Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
100. POV David


__ADS_3

AAku duduk di bangku taman rumah sakit bersama Ari dan Yuri. Mataku memandangi buah yang tak sempat diberikan pada ayah. Terpaksa aku membukanya dan membagikan pada mereka.


"Nih makan" Aku memberikan buah pada Ari dan Yuri serta menyuruh mereka makan.


"Kok? "


"Sudah makan saja"


Mereka berdua heran menatap bingkisan buah yang sudah terbuka dan mereka menatapku kembali. Setelah itu mereka makan buah dengan mimik wajah yang sama yaitu rasa heran yang terlukis.


"Kenapa kita makan, kenapa tidak diberikan ke ayahmu key" Selalu saja Yuri banyak tanya. Padahal tadi sudah jelas bahwa nenek sihir itu menghalang ku untuk bertemu ayah.


"Sudahlah makan, ayah sudah banyak buah di sana" Sahut ku sambil memakan buah di tangan.


Menikmati makanan di tangan sambil menatap pemandangan di dalam rumah sakit. Di sisi sana ada orang yang sakit sudah tua umurnya, tapi hanya suster yang menjaganya dan tidak ada sanak saudara yang menemani.


Di sebelah sudut ada seorang anak kecil yang sakit dan tetap aman dalam pelukan ibunya, sedangkan sang ayah yang bersantai duduk lalu bergantian untuk menggendong anaknya.


"Apakah aku harus menjadi anak yang sakit seperti itu agar ayah dan ibu mau menyayangiku?" benakku bertanya-tanya dalam diam.


Batinku merasa senang melihat anak itu dikelilingi orang-orang yang disayang. serasa aku ingin menjadi anak itu. Sudahlah, mungkin jalanku harus menemukan rumah sendiri. Lalu oandnagankunkembali menatap pemandangan mereka secara bergantian.


Dari perhatianku yang ada di depan, aku menyimpulkan bahwa saat kecil kita diasuh oleh orang tua sedangkan jika sudah dewasa, kita belum tentu mau mengasuh kedua orang tua yang sudah renta.


Miris seilai kehidupan ini, lalu hatiku bertanya-tanya. Jika nanti aku sudha dewasa, siapa yang akan aku temui sedangkan ibu sudah tidak ingin menemuiku dan ayah juga tidak bisa menemuiku karena nenek sihir itu.


"Aku tadi juga kesal dengan kak Dika, dia memarahiku dengan keras. Padahal mamanya yang salah" Curhatan Yuri menghilangkan konsentrasi ku.


Dia berbicara sambil meneteskan air mata sedikit demi sedikit. Sedangkan mulutnya tetap mengunyah apel dengan lahap membuatku tersenyum dengan perilakunya.


"Sudahlah, mungkin kak Dika lagi capek" Ucap Ari untuk menenangkan suasana.


"Iya bener juga kata Ari" Sambungku. Lama-lama kami heran juga dengan Yuri, saat dia marah dengan kak Dika tapi mengapa buah di tanganku juga menjadi pelampiasannya. Dia memakan buahku dan juga buah Ari dengan lahap.


Aku dan Ari tercengang kembali saat melihat kelakuan Yuri. Langkahku mendekatinya takut dia kesurupan dan syukurlah ternyata tidak. Katanya dia kesal dan juga lapar jadinya memakan buah ku dan Ari.


"Maaf, buah kalian ku makan juga" Aku dan Ari hanya menelan ludah. Sedangkan buah di keranjang juga habis olehnya.


"Tidak apa-apa, ayo kita pulang" Ucapku pada mereka berdua dan bergegas menuju ke parkiran mobil Ari.


Duduk terdiam di dalam mobil, memikirkan ayah karena tadi belum sempat melihatnya. Apakah ayah sudah sadar atau belum sadar juga. Lesu rasanya ingin bertemu ayah saja sangat sulit. Mungkin ini hukuman untukku yang durhaka pada ayah.


POV DAVID


Pertandingan sudha mau dimulai, tapi aku tidak melihat batang hidung Key. Aku hanya melihat Adel yang sangat membosankan. Andai saja aku diberikan pilihan yang mudah antara Adel dan Key, maka aku akan memilih untuk membuang Adel.


Menurutku hati ini hanya untuk key, tapi selalu saja terhalang restu dari papah. Selalu saja aku yang menjadi sasaran bila Adel sakit hati dengan Key. Pasti kehidupan cintaku akan selalu diatur oleh papa, karena perilaku Adel yang tidak pernah jelas.


"Meskipun ini pertandingan persahabatan, setidaknya kalian harus bermain sungguh-sungguh dan jangan sampai menciderai pemain lawan" Arahan dari coach Beni membuyarkan lamunanku dan ikut mendengarkan apa yang dibicarakan.


"Ingat, sebentar lagi ada pertandingan di luar kota dan juga sekitar 2 sampai 3 bulan akan ada seleksi timnas. Kalau perlu kalian bisa masuk ke tim kota terlebih dahulu baru bisa menjelajahi ke timnas" Nasehat coach Beni ada benarnya juga. Aku harus bisa bermain bagus agar bisa bermain ke timnas.

__ADS_1


"Siap coach" Jawaban yang serentak di ruang ganti seblum pertandingan dimulai.


"Baiklah, ayo sekarang siap-siap. Karena sebentar lagi pertandingan akan dimulai.


"Siap coach" Semua bersiap-siap untuk memasuki lapangan. Hatiku gelisah karena tidak melihat Key di bangku penonton.


Padahal tadi sudah aku ingatkan untuk datang di pertandingan ini agar dapat menambah semangatku. Sepertinya Key marah padaku karena aku telah mendiamkan dirinya selama ini.


Ini semua gara-gara Adel. Kalau saja Adel tidak mengadu pada papah pasti aku dan Key akan tetap berhubungan walaupun hanya lewat obrolan biasa dan telepon.


"Sabarlah David, mungkin sebentar lagi key akan datang" Ucapku mencoba berfikir positif untuk menyemangati diri sendiri.


*prittt* babak pertama sudah dimulai, walaupun ini pertandingan persahabatan aku harus tetap menampilkan yang terbaik. Karena hal ini menjadikan evaluasi oleh pelatih, apabila permainan bagus dipertahankan maka aku akan tetap bermain di tim inti.


"Hey, hey" Teriakku untuk mendapatkan bola. Permainan yang dijalankan cukup baik, tapi pertahanan mereka juga sangat kuat. Aku saja sebagai penyerang tidak bisa melakukan penusukan untuk tembus di depan gawang.


"David, David" Aku berlari menjemput bola, saat bola direbut aku kembali berlari untuk mengambilnya dari kaki lawan. Tidak peduli apapun aku akan tetap mengambiknya.


Beberapa menit kemudian tim lawan berbalik menyerang saat berhasil merampas bola dari kaki tim kami. Mereka menyerang dengan serangan yang cepat. Untung saja lini pertahanan di bagian belakang mampu memgimbangi serta merebut bola.


Tendangan lambung yang sangat baik memghampiriku. Aku menjemput bola dan berlari sendiri ke depan. Satu lawan satu dengan bek tengah dari tim lawan.


*brak* tackel yang keras terpaksa menjatuhkanku karena dia frustasi mengambil bola dari kakiku. Padahal aku tidak memiliki kecepatan hanya mengandalkan skil yang aku miliki saat bermain di Eropa.


"Prittt" Hal tersebut dinyatakan pelanggaran oleh wasit. Walaupun tim lawan melakukan protes tapi wasit tetap memberikan kartu kuning serta tendangan bebas bagi tim kami.


Capten tim mempercayai tendangan bebas padaku. Aku bangkit setelah mendapatkan perawatan kecil dan mengambil posisi dalam tendangan bebas ini. Fokus yang terbaik dari diri sendiri, bisa melakukan tendangan langsung ataupun memberikan umpan pada mereka.


"Apakah key belum datang juga, padahal permainan sudah dimulai selama ini" gumamku saat mata ini tertuju kembali ke bangku penonton untuk memastikan bahwa Key sudah duduk dan menonton pertandingan ini, Namun ternyata tidak ada.


"Golllllll" Teriakan bahagia dari tim kami yang berhasil unggul sementara di babak pertama.


"Golll, tendangan yang sangat baik vid. Terima kasih" Doni menghampiri dan memelukku sambil mengucapkan terima kasih. Karena gol ini adalah gol lewat kepala pertama yang Doni lakukan.


Permainan terus Berlanjut hingga selesai. Babak pertama dimenangkan oleh tim kami dan di pertandingan babak kedua dimenangkan oleh tim kami juga dengan skor full time 3-0.


Meskipun tadi di menit ke 70 sempat ada bentrok atau pertikaian sedikit. Biasalah permainan sepak bola laki-laki jika tidak ada pertengkaran maka tidak asik. Untung saja ini hanya pertandingan persahabatan bukan pertandingan resmi.


"Ayangg David" baru saja keluar dari ruang ganti sudah bertemu dengannya. Kenapa bukan key saja yang menjemput ku malah Adel yang datang.


"Ayang hebat banget loh mainnya, suaraku habis teriak terus dari tadi" aku sangat risih bila dia selalu bergelayut manja ke tanganku. Tapi kalau aku nolak pasti dia akan ngadu pada papa.


Aku tidak peduli apa yang Adel bicarakan. Langkahku terus berjalan menuju ke motor untuk pulang. Sedangkan Adel terus saja mengekoriku dan tidak ingin melepaskan tangannya dari lenganku.


"Aku bareng kamu ya" aku hanya mengangguk pasrah saat dia ingin berboncengan denganku.


Malas rasanya harus berbonceng Adel lagi dan lagi. Setiap berbonceng motor pasti tangannya akan memeluk erat tubuhku. Beda dengan key yang tidak pernah memelukku padahal aku menginginkannya.


Perjalanan yang suram untuk pulang karena membawa Adel di belakang. Tapi sepertinya otakku memutar ide yang bagus untuk mengerjainya. Lagipula habis pertandingan aku sangat bosan karena tidak melihat key, jadi aku harus menghibur diri terlebih dahulu.


*Criiitttt* aku mengerem mendadak.

__ADS_1


"Aduhhh, kenapa sih ayang" ucap Adel yang juga ikut terkejut saat aku mengerem mendadak.


"Aduh, sepertinya motorku mogok deh Del. Kamu bantu dorong yah" aku membohonginya dengan pura-pura mengecek mesin motorku. Padahal motor ini baik-baik saja, baru kemarin aku ke bengkel.


"Hah aku? Nanti aku kecapen bagaimana?"


"Ya sudah kalau kamu tidak mau, aku akan mendorongnya sendiri"


"Tidak,tidak. Aku akan ikut mendorongnya biar romantis" sahutnya dengan senang.


Padahal aku berencana agar dia kesal saat mendorong motor tapi kenapa dia malah semakin senang. Aduhhh, bagaimanapun juga aku harus pura-pura mendorongnya. Aku berharap besar dengan drama ini yaitu Adel kesal, pergi naik taksi dan aku menaiki motor sendiri. Ternyata kenyataan tidak sesuai dengan harapan.


" Aduh ayang, make up ku jadi luntur nih" gumamnya meracau tidak jelas.


Beberapa meter aku mendorong motor bersama Adel. Ternyata capek juga karena motorku terlalu besar dan berat. Tapi Adel malah mengoceh terus dari tadi . Sedangkan wajahnya terus saja tersenyum memandangku.


Sangat gatal mataku terus melihatnya. Dan telingaku juga sangat panas mendengar ocehannya. Aku harus mencari cara agar Adel pergi naik taksi dan tidak ikut bersamaku.


"Del, aku kasihan melihatmu. Aku takut kamu sakit. Lebih baik kamu naik taksi ya" jijik sekali aku berbicara seperti itu pada Adel. Tapi tidak apa-apa yang penting Adel mengikutiku.


"Hmmm, kamu sosweet banget" Semakin jijik aku melihat tingkahnya.


"Kamu naik taksi ya, karena kalau kamu sakit maka tidak ada yang menemaniku" Aku mencoba merayu Adel yang keras kepala untuk ikut bersamaku. Akhirnya aku memaksanya dengan kata-kata manis. Dan adel pun naik taksi online dan aku sangat senang melihatnya begini.


"Iya deh, aku naik taksi saja. Tungguin aku dulu ya, kalau sudah nemu taksi, baru kamu pergi" Rengekan Adel yang membuatku repot saja. Untung beberapa menit kemudian taksi datang dan Adel naik taksi. Wajahnya berlalu dari hadaoanku.


"Yessss, akhirnya berhasil" Ketawa ku dengan senang karena Adel mudah di tipu.


Memangnya dia pikir motorku mogok beneran apa, padahal ini hanya akal-akalanku saja agar dia menjauh dari hidupku. Pikiranku sumpek mendengarkan celoteh nya.


"Itu sepertinya Keyla, Ari dan Yuri" Gunamku saat melihat sebuah mobil yang melintas.


Ternyata di dalamnya ada Keyla dan kedua sahabatnya. Aku bingung ingin mengejar atau tidak. Sepertinya aku hanya melihat dari sini saja, karena tidak mungkin aku mengejar Key.


Mata-mata papah sekarang lebih banyak. Aku takut mereka menemuiku dan mengadu pada papah. Lebih baik aku menghindari hal tersebut demi keselamatan Keyla.


Aku pergi menaiki motor, tapi kali ini mampir ke kafe terlebih dahulu untuk bersantai sejenak. Menikmati kopi walaupun sendiri itu asik. Tapi lebih asik jika ada yang menemani.


Aku semakin bingung, semenjak pulang dari Eropa. Papah melarang ku untuk berteman dengan anak-anak biasa dan bahkan membatasi temanku. Sumpek sekali otakku, tapi sudahlah yang penting masih ada key.


POV DAVID SELESAI


Yuri dan Ari mengantarkan ku untuk pulang, aku mencoba tenang dan istirahat di rumah. Duduk di ranjang sambil memikirkan ayah. Tiba-tiba ada pesan masuk yang mengatakan bahwa pertandingan di luar kota akan di majukan.


"Gila, persiapan tim kami belum banyak. Ini tidak adil" Aku melakukan protes lewat ponsel tapi tidak ada yang merespon komenan ku. Bahkan manajer dan pelatih juga tidak ada yang merespon apa yang aku katakan.


"Aaahhhh" Aku kesal dan melemparkan ponsel dengan keras di atas kasur. Mengapa ada pertandingan seperti ini. Padahal kita akan melakukan turnamen kecil di luar kota itu dan butuh persiapan yang lebih.


Tim ku akan melakukan 3 kali pertandingan dengan melawan tim tarkam terbaik di kota tersebut. Dari kotaku juga ada tim tarkam yang akan ikut pergi melakoni laga di luar kota sana. Aku kesal karena pertandingan ini dibilang mendadak.


"Pertandingan macam apa ini, aaahhhh" Aku merebahkan diri dengan rasa kesal. Besok aku harus melakukan latihan terkahir dan selanjutnya melakukan pertandingan laga di luar kota dan harus mengurusi surat dispensasi.

__ADS_1


"Banyak sekali tugasku, sepertinya malam ini aku terlelap dengan isi kepala yang sangat banyak" Setelah pemikiran yang dikatakan belum selesai, mataku sudah mengantuk dan terlelap bersama bobo.



__ADS_2