Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
50. Bayangan Hitam


__ADS_3

Yuri dan ari semakin mendekat dan mengamati luka yang menyayat lenganku. Aku pikir tidak ada luka ternyata darah sudah berceceran dan kak dika yang menemukan hal itu.


"Key lukamu parah banget" Yuri menatapnya dengan takut, karena darah yang keluar sangatlah banyak dan menembus kain yang kak dika lilitkan. Aku merasakan sepertinya lututku juga terluka, tapi tidak apalah yang penting masih jauh dari nyawa hehe.


"Sudahlah, masih jauh dari nyawa" Sahutku sambil bercanda.


"Kamu kuat banget key" Ucap Rena padaku


"Tidak Rena, ini latihan sakit heheheh" Bercanda lebih asik agar tidak terlalu berfikir tajam. dan merasakan sakit ini.


" Kalau begitu kamu bonceng aku saja key" Kak Dika mengatakan hal tersebut karena melihat luka yang ada di tangan.


"Tidak kak, Yuri tidak bisa naik sepeda. Lebih baik aku naik sendiri seperti tadi. Dan aku juga tau caranya mengerem pakai kaki kok" Banyak yang berfikir aku keras kepala, tapi perkataanku memang benar bahwa yuri tidak bisa naik sepeda. aku takut dia celaka karenaku.


"Kamu ini keras kepala sekali, kamu sudah terluka masih saja memaksa untuk naik sepeda" Yuri memarahi ku karena keras kepalaku yang tidak bisa diganggu gugat.


"Sudahlah ayo jalan" Aku langsung menaiki sepeda kembali dan menyuruh Ari untuk segera jalan.


Perjalanan yang asik dan menarik pandanganku, walaupun terjatuh setidaknya sudah terobati oleh pemandangan disini. Akhirnya kami menemukan perkemahan itu. Sudah ada 3 tenda, tempat memasak, kayu untuk api unggun. Dan semuanya sudah tersedia lengkap, sungguh hebat keluarga Ari sudah merencanakan dengan matang.


*crittttt* aku mengerem nya dengan menggunakan sepatu. Karena rem sepedaku blong dan tidak dapat digunakan.


"Wahhh, asik banget" Mataku takjub melihat semua ini. Apalagi di samping perkemahan ada lahan kosong yang dapat digunakan untuk bermain bola.


"Gila bagus banget" Bukan hanya aku, kak Dika juga memujinya.


"Bagus banget ri, aku sangat suka" Rena juga ikut memujinya yang membuat bibir Ari menampakkan senyum bahagia.


"Key, coba lihat pemandangan disini sangat indah" Tangan Yuri mencolek lenganku. Kami semua sangat tercengang melihat pemandangan yang ada.


"Wah, kalian sudah datang rupanya" Kedua orang tua Ari keluar dari dalam tenda menyambut kedatangan kami.


"Bagaimana perjalannya? " Tanya tante maya sambil menampakkan senyumnya.


"Lumayan curam sih ma, tuh liat tangan key sampai terluka" Keluh Ari dan tangannya menunjuk pada lenganku yang terluka.


"Astaga, kenapa bisa begitu key sayang" Mama Ari langsung masuk ke dalam tenda dan membawa obat-obatan untuk mengobati lukaku ini.


"Iya tante, om, tadi rem sepedanya blong" Jawabku


"Kok bisa? Padahal sepeda ini selalu dirawat oleh penjaga villa" Papa Ari heran saat mendengarlan penjelasanku.


"Gapapa kok om, mungkin key yang s


salah narik rem jadinya rem itu putus" Mencoba meredam semuanya dan menyembunyikan apa yang diketahui.


"Sini tante obati, biar lukamu gak terinfeksi" Tangannya sibuk membersihkan lukaku, dengan hati-hati menyeka menggunakan air hangat. Meneteskan obat dan membalutnya dengan perban. Semua itu ia lakukan dengan kasih sayang.


"Apa masih sakit? "


"Sudah tidak, karena tante yang mengobati" Rayuku padanya


"Ah bisa saja kamu"


*plak*


"Aduh" Rayuan membawa maut. Tante maya tersenyum saat aku rayu lalu tangannya memukul lenganku yang terluka. Memang kalau perempuan salah tingkah itu ada saja yang dilakukan. Salah satunya memukul lengan ini.


"Eh maaf, maaf" Senyumnya yang lembut membuatku merasakan kehangatan


"Tidak apa-apa tante, lagian cuman sedikit" Sahutku.


"Mau yang lebih banyak? " Ucap Ari sambil datang menghampiri dan duduk bersama kami berdua.

__ADS_1


"Enak aja"


Ayah ari menyuruh kami untuk beristirahat terlebih dahulu, dan saat malam tiba entah nanti atau esok makan kami akan melakukan nyanyi di samping api unggun. Dan besok rencananya adalah menjelajahi hutan.


Kami semua beristirahat di samping tenda yang sejuk. Menikmati makanan ringan yang sudah disediakan. Dan juga ada gitar disana, tapi saat ini tidak untuk dimainkan karena nanti malam waktunya untuk berpesta api unggun.


Aku memilih duduk di pintu tenda, menikmati makanan yang ada sambil melihat pemandangan. Tiba-tiba pandanganku masuk ke arah hitam, terdapat bayangan seseorang yang sendang mengintip kami semua. Aku hanya diam dan memandanginya karena aku tidak mau membuat mereka ketakutan atau ribut.


"Siapa dia, tidak mungkin hantu. karena dia masih menginjakkan kakinya ke atas tanah. lalu siapa dia? sudahlah yang penting tidak menganggu" batinku saat kenatapnya.


Mataku terus menatapnya, lalu dirinya pergi dan menghilang. Pikiranku kembali terbang tentang seseorang tadi, mengapa dia ada di hutan dan memandangi perkemahan kami. Aku hanya terdiam dan belum menemukan jawabannya.


Jika ingin mandi, disana sudah tersedia tempat mandi dengan air yang mengalir dari air terjun. Jika ingin berenang maka bisa mengunjungi air terjun yang jaraknya tidak terlalu jauh. Paling kita bisa nenempuhnya dengan waktu kurang lebih 5 menit kata ayah Ari. Dan disana airnya sangat sejuk sekali, tapi harus hati-hati agar tidak terjatuh karena bebatuan banyak yang licin.


Sore hari mereka berencana untuk pergi ke air terjun. Hanya aku yang tidak ikut, karena luka di lenganku yang belum kering takutnya terkena air. Aku bersma atante maya menyiapkan makan malam di perkemahan.


"Oh iya key, tolong ambilkan kayu disana ya"


"Siap tante" Tempat kayu yang berada di dalam hutan, aku melangkah sendiri kesana untuk mengambilnya beberapa saja hanya untuk memasak sedikit.


*krek*


Aku langsung mengalihkan pandangan ke belakang. Mencari sumber suara dan menghampirinya. Hanya ada sebatang kayu yang patah. Telingaku tidak salah, karena tadi ada orang yang menginkak kayu tersebut. Sepertinya memang ada seseorang yang sengaja mengawasi kami. Aku harus waspada agar tidak terjadi apa-apa.


Tanganku terus mengangkut kayu dan menjinjinggnya. Sesekali mataku mewaspadai daerah sekitar. Apa mungkin bahaya saat masuk ke hutan ini. Aku segera menuju perkemahan dan membantu tante Maya untuk memasak.


"Oh iya key kenapa lama sekali, apakah ada kesulitan untuk mengambilnya? "


"Tidak tante, key cuman duduk-duduk sebentar sambil melihat pemandangan" Sahut ku mengarang cerita.


"Ohhh, ya sudah ayo bantu tante mengiris bawang ini"


"Siap tante" Memasak sangat asik, apalagi bersama seorang ibu. Karena nanti perempuan akan menjadi ibu rumah tangga. Meskipun aku tomboy, tapi menurutku memasak adalah kewajiban seorang perempuan sebagai persiapan masa depan.


"Key mau nyanyi gak? " Tutur kak Dika yang sudah siap memegang gitar.


"Boleh, tapi laguku agak pilu sih"


"Memangnya lagu apa? " Tanya Yuri yang duduk di sampingku


"Diary depresi ku, last child"


"Oke"


Kak Dika memetik gitar dengan lembut. Mengalunkan irama lagu yang asik. aku bernyanyi menikmati lagu tersebut, sedangkan mereka mendengarkan dan sambil bertepuk tangan. Aku kira ini lagu, ternyata kisahku.


*****


Ku ingat saat Ayah pergi, dan kami mulai kelaparan


Hal yang biasa buat aku, hidup di jalanan


Disaat ku belum mengerti, arti sebuah perceraian


Yang hancurkan semua hal indah, yang dulu pernah aku miliki


Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian


Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah


Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam


Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan

__ADS_1


*****


Aku menikmatinya dengan air mata yang sengaja aku membendungnya. Meski berkaca-kaca aku berupaya menahan agar tidak jatuh. Lirik yang indah seperti kisahku, baik masa lalu dan masa kini.


Lalu mereka semua ikut bernyanyi bersamaku, bahkan papa dan mama Ari juga mengikutinya. Suasana senang bercampur aduk dengan suasana haru. Sejenak aku menghilangkan semuanya dibawah rembulan dengan saksi bisu api yang menyala besar.


"Kamu gapapa" Tanya Yuri yang mengerti perasaanku tanpa harus ku ucapkan. Begitu juga tatapan Ari, tapi dia memilih diam karena dia tau apa yang aku rasakan sangat sakit.


"Santai" Sahut ku dengan singkat. Yuri menggenggam tanganku dengan erat agar aku merasakan kehangatan bukan kedinginan.


"Ayo lanjut lagi, kita bakalan nyanyi yang lebih meriah. Sekarang yang nyanyi adalah Yuri" Aku mencoba mencairkan suasana haru. Ingin mengajak mereka bersenang-senang dan tertawa ria bukan untuk menangisi kisahku.


"Aku gak bisa nyanyi" Ucap Yuri yang ketakutan, dia memang pemalu apalagi untuk bernyanyi. Padahal dulu di SMP suka malu-maluin tapi sekarang sudah berubah.


"Ayolah, nyanyi sama kak Dika" Rayuan yang sangat ampuh, bila membawa nama kak Dika pasti dia tidak akan menolak.


"Ya sudah ayo" Jawab Yuri dengan senyuman yang ia lempar padaku dan kak Dika.


"Baiklah, kamu mau lagu apa yuri"


"Utopia, mencintaimu sampai mati" Ucap Yuri dengan nada malu-maluin


"Oke"


"Cieeee, mencintaimu sampai mati" Ari menggoda Yuri hingga pipinya sudah semakin merah.


"Kalian lanjut saja yah, papa sama mama ingin tidur dahulu karena tidak pernah begadang" Kedua orang tua Ari tidur terlebih dahulu dan menyuruh kita berlima melanjutkan untuk bernyanyi di samping api unggun.


"Baik om, siappp" Kami melanjutkannya dengan senang hati. Bernyanyi dengan rasa yang sangat senang. Bahkan saat Yuri menyanyikan tiba di bagian reff lagu tersebut, matanya terus menatap kak Dika. Aku tersenyum karena Yuri benar-benar bahagia bersama kak Dika.


"Jika kalian bahagia, maka aku ikut bahagia bersama kalian" batinku kembali berseru saat melihat Ari dan Yuri secara bergantian.


Begitu juga dengan Ari yang ikut bernyanyi dengan tatapan bahaga menatap Rena yang duduk di sampingnya. Kali ini sahabatku benar-benar jatuh cinta. Hanya aku yang belum bisa menutup hati karena aku menunggu David.


Aku tidak tau apakah aku mencintai David, hingga menunggunya sampai detik ini. Sedangkan malah David belum pernah aku temui lagi semenjak perpisahan itu.


Lihatlah bintang, kali ini aku tersenyum menikmati harimu yang indah malam ini. Bersenandung dibawah naungan bulan dengan desiran angin yang begitu indah. Mengalun kencang, kadang pula pelan dalam setiap irana yang dimainkan. Kali ini aku benar-benar tersenyum kebahagiaan.


Hingga malam larut, kami menghentikan acara ini. Bergegas kembali menuju tenda masing-masing untuk beristirahat. Terlelap dengan penerangan remang-remang di dalam tenda. Tidur memeluk bobo yang selalu aku bawa.


*pagi*


Mentari mengintip dari ufuk timur, aku melihat sunrise di pagi hari. Duduk di samping tenda dengan menatapnya sendiri. Sengaja aku duduk disni setelah melakukan ibadah di pagi hari. Ingin memanjakan mataku melihat keindahan dunia yang diciptakan oleh sang Pencipta lalu disajikan.


"Key, sudah bangun aja" Yuri terbangun dari tidurnya dan menegurku.


"Biasa, ingin menghirup udara segar. Sini duduk" Yuri bergegas duduk disampingku. Melihat pemandangan yang sejuk dan menyenangkan hati. Sunrise di pagi hari, semburan siang yang indah dan embun pagi yang menyambut dengan bahagia.


"Asik banget menikmati pagi" Kak Dika muncul tiba-tiba dan duduk di samping kami berdua.


"Iya kak, bagus banget tau" Sahut Yuri yang antusias melihat kak Dika bergabung melihat indahnya pagi.


"Mereka semua masih tidur ya? " Tanyaku


"Sepertinya mereka tidur lagi setelah melaksanakan ibadah pagi. Kami bertiga menatap indah dengan senyum tiada henti. Nikmat Tuhan mana lagi yang kalian dustakan. Bila pemandangan ini sudah menjawab semuanya dari nikmat Tuhan seluruh alam.


Menit-menit berlalu, semuanya telah bangun dan bergantian untuk membersihkan diri. Karena acara sekarang yaitu menjelajahi hutan dengan mengikuti tanda-tanda yang sudha diberikan.


Bersiap dengan pakaian rapi di perkemahan. Pesertanya kami semua kecuali papa Ari yang menjadi menanggung jawab atas permainan ini. Om Roky sudah menyiapkan beberapa perlengkapan dan tanda-tanda arah perjalanan dan juga rintangan yang sudah disebar di dalam hutan sebelumnya bersama asisten yang menjaga vila.


"Oke sekarang om sudah membagi kelompoknya yaitu key, Dika, dan Yuri selanjutnya mama, Ari dan juga Rena" Kelompok sudah lengkap, hanya persiapan untuk melanjutkannya.


"Wah bagus banget nih, sepertinya seru" Aku menyukai acara ini karena dapat menguji keberanian untuk melewati rintangan yang disediakan.

__ADS_1



__ADS_2