Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
27. Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Seperti biasa aku meminta diturunkan di persimpangan kampung. Setelah itu aku berjalan menuju rumah. Sambil berjalan, sesekali mataku melihat luka ditangan. Aku tidak mengerti mengapa dia melukaiku. Jika memang ada masalah kenapa tidak diselesaikan dengan baik-baik dan datang secara langsung. Dan dia datang tanpa diundang lalu menggunakan senjata tajam mencoba untuk melukaiku. Coba saja tadi bisa tertangkap, mungkin sudah aku tonjok kali ya. Tapi kekerasan atau main hakim sendiri tidak baik, kecuali aku sudah kepepet hehehe.


*klek* membuka pintu dan langsung membersihkan diri serta mengganti baju. Lalu beristirahat sebentar di kamar untuk menghilangkan lelah.


*tok, tok, tok*


"Assalamu'alaikum, key"


"Waalaikumsalam, iya bu" Aku membuka pintu dan ternyata ibu sudah ada di depan rumah dengan membawa sepiring makanan untukku.


"Ini ibu bawakan....... Astaghfirullah tanganmu kenapa nak" Pembicaraannya terhenti saat pandangan matanya tertuju pada tanganku. Wajahnya menjadi panik saat melihat tanganku yang diperban.


"Eh enggak bu, ini cuman jatuh saja kok" Aku mencoba berbohong agar tidak membuat pikiran ibu menjadi cemas.


"Tidak, tidak, kamu berbohong. Kalau jatuh memangnya jatuh darimana hingga diperban seperti ini. sedangkan kamu saja tidak bisa naik motor. Kalaupun jatuh biasa palingan cuman lecet saja" ibu berbicara panjang lebar yang membuatku mati kutu untuk menjawab jujur pertanyaannya. Sepertinya dia tau bahwa aku sedang berbohong saat ini.


"Tadi ada orang yang menusuk tangan key" Aku bercerita panjang lebar dari awal hingga akhir. Hal itu membuat wajah ibu menjadi geram. Padahal dia bukan ibu kandungku tapi kasih sayangnya sama seperti ibu ke anaknya sendiri.


"Ya sudah, kamu makan dulu disini ibu mau masak air hangat untukmu" langkah ibu bergegas ke dapur, sedangkan aku langsung makan masakan ibu yang rasanya enak bukan main.


Menjadi kebiasaan ibu selalu membawakan makanan kerumah walaupun tidak setiap hari. Menikmati suap demi suap dengan tangan di perban seperti ini sangatlah susah. Tapi aku terus berusaha mengangkat sendok dan menahan rasa sakit.


"Astaghfirullah, ibu lupa tanganmu terluka nak" ibu datang membawa sebaskom air hangat. Aku hanya tersenyum melihat wajah ibu yang panik. Padahal aku sendiri sangat tenang walaupun tangan rasanya masih sakit.


"Sini biar ibu suapin" Sendok ku dirampas oleh ibu, lalu tangannya sibuk menyuapi ku secara perlahan.


"Tapi key bisa kok bu"


"Sudah sudah diam, ayo a.. " Tangannya dengan sigap dan lembut menyuapi ku. Kasih sayangnya bukan main, hatinya yang lembut dan tulus benar-benar menyayangiku. Aku makan lahap dengan suapan ibu yang dibarengi dengan kasih sayangnya.


Makanan di piring sudah habis, ibu masih sibuk merawatku dengan membersihkan tangan yang terluka. Walaupun perban nya tidak dibuka, setidaknya menghilangkan bengkak yang ada di bagian samping akibat luka tersebut. Aku hanya bisa tersenyum haru melihat semua ini. Keras hatiku selalu terurai lembut oleh perlakuan ibu padaku. Saat malam sudah larut, ibu berpamit pulang dan aku kembali terlelap ditemani malam.




Paginya aku sudah siap untuk berangkat dan sudah mengganti perban dibantu oleh ibu. Sebenarnya harus ekstra hati-hati saat menggantinya karena jahitannya belum sepenuhnya kering. Ibu memang orang tua yang terbaik, masih pagi sudah menyediakan sarapan dan merawatku terlebih dahulu sebelum membuka warungnya.



"Bu, key berangkat dulu ya"


"Bentar-bentar, kamu harus dianter bapak saja jangan naik angkot dulu"


"Tapi bu"


"Sudah-susah tidak ada tapi-tapian" Ibu menuntunku dan di sana bapak sudah siap untuk mengantar dengan motornya.



"Kamu ini sudah tangannya terluka tapi masih memaksa naik angkot sendirian lagu" Bapak memarahiku dan aku hanya tersenyum dengan teguran yang membuatku merasakan keindahan dalam keluarga lagi. Mungkin bapak gemas sekali melihat kelakuanku yang keras kepala. Tapi pada akhirnya aku diantarkan oleh bapak berangkat ke sekolah.



"Makasih pak, key berangkat dulu ya" Pamit ku pada pak mamat sebelum masuk ke dalam sekolah



"Iya hati-hati ya nak" Semua keluarga bu Yanti benar-benar mengasihi ku tanpa pamrih.



"Dah bapak, Hati-hati dijalan" Senyuman ku dengan semangat. Merasakan kasih sayang seorang ayah. Diantarkan dengan segenap jiwa untuk menunaikan ilmu.



Walaupun itu bukan ayah kandung tapi kehangatan cinta yang tulus dari seorang ayah sangatlah besar. Tidak tau apa jadinya bila aku ada di lingkungan yang salah. Dan tidak bertemu dengan keluarga bu Yanti yang seperti malaikat surga.



"Alhamdulillah, Terima kasih ya Allah. Engkau memberikan seorang ayah yang mengantarku ke sekolah dengan kasih sayang" Gumamku dalam hati sambil menatap langit.



Berharap Sang Pencipta mendengarkan ucapanku. Langkahku bergegas ke kelas dan bersiap diri untuk melakukan MOS terakhir. Aku tidak tau pasti bagaimana penutupan MOS yang akan dilakukan pada hari ini. Tapi semangatku semakin menjadi-jadi karena sebentar lagi akan menjadi siswa seutuhnya.



"Key, tangan kamu kenapa" Tanya Yuri yang tiba-tiba datang dan langsung melakukan pertanyaan padaku.



"Gapapa kok, cuman luka kecil" Jawabku


"Kecil kamu bilang? Tangan kamu sampai di perban gini loh"


"Sudah tenang aja, masih jauh dari nyawa kok"


__ADS_1


Yuri terus saja mengamati luka yang ada di tanganku. Padahal yang dia amati hanya perban yang berwarna putih tapi tatapannya masih saja mencari celah untuk mengetahui luka yang aku alami.



\*tettttt\*



"Ayo kita kumpul ke lapangan untuk melakukan penutupan MOS pada hari ini" Ucapku yang mengajak Yuri untuk berjalan bersama



"Kamu gak usah ikut, lukamu takut tambah sakit loh"


"Ihhh, ini kecil kok" Sahutku. Lalu Yuri mengangguk dan mengikuti ucapanku yang selalu keras kepala.



Semua siswa baru sudah berkumpul di tengah lapangan. Dengar-dengar akan ada penutupan yang paling asik. Entah asik bagi senior ataupun junior. Yang penting aku fokus mengikutinya.



"Cepat, cepat, hitungan ke 3 harus sudah berkumpul dilapangan" Teriakan yang keras membuat semua para siswa berlari untuk cepat sampai ke lapangan. Kecuali aku dan Yuri yang masih berjalan karena saat berlari tanganku terasa sakit bila di goyangkan.



"Satu......... Dua....... "


"Yuri, lebih baik kamu lari saja daripada telat dan nanti dihukum" Aku tidak ingin Yuri dihukum karena menemaniku. Tapi yuri menolaknya dan lebih memilih berjalan bersama ku. walaupun dihukum makan dia ingin dihukum berdua, ucapnya.



"Tidak tidak, aku akan menemani kamu " Aku hanya bisa terdiam melihat ketulisan dari Yuri. mungkin ini adalah awal dia akan berubah menjadi seseorang yang lebih baik lagi.



\*brak\*



"Aduhh" Aku terjatuh saat tertabrak siswa baru yang sedang berlari. Tanganku terasa sakit sekali.


"Kamu gappa kan key"


"Gapapa Yuri, ayo cepat nanti kamu telat yuri" Yuri membangunkanku lalu kami kembali berjalan cepat untuk sampai disana.



"Yang telat silahkan kumpul disini" Benar sekali, hanya ada aku dan Yuri yang telat. Padahal hanya telat beberapa detik saja. Tapi mereka menyatakan bahwa aku telat datang tepat waktu ke lapangan.



"Kalian berdua, silahkan maju kedepan" Mereka mempealukanku dengan yuri. Membentak dan mencaci maki. Untuk saja mentapku sudah kuat dari dulu jadi tidak masalah apapun yang mereka katakan aku dengarkan tapi bakalan ke luar lagi sih dari telang. Sedangkan yuri menangis karena bertahan mereka yang terlalu kasar.



"Dasar bodoh, begini saja tidak tepat waktu apa lagi kamu yang selalu telat" Tangannya menunjuk pada wakahku. Aku hanya menatapnya dengan tatapan tajam. Siapa lagi kalau bukan Ana, mungkin dia masih kesal atas kejadian kemarin di kantin ataupun tentang tempat sampah.



"Kamu ngapain nangis, cengeng sekali" Tangannya sesekali menampar kecil pada pipi Yuri yang menangis karena bentakan mereka. Ternyata Yuri tidak sekuat aku, hentakan seperti ini sja dia menangis. padahal dulu dia suka membully di SMP.



"Kami memang salah, tapi tidak seharusnya kakak menampar teman saya" tatapanku geram karena hati ini sudah sudah tidak tahan lagi melihat kelakuannya. Tangan Ana ku genggam dengan erat lalu aku lemparkan.



Bagaimana bisa aku melihat Yuri yang sudah menbantuku dengan baik, lalu mereka malah main tangan dengannya. Walau tamparan itu kecil tapi hati Yuri tidak sebesar hatiku.



"Oh kamu mau jadi pahlawan ya disini" Ana berdiri di hadapanku sekaan dia yang berkuasa dan sekarang wajah kita saling berhadapan. Tapi mataku terus mencari kemana kak dika saat situasi seperti ini. Jika memang dia ketuanya tapi mengapa membiarkan anggotanya bermain tangan pada seorang junior.



"Kamu mau cari siapa? Tidak ada yang akan membantumu disini" Aku hanya menerima perkataannya dengan senyuman kecil. Perkataannya bagaikan bola pingpong yang akan memantul jauh dari pendengaran ku dan hatiku saat ini.



"Sekarang kamu yang akan menanggung semua hukumannya" Dia tertawa puas dengn perkataannya. Beberapa temannya juga ikut tertawa dengn keputusan yang ana berikan.



"Apa hukumannya" Sahutku dengan lantang


"Merayap keliling lapangan"


"Tapi tangan saya lagi sakit kak" Tidak adil rasanya jika dia menghukumku untuk merayap. Sedangkan tangan ini masih dalam balutan perban.

__ADS_1



"Wah wah wah, rupanya jagoan takut untuk merayap. Padahal tadi menantang untuk diberi hukuman" Semua jajaran OSIS terus saja tertawa dan selama mengejekku. Ana semakin menjadi-jadi untuk memojokkanku.



"Jangan key, tanganmu luka" Bisik Yuri sambil memegang tanganku. Aku hanya mengangguk pada Yuri untuk mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja.



"Berapa menit saya merayap" Ucapanku lantang dan menantang untuk sekian kalinya.



"Wah bagus sekali, sepertinya menarik. Oke oke aku akan kasih kamu waktu untuk merayap selama 30 menit dan mengelilingi lapangan hingga waktu selesai" Tanpa banyak bicara aku langsung merayap dengan keadaan tangan yang sakit.



"Aduhh" Gumamku dalam hati yang sangat kesakitan. Jahitan di tangan belum sepenuhnya kering tapi mau tidak mau lebih baik aku yang merayap daripada Yuri terus yang menjadi bulan-bulanan mereka.



"Sakit ya, makanya jangan sok" Bentak Ana di depan wajahku dengan senyuman yang sumringah.



Aku hanya menatapnya dengan tatapan bengis. Sekali lagi aku tidak peduli dengan perkataan. sementara teman-teman menerima arahan lalu pergi ke lapangan sepak bola yang ada dibelakang. Sedangkan Yuri langsung ikut menemanuku merayap.



"Kamu ngapain Yuri, lebih baik kamu ikut mereka ke lapangan belakang"


"Tidak, aku akan menemanimu" Ucap Yuri yang ikut merayap disampingku. Ternyata Yuri juga keras kepala hampir sama denganku.



Cahaya mentari yang begitu panas membuat tubuh ini mengeluarkan peluh yang berceceran. Begitu juga Yuri, raut wajahnya yang terlihat lelah. Padahal baru setengah lapangan tapi rasanya sangat capek. Mungkin karena tanganku yang mencoba merayap perlahan agar sakitnya tidak terlalu parah. Tangan dan kaki bertemu langsung dengan ubin lapangan yang begitu panas. Rasanya kulit akan terkelupas jika sudah sampai 30 menit.



"Key, key lihat" Dengan panik Yuri menunjuk tanganku yang mulai keluar darah. Darah itu menembus pada perban yanga ku gunakan.



"Sepertinya jahitan ini ada yang lepas" Gumamku dalam hati.



"Key tanganmu keluar darah"


"Tidak apa-apa Yuri, palingan ini darah dari lukaku yang kemarin" Aku terus saja melanjutkan untuk merayap. Walaupun darahku menetes di atas lapangan. Jejak darah berceceran tapi aku masih menahan. Tetesan itu juga meninggalkan jejak di atas ubin yang aku lewati saat merayap.



"Tolong-tolong" Teriak Yuri yang panik saat melihat darah pada lenganku semakin banyak. Wajahku pucat dan rasanya sangat pusing. Mungkin ini disebabkan oleh darah yang keluar sangat banyak.



"Tolong, siapapun yang ada tolong" Lapangan yang sepi membuat Yuri semakin panik. Yuri langsung meletakkan kepalaku di atas pangkuannya.



\*bruk, bruk, bruk\*


Suara langkah kaki berlari menuju arahku. Tapi mata ini sudah tidak jelas melihat wajahnya. Dan seketika semuanya menjadi gelap.



"key bangun key, bangun"



Mataku membuka sedikit saat mendengar suara Yuri. Ternyata aku sudah ada di rumah sakit. Melihat tanganku sudah terbalut perban yang baru dengan sangat rapi. Sepertinya ada yng sudah menangani lukaku.



"Alhamdulillah kamu sudah sadar key" Kepanikan Yuri menghilang saat melihat aku sudah siuman dari tidurku. Sepertinya aku pingsan.



"Ini dimana yuri"


"Kamu dirumah sakit key"


"Siapa yang membawanya? " Tanyaku dengan suara yang masih lemah. Kepalaku juga masih pusing mungkin karena kehilangan banyak darah.



"Kamu sudah sadar, ini aku belikan air sama roti sebagai pengganjal perut untuk minum obat" Kak dika memberikan aku air minum dan roti. Tapi aku hanya diam dan pura-pura untuk tertidur lagi.

__ADS_1



~~~~BERSAMBUNG~~~~


__ADS_2