Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
153. Undangan Timnas Putri


__ADS_3

Ternyata Yuri sudah tau bahwa aku dan Ari ingin melakukan sebuah misi saat di sekolah. Dia melihat aku dan Ari berbincang serius jadi dia merasa curiga dan mengikuti hingga ke kafe ini.


Memang aangt terkejut dengan kelakuan sahabatku stau ini, dan terlihat lucu juga saat dia marah dan cemberut seperti itu. Gemas sekali rasanya ingin mencubit pipi yuri.


"Sudahlah, aku ingin pulang buat persiapan berangkat besok malam ke asrama kota"


"Ikut.... " Wajah Yuri memelas saat melihatku.


"Mau aku letakkan di tas atau di koper? " Tanyaku.


"Hahahahah" Ari tertawa sangat lepas sekali saat melihat bibir Yuri kembali cemberut.


Akhirnya kami pulang bersama tapi dengan mobil yang berbeda. Ari mengantarkanku dan Yuri ikut dibelakang. Selanjutnya mereka pulang ke rumah masing-masing, hal tersebut bertujuan agar ibu tidak curiga denganku.



Di sekolah



"Key, aku mau pamit padamu"


"Kemana? "


"Aku diterima main di kota B setelah melakukan seleksi panjang"



Kota B adalah salah satu klub yang menduduki peringkat tertinggi di klub liga 1 saat ini. Ternyata diam-diam di Terima di sana setelah melakukan seleksi panjang saat aku ada di asrama klub kota.



Betapa bahagianya aku saat David mengatakan itu, walaupun dia tidak kembali ke luar negeri setidaknya dia bisa berkembang mencari pengalaman baru dalam dunia sepak bola. Aku berharap dia nyaman disana.



"Wahhh bagus sekali, tapi itu sangat jauh dengan kota ini. Tapi tidak apa-apa yang penting sekarang kamu sudah memiliki klub dan bisa berkembang dengan baik"



Sebelum masuk ke timnas, David bermain di klub kota. Namun setelah pulang dari timnas kontrak dia habis dan tidak bisa di lanjutkan karena ada beberapa cidera yang harus dipulihkan.



Dan syukur alhamdulillah sekarang dia memiliki klub lagi setelah beberapa bulan berstatus tanpa klub. Aku harap dia bisa bermain bagus dan dipanggil oleh timnas lagi di ajang selanjutnya.



"Tenang saja tidak usah sedih, aku akan selalu menghubungimu" Dirinya mencoba merayu.


"Baiklah"



"Kapan kamu akan berangkat? "


"Besok" Cepat sekali rasanya waktu ini berputar.



Baru saja aku senang bersama David dan sekarang kami harus berbeda kota. Dia berada di klub kota B dan aku ada di klub kotaku saat ini. Jarak yang jauh namun harus ditempuh demi masa depan.



"Jaga diri baik-baik ya. Aku harap kita berdua bertemu lagi di sekolah ini suatu saat nanti"



"Iya key kamu juga harus semangat agar bisa masuk ke timnas"


"Siap bos"



Kami berdua saling memberikan semangat. Menurutku cinta tidak harus dengan berpacaran namun cinta harus memberikan dukungan yang baik bagi pasangan masing-masing. Dan apapun itu, dukungan adalah nomor satu.



Aku dan David sama-sama pergi ke ruang kepala sekolah untuk meminta perijinan berkarir sepak bola. Aku masuk ke klub kota dan David masuk ke klub kota orang lain yang jaraknya cukup jauh.



"Ingat sekali lagi pesan bapak, jaga nama baik sekolah. Dan bapak harap permainan kalian bisa menembus timnas Indonesia"



"Baik Pak" Jawabku dan David secara bersamaan.



"Untuk David semoga bisa masuk ke dalam timnas lagi, serta key semoga kamu bisa menyusul David ke timnas"



"Kita beda pak" Sahutku, karena David timnas putra dan aku timnas putri.



"Tidak apa-apa, kan sama-sama timnas" Sahutnya yang membuat aku dan David tertawa.



"Sekarang saya memberikan ijin kalian untuk pulang lebih awal lagi"


"Siap pak"



Kami herdua kembali ke dalam kelas dan berpamitan ke teman-teman seperti saat awal aku masuk asrama saat itu. Suasana kembali haru karena aku dan David harus pergi untuk masuk ke dalam klub.



Sangat berat memang, karena di usia kami adalah hal yang saat penting untuk membuat kenangan. Namun masa depanlah yang paling penting, dan kami harus merelakan masa remaja untuk menggapai impian yang telah lama di catat melalui kehidupan.


__ADS_1


"Key, Hati-hati disana ya. Hikssss, hiksss"


"Nanti kalau terkenal jangan lupakan kita"


"Iya key, semoga kamu segera masuk ke timnas" Tangisan menyelimuti rasa hatiku yang mulai menjadi haru.



Aku memeluk mereka satu per satu kecuali Ari dan Yuri. Mereka bedua masih duduk di bangku seperti biasa dan tidak menghiraukan kepergianku dari kelas ini.



Aku hanya bisa tersenyum sambil menatao mereka dengan rasa yang sakit. Sakit karena harus pergi lagi untuk mengejar bintang dalam hidup ku.



"Apakah kalian tidak ingin memelukku? " Tanyaku pada mereka. Ari dan Yuri tertunduk diam dan berpura-pura mengerjakan sesuatu.



"Baiklah, aku pamit dulu ya. Dan untuk kalian jaga diri baik-baik karena aku sangat menyayangi kalian berdua"



Langkahku bergegas meninggalkan mereka berdua karena dari tadi aku berbicara namun dihiraukan oleh Ari dan Yuri. Mungkin mereka tidak menginginkan aku pergi, apalagi aku akan jarang pulang setelah ini karena untuk persiapan tim di turnamen selanjutnya.



"Key" Teriak Ari dan Yuri, mereka berdua beranjak dari tempat duduknya dan mengejarku dengan cepat.



Kembali pelukan dilemparkan dalam isak tangis dari Ari dan Yuri. Aku sekuat tenaga menahannya namun ternyata rasanya sangat sesak dan akhirnya butiran air mata terjatuh juga.



"Jangan lama-lama, tanpa kamu disini rasanya sangat tidak nyaman" Ujar Yuri sambil menangis tersedu-sedu.



"Benar key, tidak ada lagi yang membuatku kesal dan melindungi aku serta Yuri disini" Sambung Ari yang juga meneteskan air mata cukup banyak.



"Kalian ini, tenang saja aku pergi untuk mengejar cita-cita ku bukan untuk meninggalkan kalian. Aku janji jika suatu saat nanti bisa sukses maka aku akan berbicara pada dunia bahwa kalian sahabat terbaikku"



Aku pikir perpisahan kali ini biasa saja seperti perpisahan kemarin saat pertama kali aku berangkat ke klub kota. Ternyata aku salah, perpisahan kedua ini rasanya begitu berat apalagi aku akan menetap lama serta menunggu turnamen selanjutnya yang akan datang.



Setelah perpisahan yang cukup dramatis, aku pulang dan tidak lupa saling memberikan semangat pada David.



Di rumah, Malam hari




Bukan hanya ibu, tangisan kedua saudaraku juga terdengar sangat nyaring. Isak tangis kembali menghiasi isi rumah sama seperti kemarin aku pergi ke klub kota dan sekarang aku kembali lagi kesana.



"Nak, bapak selalu berdoa agar kamu berhasil menggapai mimpi menjadi pemain timnas" Usapan lembut tangan bapak kembali membelai kepalaku. Aku sangat senang melihatnya.



"Bapak, ibu, mbak Nike dan mbak yeni. Key janji akan bermain sebaik mungkin dan akan berusaha untuk bisa masuk timnas" Kami kembali beorelukan bersama.



Bapak memang tidak menangis, namun suaranya terdengar sumbang dan matanya sudha berkaca-kaca dan dipaksa untuk disembunyikan. Hanya bapak yang mampu menahan air mata itu.



Rasanya air mata ini tidak bisa terbendung lagi, aku benar-benar sangat sedih meninggalkan rumah ini untuk yang sekian kalinya. Namun aku harus rela karena demi masa depanku.



"Buk, key titip rumah ya. Siapa tau ibu kandung key pulang kesini" Aku memberikan kunci rumah pada ibu. Dan aku berharap ibu kandungku pulang ke rumah dan meninggalkan lelaki itu.



"I... Iya nak, ibu akan menjaganya" Suara ibu terdengar patah-patah karena tangisnya yang tersedu-sedu.



"Bentar key, biar mbak saja yang membawakan kopermu" Ucap mbak Yeni antusias, karena sebentar lagi dia tidak akan mendengar gertakan pagi dariku saat membangunkannya.



"Iya key, ingat pesan mbak. Kamu harus tetap jaga diri baik-baik dan saat pernikahan mbak akan dimulai, kamu harus datang" Mbak Nike tidak mau kalah. Dia selalu memberikan peringatan karena takut aku tidak datang di pernikahannya.



"Keyyy, tunggu" Teriakan yang sangat keras.



Yuri dan Ari berlari ke arahku, aku pikir mereka tidak akan datang kesini untuk mengantarku walau hanya sampai ke mobil saja. Karena saat aku mengirim pesan tidak ada yang membalasnya.



Dan sekarang bubirku mementingkan senyuman kecil dk balut kesedihan. Wajah mereka berdua selalu menghiasi hari-hariki di sekolah.



"Ari, yuri" Aku langsung memeluknya sangat erat. Pasti rindu ini akan begitu berat karena aku miliki kontrak satu tahun untuk klub kota ini.



Memang Ari dan Yuri bisa berkunjung ke asrama, tapi belum tentu dia akan berkunjung ke asrama kami saat melakukan pertandingan di kandang lawan.

__ADS_1



"Jaga diri baik-baik, aku bakalan kangen denganmu key" Yuri kembali menangis membuat bajuku basah.



"Ingat key, sekarang kamu memiliki tanggung jawab besar untuk cita-citamu. Masalah tentang pelajaran, aku akan selalu mengirimkan dan memberikan pelatihan online untukmu" Ucap Ari yang benar-benar sangat membantu.



"Terima kasih banyak ya, kalian berdua sahabat terbaikku"



Aku memeluknya dan kali ini mataku menahan agar tidak terjatuh butiran bening yang dapat membasahi pipi karena dapat membuat mereka semakin lemah akan kepergainku.



"Dadadahhh.... "


"Hati-hati key"


"Hati-hati nak" Lambaian tangan diiringi tangis karena memikirkan tentang kerinduan.



Bagaimanapun juga aku harus menahannya. Karena ini salah satu langkah agar aku bisa bermain ke timnas Indonesia untuk memenuhi cita-citaku membela negeri ini.



Perjalanan cukup jauh membuatku terlelap hingga sampai di pagi hari dan langsung membersihkan diri lalu melakukan absen. Kemudian bersiap diri untuk melanjutkan latihan.



Lapangan latihan



"Dalam waktu dekat ini kita akan melakukan turnamen kecil untuk daerah Jawa saja. Saya harap kalian tetap bermain dengan baik"


"Siap coach"



Latihan terus dilakukan untuk menemukan performa yang baik serta melatih pergerakan dan stamina untuk para pemain. Semua itu dilakukan agar kami tetap bermain dengan baik dalam pertandingan apapun. Dan mengurangi cidera yang memungkinkan saat bertanding.



Hari demi hari kami terus berlatih, fokusku hanya untuk berlatih sesuai intruksi pelatih. Hingga waktunya tiba dalam pertandingan dan kami sudah menempati pot yang telah dibagikan.


"Pertandingan perdana, kalian harus menikmati dan ikuti permainan dengan tenang. Jangan panik dan tetap tenang walau ada serangan"


"Siap coach"


Pertandingan awal dimulai dan kami kembali memenangkan pertandingan dengan skor 3-1. Para pemain senang begitu juga denganku, apalagi bermain dalam tim inti yang membuatku semakin percaya diri.


Selanjutnya 3 hari kemudian kami kembali mengadakan pertandingan kedua dan berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 1-0.


Walaupun skor tipis, setidaknya kami menang dan mendapatkan 3 poin sebagai bekal untuk menuju final. Tidak ada yang sia-sia, karena semua pasti ada bayarannya.


Lapangan latihan


Setelah kemenangan pertandingan kedua, kami kembali berlatih seperti biasa. Mempelajari strategi baru yang akan diberikan oleh pelatih serta penggunaan taktik yang diberikan.


"Sebelum latihan dimulai, ada kabar baru untuk kalian" Pelatih ingin mengumumkan hal penting, sudah terlihat jelas dari wajahnya bahwa ada sesuatu yang dibawa.


Terlihat sebuah amplop putih yang dia pegang. Kami duduk dengan tenang sebelum melakukan latihan pada pagi ini. Amplop itu dipeganggnya dengan erat lalu pelatih membuka isinya yang membuat kami penasaran.


"Lihat apa yang saya bawa? "


"Tidak tau coach" Teriak kami semua.


"Ini adalah surat undangan resmi dari PSSI" Mataku langsung melotot mendengarkan perkataan pelatih.


"Apakah itu surat undangan untuk masuk ke dalam timnas? " Batinku bertanya-tanya karena pelatih belum memberitahunya dengan pasti.


"Undangan untuk apa coach? " Tanya salah satu temanku yang juga penasaran dengan surat itu.


"Surat undangan resmi untuk seleksi timnas"


"Hah timnas? Yeyyyyy" Sorakan yang sangat meriah dari para pemain.


Begitu juga aku yang baru pertama kali mendengar bahwa ada surat resmi yang datang untuk melakukan seleksi timnas. Jantungku berdebar dan tidak sabar dengan kedatangan surat itu.


"Bersama datangnya surat ini saya merasa senang karena anak didik saya bisa diundang untuk seleksi timnas putri. Dan sebentar lagi saya akan membacakannya"


"Memangnya diantara kami ada yang mendapatkan undnagan itu coach" Pertanyaan konyol apalagi yang sedang mereka sebarkan.


Jika surat itu sudah masuk ke dalam manajer klub, sudah berarti ada pemain yang sedang diincar untuk masuk ke dalam timnas putri pikirku.


"Ada, namun hanya salah satu dari kalian yang menarik perhatian dari pelatih timnas"


"Hanya satu coach? "


"Iya"


Mendengar hanya satu yang masuk undangan tersebut, rasanya hariku tertunduk lesu. Seperti tidak ada harapan untuk masuk ke dalam timnas Indonesia walaupun hanya seleksi saja. Karena semua pemain disini memiliki bakat dan mereka banyak yang datang dari SSB ternama di kota ini.


Aku terdiam dan tertunduk lesu saat yang lain antusias bertanya dan ingin mendengarkan secara langsung pembacaan undangan tersebut.


"Baiklah, kalian dengarkan baik-baik isi dari surat ini"


"Baik coach"


Pelatih membacakan tujuan dari surat tersebut yaitu ingin mengundang pemain untuk melakukan seleksi timnas yang dipersiapkan untuk pertandingan internasional.


"Dan nama tersebut adalah....... " Aku hanya diam menatap ke tanah.


Tidak ada semangat dalam diriku karena aku tidak merasa jika namaku yang tercatat disana. Apalagi melihat pemainan teman-teman satu tim sangat bagus-bagus. Jadi tidak ada harapan lebih lagi dalam pikiran ini.


"Cepat coach, kami tidak sabar"


"Betul coach"


"Dia adalah..... " teka-teki yang cukup lama.

__ADS_1



__ADS_2