Bermain taktik antara aku dan Ani. Dan akhirnya membuahkan gol penutup.


"Gollll, keyyyyy. Bagus keyyy" Tendangan terakhirku yang sangat baik bisa mengecoh lawan. Akhirnya aku menciptakan 1 assist dan 1 gol di pertandingan kali ini.


"Iya Ani, sujud dulu, sujud dulu" Ucapku pada Ani dan kami berdua melakukan selebrasi sujud syukur sebagai rasa syukur pada sang pemilik alam.


Hingga peluit panjang babak kedua dibunyikan. Kemengan kembali kami dapatkan dengan skor akhir 4-2. Aku sangat senang karena bisa membawa kemengan untuk aku ceritakan pada bapak.


"Selamat key" Ani memelukku


"Iya Ani, kamu juga" Kami semua berpelukan satu tim untuk merayakan kemengan. Hanya Rina yang tidak mau memelukku. Tapi aku tetap memaksanya untuk berpelukan sebagai rasa hormat terhadap kawan.


Sambil membuka sepatu, aku melihat darah yang mengalir mwnembus perban. Aku terdiam dan mencoba mengambil alat medis untuk mengobatinya sendiri. Aku berusaha menahan sakit saat semuanya bersenang-senang dengan kemengan.


Setelah itu mereka semua keluar untuk bergegas pulang. Aku hanya mengambil perban ganti dan obat lainnya dari tas petugas medis. Aku bilang ingin mengantinya sendiri.


"Yuk key duluan ya, orang tuaku sudah jemput" Pamit Ani padaku yang bergegas pulang.


"Yuk key duluan ya" Pamit yang lainnya juga.


"Iya hati-hati kalian, jangan ngebut" Sahut ku dengan senyum.


"Key, kita ke rumah sakit ya. Tapi tunggu sebentar disini, saya ada urusan sedikit" Ucap Coach Jaka.


"Baik Coach" Sahut ku sambil membuka perban yang sudah tembus dengan darah.


"Banyak sekali darahnya, mana darahnya masih muda lagi" Gumamku yang sendirian di ruang ganti.


"Keyyy, kakimu baik-baik saja? " David tiba-tiba datang dan masuk ke ruang ganti. Wajahnya cemas saat melihatku. Tangannya langsung mengambil kakiku untuk melihat luka yang aku dapatkan.


David jongkok di bawah dan ia meletakkan kakiku di atas pahanya untuk mengobati. Lalu tanganya merampas alat medis yang aku pegang. Aku terdiam melihat perilakunya, tidak tau apa yang akan dia lakukan.


"Kamu tahan ya, aku obati sedikit. Setelah itu kita ke rumah sakit" David membersihkan lukaku dan juga mengobatinya dengan sabar.


Entah mengapa bibirku tersenyum bahagia. David yang dingin sudah berubah seperti David yang dulu aku kenal. Benar-benar mengagumkan, hingga mataku terpaku dan jarang berkedip.


"Dia perhatian sekali padaku, apakah David yang dulu telah kembali?" gumamku dalam hati karena terpanah melihat perilakunya yang berubah.

__ADS_1


Tangan David telaten membersihkan luka dengan air dan membuang perban yang kotor lalu mwnggantinya dengan yang bersih.


"Aduh, pelan-pelan. Sakit tau"


"Tahan dikit, bentar lagi selesai kok" Sahut David sambil kembali fokus mengobati luka. Tanpa dia sadari, dirinya telah mengobati 2 luka sekaligus. Luka di hatiku dan juga luka di kakiku.


"Nah udah selesai, ayo kita ke rumah sakit"


"Tunggu, aku menunggu Coach Jaka. Karena dia bilang ada urusan sebentar" Sahut ku sambil menahan David yang ingin membawaku pergi.


"Baiklah, aku akan menemanimu" Kami berdua duduk berdampingan. Eentah mengapa jantungku sedikit berdebar. Apakah ini cinta?.


"Ngapain senyum-senyum sendiri" Ucap David saat matanya melihat senyuman kecil di bibirku.


"Mana ada"


"Itu, Jangan-jangan kamu senang ya dekat sama aku"


"Enggak kok" Aku memalingkan muka agar tidak terlihat dengan David bahwa aku malu. Sepertinya aku benar jatuh cinta padanya.


"Eh bentar, ini sepatuku saat itu kan? " David mengambil sepatu yang aku tindih dengan tas. Bebarapa kali dia memperhatikan dari bawah, di atas hingga sekeliling sepatu.


"Iya" Sahut ku singkat


"Wah ternyata kamu masih memakainya key, aku seneng banget key" Senyumnya sumringah dan sangat lebar saat dia berkata bahwa sangat senang melihat aku masih menggunakan sepatunya.


"Lebay kamu, aku sering memakainya saat latihan di sekolah. Tapi kamu tidak pernah memperhatikannya" Sahut ku kesal.


Karena selama ini David seperti tidak peduli saat aku mengatakan tentang bola dan sepatu yang dia berikan masih aku simpan dan aku gunakan untuk latihan.


"Hehehe, kan aku cuman seneng aja lihatnya"


"Makanya kalau aku ngomong dari dulu tu dengerin, jangan sok jadi orang dingin deh. Wajahmu gak gaul tau" Ucapku kesal seakan ingin memakinya.


Tidak lama kemudian Coach Jaka datang menghampiri ku. Kami pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka di kaki ini. Aku berangkat bersama David ke rumah sakit. Semua biaya pengobatan ditanggung oleh manajemen.


Setelah dari rumah sakit, David mengantarku untuk pulang ke rumah. Di perjalanan aku sangat senang karena kembali berboncengan dengan David. Tapi jantungku tidak bisa diajak kerja sama karena dia selalu berdegup kencang.


"Gimana key kakimu, apakah sudah mendingan?" Ucap David yang menbantuku turun dari motornya.


"Syukurlah sudah vid. Ayo masuk dulu" David mengikutiku masuk ke rumah ibu. Dia juga berfikir bahwa ini adalah rumahku dan keluarga kandungku. Selama ini dia tidak pernah tau asal-usul kehidupanku.


"Baru kali ini aku ke rumahmu key, senang sekali rasanya" Gumamnya, karena selama ini dia tidak pernah menginjakkan kaki mulai awal pertemanan kami hingga saat ini. karena aku selalu ingin di antaranya hingga sampai persimpangan saja.


David bertemu dengan ibu dan mbak yeni. Kami berbincang-bincang tapi tidak terlalu lama. Kemudian David berpamitan pulang. Setelah itu aku masuk ke kamar bapak dan menceritakan tentang kemenangan pada bapak.


"Assalamu'alaikum pak, bapak sudah bangun? " Tanyaku sambil mendekat di samping bapak.


"Iya nak, bapak sudah bangun" Suara lirih yang membuat hatiku tersayat.


"Pak gimana keadaan bapak? "


"Alhamdulillah sudah mendingan, lalu bagaimana pertandinganmu nak?" Aku menghela nafas sedalam-dalamnya. Saat masih dalam keadaan sakit, beliau masih bertanya tentang pertandingan yang aku jalani tadi.


"Pertandingan key, alhamdulillah menang pak dan...... " Aku bercerita tentang pertandingan dari awal hingga akhir. Aku bercerita seakan-akan mengajak bapak berhayal tentang uforia kemenangan pada saat menonton di lapangan langsung.


Aku menceritakan tentang kebahagiaan yang ada. Tapi aku tidak ingin cerita tentang luka. aku juga melarang ibu dan mbak Yeni untuk cerita pada bapak tentang luka paku yang menusuk kakiku hingga seperti ini.

__ADS_1


Tidak terasa aku bercerita dan menemani bapak hingga terlelap di samping bapak. Begitu juga dengan bapak yang beristirahat di siang hari. Aku tertidur sambil mengenggam tangan bapak, karena aku takut tentang hal buruk.



__ADS_2