Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
123. Senja di Pantai


__ADS_3

Aku hanya berdiam diri saat mereka menganggapku pemain hebat. Sebenarnya aku tidak suka dengan pujian ini karena aku takut terlena dan terjebak oleh pujian.


"Key hebat banget kamu sampai membuat gaduh lagi-pagi dengan prestasi mu"


"Sudah diam Ari, aku tidak ingin pujian yang terlalu tinggi karena aku hanya pemain biasa" Ketusku dan kembali mengikuti pelajaran karena guru telah datang.


Kabar kemenanganku sudah terdengar hingga penjuru sekolah. Bahkan setiap ibu guru yang mengajar selalu mengucapkan selamat karena aku sudah mengharumkan nama kota melalui tim tarkam.


Aku selalu memyambutnya dengan senyuman dan ucapan terima kasih karena sudah memperhatikan kemampuanku. Tapi sebenarnya aku sangat tidak nyaman dengan pujian, karena ketakutan terbesarku adalah jatuh karena pujian.


*tetttttt* bel istirahat berbunyi, kami bertiga pergi ke kantin untuk makan. Karena sudah sangat rindu dengan makanan kantin serta makan bersama dengan para sahabatku.


"Yuk kita ke kantin, kali ini aku yang traktir"


"Asikkk, aku mau nambah key" uang yang aku miliki cukup untuk membahagiakan orang-orang yang aku cintai.


"Aku juga key, mau makan bakso dan lainnya" Sesekali aku memberikan kebahagiaan pada mereka berdua.


Biasanya mereka berdua yang selalu mentraktir ku dan memberikan kebahagiaan. Kali ini gantian karena aku yang akan mentraktir mereka berdua. Karena saat ini aku memiliki bonus dari tim dan juga turnamen kemarin.


"Sepertinya ada pemain bola tapi star sindrom nih" Suara itu selalu membuatku kesal. Padahal kemarin telingaku masih tenang dan sekarang kembali mendengar suara berisik ini.


"Dia terkenal karena kemampuannya sedangkan kamun terkenal karena nyinyiran nya" Jawaban Yuri sangat bagus sekali. Bila diberi bintang maka dia akan mendapatkan bintang sempurna.


"Enak aja, aku punya kemampuan. Aku bisa bermain..... E..... " Adel berhenti untuk bicara.


Mungkin dia lupa apa keahlian yang dia miliki saat ini. Karena di sekolah ini dia memiliki prestasi nol sebab selalu membuat ulah dimanapun dia berada.


"Lupa ya sama keahliannya, atau memang tidak punya keahlian" Jawabku dengan tersenyum dan mengejek Adel yang berdiri bersama Dewi di depan kami.


"Ihhhh, Dewi bantuin apa keahlianku"


"Mana aku tau Del, aku tidak tau apa keahlian khusus. Aku saja bingung dengan keahlianku apalagi milikmu" Dasar kocak, selalu saja mempermalukan diri sendiri dan membuatku tertawa.


"Kita makan dulu ya, lapar" Ketusku sambil tersenyum ejekan pada mereka.


Aku pergi meninggalkan Adel dan Dewi karena kebingungan memilih keahliannya. Karena yang aku tau keahlian mereka adalah ngomongin orang serta berbicara sombong.


"Kamu gak ngajak kak Dika? "


"Tidak Key, dia selalu sibuk karena harus belajar agar lolos masuk ke Universitas luar negeri" Aku mengangguk dan mengerti apa yang Yuri katakan.


Enak sekali kak Dika memiliki keluarga lengkap, kebutuhan terjamin dan yang pasti dalam bimbingan ayah. Bahkan dia juga bisa kuliah di luar negeri seperti keinginan semua orang-orang.


"Key"


"Astaga Ari, aku terkejut" Pukulan Ari membuatku terkejut saat kami sudah berada di meja kantin.


"Kamu mau pesan apa? "


"Seperti biasa" Yuri sudah mengerti dan dia melakukan hal seperti biasa.


Aku juga melihat Doni dan memanggilnya untuk makan bersama. Kali ini aku yang bayar sebagai ucapan terima kasih untuk orang-orang baik yang selalu ada menghibur dan mendukungku di setiap waktu.


"Bentar, kenapa dari tadi pagi aku tidak melihat Rena ya?Apakah dia sudah tidak bermain dengan geng Adel dan Dewi lagi?" ujarku dengan heran.


"Iya kamu benar, dia sudah keluar dari geng toksik itu" Sahut Yuri dengan pertanyaanku yang mengenai Rena.


Yuri menjelaskan bahwa Rena jarang bermain dengan Adel. Dia juga jarang masuk kelas, palingan seminggu 4 kali kadang 3 kali. Setiap masuk sekolah Rena selalu menyendiri dan tidak pernah berbaur dengan teman lainnya.


Yuri juga mengatakan bahwa Rena sudah menjadi pendiam dan jarang berbicara seperti dulu. Rena yang jahat dan cerewet kini menjadi pendiam seperti banyak pikiran di kepalanya.


"Benarkah? Apakah dia masih sama memiliki masalah? " Aku heran saat mendengar cerita Yuri karena Rena masih terlihat tertekan.


Padahal dulu dia baik-baik saja mengapa sekarang menjadi seperti ini. Rena yang banyak omong mendadak menjadi introvert atau penyendiri.


"Benar key, aku melihat Rena seperti orang asing karena dia pantang berbicara satu katapun" Sambung Ari padaku


"Iya key, sungguh malang nasibnya. Aku sendiri yang tidak kenal Rena menjadi prihatin" Ucap doni meneruskan pernyataaan tersebut.

__ADS_1


Aku tidak tau masalah Rena, aku yakin dia memiliki beban yang saat besar. Aku juga yakin dia seperti itu bukan karena vidionya yang ingin membunuhku tersebar, tapi karena ada masalah yang lain.


"Sudahlah ayo makan. Semoga saja Rena lekas membaik" Ucapku sambil melanjutkan makan bersama mereka.


"Oh iya kita keluar yuk jalan-jalan gitu" Ajak Ari pada kami.


"Kemana? "


"Kemanapun biar bisa refresing otak nih" Tumben sekali dia ingin berbicara tentang penyegaran otak. Biasanya otak dia selalu segar dan tidak pernah merasakan sumpek.


"Apa yang terjadi? apakah Olimpiade kemarin kalah? "


"Tidak" Sahutnya


Biasanya jika Olimpiade kalah maka Ari akan merasakan tekanan karena sebuah kekalahan. Dia akan terus berfikir, mengapa dia bisa kalah. Tapi kali ini dia menang namun ingin menyegarkan otak.


"Tumben ingin menyegarkan otak, biasanya otak kamu tenang ri" Doni mewakili ku untuk berbicara. Ternyata pikiran Doni sama denganku.


"Ya aku juga manusia don" Sahutnya.


"Okelah kita jalan-jalan nanti. Kamu gimana Yuri?"


"Aku pasti ikut dong key" Sahutnya dengan senyuman lebar.


"Kalau kamu Don? "


"Hehe, aku gak bisa Key. Soalnya aku mau keluar"


"Yaiyalah Key, dia selalu bucin dengan Puja" Ketus Yuri yang membuat Doni tersenyum malu.


Yuri menceritakan bahwa Doni sudah menjalin hubungan spesial dengan puja. Jadi mereka berdua sering bersama kadang juga selalu keluar bersama. Tapi jika di sekolah, mereka menjadi pendiam katanya takut banyak yang mengetahui, salah satunya geng Adel.


Rencana kumpul tapi menjadi gosip dan yang jadi bahannya kali ini adalah Doni dan Puja. Tapi tidak apa-apa lah karena yang digosipin ada di depan mata dan kita tidak membicarakan scara bersembunyi.


*tettt*


Bel masuk sudah berbunyi, perkumpulan di meja kantin telah bubar. Kami semua masuk ke dalam kelas unntuk mengikuti pelajaran. Sepulang sekolah kami berkumpul memperbaiki mobil Ari untuk mencari tempat yang tenang.


"Tenang, aku punya tempat yang sangat bagus. dan kalian pasti senang melihatnya" Sahutku saat Ari bingung mencari arah tujuan untuk menghilangkan penat.


"Kemana sih key, aku jadi penasaran"


"Tenang Yur, tempat ini benar-benar indah" Di sepanjang perjalanan mereka sangat ingin mengetahui tempat apa yang akan dituju.


Sedangkan aku hanya diam agar mereka berdua semakin penasaran. Aku yakin mereka akan tertarik dengan tempat yang akan aku tunjukkan. Dan mereka pasti langsung terpikat dengan keindahannya.


Aku saja jatuh cinta dengan keindahan alam itu. Bahkan mataku terpesona menatapnya, jiwaku terasa damai dan nyaman saat ada di sekitarnya.


"Lihatlah, kita sudah sampai" Ucapku saat mobil kami berjalan masuk melewati jalanan menuju pantai itu.


"Wahhh, indah sekali Key" Ari terpesona menatapnya.


"Benar Key, mataku tidak bisa berkedip" Sambung Yuri.


Benar yang aku katakan, mereka sangat takjub dengan menatap semua keindahan yang memanjakan mata serta hati. Pikiran saja yang penuh dengan masalah akan hilang bila datang kesini.


"Kesenangan kalian adalah kesenanganku" Gumamku dalam hati sambil menatap Ari dan Yuri saat bibir mereka menampakkan senyum dengn tatapan bahagia di balik jendela.


Senang rasanya kembali jalan-jalan bersama sahabatku yang kocak ini. Sengaja aku mengajaknya menuju ke sebuah pantai. Tempat saat aku bertemu dengan Doni dan mendengarkan curhatannya saat itu


"Disini jika kamu ingin mencari kenyamanan dan ketenangan ri" ucapku pada Ari saat kami ingin turun dari mobil. Aku yang mengarahkan pak supir agar menuju ke tempat ini.


"Indah banget key, kamu tidak pernah mengenalkan tempat ini pada kami" Ari terpesona dengan pemandangan taman yang indah di bawah rayuan pohon kelapa serta deburan ombak yang melambai.


Hempasan yang keras menabrak karang membuat sentuhan gelombang cantik. Hembusan angin sepoy-sepoy juga muncul dalam sebuah ikatan ketenangan.


"Aku baru melihat tempat seindah ini Key, memangnya kamu tau tempat ini darimana?" Tanya Yuri padaku.


"Saat aku sendiri" mereka berdua langsung terdiam. Seakan mengerti apa yang aku rasakan tanpa penjelasan.

__ADS_1


"Ngapain bengong, ayo kita bermain" bermain pasir atau menikmati deburan ombak di sore hari adalah cara untuk menenangkan pikiran yang resah atau kacau.


Suara ombak mengajak kami untuk berlari di atas pasir putih sambil menikmati indahnya pemandangan. Kami duduk di pinggir pantai menunggu senja datang.


"Kemarilah "


"Kenapa key?"


"Kita teriak bersama-sama disini. Keluarkan semua masalah yang bersarang di pikiran kalian. Keluarkan lewat teriakan yang paling keras" Ucapku pada mereka berdua yang asik menatap ombak di tepi karang.


"Aaaaaaaa" Teriakan melenting di udara seperti mengalahkan suara ombak di tepi pantai.


Mungkin langit juga mendengarnya dari hati kami yang gelisah diantara ribuan cerita dalam jiwa.


Sedikit akan melepas rasa lelah itu lewat sentuhan kecil yang berarti


"Aaaaaaaa"


"Teriak lah sekeras mungkin. Agar hati kalian lega" Ucapku kembali


"Mama, maafkan Yuri karena belum menjadi anak hebat seperti yang mama mau" Air mata Yuri menetes membasahi seluruh jiwa.


"Ayah, ibu, Key ingin kalian melihat bahwa suatu saat nanti Key menjadi pemain timnas terhebat" Teriakku.


Aku keluarkan semuanya dengan rasa yang benar-benar gila meluapkan seluruh emosi dalam jiwa hingga mampu berkata bahwa tidak ada yang berakhir.


"Sekarang giliranmu ri, keluarkan apa yang mengganggu hidupmu" Ucapku pada Ari yang masih tercengang menatap lautan.


"Iya ri, teriak lah sekuat apapun yang kamu bisa. Rasanya benar-benar lega" Sambung Yuri.


"Duniaaaaa, bisakah aku memutar waktu untuk kembali" Teriakan Ari membuat aku dan Yuri menatapnya dengan tajam.


Kami berdua tidak mengerti apa yang dia maksudkan. Karena yang kami tau hanya keluh kesahnya, bukan untuk memutar waktu.


"Kamu mau kemana ri, mengapa harus kembali ke masa lalu? " Tanyaku heran dengan teriakan Ari.


"Iya ri, dunia ini kan masih berputar" Sambung Yuri. Kami berdua menatapnya penuh dengan kebingungan.


"Tidak, aku hanya ingin membeli buku saja. Buku itu hanya ada satu tapi aku kalah start dan akhirnya jatuh ke tangan orang lain" Jelasnya.


"Oooohhh" Sahut aku dan Yuri secara bersamaan.


Sekarang aku telah mengerti, alasan Ari yang ingin menenangkan pikiran adalah salah satu buku yang dia inginkan telah tiada. Malang sekali nasib kutu buku ini.


Selanjutnya kami kembali bermain pasir dan melihat bahwa senja sepertinya akan segera tenggelam. Suara burung juga bersautan menunggu pergantian malam yang akan segera tiba.


"Kita foto dulu yuk" Ari mengajak kami untuk foto di tepi pantai. Karena itulah cara kami melakukan kesenangan dan menyimpan memori kebersamaan. Kami selalu melakukan foto di tempat yang indah dan di suasana penting.


Foto itu akan selalu di cetak dan kami memegang album persahabatan. Karena suatu saat kami pasti akan mengalami masa tua dan di saat itulah kenangan akan kembali di ceritakan pada anak cucu nanti.


"Wah bagus banget, ayo kita foto bertiga lagi dan ponselmu letakkan di sana" Ucapku sambil melakukan berbagai gaya lucu. Senang rasanya sampai lupa bahwa senja sudah tenggelam di ufuk barat.


Kami segera makan di warung terdekat, menikmati menu makanan yang ada. Kami terus tertawa dan bercanda sambil merasakan suasana langka karena kami menikmati makan di samping pantai terindah.


Malam semakin larut dan kami pulang, begitu juga dengan aku yang bergegas kembali ke rumah dengan diantarkan oleh mobil Ari.


"Dadah, kalian hati-hati di jalan ya" Aku melambaikan tangan melihat Ari dan Yuri berlalu pergi.


Dengan senyuman aku menatap mereka dalam kekaguman karena memiliki sahabat yang hebat. Rasa syukur terus aku ucapkan karena telah diberikan sahabat yang baik seperti mereka berdua.


"Astaga, aku lupa memberikan baju ini pada mereka. Dasar Key pikun" Aku memukul jidat dengan keras saat melihat baju yang aku beli untuk mereka tertinggal dalam tas dan lupa aku berikan.


"Besok saja aku kasih ke mereka deh" Gumamku dalam hati sambil masuk ke rumah ibu untuk bertemu dengan kedua kakakku yang usil. Karena sangat sepi bila tidak bergurau dengan mereka.


Aku juga belum menceritakan pada mereka berdua tentang kemenangan saat ini. Karena mereka pasti akan senang mendengar cerita tentang bola, apalagi aku yang main pasti senyumnya akan terlukis.


"Mbakkkkk" Teriakku dan langsung masuk ke dalam kamar mereka. Mbak Yeni yang sibuk belajar dan mbak Nike sibuk mengerjakan tugas kantor.


Mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing hingga lupa menyambutku yang datang. Aku duduk sendiri dan terdiam. Kali ini aku termenung gara-gara mereka berdua.

__ADS_1



__ADS_2