Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
118. Mengalahkan Ana


__ADS_3

Kekalahan ini bukanlah akhir dari segalanya. Kami masih memiliki waktu untuk merubah keadaan dan skor. Mereka boleh bangga dengan kemenangan ini tapi kita tidak boleh menurunkan harga diri untuk terlihat lemah.


"Key kamu pasti bisa. Tidak ada yang tidak mungkin karena semua akan terjadi jika kamu terus berjuang" Gumamku sendiri dalam hati untuk menenangkan emosi yang sedang Bergejolak saat ini.


Kalah menang dalam pertandingan sudah biasa. Tapi yang tidak biasa adalah kalah disaat pertandingan belum usai itu adalah hal yang memalukan.


"Saya tau kemarin kita bersenang-senang dengan kemenangan tapi kali ini kita harus berjuang lagi. Jangan pernah kalian lupa bahwa pertandingan akan terus bergulir hingga sang juara dapat ditentukan" Ucap Coach Jaka.


Pelatih mana yang tidak marah jika pada saat babak pertama sudah tertinggal. Tapi kemarahan itu adalah pompa untuk sebagai kami kembali keluar.


*brak* semua mata terkejut dengan gertakan Coach Jaka yang mulai emosi.


Aku menarik nafas dalam-dalam agar bisa menenangkan diri. Sekali lagi aku mencoba mengangkat kepala dan kuat untuk menghadapinya.


"Sekarang terserah kalian. Saya ingin kalian intropeksi diri dari kegagalan yang tadi. Saya ingin kalian melihat kesalahan apa yang sudah dilakukan" Coach Jaka dan para pelatih keluar dari ruangan ini.


Aku yakin mereka keluar untuk memberikan kesempatan pada kami agar dapat mengangkat satu sama lain dan membangun kekeluargaan kembali. Aku yakin mereka tidak akan meninggalkan kami dalam keadaan terpuruk.


"Kalian kenapa masih menunduk, ayo angkat kepala kalian. Kami masih memiliki waktu bukan?" Mereka mengangguk saat aku bertanya. Perlahan wajahnya kembali berangkat.


Tidak ada kegagalan yang harus direnungi kecuali kita mulai bangkit dan membenahi semua kegagalan untuk menjadi lebih baik.


"Apa kalian ingat perjalanan kami kesini sangat jauh? " Semua mengangguk dan menatapku dengan tajam.


"Kalian pernah mengeluh dengan latihan sebentar, tentang penginapan dan tentang makanan" Mereka mencoba mengingat kembali dengan awal perjalanan kami kesini.


Aku mengingatkan hal itu bukan untuk membuat mereka sedih. Tapi aku ingin mereka kembali semangat bahwa perjuangan kami melewati semua tidak harus sia-sia. Perkataan itu adalah jalan satu-satunya agar mereka mau untuk bangkit.


"Ingat, bermainlah dengan hati. Bukan bermain hanya untuk mencari sensasi. Disini kita satu tim bukan sendiri-sendiri. Di hati kalian ada nama tim ini. Begitu juga di hatiku" Suaraku berdiri lantang agar masuk ke hati mereka.


Kali ini aku yang harus mengambil alih untuk menguatkan satu sama lain. Jika mereka terus diam maka sepenuhnya tim ini akan kalah. Aku memang bukan pemain hebat, tapi masalah mental kita harus kuat lahir batin.


"Kalian tau, kemenganan menjadi mimpi kita semua. Aku ingin kita harus menjadi harimau dalam lapangan dengan mengandalkan keganasannya. Dan ada saatnya juga kita menjadi kancil dengan kecerdikannya" Ucapku


Tidak semua pemain harus menjadi harimau, ada saatnya juga menjadi kancil yang bermain cerdik untuk memastikan peluang-peluang yang diberikan. Bahkan semua pemain harus memiliki kecerdasan dalam menyusun serangan di tengah lapangan.


"Benar katamu key, aku setuju. Sekarang tunggu apalagi, apakah kalian setuju dengan ucapannya" Ucap Rika sang kapten. Setelah aku berbicara, dia juga ikut mengatakan kata-kata penyemangat untuk kami.


"Kami bukan pecundnag"


"Benar, kami adalah baja. Dan tidak boleh ada yang menembus rumah kami dengan mudah"


"Kami harus kuat, berani berjuang habis-habisan" Ucapan semangat satu per satu dari mereka yang diteriakkan dengan lantang sambil membakar jiwa masing-masing.


Kali ini mereka bangkit dengan menyemangati diri mereka sendiri. Semuanya berteriak dengan argumennya masing-masing untuk membangunkan macan mereka yang tidur.


"Apa kalian siap?" Tanyaku dengan lantang


"Siap, kami siap menghadapinya"


"Kami siap, dan kami bisa"


"Semangat" Teriakan bersama di ruang ganti membangun semangat yang berkobar bagaikan api.


Kami yakin kebangkitan adalah kunci kemenangan. Tertinggal di babak pertama bukanlah hal yang mudah karena kami harus mengejar ketertinggalan. Tidak menutup kemungkinan kami bisa karena kekompakan yang besar.


Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Kami haras menggunakannya dengan akal sehat dan semangat. Anggaplah saat ini kami rela memegang bara api untuk berlari agar bara itu tidak membakar patah tangan ini.


"Bagus, kalian sudah membangun keluarga kalian. Saya ingin saat ini kalian jangan tertidur lagi di lapangan. Saya ingin melihat kalian membuka mata dan hati. Kalian pasti bisa" Coach Jaka dan para pelatih lainnya masuk.

__ADS_1


Sepertinya mereka mendengar semangat kami yang berkobar di ruang ganti. Tidak ada hal yang sia-sia jika diri kita sendiri menyemangati dan menuangkan api kemenangan. Maka perjuangan akan mudah dengan tujuan yang menjadi satu.


Ia memberikan suntikan semangat kembali untuk anak didiknya. Energi positif terus dia gunakan agar anak didiknya menjadi semangat. Kali ini Coach Jaka berbicara perlahan dari hati ke hati untuk kami para pemain.


"Ingat, orang tua kalian menunggu dirumah hanya untuk mendengar keberhasilan kalian disini" Semua merenungi perkataan Coach Jaka termasuk aku. Perkataan yang menyayat hati untuk melepaskan emosi dan mengingat kembali.


Tujuan kami datang kesini bukan untuk menyerah melainkan untuk menang dan bermain dengan baik. Jika memang bukan rejeki tidak membawa kemengan, setidaknya kami berhasil membawa nama tim ini secara terhormat.


"Teriaklah" Perintah Coach Jaka pada kami


"Aaaaaaaaaa" Semuanya berteriak kencang.


Hal ini selalu dilakukan oleh Coach Jaka untuk menghilangkan ketegangan pada diri pemain yang sudah mengalami kekalahan atau saat bertanding mengalami tekanan.


Pertandingan babak kedua segera dimulai. Kami sudah melakukan teriakan untuk menghilangkan tekanan serta beban dalam hati. Kali ini kami akan melakukan apapun dan berjuang mati-matian untuk masuk ke dalam final.


"Semangat teman-teman" Teriakan Ani terdengar cukup keras. Aku menoleh padanya dan tersenyum, karena dia hanya bisa memberikan semangat dari sana.


Semua pemain berjalan masuk ke arah lapangan. Ana masih saja terlihat mengejekku, dan bahkan beberapa rekan anak juga mengejek pemain kami. Provokasi terus mereka lakukan dengan terang-terangan.


Untung saja Coach Jaka memberikan arahan agar kami tetap tenang. Di tim ini akulah yang memiliki emosi tinggi. Tapi saat mengingat ibu, emosi itu sejenak langsung mereda. Aku harus hati-hati agar tidak terpancing dengan mudah.


*prittt*


Peluit permainan babak kedua telah dimulai. Kami bersiap masuk ke posisi masing-masing dengan memainkan formasi yang sama dengan taktik yang berbeda.


Permainan kali ini semua harus berani berlari tanpa bola terutama di lini depan harus siap berlari tanpa bola serta melakukan kontrol dengan baik. Sedangkan bagian belakang harus siap memberikan umpan terobosan.


"Key, depan"


"Ita"


"Gollll" Kerjasama kita membuahkan hasil di menit ke 67. Beberapa kali bola kita berhasil digagalkan oleh tembok pertahanan tim lawan. Dan pada akhirnya kami berhasil mencetak gol.


"Keylaaaaa" Teriak ita yang menghampiriku. Kami semua saling merangkul dan melakukan selebrasi bersama-sama dan tidak lupa bersujud syukur terlebih dahulu.


"Abii" Aku teriak pada ani dan memberikan isyarat bahwa kami memberikan satu gol untuknya yang sedang beristirahat di kursi roda.


Skor sementara 1-1 di babak kedua. Tidak ada yang tidak mungkin jika kami bekerja sama dengan baik. Ani yang ada di bangku cadangan ikut teriak kegirangan. Kami semakin bersemangat saat gol itu bersarang di gawang lawan.


Saat aku melihat Ana, dia teriak dengan kesal pada rekan satu timnya. seakan dialah pemain yang paling baik sehingga mereka saling menyalahkan satu dengan yang lainnya.


*pritt* pertandingan dilanjutkan. Aku selalu waspada dengan penyerangan yang dilakukan oleh tim lawan. Ana juga ikut membangun serangan. Mereka mulai bermain kasar termasuk Ana.


*brakk* aku terjatuh dan terguling saat Ana dengan sengaja menabrakkan tubuhnya padaku.


"Aaaaa" Teriakku kesakitan saat tanganku seperti terkilir. Tubuhku menggelinding karena dorongan yang keras dari Ana terasa sangat disengaja.


"Rasain, makanya jangan sok jago menghadangku" Ucap Ana sambil tersenyum licik melihatku.


Perlakuan Ana hampir membuat tim kami emosi. Memang tujuan awal mereka adalah sebagai provokasi agar kami meluapkan amarah dan mendapatkan kartu. Namun tidak semudah itu karena kami sudah terlatih, begitu juga aku yang selalu mengingat ibu.


"Tangan Coach" Ucapku pada tim medis yang datang untuk mengobati.


Segera mereka melakukan pertolongan pertama. Walaupun tangan ini sakit, aku tetap memaksakan diri untuk melanjutkan permainan.


"Sudah, gimana? "


"Baik Coach, lanjut" Ucapku dan kembali berdiri dibantu oleh teman-teman.

__ADS_1


"Hey, tenang. Jangan terpancing emosi" Ucapku pada mereka. Biasanya aku yang mudah terpancing emosi, tapi kali ini aku harus menang demi Ani.


Akhrinya mereka menjadi tenang dan Ana mendapatkan kartu kuning karena pelanggaran yang disengaja olehnya. Tatapan dia semakin licik padaku. Aku harus berhati-hati saat menghadangnya.


Aku juga harus menahan rasa sakit ini agar tidak mempengaruhi permainanku. Aku harus tetap bertahan di waktu yang tersisa. Permaian kembali dimulai, kali ini kami membentuk titik penyerangan yang ditargetkan.


Kembali mencoba dan terus mencoba walaupun tendangan serta serangan berhasil digagalkan oleh tim lawan. Akhrinya kami benar-benar bangkit dari rasa lelah. Tendangan itu melesat dengan cepat ke gawang lawan.


"Gollll" Teriakan gol menggema ditengah lapangan dan juga di bangku penonton. Kami berhasil menambah gol di menit-menit akhrinya. Permainan yang cantik untuk hasil yang cantik. Skor sementara dapat diubah menjadi 2-1.


"Bagus Sela, tendangan yang cantik" Ucapku pada Sela yang berperan sebagai gelandang menggantikan Rani. Ternyata permainan Sela tidak kalah hebat dengan Rani. Dia pantas untuk menjadi tim inti di pertandingan selanjutnya.


Peluit belum berakhir, tandanya gol bisa dilakukan oleh siapapun. Jadi tim kami harus benar-benar hati-hati dan waspada serta meningkatkan fokus agar tidak kebobolan. Kalau bisa kami menambah gol untuk mengamankan kedudukan.


"Turun, turun, jangan ke tengah semua" Teriak Coach Jaka di samping lapangan. Semua orang sudah panik saat melihat tim lawan melakukan serangan pada menit-menit akhir.


Terlihat tatapan cemas, waspada dan geregetan untuk berteriak agar kami bisa menahan serangan dari mereka serta tidak membuat kesalahan.


Semua pasukan kembali ke belakang untuk mengamankan gawang. Tendangan demi tendangan di layangkan dan aku yang bertugas di lini belakang juga di bantu oleh pemain gelandang.


Bahkan hanya ada satu penyerang yang berdiri bebas di tengah perbatasan arena kami. Semua pemain mundur ke belakang untuk menghalau serangan. Tendangan mereka terus gagal karena aku selalu menbuangnya ke sembarang arah.


"Rika, Rika, hadang" Teriakku pada Rika saat melihat pemain lawan berdiri bebas. Akhirnya Rika menghadang, sedangkan Ana berhadapan denganku.


*pritttt*


"Aaaaaa, yeyyyyy" Ketegangan menjadi teriakan kesempurnaan. Kami sangat bersyukur dan tidaa lupa melakuan sujud syukur. Perjuangan di tengah lapangan telah usai dan kami masuk ke dalam final yang akan di adakan besok lusa.


"Yeeeeyyy, Coachhh" para pemain baik inti atau cadangan serta para pelatih masuk ke lapangan dengan gembira.


Kami berteriak dan mengelilingi lapangan dengan bangga. Kami sangat senang karena masuk ke partai final dan berhasil mengalahkan tim perwakilan dari kota ini. Tidak lupa beberapa dari kami memeluk tim lawan untuk memperlihatkan rasa hormat pada mereka.


"Ana tunggu" Aku menghampiri Ana yang beranjak dari duduknya dan ingin pergi meninggalkan lapangan.


"Apa, kamu mau mengejekku karena kalah kan? "


"Buat apa aku mengejekmu, tidak ada gunanya" Sahutku.


"Lalu apa maumu, tim ku sudah kalah" Ana kembali mendorong ku dengan keras.


"Aku kelaur dari sekolah karenamu, aku kalah dan tidak masuk final juga karenamu" Dia membentak ku dengan keras dan merasa bahwa semuanya terjadi karena salahku.


"Itu sudah takdir, aku kesini bukan untuk ribut. Aku hanya ingin memberimu semangat karena masih ada pertandingan untuk merebut juara ketiga" Aku mencoba menenangkan hatinya. Karena menurutku tidak pantas kejahatan dibalas dengan kejahatan juga.


"Apa pedulimu padaku? "


"Karena kita pernah satu tim, aku tidak pernah menganggapmu musuh. Tapi aku selalu menganggapku keluarga walaupun itu dulu" Aku pergi meninggalkan Ana.


Sebenarnya aku ingin memeluknya untuk memberikan semangat, tapi respon yang ia berikan terlihat jelas bahwa sangat membenciku. Aku tidak mengerti dengan pikirannya yang terus membenciku, padahal aku rasa hidup ini biasa saja. Mengapa haras membenciku.


"Ira"


"Keyyy, yeyy kita ke final keyyy" Aku dan Ira berpelukan sambil berteriak lantang merasakan kemenangan untuk masuk ke final. Kami berdua berjalan menuju Ani yang bergembira tapi hanya duduk di bangku cadangan saja.


"Ani"


"Akhirnya, finalll" Aku dan Ira bergaya ala ronaldo di depan Ani sambil meloncat seperti biasa saat kami bermain di dalam kamar. Padahal tanganku masih sakit, namun bodohnya aku tidak memperdulikan itu sehingga saya meloncat terlihat cukup kesakitan.


__ADS_1


__ADS_2