Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
130. Tembus Tim Kota


__ADS_3

Bercerita sambil sesekali menarik ulur nafas ini di malam yang sesunyi. Serta rasa sakit menyelimuti bersautan antara suara hati dan desiran angin.


Apa yang harus aku katakan dengan rasa sakit ini. Jika mereka saja datang saat bahagia mampu menyembuhkan ku. Lalu mereka menyerang kembali hingga mendapatkan beban rasa sakit menusuk dalam hati. Hingga memberikan luka yang kembali membekas.


"Bantu aku menghapus air mata ini bo, bantu aku tersenyum lagi" percakapan yang tidak asing. Karena mereka hanya melihat dan mendengar tapi tidak membalas.


"Hiksss, hiksss" malam yang dingin diiringi air mata yang tebal.


Bisakah air mata ini tersimpan cukup lama. Jangan terus mengalir dan membuatku semakin sakit dalam hati. Bisakah air mata ini berubah, dari air mata pedih menjadi air mata kebahagiaan. Tapi rasanya sangat sulit sekali.


Malamku larut begitu saja bersama Isak tangis yang tiada hentinya. Air mata mengalir membasahi seluruh kamar, bahkan dapat di dengar oleh dinding - dinding disini.




Hari ini aku memiliki jadwal latihan di klub tarkam. Jadi sangat pagi sekali aku sudah membersihkan diri, ibadah dan memasak untuk makan. Selanjutnya bergegas untuk berangkat ke tempat latihan.



06.10



"Sepertinya masih pagi, tapi tidak apalah. Aku pergi nongkrong saja ke tempat Riki"


Aku bergegas pergi dan tidak lupa berpamitan pada ibu.



Saat ibu bertanya mengapa aku tidak mampir ke rumahnya semalam, aku hanya bisa berbohong jika banyak tugas sekolah. Padahal aku tertidur karena menangis begitu lama kemarin.



"Baiklah Bu, Key mau berangkat latihan dulu"


"Apa mau di antar bapak?"


"Tidak usah Bu, biar Key berangkat sendiri saja"


"Baiklah, hati-hati ya nak"



Pelukan yang membuatku nyaman walau sedikit. Setidaknya bisa mengobati luka kemarin walau tidak sepenuhnya.



Pagi ini aku pergi ke tempat latihan, tidak lupa mampir ke tempat Riki dan pak Abi. Berbincang-bincang walau hanya beberapa menit sambil menunggu angkot datang.



Saat ini aku juga jarang ngobrol bersama mereka berdua, selain kesibukan di sekolah aku juga memiliki kesibukan berlatih bola. Jadi kami hanya bertemu jika ada waktu luang saja.



"Ki, bagaimana sekolah adikmu. Apakah masih ada uang sekolah yang nunggak?"


"Alhamdulillah Key , meskipun ada yang nunggak tapi tidak banyak. Ini semua karena uangmu"



Keterbatasan biaya membuat Riki memiliki tanggungan yang besar. Tidak jarang uang sekolah adiknya banyak yang menunggak.



Untung saja aku memiliki uang tabungan yang ku simpan dari hasil bonus saat selesai bertanding, walau tidak banyak setidaknya bisa meringankan Riki.



"Tidak apa-apa, itu sudah menjadi rejekimu. Aku harap adikmu belajar dengan giat agar kelak menjadi orang yang hebat"



"Siap Key, aku akan selalu memperhatikan adikku selalu. Dan Terima kasih banyak atas bantuanmu Key" aku tersenyum.



Riki anak yang pekerja keras, dia sangat pantas mendapatkan ini semua. Aku juga tidak akan tinggal diam apabila temanku dalam kesusahan sedangkan aku senang-senang menghamburkan uang.



"Pak Abi mana?"


"Sepertinya dia sakit, karena kemarin dia hanya membuka warung sampai sore saja"



Ku lihat warung pak Abi kosong dan tertutup. Biasanya ada orang yang menggantikan jualan tapi kali ini tidak ada. Katanya orang itu juga tidak bisa menjaga warung dengan alasan ada kepentingan keluarga, ucap Riki.



"Key, apa keinginan terbesarmu yang ingin di capai sekarang? "


"Menjadi pemain bola hebat, masuk ke timnas putri Indonesia" sahut ku dengan ceria.



"Itu saja? " aku menggeleng.


"Yang paling utama adalah aku ingin mengumpulkan smeua cinta lewat bola. Aku ingin cintaku yang hilang menjadi satu" Riki terdiam mendengarkan curhatku.



Aku snahat ingin masuk timnas dan bergabung menjadi punggawa si dalamnya. Karena aku berfikir dengan adanya bola makan aku akan menemukan cinta yang hilang lalu berkumpul menjadi satu antara aku dan cinta menjadi cerita.



"Aku senang mendengarnya, karena kamu memiliki semangat yang tinggi untuk hal itu" Ujar Riki.



"Benar, sampai kapanpun impianku tetap sama. Aku harap kamu jangan sampai kehilangan cinta yang saat ini" Riki tersenyum lalu memelukku sebagai tanda persahabatan.



"Ki aku berangkat dulu ya, lihatlah angkot sudah datang"


"Iya Key, kamu hati-hati ya"


"Siap bos"



Saat di dalam angkot, wajahku gelisah karena tidak ada balasan pesan dari David. Ari dan Yuri juga tidak menghubungiku, ada apa dengan mereka apakah aku bersalah.



Kak Dika juga mengganti nomor ponselnya, begitu juga dengan ayah tidak bisa di hubungi semua. Sepertinya mereka sengaja memutuskan hubungan ini antara Indonesia dan Amerika.



"Kiri pak"


"Iya neng"


__ADS_1


"Hmm, kertas apa ini" aku menemukan sebuah kertas di kantong Hoodie ku saat tangan ini masuk untuk menghangatkan diri dari udara pagi.



\*\*\*\*



Nak, ayah minta maaf karena tidak bisa menjadi seorang ayah yang baik. Ayah sangat sayang padamu nak, Ayah tidak ingin kamu menanggung ini semua. Akan tetapi Ayah pergi ke Amerika karena ada alasan yang tidak bisa ayah ucapkan. Ayah hanya bisa memberikan sebuah pesan ini untukmu, dan ayah janji bakalan mengirimkan uang untuk biaya hidupmu. Kamu jaga diri baik-baik ya, semoga saat ayah pulang ke Indonesia kita bisa bertemu lagi.



\*\*\*\*



Apa yang harus aku lakukan, menangiskah atau tertawa membaca surat ini. Mungkin ayah mengirimkan kemarin pada saat kami berpelukan. Dan surat ini mengatakan bahwa ayah menyayangiku.



"Key, baru datang"


"Eh Ani" Aku terkejut dengan gertakan nya yang menepis bahuku dengan keras.



Aku segera menyimpan surat ini rapat-rapat ke dalam tas dan berjalan kembali bersama Ani seakan tidak terjadi apa-apa.



Sedangkan mata ini masih mampu menahan bendungan air yang rasanya ingin seluncur dengan bebas tapi sudahlah, aku ingin air mata ini kembali masuk entah dalam hati atau dalam pikiranku.



"Kamu sendiri? "


"Ya begitulah, aku memang sendiri"



"Key aku ingin berbicara sesuatu denganmu"


"Apa? " Tatapan matanya mendekat ke wajahku.



Sepertinya ada hal yang ingin dia katakan dari lubuk hatinya. Sesekali matanya mengintai kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang yang datang di ruang ganti ini.



"Apa, hey? " Ternyata kesabaranku setipis tisu. Sedangkan Ani masih dalam keadaan mengintai.



Aku tidka mengerti apa yang ingin dia lakukan. Karena matanya seakan-akan menjadi detektif pengintai. Rasanya aku ingin mencolok matanya.



"Kemarin ada seseorang yang berbicara tentangnu, setelah pertandingan kami di luar kota selesai" Aku mendekat dan sangat tertarik dengan apa yang dibicarakan oleh Ani.



"Siapa? Dan mengapa membicarakan ku Ani? "


"Apakah disini sepi? " Matanya masih mewaspadai karena takut ada seseorang yang datang.



"Mereka ingin........"




"Pagi" Sahutku dan Ani secara bersamaan.



Kami kembali melakukan aktivitas masing-masing dengan menggunakan sepasang sepatu bola dan bersiap untuk latihan sambil menunggu teman-teman yang belum datang.



Berlatih seperti biasa dengan memperbanyak konsentrasi. Meskipun kemarin kita sudah menang dan meraih juara, maka latihan selanjutnya harus lebih giat lagi bukan latihan dengan biasa-biasa saja.



"Keyla, kemarilah" Coach Jaka memanggilku untuk menepi dari lapangan.



"Ada apa Coach? "


"Ini ada surat pemberitahuan dari manajer, bahwa kontrak kamu akan segera habis sebulan lagi karena kamu mendapatkan panggilan dari kota untuk melakukan turnamen antar kota selanjutnya" Mataku terbelalak mendengarkan penjelasan yang diberikan.



"Benarkah Coach? "


"Benar Key, selamat ya karena kemampuan yang kamu miliki dan kerja keras kamu. Maka tidak bisa kami pungkiri bahwa kamu di Terima dalam tim besar kota" Jelasnya padaku.



"Yeyyy, Terima kasih banyak Coach" Aku memeluk Coach Jaka dengan kesenangan yang teramat memuncak.



Tubuhku meloncat kegirangan sehingga membuat beberapa dari teman-teman memperhatikanku. Mereka memiliki rasa ingin tau yang tinggi, apalagi aku meloncat kegirangan seperti orang yang tidak jelas.



"Ingatlah, saya harap kamu bermain dengan baik di sana. Tunjukkan kemampuanmu agar bisa menembus ke skuad timnas putri Garuda muda. Dan satu lagi jangan mengecewakan saya sebagai pelatih kamu" Nasehat yang lembut diberikan oleh seorang pelatih yang bersikap sebagai ayah dalam tim ini.



"Siap Coach, laksanakan" Aku mencium surat pemberitahuan itu dengan bangga. Akhirnya aku bisa menembus permainan dari tim kota dan bisa membuka peluang besar untuk mendapatkan pengalaman yang banyak.



\*pritttt\*



"Silahkan berkumpul dahulu sebelum latihan ini di bubarkan"



Semua pemain berkumpul di pinggir lapangan. Setiap selesai latihan selalu diadakan perkumpulan karena akan ada evaluasi dari pelatih.



Setelah kemenangan kemarin, bulan ini tidak ada jadwal untuk melakukan turnamen besar. Jadi kami tetap harus mengikuti sesi latihan untuk menambah stamina.



Jika ada permainan tarkam dadakan maka kami siap melaksanakan pemainan tarkam tersebut. Yang penting tidak berdiam diri dan tidak mengasah skil yang sudah ada.


__ADS_1


"Tolong perhatiannya, teman kalian mendapatkan satu tempat di tim sepak bola putri yang ada di kota ini. Dia akan menjalani seleksi untuk masuk ke dalam tim inti yang akan bertanding tingkat provinsi" Jelas Coach Jaka



"Hah benarkah? "


"Enak sekali, aku juga ingin"Gemuruh kecil yang berbisik dari telinga ke telinga satunya.



" Keyla kemarilah" Aku berdiri di samping Coach Jaka.


"Baik Coach"



"Lihatlah, dia adalah Keyla, saya harap selanjutnya akan ada Keyla yang baru di tim ini"



\*prok, prok, prok\*



"Wah hebat sekali Key"


"Benar key, hebat" Tepukan dan ucapan selamat dari teman-teman satu tim. Aku senang melihat mereka ikut merasakan kebahagiaan apa yang aku dapat saat ini.



"Terima kasih teman-teman" Aku sanah senang karena mereka menyambut dengan antusias dan memberikan banyak selamat padaku.



"Baik anak-anak, harapan saya sangat besar pada kalian. Keberhasilan kalian adalah keberhasilan saya juga. Saya akan sangat bahagia melihat kalian tampil di TV sebagai pemain hebat kelak"



Ucapan hangat dari Coach Jaka menyentuh hari kami semua. Ucapan itu adalah bukti ketulusan dari seorang pelatih yang mengajarkan ilmu tanpa pamrih dan selalu melakukannya dengan keikhlasan.



Setelah pertemuan itu kami membersihkan diri untuk bergegas pulang.



"Gila Key, namamu bisa tembus ke tim kota. Hmmm, aku kapan ya bisa bermain sepertimu" Wajah Ani mendadak murung karena mengingat dia masih belum berkembang.



"Tenang saja, masih ada waktu kedepannya. Jangan patah semangat, jika hari ini tidak bisa maka akan ada hari esok" Aku memberinya semangat agar dia selalu memiliki tujuan dalam perjalanan hidupnya.



"Oh iya Key kamu jangan sampai lupa ya sama aku, jika nanti namamu sudah menyebar di negeri ini"



"Hahahah, kamu bisa saja. Aku tidak akan lupa sedikitpun namamu. Nama seorang sahabat yang menemaniku hingga saat ini" Kami tertawa bersama dalam rangkulan tangan persahabatan. Berjalan keluar dari ruang ganti untuk pulang.



"Keyyyy"


"Ari, yuri" Aku langsung memeluk mereka berdua dengan erat.



Aku terkejut melihat mereka tanpa kabar dari kemarin dan sekarang datang tiba-tiba ke tempat latihanku. Rasanya lucu sekali, pasti mereka rindu akan kebersamaan.



"Hey Ani"


"Hai" Sapa Ari dan Yuri padanya. Mereka bertiga sudah saling kenal walaupun tidak terlalu akrab.



"Key ayo kita pulang, aku ingin bercerita banyak hal denganmu"


"Apa? "


"Ayo, ikutlah denganku"


"Sebentar-sebentar"



Aku menghampiri Ani untuk menawarkan agar dia ikut pulang bersamaku. Tetapi Ani menolak, katanya dia sedang dijemput oleh ayahnya.



Akhirnya aku meninggalkan Ani yang duduk sendirian di area tempat latihan. Memang suasananya sudah sepi, tapi masih ada pak satpam yang menjaganya.



"Baiklah, kamu hati-hati disini ya Ani. Aku duluan ya"


"Hmmm iya key... " Aku menoleh pada Ani, tapi Yuri menarik tanganku untuk mempercepat langkah karena ada sesuatu yang ingin mereka tunjukkan.



Pikirku masih bimbang, aku termenung di dalam mobil saat melihat Ani ingin mengatakan sesuatu. Wajahnya terlihat cemas saat menatapku, tapi aku tidak tau apa yang ingin dia katakan.



"Astaghfirullah, aku lupa"


"Kenapa Key? "


"Bolehkah kita kembali ke Ani lagi? "


"Kenapa memangnya? "


"Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya"



Aku melupakan sesuatu, tadi Ani ingin mengucapkan suatu hal padaku tentang seseorang yang menyebut namaku. Tapi bibirnya berhenti saat Ira masuk ke ruang ganti.



Aku tau bahwa wajahnya cemas karena ingin mengatakan hal yang tertunda tadi. dia bilang bahwa orang itu berhubungan dnegan kehidupanku. Tapi aku tidak tau karena Ani belum menyelesaikan perkataannya.



POV ANI



"Dih, ayah lama sekali sih jemputnya. Mana langit sudah semakin panas lagi" Gumamku kesal sambil melihat ponsel beberapa kali tapi belum ada jawaban dari ayah. Sudah berkali-kali aku menelponnya tapi belum di angkat juga.



Aku tidak tau apakah keadaan jalanan masih dalam keadaan macet. Ataukah ayah sedang ada tugas di kantornya. Aku juga jadi takut karena suasana tempat latihan audah sepi tidak ada siapapun.


__ADS_1


~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2