Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
59. Terjatuh Dalam Pelukan David


__ADS_3

Yuri dan Ari marah padaku lewat pesan yang dituloskan, akan tetapi mereka tetap menbantuku dengan mengirimkan surat tipuan serta menuliskan keterangan bahwa aku sedang sakit dengan menggunakan tanda tangan palsu. Mereka berdua juga memfoto catatan tadi siang sehingga aku tidak ketinggalan pelajaran hari ini.


Memang sahabat terbaik dan sangat baik yang aku miliki. Suatu saat aku akan membalas semua kebaikan mereka. Meskipun mereka pernah bilang bahwa sahabat tidak perlu balas budi, tapi aku yang akan membalas budi mereka tanpa suruhan orang lain.




Pagi hari aku berangkat sekolah seperti biasa. Dijalanan mataku belum menemukan sosok Riki yang selalu berjualan koran. Sepertinya dia masih belum sehat, sepulang sekolah aku akan menjengkunya. Pagi ini aku hanya berpamitan pada pak Abi saja, lalu pergi berlalu menaiki angkutan umum.



"Hah, sepertinya itu ayah" Mataku langsung terbelalak saat turun dari angkot yang berhenti di depan sekolah. Aku melihat sesosok wajah yang tidak asing bagiku yaitu ayah yang sudah meninggalkanku bertahun-tahun. Dia menggunakan mobil mewah dan berhenti di depan sekolah.



Masih tidak percaya, aku mengucek-ngucek mataku agar melihatnya dengan jelas. Menelan ludah, dan ternyata benar itu ayah. Bertahun-tahun lamanya, dan akhirnya aku menemukannya. Bukan untuk tinggal bersamanya, tetapi untuk menanyakan alasannya meninggalkanku.



\*ttinnnn\*



"Maaf Pak maaf" Karena langkah yang terburu-buru aku tidak melihat jalan dengan benar. Menyeberang dengan cepat tanpa menghiraukan lalu lintas yang padat. Untung saja mobil itu berjalan pelan, kalau tidak aku akan terpental jauh karena ditabrak.



"Ayahhh tungguuu" Teriakku, tapi sepertinya dia tidak akan mendengar. Apalagi aku berada di seberang jalan dan dia di mobil.



"Ayahhhhh" Aku teriak tapi mobil itu berlalu saat aku sudah berhasil menyebrang jalan dengan baik.



"Ahhh, aku yakin kalau itu ayah" Gumamku dalam hati. Wajahnya terlihat jelas meskipun dia meninggalkanku saat kecil. Aku masih mengingatnya hingga saat ini walaupun aku membencinya. Suatu hari nanti aku pasti menemuinya.



"Key, kamu ngapain kok masih disini" Entah darimana kak Dika datang dan tiba-tiba dia menghampiriku.



"Hmm, tidak kak. Hanya melihat itu saja"


"Itu apa? "


"Sudahlah, ayo kita masuk" Aku menyeretnya untuk masuk ke dalam sekolah agar dia tidak terus bertanya. Tapi pikiranku tidak ada disana melainkan memikirkan seseorang itu yang aku panggil dengan sebutan ayah.



Sesampainya di persimpangan lorong kelas kami berpisah, karena kelasku dan kak Dika berbeda. Aku berharap nanti akan bertemu dengan ayah. Siapa tau dia akan menjemput anaknya yang bersekolah di sini. Tapi aku tidak tau siapa anak ayah.



"Key" Teriak Ari saat aku baru masuk ke dalam kelas


"Hai"


"Kamu kemana kemarin? "


"Sssst, jangan ramai Yuri" Tegur Ari agar tidak ketahuan jika aku bolos kemarin. Aku berjalan ke arah mereka. Melewati David sambil melirik sedikit, dan ternyata dia juga melirik nya.



"Sudah hilangin yang kemarin dan saatnya kita melanjutkan sesuatu di masa sekarang dan masa depan" Sahut ku yang membuat Ari dan Yuri menghilangkan pertanyaan itu di dalam benaknya.



"Oh iya Yur kamu udah jadian sama kak Dika? " Yuri menggeleng nya. Sepertinya kak Dika belum nembak Yuri. Padahal aku sudah melakukan berbagai cara dengan mmebujuknya untuk menembak Yuri. Tapi apakah hal itu baik, sedangkan hati tidak boleh dipaksa. Sedangkan dalam diriku yakin bahwa kak Dika juga suka dengan Yuri.



"Tapi kemarin malam dia mengajakku makan, yeyeyeye" Teriaknya gembira dengan senyuman di bibirnya yang begitu lebar. Baru saja murung, dengan cepat senyumnya kembali.



"Ssssttt, jangan berisik. Nanti yang lain malah iri ke kamu" Ucapku


"Hahhahaha" Kami bertiga langsung tertawa.



"Ari, kamu yakin dengan Rena? " Ucapku padanya karena hati ini sangat waspada terhadap Rena. Entah kenapa ada firasat buruk di hatiku pada Rena.



"Kok kamu tanya gitu sih key, memangnya Rena kenapa? " Jawab Ari yang sedikit tersinggung dengan pertanyaan ku. Aku bimbang untuk menjelaskan atau tidak padanya.



"Ah tidak, aku ingin memastikan saja"


"Yang jelas aku sangat yakin dengan dia. Dia baik, cantik dan perhatian" Aku tersenyum mendengar pernyataan dari Ari.



Karena dia sangat bahagia jika dekat dengan Rena, mungkin saat ini aku tidak bisa melarangnya. Tapi di lain sisi aku bingung ingin berbicara apa, karena kemarin aku dengar Rena hanya memanfaatkan anak culun dan yang pasti itu Ari.



"Sudah yuk, kita bersiap untuk melanjutkan pelajaran"


"Iya nih, bentar lagi bel berbunyi" Sahut Yuri. Kami bersiap untuk menerima jam pelajaran di awal hari.

__ADS_1



Mataku saat ini memandangi David. Memangnya dia tidak capek apa, berdiam diri di kursi tidak kemana-mana. Hanya bermain ponsel lalu menulis atau menggambar atau apalah itu. Dan aku juga heran, memangnya kepalanya tidak sengklek apa. Dasar orang aneh, lebih baik aku menghiraukan nya saja.



Jam pelajaran sudah dimulai, kami semua sibuk mengikutinya. Memperhatikan pelajaran di depan, kadang juga bosan. Bila sudah bosan aku akan menulis atau menggambar taktik bola dalam coretan kertas. Hingga bel istirahat berbunyi.



\*tettttttt\*



Bel yang ditunggu-tunggu telah tiba untuk menghilangkan pikiran yang lelah dari dalam kelas dan melanjutkan ke kantin untuk makan. Makan adalah cara menenangkan diri untukku, Ari dan Yuri.



Kami berjalan menuju kantin, dan di tengah jalan aku malah kebelet kencing. Jadi Yuri dan Ari mendahului ku untuk ke kantin. Dan aku ke kamar mandi sebentar.



\*bruk\*



"Aduh" Aku terjatuh ke lantai


"Makanya kalau jalan pakai mata dong" Ternyata Rena yang menabrakku. Dia berjalan bersama Puja dan Dewi.


"Rena? " Aku terkejut saat Rena berbicara seperti itu. Biasanya dia bersikap halus tapi kenapa dia sekarang begini. Dia berkata kasar padaku, seakan-akan aku adalah musuhnya.



"Kalau tidak mau jatuh, jalan pakai mata jangan tolah toleh"


"Kamu bukannya minta maaf malah bicara seperti ini" Ucapku kesal dan langsung berdiri di depannya.



"Bodo amat" Rena langsung pergi meninggalkanku. Sedangkan aku masih terdiam dan heran melihat kelakuan Rena. Awalnya aku tidak yakin jika itu Rena, apakah dia kesambet di kamar mandi. Jika dilihat ternyata benar dia adalah Rena.



Dari sini aku tau, bahwa Rena benar-benar mempermainkan ari. Tapi aku tidak tau apa tujuannya hingga dia mempermainkan Ari atas nama cinta. Apa mungkin dia terpengaruh oleh Dewi atau Puja, jika memang iya lalu mengapa harus seperti ini.



Sekali lagi aku nenghela nafas yang panjang lalu menghembuskannya dengan kesal. Berjalan menuju kamar mandi setelah itu berjalan menuju kantin untuk makan bersama Ari dan Yuri.



Sesampainya di kantin, makanan pesananku seperti biasa sudah ada di meja. Langsung duduk tanpa berbicara apapun karena aku masih kesal dengan sikap Rena. Ingin sekali aku menamparnya dan mencambak rambutnya. Dan untung saja aku bisa menahan diri, ini semua karena aku tidak ingin mengecewakan Ari.



"Ah tidak, aku tidak apa-apa kok" Jawabku


"Hmm, yaudah ayo makan. Keburu dingin nih makannya" Kami menikmati makanan dikantin sekolah.



Pemandangan kali ini berbeda, sepertinya David tidak ke kantin. Pasti dia sedang di kelas menggambar atau menulis. Sedangkan kak Dika sekarang pasti sudah sibuk karena memasuki masa kelas 3. Dia sangat sibuk untuk mempersiapkan diri sebelum ujian akhir di mulai.



"RI, lebih baik kamu pikir-pikir dulu deh sama Rena" Aku memecahkan kesunyian saya kami makan. Ari langsung mengalihkan perhatiannya padaku.



"Memangnya kenapa key, aku menyukainya karena dia baik, cantik dan tidak sombong lagi" Ari memujinya membuat telingaku panas karena mendengar tentang rena.



"Dia itu........"


"Haiiii, aku belikan minuman buat kalian. Nih silahkan diminum" Dengan polosnya Rena tiba-tiba datang dan membawa minuman.



Kali ini aku tau dia sedang mempermainkan 2 wajah dalam pertemuan hari ini. Tadi dia berlagak sombong dan ketus, lalu sekarang dia berlagak akrab dan baik pada kami. Mungkin dia sedang menutupi wajah aslinya sekarang.



"Aku duduk sini ya" Ari mengangguk dan memprsilahkan Rena duduk di tempat kami. Wajah Ari sangat senang melihat kelakuan Rena. Begitu juga dengan Yuri yang ikut tersenyum.



"Ini key minumanmu" memberikanku segelas Es yang dibawa oleh Rena. Sejenak aku menatapnya, wajah dia berubah menjadi seorang yang pendiam. Padahal tadi saat bertemu denganku malah sebaliknya.



"Kalian minum sendiri saja, aku sudah kenyang" Ucapku dan langsung bergegas pergi meninggalkan mereka.



"Key tunggu, mau kemana? " Yuri memanggilku tapi tidak aku hiraukan. Dan ternyata dia juga pergi bersamaku. Aku memilih duduk di taman untuk menyandarkan resah karena Rena dan Ari.



"Kamu kenapa sih Key pergi tiba-tiba" Ucap Yuri yang duduk di sampingku.



"Hmm, aku gapapa kok cuman lagi kenyang ajaa" Jawabku mencoba berbohong pada Yuri.

__ADS_1



"Bukan itu, maksudku kamu kenapa sepertinya tidak suka dengan Rena" Aku menarik nafas dan mencoba tenang untuk menjawab pertanyaan Yuri.



"Tidak apa-apa, sudahlah ayo kita ke kelas" Yuri mengangguk dan kami bergeas dari tempat duduk.



"Aduh" Kepalaku terbentur pintu yang tiba-tiba dibuka oleh siswa kelas 10. Untung saja ada yang menangkapku dari belakang. Dan aku terjatuh dalam pelukannya.



"Hah, kamu. Lepasin, lepasin" Ku kira siapa yang menolong ternyata David yang menangkapku. Awalnya aku terdiam dalam dekapan tangan yang kuat saat mwnagkapku, namun aku memberontak saat sadar bahwa dia adalah David.



\*brukkk\*



"Aduh, sakit tau" Dia melepaskanku hingga tubuh ini terjatuh ke lantai.


"Key kamu gapapa" Yuri menghampirimu.


"Kurang ajar banget sih jadi orang" Ketusku padanya yang tiba-tiba datang menangkapku dan tiba-tiba juga dia melepaskan tangkapannya.



"Kamu kan bilang lepas, yaudah aku lepasin"


"Tapi kan gak gini juga, sakit nih punggungku" Makin kesal rasanya melihat wajah dia yang tidak merasa bersalah. Sudah melepaskanku dan membuatku jatuh sekarang wajahnya kembali dingin seperti tidak terjadi apa-apa.



"Key kamu gapapa" Entah darimana arah Doni tiba-tiba datang dan memegang tanganku untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja.



"Ini lagi, buat aku kesal aja" Aku melemparkan genggamannya dan beregas pergi sambil menarik tangan Yuri. Sedangkan tanganku satunya masih megang pinggang yang sakit.



"Key sabar, sabar, jangan marah-marah nanti cepet tua" Yuri mengelus punggungku sambil berjalan. Dia berusaha menentukan hatiku yang sangat kesal.



"Oke Yuri, hari ini aku pms. Dan hari ini juga aku banyak masalah yang buat aku semakin kesal" Aku mencoba mengatur nafas agar hatiku juga teratur menjadi baik. Belum saja kekesalan dari Rena menghilang dan sekarang ditambah kekesalan dari David dan Doni.



"Duduk dulu duduk" Kami sudah memasuki kelas. Aku dan Yuri duduk berdampingan.



Berulang kali Yuri menenangkan hatiku yang suka marah tiba-tiba, suka baik tiba-tiba. Keadaan ini sungguh berbalik, padahal dulu Yuri yang suka mengesalkan dan membuatku marah tapi aku tidak pernah marah dan memilih sabar. Sedangkan sekarang ini akulah si pemarah itu dan Yuri yang menjadi penenang.



"Kamu hadap sana, aku mau pijat sedikit punggungmu untuk menghilangkan sakit walaupun sedikit" Aku segera mengikuti perintah Yuri, aku membelakangi dia. Tangannya lihai membantuku untuk memijat rasa sakit yang ada.



"Wah enak banget, sepertinya aku menemukan mak-mak tukang pijat nih" Aku menggoda Yuri hingga dia tertawa.


"Hahahahhah" Bahkan kami berdua tertawa keras hingga melupakan kekesalan yang ada di hatiku.



"Yaudah mbak, bayarannya di kasir ya" Ucap yuri seperti pegawai pada umumnya


"Hahahhaha" Kami tertawa kembali. Hal lucu sedikit sudah menyembuhkan rasa kesal dalam hatiku. Lalu aku memeluk Yuri dan berterima kasih padanya karena membantuku.



"Kalian asik banget becandanya" Ari datang dan langsung menegur aku dan Yuri. Spontan Yuri langsung berpindah tempat duduk di depan. Begitu juga aku langsung bergeser ke bangku samping tanpa menghiraukan sapaan dari Ari.



"Iya nih ri, ai key punggungnya sakit habis jatuh" Sahut yuri


"Hah jatuh? Mana yang sakit key" Wajah Ari khawatir saat menatapku. Namun aku masih kesal padanya.



"Sudah sembuh" Jawabku singkat lalu membuka buku dan berpura-pura menulis untuk menghindar dari Ari. Karena aku masih kesal, dia memilih duduk bersama Rena ketimbang bersamaku dan Yuri.



"Kamu kenapa sih key, kayak gak suka banget sama Rena"


"Gapapa kok, aku lagi kesal saja" Jawabku


"Kesal ke siapa? "


"Ke aku sendiri"



Aku meninggikan nada saat menjawab pertanyaan Ari. Tapi aku tidak boleh meninggalkan Ari sendiri karena aku takut Rena berbuat sesuatu yang bahkan bisa menyakiti hati Ari semakin dalam.



"Sudahlah bel sudah berbunyi, waktunya kita belajar" Ucapku pada Yuri dan Ari. Dan aku melihat David juga menoleh padaku saat dia baru datang dari luar kelas. Kemudian pandangannya kembali berpaling dariku. Dasar anak aneh seperti es batu, tidak ada mimik muka tawa atau senyum padaku.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2